NovelToon NovelToon
TERJERAT

TERJERAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Anak Genius
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Aris Tea

" Nak. Ayo kita pulang, tak baik loh melamun di waktu senja, apalagi kamu melamun nya di bawah pohon randu." Tegur wanita tua, lembut dan tersenyum hangat kepada pemuda berusia 20 tahun.

" Ehk. Nek... Ayo.." Jawab pemuda itu tak beraturan ucapannya. Lalu bangkit dari tempat duduk di bawah pohon itu.

" Kamu kenapa Nak. Akhir akhir ini Nenek perhatikan kamu suka melamun seorang diri?"

" Gak kenapa-kenapa kok Nek." Jawab nya.

" Hmmmmmmm.." Gumam Nenek tak puas dengan jawaban dari pemuda yang kini berjalan berbarengan pulang ke rumah nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aris Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

EPISODE 19: SAATNYA BERMAIN API

Nenek Wati menarik tangan Langit dengan lembut, matanya penuh dengan rasa sayang bercampur rasa bersalah.

"Aku tahu kamu marah dan bingung Nak... Tapi Kakek Jui bukan hanya ingin menjeratmu untuk kepentingan sendiri. Ada alasan tersembunyi yang membuat dia harus melakukan itu."

Langit mengangkat wajahnya, matanya masih menyimpan kegamangan dan luka mendalam.

"Apa alasan yang bisa membuat seseorang membuang cucunya sendiri ke kampung terpencil ini, hanya untuk menjeratnya di kemudian hari Nek? Siapa sebenarnya dia?"

"Setahu Nenek, Kakek Jui berasal dari Ibukota. Dulu, sebelum Nenek menikah dengan almarhum suami Nenek, kami sempat menjalin hubungan. Saat bersamanya, Nenek tahu dia orangnya sangat royal dan berkuasa. Mungkin dia orang kepercayaan atau bahkan pemilik salah satu pengusaha ternama di negeri ini. Maaf Nak, Nenek hanya bisa memberitahu sedikit saja..."

"Lalu di mana dia sekarang Nek?" tanya Langit lagi.

"Entahlah... Dia sangat misterius. Sulit bagi orang sembarangan untuk bertemu langsung. Walaupun kami sering bicara lewat telepon, tapi nomornya selalu berubah-ubah, tidak bisa ditelepon balik."

Tiba-tiba, kedua mata Langit menelisik tajam ke sekeliling ruangan. Pendengarangannya yang tajam menangkap suara napas tipis di luar sana. Indranya bekerja maksimal.

Dengan cepat ia memberi kode mata pada Nenek untuk berhenti bicara.

"Sudah Nek, jangan diteruskan. Aku sudah paham dan... aku tak mau tahu lagi tentang sosok yang Nenek bicarakan itu."

Ucapan Langit membuat Nenek Wati mengerutkan kening, bingung dengan perubahan sikap cucunya yang tiba-tiba.

Menyadari hal itu, Langit segera tersenyum manis dan menjelaskan seolah ia pasrah.

"Aku hanya ingin hidup sederhana seperti pesan Ibuku, Nek. Tidak perlu mencari siapa jati diriku."

Nenek Wati akhirnya tersentuh dan mengangguk lega.

"Nenek ikut bahagia nak, akhirnya kamu ingin lepas dari jeratan takdir yang bisa membawamu pada kenistaan jika kamu kalah berperang melawan mereka."

Nenek pun tersenyum sambil mengelus rambut hitam legam cucunya itu.

"Iya nek. Sebaiknya Nenek istirahat, Langit juga mau masuk kamar tidur."

"Ya nak... Kalau begitu Nenek tidur duluan ya."

Saat punggung Nenek menghilang di balik pintu kamar, senyum manis di wajah Langit perlahan berubah. Sebuah senyuman miring yang sangat licik dan menakutkan terukir jelas di bibirnya.

"Maafkan Langit ya Nek... Langit terpaksa berbohong. Karena ada beberapa tikus yang sedang menguping di luar sana." bisiknya pelan.

"Dengan aku bilang begitu, rencanaku justru makin mulus berjalan. Pardi... Jaji... Kalian ingin bermain api dengan aku? Baiklah... akan aku ladeni habis-habisan. Sudah saatnya aku bertindak kejam!"

 

RENCANA JAHAT PARDI

Di luar rumah, di balik kegelapan malam...

Pardi berdiri mematung di balik pagar bambu. Ia mendengar jelas ucapan Langit yang katanya "tidak mau mencari jati diri".

'Hahaha! Ini kesempatan emas!' batinnya bersorak jahat. 'Tugas dari Jaji untuk menghabisi nyawa bocah ini bakal gampang banget kayaknya.'

