NovelToon NovelToon
Pernikahan Yang Tidak Diinginkan

Pernikahan Yang Tidak Diinginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Maullll

"Pernikahan yang Tidak Diinginkan" bercerita tentang Kirana Putri, seorang wanita muda yang cantik dan berhati lembut, yang terpaksa harus menikah dengan Arga Wijaya, seorang pengusaha sukses yang terkenal dingin, tegas, dan tak tersentuh.

Pernikahan ini bukanlah hasil dari cinta, melainkan sebuah perjanjian bisnis dan kewajiban keluarga untuk menyelamatkan perusahaan ayah Kirana dari kebangkrutan. Bagi Arga, pernikahan ini hanyalah formalitas dan cara untuk memenuhi keinginan orang tuanya, sementara bagi Kirana, ini adalah pengorbanan besar demi keluarganya.

Sejak hari pertama, rumah tangga mereka dipenuhi dengan kebekuan. Mereka hidup satu atap layaknya dua orang asing—saling menghormati tapi jauh dari kata dekat, sering bertengkar karena salah paham, dan masing-masing menyimpan perasaan terpaksa.

Namun, seiring berjalannya waktu, di tengah sikap dingin dan pertengkaran, benih-benih perhatian mulai tumbuh perlahan. Mereka mulai melihat sisi lain dari satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maullll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23 Matahari yang Hilang

BAB 23: MATAHARI YANG HILANG

Pagi harinya, suasana di rumah terasa membeku. Lebih dingin daripada saat mereka belum saling mencintai dulu.

Arga bangun dengan badan pegal-pegal karena tidur di sofa semalaman. Tapi rasa sakit fisik itu tidak seberapa dibandingkan rasa sakit di hatinya. Kata-kata Kirana semalam terus bergema di kepalanya:

"Aku kayak janda tapi punya suami..."

Dengan langkah berat dan rasa bersalah yang menggunung, Arga naik ke kamar tidur. Ia ingin meminta maaf, ingin memperbaiki segalanya.

Namun saat ia membuka pintu kamar, kamar itu kosong melompong. Ranjang sudah dirapikan rapi, baju-baju Kirana masih ada di lemari, tapi... sosok istrinya dan Arka tidak ada di sana.

"Kirana?!" panggilnya panik.

Ia berlari turun ke bawah. "Bi Sumi! Bi Sumi! Ibu sama Arka mana?!"

Bi Sumi keluar dari dapur dengan wajah cemas. "Tadi pagi-pagi sekali Non Kirana sama Tuan Muda dijemput mobil sedan, Tuan. Katanya... mau pergi beberapa hari ke rumah orang tuanya di Bogor."

BRUK!!!

Kaki Arga lemas seketika. Ia jatuh terduduk di tangga.

Pergi? Dia pergi lagi?!

Rasa panik yang sama saat dulu Kirana pergi setelah masalah Alya kembali menyerangnya. Tapi kali ini rasanya jauh lebih menyakitkan. Karena kali ini dia tidak pergi karena orang lain, tapi karena dia sendiri yang mendorong istrinya pergi dengan sikap buruknya.

"Gila... gila... aku ini beneran gila..." umpatnya sambil memukul pelan kepalanya sendiri. "Apa yang udah aku lakuin?!"

Dengan tangan gemetar, Arga mengambil HP-nya dan menelepon nomor Kirana berkali-kali.

'Nomor yang anda tuju sedang tidak dapat dihubungi...'

Sial! Kirana mematikan HP-nya! Dia benar-benar ingin menjauh!

 

Sementara itu, di rumah orang tua Kirana, suasana sangat berbeda. Kirana duduk di teras sambil memangku Arka yang sedang tertawa main mainan. Wajahnya terlihat tenang, tapi matanya menyimpan kesedihan yang mendalam.

"Nak, kamu yakin mau di sini lama-lama? Arga nggak nyusul?" tanya ibunya pelan sambil membawakan teh hangat.

Kirana menghela napas panjang, menatap pemandangan hijau di depannya.

"Aku butuh waktu sendiri, Ma. Aku capek berjuang sendirian. Aku mau lihat, seberapa penting aku dan Arka di matanya. Kalau dia emang sayang, dia bakal berubah. Kalau enggak... ya sudah," jawab Kirana lirih.

"Tapi kamu tahu kan Arga itu sayang banget sama kamu. Cuma mungkin dia lagi kegeeran sama jabatan dan kerjaan," bujuk ibunya.

"Sayang itu bukan cuma kata-kata, Ma. Sayang itu bukti. Aku butuh perhatian, bukan cuma uang yang dikirim ke rekening atau barang mewah. Aku manusia, aku punya perasaan, aku butuh ditemani," tegas Kirana.

Ibunya mengangguk paham. "Ya sudah. Istirahatlah di sini sampai hati kamu tenang. Tapi ingat, masalah rumah tangga itu jangan didiamkan terlalu lama. Nanti makin jadi."

 

Tiga hari berlalu. Tiga hari terasa seperti tiga abad bagi Arga.

Rumah besar itu terasa seperti kuburan. Setiap sudut mengingatkannya pada Kirana. Bau parfum istrinya yang masih tertinggal, mainan Arka yang berserakan, dan kursi kosong di meja makan.

Arga tidak fokus kerja sama sekali. Di kantor ia hanya duduk termenung memandangi foto keluarga di mejanya. Wajah mereka tertawa begitu bahagia, tapi kenyataannya sekarang hancur.

