Di balik kemewahan dunia gelap, sebuah pelelangan rahasia mempertemukan para elit dengan satu “barang” paling berharga—seorang gadis tak bersalah yang menjadi pusat perhatian.
Semua menginginkannya, namun hanya satu nama yang mampu menghentikan segalanya dalam sekejap.
Rayga Alessandro Virelli, mafia bengis yang dikenal tanpa hati, membelinya tanpa ragu. Baginya, itu hanyalah transaksi biasa—hingga kehadiran gadis yang bernama Aurellia Valensi mulai mengusik sesuatu dalam dirinya yang telah lama mati.
Di dunia Rayga, kelemahan adalah kehancuran.
Namun saat perasaan mulai tumbuh, ia harus memilih—tetap menjadi monster yang ditakuti semua orang, atau mempertaruhkan segalanya demi satu orang yang seharusnya tak berarti apa-apa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Julianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Stranger
Di mansion Rayga ada Aurellia yang menikmati masa-masa bebasnya.
Bebas dari ibu angkatnya dan juga bebas dari Rayga yang dia anggap terlalu arogan.
"Semoga saja Pria Kasar itu lama perginya, kapan perlu tidak usah kembali," gumam Aurellia.
Wajahnya berseri, pagi ini tidak ada beban yang bersarang di kepalanya.
Ketakutan yang biasa dia rasakan setiap waktu atas perilaku buruk ibu angkatnya juga tidak lagi membayang-bayangi Aurellia.
Bosan di kamar, Aurellia menuruni anak tangga sambil bernyanyi.
Awalnya dia masuk ke area dapur, tetapi tidak ada seorang pun di sana.
Sehingga dia kembali menarik langkah keluar dari dapur dan berjalan gontai hingga langkahnya terhenti di pintu utama.
"Selamat pagi, Non. Ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang pria berpakaian hitam.
Badannya kekar dan tinggi.
"Selamat pagi juga. Aku tidak butuh bantuan apa-apa. Nanti akan aku panggil kamu kalau memang aku memerlukannya," sahut Aurellia.
Setelah bertegur sapa dengan anak buah Rayga yang diperintahkan untuk mengawasi Aurellia, wanita itu hendak kembali melanjutkan langkahnya, tetapi dicegat oleh pria yang lainnya.
Di depan pintu utama berdiri empat orang pria dengan pakaian yang sama semua.
"Maaf... mau ke mana, Non?" tanyanya berdiri tepat di depan Aurellia.
Kening Aurellia mengernyit membentuk lipatan di dahinya. Kedua alis Aurellia hampir menyatu.
Raut wajahnya yang tadinya ceria langsung berubah jadi kesal.
"Apakah saya harus laporan padamu?" tanya Aurellia dengan nada tak suka.
"Bos meminta kami untuk menjaga Non Aurellia. Kami harus melaporkan pada Bos Rayga apa saja kegiatan Non Aurellia selama bos kami tidak di sini," jawabnya masih belum bergeser dari tempatnya yang menghalangi jalan Aurellia.
"Hidup bos kalian terlalu ribet," ujar Aurellia, dia menggeser langkahnya agar bisa melewati anak buah Rayga yang menghalangi jalannya.
Namun, ketika Aurellia memutar m langkahnya, pria itu juga bergeser agar sejajar dengan Aurellia.
"Anak buahnya atau pun bosnya, mereka sama-sama aneh," gerutu Aurellia, dia memutar bola matanya malas.
"Antarkan aku pada Bi Nery. Aku ingin bertemu dengannya," kata Aurellia mengalah.
"Baik, Non," jawabnya, menjeda ucapan beberapa detik, lalu melanjutkannya kembali.
"Mari, Non. Saya antar ke tempat Bi Nery." Anak Buah Rayga membungkukkan badannya hormat pada Aurellia.
Aurellia berjalan mengekor di belakang anak buah Rayga.
Sebetulnya niat awal Aurellia tidak ada untuk menemui Bi Nery, karena dia bosan dan hendak mencari angin segar tetapi dicegat oleh anak buah Rayga, makanya dia meminta untuk diantarkan menemui Bi Nery saja.
"Masih sibuk, Bi?" tanya Aurellia mengagetkan Bi Nery yang tengah memeriksa taman mini di halaman samping.
"Eh.. Non Aurellia. Ti-tidak, Non. Bibi hanya sedang memeriksa taman saja, biar nanti kang kebun yang mengerjakan kalau memang perlu tindakan pada tamannya," jelas Bi Nery.
"Apa Non butuh sesuatu?" tanya Bi Nery melanjutkan ucapannya setelah beberapa detik terjeda.
Aurellia melangkah beberapa kali mendekat pada Bi Nery.