Dengan cepat ia mengetik pesan di ponselnya.

"Besok saya dan anak buah akan bertindak. Dipastikan nyawa anak itu melayang hari ini juga."

Tak butuh waktu lama, balasan masuk.

"Saya harap segera selesaikan tugas yang sudah saya bayar. Dan ingat... JANGAN KAU SENTUH INTAN."

Darah Pardi mendidih membaca ancaman itu.

"Sialan kau Jaji! Berani sekali kau mengatur-atur aku! Tunggu saja... setelah urusan dengan Langit beres, gue habisin lo duluan!" geramnya dalam hati.

Setelah puas mengintai, Pardi pun pergi menuju motornya yang diparkir jauh agar tidak dicurigai.

"Uno, gue otw ke markas. Siapkan anak buah!" kirimnya singkat sebelum melesat menghilang di keheningan malam.

 

KOTAK RAHASIA DAN TEMAN SEJATI

Malam semakin larut, bulan purnama di malam ke-13 menerangi bumi dengan cahaya keperakan. Bintang-bintang berkelap-kelip seolah menjadi saksi bisu.

Seorang pemuda keluar dari rumah panggungnya. Langit berdiri tegak di halaman, matanya mengamati setiap sudut mulai dari halaman sendiri hingga ke rumah Teh Intan.

"Surat klaim tanah dari notaris ya... Hahaha!" tawanya kecil terdengar menyeramkan. "Sungguh licik cara main kalian. Kalian pikir dengan cara begitu aku akan ketakutan dan lari tunggang langgang?"

Seringai licik itu kembali terlihat, memperlihatkan barisan giginya yang rapi namun memancarkan aura dingin yang membekukan.

"Kalian salah besar... Kalian sedang berhadapan dengan hiu, bukan ikan kecil."

Ia berjalan mengelilingi rumah neneknya dengan langkah santai namun penuh wibawa. Berhenti tepat di bawah jendela kamarnya, tangannya mulai menggali tanah di bawah pohon besar.

Beberapa menit kemudian, sebuah kotak besi kecil tertimbun tanah terangkat.

Langit buru-buru membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah ponsel Android canggih lengkap dengan casannya yang sudah lama disembunyikan.

"Tadinya aku tak ingin melibatkan siapa-siapa... Tadinya aku ingin hidup tenang..." ucapnya pelan, namun suaranya berubah menjadi garang. "Tapi kalian terlalu jauh! Kalian mulai mengusik orang-orang yang sayang padaku!"

Jari telunjuknya menekan tombol power. Layar ponsel menyala terang memantul di wajahnya yang setengah tertutup bayangan malam. Wajahnya tampak sangat mengerikan dan penuh tekad membara.

"Sudah saatnya... Tiga sahabat terbaikku ikut andil dalam permainan ini."

"RIYAN... YUSUF... BARA..."

Satu per satu nama itu disebutkan dengan nada rendah dan berat.

"Kalian yang dulu selalu aku beri makan siang dan malam saat kita kecil... kalian yang pernah aku janjikan akan kuangkat derajatnya... Sudah saatnya kalian membantuku membalas semua ini!"

"Selama satu tahun penuh aku mengubur ponsel ini, mengubur identitasku... karena aku tak ingin terjerat urusan dunia kota. Tapi sekarang... aku yang akan menjerat kalian semua!"

Langit menghentakkan nafas kasarnya, takdir ku, aku yang akan menjalani sendiri, tidak mau di jerat oleh semua orang.

 

CATATAN PEMBACA:

SESUDAH MEMBACA JANGAN LUPA KLIK LIKE YA!

SYUKUR-SYUKUR DAPAT VOTE DAN GIFT KALAU KALIAN SUKA DENGAN CERITA INI.

JANGAN LUPA JUGA ADD KE LIBRARY / FAVORIT AGAR TIDAK KETINGGALAN UPDATE SELANJUTNYA!

SALAM DARI ANAK KAMPUNG,

ARIS.

Bersambung.

1
Neng
🤭🤭🤭🤭🤭
Neng
lumayan
Neng
👍👍👍👍
Tuyul
🤣🤣🤣🤣
Tuyul
😍😍😍😍
sitanggang
muter2 kek gangsing 🙄😵😵‍💫
RAJA CHAN
sangat bagus
Tuyul
menarik
Tuyul
👍👍👍
Aden
ayam dasar lemah
Aden
lumayan menarik
Robet
🤭🤭🤭🤭🤭 lumpur Lapindo
Aris Nugraha
🤣🤣🤣
Aris Nugraha
keren kak
Robet
🤣🤣🤣
Robet
keren
Aisyah Suyuti
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!