NovelToon NovelToon
Permainan Panas Dibalik Kasus Gelap

Permainan Panas Dibalik Kasus Gelap

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir / Bad Boy
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Azura Cimory

Demi uang sepuluh milyar, Sean Yuritama rela bekerja sama dengan Christaly Jane untuk menemukan anak dari seorang miliarder yang telah lama menghilang. Jika bukan demi melunasi hutang-hutangnya, detektif swasta berparas tampan itu tidak akan sudi bekerja sama dengan gadis cerewet dengan segudang masalah. Sehingga mereka terlibat perdebatan hampir setiap waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azura Cimory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Permintaan Vera

“Lepas! Sakit tahu!” Christaly berteriak.

Sean mencengkeram lengan Chrislay kuat-kuat. “Kamu ini bisa nggak, nggak usah teriak-teriak?! Kalau Vera bangun dan ngelihat kamu nanti dia bisa salah paham. Ngerti nggak sih?!”

Christaly mengempaskan tangan Sean dengan sekuat tenaga. Tapi percuma. Tenaga pria itu jauh lebih besar dari dirinya. “Lepas, nggak?! Kalau kamu nggak mau lepasin aku bakalan teriak lebih kenceng lagi.”

Sambil mengertakkan gigi menahan marah Sean pun melepaskan tangan Christaly dengan mengentakkannya cukup keras.

“Aw! Sakit tahu!”

“Dengar, sialan. Kita berdua bisa mampus kalau sampai harus berurusan sama Vera, tahu!”

“Ya, pasti begitu. Karena dia pacarmu,” Christaly memotong sambil mendengus dan mengusap-usap lengannya.

“Sialan! Aku serius. Asal kamu tahu saja, Vera itu bukan orang sembarangan. Dia anak seorang komisaris polisi. Adik dari Inspektur Indra Laksamana yang terkenal itu,” sergah Sean kesal. “Inspektur Indra sayang banget sama Vera. Kalau ada yang berani macam-macam sama dia atau bikin Vera sedih, siap-siap saja.”

“Oh, ya?” sahut Christaly santai. Dia sama sekali tidak tahu siapa itu Inspektur Indra Laksamana. Bahkan mendengar namanya juga belum pernah.

“Persetan! Sekarang kamu bawa barang-barangmu masuk ke sini. Kamu nggak boleh keluar atau berisik selagi Vera masih belum bangun. Mengerti?!”

“Huh! Bilang aja kamu mau balik ke atas buat lanjut bercinta. Ya, kan?” ejek Christaly sambil tersenyum menyebalkan.

Sean mengertakkan gigi dan melotot ke arah gadis itu. Dia benar-benar kesal dibuatnya. “Itu bukan urusanmu, brengsek. Awas saja kalau kamu bikin masalah. Aku nggak bakal segan buat laporin kamu ke polisi. Atau lebih buruk lagi, aku akan membunuhmu kalau kamu sampai mengacau.”

“Ya, ya, ya ....”

Sean mendorong Christaly ke dinding dan menekan tubuh wanita itu dengan tubuhnya sendiri. “Aku nggak main-main, Christaly. Aku serius dengan ucapanku. Kalau kamu berani membuat kekacauan yang bisa menyebabkan hubunganku dengan Vera  jadi bermasalah, lihat saja. Aku akan buat kamu menyesal seumur hidupmu.”

“Huh! Iya, iya. Aku nggak berisik lagi,” ujar Christaly sambil terengah-engah karena sulit bernapas akibat tubuhnya dihimpit  Sean.

Sean meraih kedua pipi Christaly dengan satu tangannya lalu dia meremas pipi itu sampai hampir bertemu. “Ingat baik-baik, Christaly. Meski kamu adalah asisten pribadiku, tapi aku nggak bakalan segan menyakitimu. Kamu harus menjaga sikapmu dan jangan keterlaluan.”

Christaly menganggukan kepalanya . “Aku minta maaf,” gumam Christaly sambil menahan rasa sakit. “Aku janji, lain kali aku akan lebih sopan lagi.”

“Bagus!” Sean melepaskan tangannya dari pipi Christaly, melonggarkan sedikit impitannya, lalu alih-alih dia menjauh dari gadis itu dia justru meremas payudaranya kuat-kuat. “Aku harap ini jadi pelajaran berharga buat kamu. Karena aku nggak akan pernah biarin ada orang yang merusak karierku sebagai seorang detektif.”

“Uh! Ya. Aku akan mengingatnya,” gumam Christaly sambil menahan napas karena Sean terus meremas payudaranyanya. “Aku janji aku nggak akan bikin masalah yang bisa bikin kariermu terancam. Sekarang tolong lepaskan aku.”

“Aku memegang janjimu, Christaly. Awas saja kalau kamu berani macam-macam. Tanggung sendiri akibatnya.” Sean melepaskan tangannya lalu berbalik. “Kamu bisa tidur di sofa panjang itu sampai hari terang. Aku malu kalau harus jalan sama orang yang wajahnya persis mayat hidup.” Tanpa mengatakan apa-apa lagi Sean pun berlalu pergi meninggalkan Christaly.

“Dasar sialan! Berani-beraninya dia ngatain aku kayak mayat hidup.” Christaly mendengus. Dia lalu keluar mengambil koper dan tasnya.

Setelah kembali ke ruang kerja Sean dia pun mengeluarkan cermin kecil dari dalam tas dan langsung bercermin. “Astaga ... aku bahkan lebih seram dari hantu. Pantas saja mengata-ngataiku. Huh!”

