Dia hanyalah sekretaris tak menarik dan berkacamata yang selalu terlihat sibuk dengan tugasnya.
Tapi di balik penampilannya yang polos, Cassia Manon diam-diam menyimpan rasa pada bos playboy, Maxence Kingsford.
Sayangnya, Maxence tak pernah menggodanya meskipun dia seorang playboy karena mungkin di matanya—Cassia sama sekali tak menarik.
Sampai suatu malam dalam sebuah pesta bisnis, Max dijebak dengan minuman perangsang oleh seorang wanita yang menginginkan dirinya.
Cassia Manon yang selalu bersamanya—akhirnya menyelamatkannya, tapi konsekuensinya berat, satu malam menjadi pelampiasan hasrat bosnya. Dan Cassia justru menyerahkan tubuhnya dengan sukarela.
Pagi harinya, Cassia mengira semuanya selesai. Tapi ternyata Maxence tak ingin berhenti.
Bagaimana hubungan mereka selanjutnya? Apakah tetap tanpa ikatan dan hanya sekadar pelampiasan semata? Ataukah akan ada benih-benih cinta di hati Max untuk Cassia yang semakin lama cintanya semakin besar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zarin.violetta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak Ada Yang Spesial
Sementara itu, di dalam taksi yang melaju menuju Brooklyn. Clarissa membuka ponselnya di jok belakang. Ada pesan dari Jenni, pacar Julian.
[Clarissa, kau jadi datang ke yacht party Julian minggu depan, kan? Max Kingsford tertarik padamu. Jangan sia-siakan kesempatan ini.]
Clarissa membaca pesan itu sekali, dua kali, lalu tersenyum sendiri. Ia menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan kegirangan yang sesungguhnya membanjiri dadanya.
Jujur, sejak bertemu Max tadi, dia tidak bisa berhenti memikirkan pria itu.
Ia sangat ingin ikut ke penthouse-nya tadi. Sampai sekarang pun, dia masih membayangkan bagaimana rasanya berdiri di balkon penthouse mewah Max, melihat cakrawala Manhattan ditemani segelas wine mahal.
Tapi dia tahu, keputusannya menolak adalah langkah tepat. Ia tidak ingin menjadi wanita yang mudah dilupakan karena dia cukup tahu reputasi Max yang mudah bosan.
Dan sekarang, dengan adanya pesta yacht minggu depan, dia punya kesempatan kedua. Kali ini dia akan bermain lebih cerdas. Ia akan membuat Max jatuh lebih dulu.
[Baik, Jen. Aku akan datang] balas Clarissa sambil tersenyum lebar.
Ia memandang ke luar jendela taksi sambil masih tersenyum, “Minggu depan, Maxence Kingsford. Ayo tunjukkan seberapa jauh kau bisa mengejarku.”
*
*
Keesokan harinya Cassia bekerja seperti biasa. Tak ada yang berbeda dari rutinitasnya, tiba di kantor pukul setengah delapan pagi, menyiapkan kopi hitam tanpa gula untuk Max, menata dokumen, lalu mengetik jadwal Max yang padat.
Layar laptopnya menyala, menampakkan bayangan wajahnya yang kalem dan datar. Dia melihat sekilas ke arah Max di ruangan sebelah melalui kaca sekat.
Max bahkan tak menanyakan perihal tentang gaun yang dia beli kemarin. Dia mungkin berharap agar ada satu kalimat keluar dari mulut Max yang bukan tentang laporan pekerjaan.
Namun pria itu hanya melirik sekilas ketika Cassia masuk ke ruang kerjanya, lalu kembali menatap layar laptop dengan kening berkerut.
Seperti biasa.
Max sangat profesional dalam pekerjaannya meskipun pria itu brengsek dalam hal wanita. Sepengetahuan Cassia, bosnya itu berganti-ganti perempuan setiap satu atau dua minggu.
Kadang model, kadang artis, sosialita, pernah juga seorang pengusaha muda yang datang ke kantor dengan kacamata hitam dan bibir mengerut kesal karena Max membatalkan kencan di menit terakhir.
Tapi, dia tak pernah melecehkan wanita, karena dia lah yang dikejar oleh banyak wanita dari berbagai macam kalangan.
Cassia pernah melihat langsung di sebuah acara amal tahun lalu, wanita-wanita berdandan sempurna mengerumuni Max seperti lebah.
"Cass."
Cassia mendongak. Max sudah berdiri di ambang pintu ruang kerjanya—ruang sekretaris yang kecil penuh kaca dan rapi, hanya berjarak tiga meter dari ruang Max.
"Ya, Tuan Max?" Cassia menggeser kursinya sedikit, jarinya berhenti mengetik.
"Makan siang bisnis dengan Edward di restoran kuubah, jam setengah satu, sebentar lagi. Kau ikut, catat detail negosiasinya. Dan bawakan proposal revisi yang kemarin.”
"Baik, Tuan."
Max berbalik tanpa menambahkan sepatah kata pun. Cassia mendesah pelan, kemudian menyusun dokumen dan memasukkan laptop tipisnya ke dalam tas.
Ia sudah hafal ritme kerja seperti ini, perintah, eksekusi, laporan. Tak ada ruang untuk basa-basi. Cassia segera berlari menyusul sang bos ke lift.
Di dalam lift, Cassia berdiri di belakang Max. Posisi yang tetap sama sejak pertama dia bekerja dengan Max setahun lalu.
Dia tak berani melihat ke arah Max, hanya menunduk saja, karena Max bisa melihat pantulannya dan dinding kaca yang ada di sekitar mereka.
*
*
yuk semangatt cassia bentengi hati km yaa!
suka boleh, tapi dalam batas wajar.
biar kedepannya km tidak merasakan sakit mendalam.
ehh aku yakin cassia bukan type cwe yg bakal terpuruk oleh percintaan sii hihi
tpi untuk visual max disini bikin aku sedikit 🤏 salting 🤭