NovelToon NovelToon
PREMAN MASUK PESANTREN

PREMAN MASUK PESANTREN

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Dunia malam mengenal Faris Arjuna sebagai Panglima Terminal, namun semesta mengenalnya sebagai pewaris tahta yang hilang.
​Di bawah bimbingan sang kakak, Arjuna Hidayat—Sang Paku Bumi Sidoarjo yang sakti mandraguna—Faris harus menanggalkan jaket kulitnya untuk mengenakan beskap kehormatan. Namun, kejutan terbesar muncul dari sosok Simbok (Nyai Gayatri Sekar Arum). Di balik kesederhanaannya, beliau adalah pemegang restu darah Raja Majapahit yang menguasai istana gaib dan sepuluh dayang piningit.
​Kini, paseduluran dua Arjuna ini bukan lagi sekadar soal urusan pesantren, melainkan menjaga amanah leluhur Nusantara. Saat kegelapan masa lalu mulai mengusik kedaton mereka, Faris harus membuktikan bahwa seorang berandal pun bisa memiliki wibawa seorang Raja.
​Doa Simbok adalah jimatnya, bimbingan Kangmas adalah kompasnya, dan Keris Kyai Jalak Suro adalah takdirnya. Siapkan diri, karena kasekten Majapahit telah bangkit di tanah Sidoarjo!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Strategi Ekonomi Sang Satrio

Pagi di kediaman Wijaya terasa sangat berbeda. Udara yang biasanya tenang kini seolah bergetar oleh energi yang dipancarkan Faris Arjuna setelah mencapai pencerahan batinnya. Di ruang rapat utama, Raden Jayanegara, Arjuna Hidayat, dan dua srikandi, Dewi Tribhuwana serta Dewi Rajadewi, sudah berkumpul mengelilingi meja kayu jati yang besar.

Faris melangkah masuk dengan tenang. Setiap langkahnya terasa mantap, seolah bumi ikut berdenyut mengikuti irama jantungnya. Ia tidak lagi memakai baju putih biasa, melainkan beskap hitam tanpa payet yang membuatnya terlihat sangat berwibawa namun tetap membumi.

"Selamat pagi, Dikmas Faris. Wajahmu hari ini seperti samudera yang tenang, namun kita tahu ada badai besar di dalamnya," sapa Raden Jayanegara dengan nada penuh hormat.

Faris duduk di kursi utama, di samping Eyang Wijaya yang hanya tersenyum simpul. "Kakang Jayanegara, samudera itu tenang karena ia tahu ke mana arah arusnya. Hari ini, saya ingin kita mulai memetakan siapa saja yang masih bermain di dua kaki," ucap Faris dengan suara rendah namun menggelegar.

Tiba-tiba, seorang kerabat muda masuk dengan tergesa-gesa sambil membawa tablet. "Kakang Faris, mohon maaf mengganggu. Ki Ageng Blorong baru saja mengunggah video tantangan terbuka. Dia menyebut Kakang sebagai pemuda yang hanya menjual sihir kata-kata dan menantang Kakang untuk bertemu langsung di Laut Kidul."

Mendengar itu, Arjuna Hidayat menggebrak meja. "Sombong sekali dia! Dia pikir dia siapa menantang Dikmas Faris di tempat keramat seperti itu?"

Faris hanya mengangkat tangan kanannya, seketika kemarahan di ruangan itu meredup. "Sabar, Kangmas Arjuna. Wong sing sombong iku sejatinya lagi nutupi wedine dewe."

(Orang yang sombong itu sejatinya sedang menutupi ketakutannya sendiri.)

"Lalu apa tanggapanmu, Dikmas? Kita tidak bisa membiarkan marwah trah Wijaya diinjak-injak seperti itu," tanya Dewi Tribhuwana Tunggadewi dengan tatapan tajam.

Faris tersenyum tipis, senyuman yang sangat tenang namun mematikan. "Kita tidak perlu ke Laut Kidul. Biarkan laut yang datang kepadanya. Saya akan membalas tantangannya bukan dengan otot, tapi dengan lisan."

Faris kemudian berdiri dan berjalan menuju ke arah kerabat muda yang memanggilnya 'Kakang' tadi. "Dek, siapkan siaran langsung di semua platform media sosial sekarang juga. Kita beri mereka tontonan yang tidak akan pernah mereka lupakan."

"Siap, Kakang Faris! Segera dilaksanakan!" jawab pemuda itu dengan semangat yang berkobar.

Dalam hitungan menit, jutaan orang sudah masuk ke dalam siaran langsung Faris Arjuna. Di depan kamera, Faris tidak marah. Ia justru terlihat sangat santun, namun setiap kata yang keluar dari bibirnya terasa seperti pedang yang menghujam batin para pengkhianat.

"Ki Ageng Blorong... Sampeyan mburu opo? Donya iki mung mampir ngombe, ojo dadi budak kamulyan sing semu."

(Ki Ageng Blorong... Anda memburu apa? Dunia ini hanya mampir untuk minum, jangan jadi budak kemuliaan yang semu.)

"Yen sampeyan kepengin pamer kasekten, pamerno ing ngarsane Gusti, dudu ing ngarepe menungsa. Wiwit detik iki, kabeh tumindakmu bakal bali dadi pacobaning uripmu dewe."

(Jika Anda ingin pamer kesaktian, pamerkanlah di hadapan Tuhan, bukan di depan manusia. Mulai detik ini, semua tindakanmu akan kembali menjadi cobaan hidupmu sendiri.)

