Bismillah ....
14 tahun menikah tanpa dikarunia anak dan hari ini aku mendengar kabar jika suamiku menikah siri dengan selingkuhannya yang sudah memiliki anak darinya
Seluruh tubuhku mendadak bergetar nyaris limbung ke tanah. Entah apa yang harus aku lakukan setelah ini.
Namun yang membuat dadaku lebih sakit lagi ternyata wanita yang dinikahi suamiku merupakan rekan kerjaku, perempuan yang dulunya selalu usil dengan kondisiku yang sudah puluhan tahun tidak bisa memberikan anak.
Di saat semua orang menuntutku menerima keadaan, aku memilih bertahan. Bukan untuk mengalah… tapi untuk membuktikan bahwa aku tidak selemah yang mereka kira.
Namun tanpa kusadari, perlahan ada hal lain yang mulai mengusik pikiranku. Mimpi-mimpi aneh, perasaan kehilangan yang tak bisa dijelaskan, hingga sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang anak kecil yang memanggilku “Mama”.
Seolah… ada bagian dari hidupku yang selama ini disembunyikan.
Dan semakin aku bertahan di rumah itu, semakin banyak rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Adinda akhirnya membuka kertas itu dengan hati yang cukup kuat, tangannya tidak gemetar lagi, sedikit jauh lebih tenang.
Tulisan itu singkat. Tidak panjang seperti surat biasa. Lebih seperti pesan yang sengaja dipadatkan.
Dinda, kalau kamu baca ini, berarti sesuatu sudah tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Papa tidak pernah percaya rumah ini benar-benar aman untuk kamu.
Orang yang paling dekat… justru yang paling berbahaya.
Papa sengaja menahan semuanya. Bukan karena tidak percaya kamu. Tapi karena Papa tahu… kamu bisa dimanfaatkan.
Jangan percaya siapa pun sebelum kamu tahu semuanya.
Dan satu lagi— anakmu adalah kunci.
Adinda berhenti di kalimat terakhir. Tatapannya tidak bergerak.
“Anak…” bisiknya pelan.
Naya langsung menoleh. “Apa?”
Adinda tidak langsung menjawab. Ia membaca ulang bagian itu, memastikan ia tidak salah menangkap maksudnya.
Pak Arbani akhirnya bersuara.
“Itu alasan kenapa warisan itu dikunci,” ucapnya. “Bukan cuma soal keturunan. Tapi perlindungan.”
Adinda mengangkat wajahnya. “Maksud Bapak… Papa tahu kalau aku hamil?”
“Bukan tahu,” jawab Pak Arbani tenang. “Dia yang memastikan kamu tetap dilindungi.”
Kalimat itu seperti butuh waktu untuk dicerna.
“Terus… kecelakaan itu?” tanya Naya pelan.
Pak Arbani tidak langsung menjawab. Ia menatap Adinda lebih dulu, seolah memberi pilihan—siap atau tidak.
Adinda tidak menghindar. “Lanjutkan, Pak.”
Pria itu menarik napas. “Kecelakaan itu… bukan murni kecelakaan, sebenarnya mereka menginginkan kamu lebih dari sekedar hilang ingatan, hanya saja takdir berkata lain."
Adinda terkejut bukan main, tangannya perlahan mengepal, bagaimana mungkin ia bisa bertahan di tengah-tengah orang yang menginginkannya tiada.
“Siapa?” tanyanya pelan.
Pak Arbani menggeleng sedikit. “Saya tidak punya bukti langsung. Tapi sebelum kejadian itu… ayah kamu sudah mulai membatasi akses beberapa orang ke keuangan keluarga.”
Naya langsung menangkap arah. “Dan itu bikin mereka panik.”
Pak Arbani mengangguk. “Termasuk orang-orang di rumah itu."
Adinda menunduk sebentar. Bukan karena lemah. Tapi karena potongan-potongan itu… mulai tersambung terlalu jelas.
Ibu tirinya. Tekanan dari mertua. Kehamilan yang disembunyikan. Kecelakaan. Ingatan yang hilang. Semuanya tidak berdiri sendiri. Ada pemain dibalik kejadian ini.
Ia menutup map itu pelan. Seolah mulai paham dengan arah ceritanya.
“Berarti…” suaranya lebih rendah. “Selama ini aku hidup di tengah orang-orang yang… nunggu aku jatuh.”
“Lebih dari itu,” sahut Naya pelan. “Mereka nunggu kamu tetap tidak bangun. Dan untungnya ayahmu bergerak cepat."
Adinda mulai mencerna, pantesan saja, sebagian usaha yang sudah ditangan ibu tirinya masih diteruskan oleh anaknya, padahal semuanya itu miliknya.
Beberapa detik kemudian Adinda berdiri. Tidak tergesa, bahkan sangat yakin untuk melangkah.
“Pak,” ucapnya.
Pak Arbani menatapnya setengah menunduk.
“Kalau aku mau ambil semuanya kembali… apa langkah pertama?”
Pertanyaan itu tidak emosional. Tapi jelas.
Dan itu membuat Pak Arbani sedikit tersenyum.
“Akhirnya kamu tanya itu.”
Ia ikut berdiri, menyeimbangi Adinda yang sudah berdiri terlebih dahulu.
“Langkah pertama—pastikan posisi kamu aman.”
“Di rumah itu?” tanya Naya.
“Bukan,” jawabnya. “Di luar.”
Adinda mengernyit tipis. “Maksudnya?”
“Kamu butuh kendali,” lanjut Pak Arbani. “Akun, dokumen, akses. Sedikit saja dulu. Tapi cukup untuk bikin kamu tidak bisa disentuh.”