"Pak, ini laporan keuangan bulan ini..." asistennya masuk membawa berkas.

"Gak usah! Taruh situ!" bentak Arga ketus. "Semuanya batal! Rapat hari ini batal! Aku mau keluar!"

Arga berdiri, mengambil jaketnya. Ia tidak tahan lagi. Ia harus pergi menjemput istrinya. Tidak peduli apa pun yang terjadi, ia harus bawa mereka pulang.

"Kalian pikir aku bakal tinggal diam aja ya? Istri dan anakku harus balik!" gumamnya tegas.

Dengan kecepatan tinggi, Arga mengemudikan mobilnya menuju rumah orang tua Kirana di Bogor. Pikirannya kacau, campur aduk antara rasa takut, marah, dan rindu yang luar biasa.

Sesampainya di sana, ia melihat mobilnya terparkir rapi. Jantungnya berdegup kencang.

Ia turun dan berjalan cepat menuju teras. Dan di sana... ia melihat pemandangan yang membuat dadanya sesak.

Kirana sedang duduk tertawa bahagia bersama orang tuanya, sambil mengajak Arka bermain cilukba. Wajah Kirana berseri-seri... tapi senyum itu bukan untuknya. Senyum itu seolah menunjukkan bahwa Kirana bisa bahagia tanpa dirinya.

"Kirana..." panggil Arga parau.

Semua kepala menoleh ke arahnya. Senyum di wajah Kirana langsung sirna digantikan oleh wajah datar dan dingin. Ia tidak berdiri menyambut seperti dulu. Ia hanya duduk diam.

"Arga..." sahut ayah mertuanya pelan. "Masuklah."

Arga masuk, tapi matanya tidak lepas dari wajah istrinya. Ia berdiri tepat di hadapan Kirana yang masih duduk memangku Arka.

"Kamu... kamu ngapain ke sini?" tanya Kirana dingin, memalingkan wajahnya.

"Aku jemput kamu pulang, Ran. Ayo balik. Rumah sepi banget tanpa kamu. Aku kangen..." suara Arga terdengar sangat lemah dan memelas. Pria gagah dan berkuasa itu kini tampak seperti anak kecil yang bersalah.

"Aku nggak mau balik. Aku betah di sini," tolak Kirana cepat. "Di sini aku nggak perlu nungguin suami pulang tengah malam, aku nggak perlu dimarahin cuma karena nanya 'sudah makan belum'. Aku tenang di sini."

Kata-kata itu menusuk jantung Arga. Ia menunduk dalam.

"Aku tahu aku salah. Aku jahat. Aku egois," ucap Arga pelan, suaranya bergetar. "Aku kira dengan aku kerja keras dan bikin kalian kaya, itu bentuk cinta. Ternyata aku salah besar. Cinta itu waktu, Ran. Waktu yang aku curi dari kamu berbulan-bulan ini."

Arga berlutut di hadapan Kirana tepat di depan orang tuanya. Ia tidak peduli gengsi atau harga diri.

"Maafin aku, Sayang. Maafin Ayah Arka. Aku janji aku bakal berubah. Aku bakal atur waktu aku. Aku bakal kurangin kerja, aku bakal lebih sering di rumah. Aku nggak mau kehilangan kamu lagi. Aku nggak sanggup hidup tanpa senyum kamu, tanpa suara kamu."

Arga mengangkat wajahnya, matanya basah oleh air mata.

"Plis... ayo pulang. Ayo kita bangun lagi rumah tangga kita yang hangat. Aku janji ini terakhir kalinya aku bikin kamu nangis. Aku janji."

Melihat suaminya bersikap sedesperate itu, melihat air mata yang jatuh dari mata pria yang paling ia cintai, pertahanan hati Kirana akhirnya jebol.

Air matanya jatuh lagi. Tapi kali ini bukan air mata kesedihan, tapi air mata haru dan rindu.

"Kamu janji ya?" tanya Kirana terbata-bata. "Kamu janji bakal lebih perhatian? Kamu janji nggak bakal cuek lagi?"

"Iya! Aku janji demi Tuhan! Demi anak kita!" jawab Arga cepat, lalu ia meraih tangan istrinya dan menciumnya berkali-kali. "Aku sayang banget sama kamu, Ran. Lebih dari apa pun di dunia ini."

Ibunya dan Ayahnya melihat pemandangan itu dengan tersenyum lega dan terharu.

"Ya sudah... sudah baikan ya. Jangan diulangi lagi pertengkarannya," kata ibunya lembut. "Mama tahu kalian sayang sama masing-masing."

Akhirnya, Kirana mengangguk. "Iya... ayo kita pulang, Sayang."

Arga tersenyum lebar, senyum lega yang paling indah. Ia langsung mengambil Arka dari pangkuan istrinya dan memeluk keduanya erat-erat.

"Makasih... makasih sudah mau maafin aku."

Malam itu, perjalanan pulang terasa sangat berbeda. Mobil melaju dengan suasana hangat. Arga menggenggam tangan Kirana sepanjang jalan, sesekali menciumnya penuh cinta.

Matahari yang sempat hilang tertutup awan kesibukan, kini telah bersinar terang kembali. Dan kali ini, Arga berjanji akan menjaga mataharinya agar tidak pernah terbenam lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!