Saga Mahendra percaya satu hal, pengkhianatan tidak pernah memiliki alasan. Itulah yang ia yakini sejak hari ia melihat Sahira, wanita yang ia cintai, berpelukan dengan sahabatnya sendiri. Sejak saat itu, Saga memilih pergi. Meninggalkan cinta, mimpi, dan masa lalu yang terlalu menyakitkan.
Lima tahun kemudian, ia kembali. Bukan lagi remaja yang rapuh, tapi seorang dokter dengan hati yang telah membeku. Namun, takdir mempermainkannya. Sahira muncul kembali bersama seorang anak berusia empat tahun.
Waktu tidak pernah berbohong. Lalu, siapa ayah dari anak itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, tangan Saga terus mencengkeram setir mobil dengan kuat.
Pikirannya kacau dengan ucapan Revano tadi terus terngiang tanpa henti di kepalanya.
"Sahir itu anak lo."
Brak!
Saga memukul setir pelan dengan frustrasi.
“Mustahil…” gumamnya lirih. Tetapi, semakin ia mencoba menyangkal semakin banyak hal terasa masuk akal. Tatapan Sahira cara wanita itu selalu menghindari pembicaraan tentang ayah Sahir dan kemiripan wajah bocah itu dengannya.
Ditambah lagi ucapan Dokter Mario pagi tadi. Semua terasa membuat dadanya sesak. Getaran ponsel yang tak berhenti berbunyi membuat Saga sedikit tersadar. Nama ibunya terus muncul di layar, sudah belasan panggilan masuk sejak tadi. Dengan rahang mengeras, Saga mempercepat laju mobilnya menuju Rumah Sakit Kasih Ibu.
Begitu mobilnya berhenti di depan lobby IGD rumah sakit, Saga langsung turun dengan langkah cepat. Suasana rumah sakit malam itu terlihat sibuk. Beberapa perawat berlalu-lalang dengan wajah tegang. Dan di depan ruang ICU Nyonya Tatih berdiri dengan wajah pucat penuh kecemasan.
Begitu melihat Saga datang, wanita itu langsung menghampiri anaknya.
“Saga!”
“Ayah gimana?” tanya Saga cepat.
Tatih langsung memegang lengan anaknya dengan tangan gemetar.
“Ayah kamu kena serangan jantung mendadak…”
Wajah Saga langsung berubah tegang.
“Kapan?”
“Barusan…” suara Tatih mulai bergetar. “Setelah bicara sama Pamanmu.”
Kalimat itu langsung membuat langkah Saga sedikit terhenti.
Tatapannya berubah.
“Paman Mario?”
Tatih mengangguk cepat.
“Mereka ngobrol di ruangan Paman tadi sore. Setelah itu Ayah kamu tiba-tiba marah besar di rumah.”
Jantung Saga berdetak semakin tidak tenang. Pikirannya langsung kembali pada pembicaraannya dengan Dokter Mario pagi tadi.
'Apa Paman Mario membicarakan itu pada ayah?' Napas Saga terasa berat.
Sementara, Tatih masih berbicara dengan wajah panik,
“Dokter bilang tekanan darah Ayah kamu naik drastis sebelum kena serangan.”
Saga nyaris tidak mendengar kelanjutan ucapan ibunya. Karena sekarang kepalanya dipenuhi satu pertanyaan besar yang mulai membuatnya takut mencari jawabannya sendiri.
Di sisi lain kota, suasana di toko bunga Sahira jauh lebih tenang dibanding beberapa jam lalu.
Toko sudah hampir tutup.
Lina dan Rani sedang merapikan bunga terakhir sebelum tutup, sementara Sahir tertidur lagi di ruangan kecilnya setelah lelah bermain.
Sahira duduk diam di dekat meja kasir sambil memandangi vas mawar putih dan tulip di depannya. Tatapannya kosong, pikirannya terus tidak tenang sejak melihat Saga tadi sore.
Hingga suara pintu toko terbuka perlahan membuatnya menoleh. Revano masuk bersama Ririn. Namun, begitu melihat ekspresi Revano, jantung Sahira langsung terasa tidak enak.
“Kalian balik lagi?” tanyanya pelan.
Revano mengangguk kecil. Ririn terlihat diam sejak tadi, seolah membiarkan Revano yang bicara, karena hanya Revano yang menemui Saga tadi.
“Aku ketemu Saga malam ini,” ucap Revano akhirnya.
Wajah Sahira langsung berubah pucat tatapannya menegang.
“Kamu … ketemu dia?”
Revano mengangguk, Sahira perlahan bangkit dari duduknya.
“Apa yang kalian omongin?”
Revano terdiam beberapa detik, akhirnya ia memilih jujur.
“Aku mengatakan soal Sahir.”
Sesaat dunia Sahira seperti berhenti, matanya langsung membesar.
“Apa?!”
Suara wanita itu bergetar keras.
“Kamu bilang apa ke dia?!”
“Sahira—”
“Kamu gila?!” bentak Sahira dengan mata mulai memerah. “Kamu tahu Saga pasti bakal ngambil Sahir dari aku!” Napasnya mulai memburu panik, tubuhnya bahkan sedikit gemetar sekarang.