Adinda mengangguk pelan. Merasa apa yang dibilang Pak Arbani masuk akal.
“Langkah kedua?” tanyanya lagi.
Pak Arbani menatapnya lebih dalam. “Temukan anak kamu.”
Kalimat itu membuat napas Adinda tertahan. Ia berusaha untuk tetap tegar meskipun tahu bagaimana sakitnya seorang ibu yang tidak mengingat anak yang sudah dia lahirkan sendiri.
“Dia… masih hidup?” tanyanya. "Gimana keadaannya sekarang?"
Pak Arbani tidak langsung menjawab.
“Kalau mereka berani mengambil segalanya dari kamu…” ucapnya pelan, “kemungkinan terbesar—mereka tidak akan membuang ‘kunci’ itu.”
Adinda tidak butuh penjelasan lebih jauh. Ia mengerti. Anaknya bukan hilang, tapi disembunyikan. Dan mungkin— selama ini… dekat, entah kenapa bayangan kecil Alesia muncul di pikirannya.
"Anak itu," gumamnya pelan.
"Bisa jadi," sahut Naya yang seolah paham.
Adinda segera menoleh ke Naya. “Kita mulai dari sekarang.”
Naya mengangguk tanpa ragu.
“Pelan-pelan,” ucapnya. “Tapi pasti.”
Adinda menarik napas dalam. Lalu menghembuskannya pelan.
“Aku gak akan buru-buru,” katanya. “Tapi kali ini… aku yang pegang arah.”
Ia menggenggam map itu lebih erat bukan sebagai beban. Tapi sebagai pegangan, dan bukti satu-satunya untuk mengambil haknya kembali.
“Dan kalau mereka pikir aku masih orang yang sama…” Ia menatap lurus ke depan. “…mereka salah besar.”
Malam itu— tatapan Adinda semakin tajam, seolah sudah siap menyambut perang yang sudah dimulai, tidak dengan teriakan.Tapi dengan kesadaran. Dan itu… jauh lebih berbahaya.
☘️☘️☘️☘️☘️
Malam sudah turun saat mobil Adinda meninggalkan gedung itu. Lampu jalan berderet, memantul di kaca jendela. Kota tetap berjalan seperti biasa. Tidak ada yang tahu… sesuatu baru saja berubah arah.
Di dalam mobil, Adinda tidak banyak bicara. Tatapannya lurus ke depan, tapi pikirannya jelas tidak di sana.
Naya tidak mengganggu. Ia tahu… diam seperti itu bukan kosong. Itu tanda seseorang sedang menyusun langkah.
Sementara dari jarak kiloan meter sana seorang wanita yang seumuran dengan Adinda tengah duduk tenang sambil menyesap minuman beralkohol.
Ruangan itu terlalu rapi untuk di sebut sebagai tempat tinggal. Lebih di sebut sebagai ruang yang dikendalikan penuh dengan perhitungan.
Layar menyala. Satu pesan masuk. "Dia sudah bergerak."
Wanita yang duduk di kursi itu tidak langsung meraih ponselnya. Ia menyelesaikan dulu minuman yang ada di depannya itu, lalu baru mengangkatnya.
Matanya membaca singkat, tidak ada perubahan besar di wajahnya hanya sedikit jedah seolah sesuatu yang sudah ia perkirakan… akhirnya benar-benar terjadi.
“Cepat juga,” gumamnya pelan.
Ia bersandar, jemarinya mengetuk meja dengan ritme pelan. Lalu membalas singkat.
'Sejauh mana?"
Tidak butuh waktu lama. Balasan datang.
"Sudah sampai ke orang lama."
Jari-jarinya berhenti. Kali ini… ada perubahan kecil di raut wajahnya.
“Jadi dia memang ke sana…” ucapnya pelan.
Ia berdiri, berjalan ke arah jendela. Tirai setengah terbuka, memperlihatkan lampu kota di kejauhan.
“Berarti… ingatannya mulai kembali.”
Bukan pertanyaan, tapi seperti menyimpulkan sendiri. Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan, masih berusaha untuk tetap tenang, seakan semuanya masih berada di dalam kendalinya.
“Bagus,” lanjutnya.
Senyum tipis muncul. “Ternyata kamu gak selemah yang aku kira, Adinda.”
Namanya disebut tanpa ragu, layaknya seseorang yang sudah lama memperhatikannya.
Ia kembali ke meja, mengambil ponsel lain. Menekan satu nomor yang sangat ia kenal. Dan panggilan langsung tersambung.
"Ya." suara di seberang sana langsung terdengar.
"Tante Sintia, bagaimana hari ini ada perubahan?" tanyanya basa-basi.
"Sepertinya nampak biasa saja, tidak ada yang berubah," sahut Sintia dengan tenang.
"Anda terlalu lambat, bahkan wanita itu sudah mulai melakukan sesuatu lebih dalam dan anda cuma bilang tidak ada perubahan." Nada suaranya terdengar memburuh dan menyalahkan.
"Tapi memang kenyataannya dia seperti itu," sahut Sintia.
"Justru itu lebih berbahaya, dia bermain dengan halus, membodoh-bodohi kalian seolah tidak terjadi apa-apa," lanjutnya.
Sintia terdiam, tangannya langsung menegang dadanya seolah ingin menahan getaran di dalamnya. "Apa jadi dia mulai memanipulasi keadaan!"
"Benar sekali, dan mulai besok Tante harus menyelidiki semuanya."
Telepon di tutup sepihak, Sintia memejamkan matanya cukup lama, ini bukan masalah baru, tapi permainan yang mulai dimainkan dengan cepat.
Bersambung ...
Selamat Pagi .... Semoga suka.