Karena tidak mau diejek oleh Sean, akhirnya Christaly menurut untuk mencoba tidur meskipun tidak seberapa lama. Dia pergi ke sofa panjang yang ada di pojok ruangan dengan agak sedikit bingung. Sebab, agak sedikit aneh rasanya di ruang kerja ada sofa panjang yang sangat lembut dan nyaman.

Selain itu, bentuknya juga agak tidak biasa. Seolah-olah sofa itu tidak dibuat untuk duduk, melainkan untuk berbaring terlentang saat bercinta.

Christaly tidak bisa untuk tidak tersenyum dengan pikirannya sendiri. Dia lalu membaringkan tubuhnya di atas sofa berwarna merah tua itu dengan meletakan kepala pada bantalan lengan yang ada di salah satu sisinya.

Posisinya benar-benar pas. Dia meluruskan kakinya yang juga pas. Punggungnya benar-benar nyaman, karena kursi itu empuk dan bahannya sangat lembut.

“Hem. Rasanya pasti luar biasa kalau aku bisa bercinta sama Sean di sofa ini,” gumam Christaly pada dirinya sendiri. Dia lalu menyentuh payudaranya yang masih terasa agak sedikit sakit akibat ulah Sean. “Tenaga pria itu benar-benar luar biasa. Pantas saja dia ganas di atas tempat tidur. Huh!”

Christaly memejamkan matanya, mencoba untuk terlelap. Akan tetapi, alih-alih tidur, pikirannya justru melantur ke mana-mana. Dalam bayangannya dia sudah berada di Malang, sedang bercinta dengan Sean di padang rumput yang hijau di kaki gunung Bromo.

Christaly pernah melihat gambar padang rumput itu di sebuah brosur perjalanan wisata. Salah satu tempat yang suatu saat ingin dia datangi bersama Riko atau siapa pun yang menjadi pacarnya nanti untuk diajaknya bercinta.

Dalam bayangannya itu, dia bisa melihat betapa perkasanya Sean, betapa memabukkannya pria itu. Hingga tanpa sadar tangan Christaly secara naluriah menyentuh pangkal pahanya .

“Emh!” erang Christaly pada saat jari jemarinya sudah menyelinap ke balik jinsnya dan mulai bergerak untuk memuaskan dirinya sendiri.

“Uh!”

Christaly terengah-engah, hasrat di dalam dirinya semakin menjadi-jadi. “Sial! Aku benar-benar nggak tahan. Uh!”

Chirstaly berguling miring. Tangannya yang satu terulur ke meja kecil di atas kepalanya, mencari sesuatu yang biasa dia gunakan untuk memuaskan dirinya sendiri yang sudah tidak bisa dia tahan.

Sebelumnya dia melihat ada hiasan meja yang ukuran dan bentuknya sepertinya bisa dia gunakan. Dan betapa girang Christaly saat dia tahu jika hiasan meja itu terbuat dari karet yang cukup lentur.

“Uh! Betapa beruntungnya aku,” gumam Christaly lega.

“Apanya yang beruntung?” tanya sebuah suara tiba-tiba.

Christaly yang tersentak kaget  seketika menoleh ke arah sumber suara dan langsung menghentikan aktivitasnya. Betapa terkejutnya dia saat melihat Vera sudah berdiri di hadapannya sambil melipat tangan di dada dan tersenyum penuh arti pada Christaly.

“Wah, wah. Sepertinya aku datang di saat yang nggak tepat dan menggangu, ya?” tanya Vera.

“Eh, a-aku bisa jelasin semuanya.” Christaly tergagap.

“Huh. Aku udah tahu semuanya, nggak ada yang perlu kamu jelasin,” sahut Vera. Dia melihat ke arah paha Christaly, lalu naik lagi ke atas, ke bagian dadanya. “Hem, kamu boleh juga.”

“Ma-maksudnya?”

“Aku tahu kalau kamu ini asisten pribadi Sean. Kalian berdua akan pergi ke Malang untuk menyelidiki sebuah kasus basar, kan?”

Christaly mengangguk dengan kikuk tanpa mengatakan apa pun. Dia tidak tahu apa yang harus dia katakan dan juga takut salah bicara.

“Sepertinya Sean nggak salah pilih orang, karena  kamu memang memenuhi kriteria. Cantik, penuh semangat, dan yang terpenting kamu sangat menggairahkan,” kata Vera lagi.

Christaly menelan ludah dengan susah payah. Dia merasa sangat khawatir kalau-kalau Vera tahu apa yang dia lakukan dengan Sean semalam. “Aku nggak ngerti ke mana arah pembicaraan ini,” kata Christaly dengan segenap keberanian yang dia miliki.

“Hem, begini. Meskipun Sean itu pacarku, tapi, aku nggak mau jadi orang yang egois. Apalagi aku tahu Sean itu seperti apa. Jadi, aku mau minta tolong sama kamu. Saat nanti kalian di Malang, Aku minta tolong agar kamu mau memuaskan Sean.” Vera menjelaskan secara terang-terangan. “Aku nggak mau Sean tersiksa dengan libidonya saat dia berada di Malang nanti sedangkan aku nggak bisa memuaskan dia.”

Mendengar permintaan tak masuk akal dari Vera, Christaly hanya bisa ternganga tak percaya. Dia sama sekali tidak menyangka jika perempuan itu akan mengatakan hal demikian kepadanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!