Begitu Faris menutup kalimatnya, di tempat yang sangat jauh, padepokan Ki Ageng Blorong tiba-tiba diguncang gempa lokal yang hebat, padahal daerah di sekitarnya tetap tenang. Laut Kidul yang tadinya tenang mendadak pasang, namun airnya justru menjauhi bibir pantai seolah-olah menolak kehadiran sang dukun hitam tersebut.

"Kakang Faris, lihat komentarnya! Ribuan orang bersujud syukur, mereka merasa ada harapan baru bagi bangsa ini," seru si kerabat muda dengan mata berkaca-kaca.

Arjuna Hidayat memegang pundak Faris. "Dikmas, kau baru saja memulai perang yang tidak akan pernah mereka menangkan. Lidahmu benar-benar sudah menjadi hakim bagi alam semesta."

Faris menarik napas panjang dan menatap langit-langit kediaman. "Iki lagi pambuka, Kangmas. Sejatine perang sing paling abot yaiku perang nglawan awake dewe."

(Ini baru pembukaan, Kangmas. Sejatinya perang yang paling berat adalah perang melawan diri sendiri.)

Setelah siaran langsung itu berakhir, suasana di ruang tengah kediaman Wijaya tidak lagi tegang, melainkan penuh dengan aura kemenangan. Namun, Faris tidak mau terlena. Ia tahu bahwa Ki Ageng Blorong dan antek-anteknya pasti akan mencoba menyerang dari jalur lain, yaitu dengan menjepit ekonomi rakyat kecil yang mendukung Faris.

"Dikmas Faris, intelijen kita melaporkan bahwa perusahaan-perusahaan besar yang berafiliasi dengan Ki Ageng Blorong mulai menarik modal mereka dari pasar. Mereka ingin membuat kegaduhan ekonomi agar rakyat menyalahkanmu," ucap Arjuna Hidayat sambil menunjukkan grafik saham yang memerah di tabletnya.

Faris Arjuna menyesap kopi jahenya dengan tenang. Matanya menatap tajam ke arah layar. "Kangmas Arjuna, mereka pikir uang adalah segalanya. Mereka lupa bahwa doa rakyat kecil itu lebih mahal harganya daripada seluruh saham mereka di bursa."

"Lalu, apa langkah kita, Kakang Faris? Kita tidak bisa membiarkan harga-harga naik karena ulah mereka," tanya salah satu kerabat muda yang sedari tadi menyimak dengan takzim. Panggilannya 'Kakang' terdengar sangat tulus, menunjukkan kepercayaan penuh pada sang pemimpin.

Faris tersenyum kecil, lalu ia berdiri dan mendekati jendela. "Dek, sampaikan pada jaringan anak muda kita. Mulai detik ini, kita gerakkan ekonomi arus bawah. Ajak semua orang untuk memutar modal di pasar-pasar tradisional dan UMKM milik rakyat sendiri."

"Bener kandamu, Dikmas. Kita lawan monopoli mereka dengan kekuatan gotong royong," sahut Raden Jayanegara sambil mengelus jenggotnya dengan bangga. "Tapi bagaimana dengan serangan di bursa saham?"

Faris menoleh dengan tatapan yang sangat berwibawa. "Sing sapa mungkur soko bebener demi bandha, bakal sirna bareng karo bandhane."

(Siapa yang berpaling dari kebenaran demi harta, akan sirna bersama dengan hartanya.)

"Kangmas Arjuna, tolong instruksikan unit bisnis Trah Wijaya. Borong semua saham yang mereka lepas. Biarkan mereka merasa sudah menang saat harganya turun, tapi mereka akan menangis saat melihat kita yang memegang kendali penuh atas perusahaan mereka besok pagi," perintah Faris dengan nada dingin yang sangat tegas.

"Siap, Dikmas! Ini akan menjadi serangan balik ekonomi yang sangat mematikan bagi mereka," jawab Arjuna Hidayat dengan semangat berkobar.

Dewi Tribhuwana Tunggadewi mendekat dan memberikan semangat batin. "Dikmas Faris, batinmu sudah sangat kuat. Jangan biarkan angka-angka di layar itu mengganggu jernihnya hatimu. Ingat, harta itu hanya titipan untuk menyejahterakan umat."

Faris mengangguk hormat kepada Ayundanya. "Matur nuwun, Ayunda. Faris mboten badhe kesupen. Arta menika namung piranti, dedikasi menika ingkang utami."

(Terima kasih, Kakak. Faris tidak akan lupa. Harta itu hanyalah alat, dedikasi itulah yang utama.)

Sore itu, keajaiban kembali terjadi. Di saat para cukong pengikut Ki Ageng Blorong tertawa melihat harga saham jatuh, tiba-tiba muncul gelombang pembelian besar-besaran dari akun-akun kecil milik jutaan rakyat yang mengikuti perintah Faris. Harga saham berbalik naik dengan sangat cepat, membuat para pengkhianat itu rugi triliunan dalam hitungan jam.

"Kakang Faris! Kita berhasil! Rakyat bersatu membeli saham-saham itu dan sekarang kita yang memegang kendali!" seru si kerabat muda dengan wajah kegirangan.

Faris hanya menatap langit sore yang berwarna jingga. "Iki dudu menang-menangan, Dek. Iki bukti yen rakyat wis pinter. Yen batin wis nyawiji, gunung wae iso dipindah, opo meneh mung mindah bandha."

(Ini bukan soal menang-menangan, Dek. Ini bukti kalau rakyat sudah pintar. Jika batin sudah menyatu, gunung saja bisa dipindah, apalagi cuma memindahkan harta.)

Eyang Wijaya yang melihat dari kejauhan hanya tersenyum tipis. Beliau tahu, cucunya kini tidak hanya menguasai ilmu batin, tapi juga sudah menguasai cara memimpin di dunia nyata dengan sangat cerdas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!