“Aku nggak mau kehilangan anakku…” suaranya mulai pecah. “Rev … aku nggak bisa…”
Melihat Sahira hampir menangis, Revano langsung mendekat mencoba menenangkan.
“Dengerin aku dulu.”
Sahira menggeleng cepat.
“Kamu nggak ngerti—”
“Sahira!" Kali ini suara Revano terdengar lebih tegas.
Wanita itu akhirnya terdiam meski air matanya mulai jatuh. Revano menatapnya serius.
“Aku nggak bakal biarin siapa pun ngerebut Sahir dari kamu.”
Tatapan pria itu penuh keyakinan.
“Aku bakal lindungin kalian.”
Sahira masih terlihat ketakutan. Karena ia tahu siapa keluarga Mahendra. Kalau mereka benar-benar ingin mengambil Sahir, mereka punya kuasa untuk melakukannya.
Sampai akhirnya Ririn yang sejak tadi diam perlahan bicara,
“Mungkin … Sahira harus pindah.”
Tatapan Sahira langsung beralih padanya.
“Pindah?”
Ririn mengangguk pelan.
“Kalau Dokter Saga mulai tahu semuanya, tempat ini nggak aman lagi buat kamu dan Sahir.”
Sahira langsung menunduk, tatapannya jatuh pada toko bunga kecil itu. Tempat yang selama ini menjadi rumahnya. Tempat penuh kenangan tentang ibunya.
“Ini toko ibuku dulu…” gumamnya pelan. “Aku nggak bisa ninggalin tempat ini.”
Revano menghela napas berat.
“Kalau perlu jual aja toko ini.”
Sahira langsung menoleh.
"Rev…”
“Beli tempat baru yang jauh dari ibu tiri sama adik tiri lo.”
Tatapan Revano berubah serius.
“Keselamatan Sahir lebih penting.” Kalimat itu membuat Sahira terdiam.
Ririn berpikir sejenak sebelum akhirnya berkata pelan,
“Bali mungkin bagus.”
Sahira langsung membeku, tatapannya perlahan kosong. Bali adalah tempat yang dulu pernah ia impikan bersama Saga. Dulu, saat mereka masih SMA, Saga pernah berkata,
"Kalau nanti aku udah jadi dokter dan sukses … kita bangun rumah kecil di Bali."
Sahira selalu mengingat mimpi itu. Melihat perubahan ekspresi Sahira, Revano langsung memahami sesuatu.
“Kalau kamu mau…” ucapnya hati-hati, “aku bisa bantu urus semuanya.”
Sahira menunduk pelan, matanya mulai berkaca-kaca lagi.
“Aku setuju.”
Setelah keputusan itu dibuat, suasana di dalam toko bunga mendadak terasa berbeda.
Seolah semua orang menyadari bahwa malam itu akan menjadi malam terakhir mereka di tempat kecil yang selama ini menjadi rumah. Sahira berdiri cukup lama memandangi setiap sudut toko. Rak bunga kayu yang mulai usang. Foto ibunya yang tergantung di dekat meja kasir. Dan vas mawar putih serta tulip yang masih berada di tempatnya.
Dadanya terasa sesak ketika mengingat Sahir, Sahira tahu ia tidak punya pilihan lain.
Perlahan wanita itu menarik napas panjang lalu menoleh pada Lina dan Rani yang sejak tadi diam memperhatikan dirinya.
“Lina … Rani…”
Kedua gadis itu langsung mendekat.
“Iya, Mbak?”
Sahira berusaha tersenyum kecil meski matanya mulai memerah.
“Tolong beresin barang-barang kalian malam ini.”
Keduanya langsung terdiam.
“Besok pagi…” suara Sahira sedikit bergetar, “kita pindah.”
Wajah Lina langsung berubah kaget.
“Besok pagi?”
“Cepat banget, Mbak…” Rani juga terlihat syok.
Sahira perlahan mengangguk.
“Aku nggak mau ambil risiko buat Sahir.”
Sahir adalah segalanya bagi Sahira. Lina menghela napas pelan sebelum akhirnya mengangguk.
“Kalau itu demi Sahir … kami ikut.”
“Iya,” sahut Rani cepat. “Ke mana pun Mbak Sahira pergi.”
Mata Sahira langsung terasa panas mendengar itu. Selama ini Lina dan Rani memang bukan sekadar karyawan baginya. Mereka sudah seperti keluarga.
“Terima kasih…” gumam Sahira lirih.
Revano yang berdiri tak jauh dari sana akhirnya ikut bicara,
“Nanti aku bantu urus tiket dan tempat tinggal sementara di Bali.”
Sahira mengangguk kecil.
“Maaf jadi merepotkan…”
“Jangan ngomong begitu lagi,” tegur Revano pelan.
Ririn juga tersenyum lembut.
“Kalian fokus aja istirahat malam ini.”
Sementara itu di ruangan kecil, Sahir masih tertidur pulas tanpa tahu bahwa hidupnya akan berubah lagi mulai besok pagi.
'Saga, aku minta maaf. Sekali lagi aku membuang peranmu di hidup Sahir,' tangannya meremas bunga tulip putih itu.
orang yang terobsesi bisa melakukan hal yang sangat berbahaya.
Takut kalau keluarga tiri dan Clara menemukan mereka di bali