"Iya, Bi. Aurellia bosan di kamar terus. Apakah Bibi bisa bawa Aurellia keliling-keliling di rumah ini atau jalan santai ke luar sana." Tunjuk Aurellia ke arah gerbang.
"Maaf, Non. Bibi tidak berani membawa Non Aurellia jalan ke luar tanpa izin Tuan Rayga, tetapi kalau Non Aurellia mau keliling mansion ini, Bibi bisa menunjukkan tempat yang mungkin saja bisa menghilangkan rasa bosan Non Aurellia," jawab Bi Nery yang tidak mau mengambil resiko.
"Boleh, deh. Pokoknya bisa menyegarkan pikiran," sahut Aurellia.
"Mari, Non," ajak Bi Nery.
Bi Nery dan Aurellia jalan bersisian, sedangkan dua orang pria berbaju hitam yang tadi ikut berdiri di depan pintu utama juga ikut mengekor di belakang mereka.
Bi Nery membawa Aurellia ke taman pada halaman belakang.
Taman yang membuat Aurellia takjub dengan tatanannya.
Beberapa pohon yang sudah sangat besar tumbuh menghiasi taman itu.
Di bawah batang pohon depan matanya, tapi dia tidak bisa mengingat itu di mana dan kapan dia melihat tempat yang sama dengan yang sekarang.
"Boleh bantu Aurellia mengambil foto di sini, Bi?" tanya Aurellia memberikan ponselnya pada Bi Nery.
"Baik, Non." Bi Nery mengambil ponsel yang sudah diaktifkan kameranya oleh Aurellia.
Aurellia berdiri membelakangi air mancur dengan pose andalannya.
Meletakkan tangan di pinggang dan sedikit memiringkan wajahnya ke kanan untuk mendapatkan sudut yang bagus baginya.
Beberapa kali jepretan foto Aurellia diambil di kawasan yang sama, tapi titiknya berbeda.
Ada foto yang diambil saat Aurellia berpose di tepi kolam ikan, ada juga yang diambil saat dia berpose seolah tengah memetik setangkai bunga.
"Coba lihat hasilnya, Bi," pinta Aurellia mengulurkan tangannya meminta ponselnya kembali.
Bi Nery memberikan ponsel Aurellia, dia begitu senang dengan hasil jepretan Bi Nery yang pas sesuai keinginannya.
"Bibi ternyata pintar juga jadi fotografer dadakan,' cuit Aurellia dibarengi tawa renyahnya.
Bi Nery dan Aurellia terus bercengkrama, sedangkan dua pria yang mengawasi mereka berdiri bagaikan patung yang tidak ada berbicara sama sekali sejak mereka berada di taman rumah Rayga.
Dari jarak sekitar empat meter dengan mereka, ada sepasang mata yang terus memantau kegiatan Bi Nery dan Aurellia.
Terutama Aurellia, dia jadi target pantauan mata itu untuk terus diperhatikan apa saja yang telah dia lakukan dari tadi.
"Bi," bisik Aurellia memanggil Bi Nery yang berada di sampingnya, tetapi Aurellia tetap berdiri santai seolah-olah sedang memeriksa hasil fotonya.
"Ada apa, Non?" tanya Bi Nery menggeser posisinya lebih dekat dengan Aurellia.
"Lihat ke arah utara, ada yang mencurigakan. Dari tadi Aurellia lihat ada orang itu di sana, dia seperti sedang merencanakan hal buruk pada kita," ujar Aurellia, dia masih menunduk melihat layar ponselnya.
Bi Nery langsung menoleh ke arah yang di sebutkan Aurellia.
Bi Nery begitu kaget melihat siapa yang berdiri di tempat yang dimaksud Aurellia tersebut.
"Sepertinya Non Aurellia harus segera menghubungi Tuan Rayga," ujar Bi Nery membuat Aurellia merasa takut.
"'Apa kita dalam bahaya?" tanya Aurellia masih tidak mengangkat wajahnya, dia berusaha terlihat santai.
"Ponsel Bibi ada di kamar. Non Aurellia telpon Tuan Rayga menggunakan ponsel Non Aurellia ya, nanti biar Bibi yang bicara dengan Tuan Rayga." ujar Bi Nery mengabaikan pertanyaan Aurellia.
"Aku tidak punya nomor ponselnya, Bi," jawab Nery makin cemas.
"Kata Tuan Rayga dia sudah menyimpan nomornya di ponsel Non Aurellia" sahur Bi Nery.
Aurellia mencoba skrol nomor kontak di ponselnya.
Nomor kontak yang tidak seberapa yang tersimpan di ponsel itu jelas membuat Aurellia gampang menemukan kontak asing yang tidak pernah dia simpan.
Ada salah satu kontak yang bertuliskan nama 'King Dominic Vance" , langsung Aurellia melakukan panggilan pada nomor kontak itu.