NovelToon NovelToon
Cincin Di Balik Almamater

Cincin Di Balik Almamater

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Nikahmuda
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: iinayah

Di SMA Garuda, Arkananta Dewa adalah personifikasi dari aturan itu sendiri. Sebagai Ketua OSIS yang perfeksionis, ia adalah matahari yang ditakuti sekaligus dikagumi. Di sisi lain, Ziva Clarissa adalah anomali; siswi jurnalisme yang vokal, ceroboh, dan pembenci birokrasi. Mereka adalah dua kutub yang seharusnya tidak pernah bertemu dalam satu garis takdir.
​Namun, sebuah perjodohan bisnis yang dipaksakan oleh kedua orang tua mereka mengubah segalanya dalam semalam. Tanpa cinta, tanpa persiapan, mereka diikat dalam pernikahan siri yang sah di mata agama dan keluarga, namun terlarang di mata sekolah.
​Keduanya sepakat pada satu hal: Rahasia ini harus mati bersama mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aliansi yang Terpaksa dan Percikan Api di Lobi

​​Suasana di lobi Apartemen 402 mendadak vakum dari oksigen. Kata "istriku" yang meluncur dari bibir Arkan bukan hanya sekadar kata; itu adalah ledakan granat yang menghancurkan seluruh dinding pertahanan yang mereka bangun selama berminggu-minggu.

​Revan, yang masih memegangi pipinya yang panas bekas tamparan Ziva, tertawa sumbang. Tawanya terdengar kering dan penuh ketidakpercayaan.

"Istri? Arkan, lo bercanda kan? Lo mau ngelindungin dia sampai harus ngaku-ngaku nikah? Lo pikir ini drama TV?"

​Arkan tidak bergeming. Ia melangkah satu tindak lebih maju, memperpendek jarak dengan Revan. Aura kepemimpinan yang biasanya ia gunakan untuk menertibkan barisan siswa kini berubah menjadi ancaman predator.

"Aku tidak pernah bercanda soal status hukum dan agama, Revan. Keluar dari sini sebelum aku panggil keamanan atas dasar gangguan privasi."

​Ziva meremas ujung almamaternya di balik punggung Arkan. Jantungnya berpacu begitu cepat hingga ia merasa bisa pingsan kapan saja. Arkan, lo gila! Kita tamat! teriaknya dalam hati.

​Revan menatap Arkan, lalu beralih ke Ziva yang bersembunyi di belakang punggung lebar sang Ketua OSIS.

"Jadi ini alasan lo selalu telat? Alasan lo selalu pucat kalau bahas Arkan? Kalian... nikah siri?"

​"Itu bukan urusanmu," potong Arkan tajam.

"Urusanmu adalah menjauh dari dia. Sekarang."

​Revan memakai helmnya dengan kasar, namun sebelum ia berbalik, ia membisikkan sesuatu yang membuat bulu kuduk Ziva meremang.

"Rahasia sebesar ini nggak akan terkubur selamanya, Ar. Gue mungkin diem sekarang, tapi kalau gue liat Ziva nangis lagi gara-gara lo... gue sendiri yang bakal bawa berkas pernikahan kalian ke meja Pak Danu."

​Dengan deru mesin motor sport yang memekakkan telinga, Revan melesat meninggalkan area apartemen.

​Di Dalam Lift: Keheningan yang Berbeda

​Begitu pintu lift tertutup, Arkan langsung menyandarkan punggungnya ke dinding besi yang dingin. Napasnya yang tadi tertata kini terdengar berat. Ziva berdiri di sudut berlawanan, menatap angka lantai yang bergerak naik dengan tatapan kosong.

​"Kenapa lo bilang gitu, Ar?" suara Ziva serak, nyaris berbisik.

​Arkan memejamkan mata. "Dia nggak akan berhenti, Ziva.

Kalau aku cuma bilang kita sepupu, dia bakal terus ngejar kamu, neror kamu, bahkan mungkin nyelidiki lebih jauh. Dengan status 'istri', aku ngasih dia batasan moral yang dia nggak berani langgar."

​"Tapi sekarang dia pegang kartu as kita!" Ziva berbalik menghadap Arkan, air mata frustrasi mulai mengalir. "Kalau dia keceplosan sama Sisil? Atau kalau dia dendam sama lo karena posisi lo di OSIS?"

​Arkan membuka matanya, menatap Ziva dengan intensitas yang sama seperti saat mereka berpelukan di mobil tadi pagi. "Aku akan urus Revan. Aku punya sesuatu yang bisa bikin dia diam. Sekarang, masuk ke dalam. Kamu harus istirahat."

​Malam yang Gelisah

​Malam itu, Apartemen 402 tidak sedingin biasanya. Ziva tidak langsung mengunci diri di kamar. Ia duduk di bar dapur, menatap punggung Arkan yang sedang menyeduh teh hangat.

​"Ar," panggil Ziva.

​Arkan menoleh, menyodorkan satu cangkir teh ke depan Ziva.

"Minum ini. Biar kamu nggak gemetar lagi."

​Ziva menerima cangkir itu, merasakan hangatnya menjalar ke telapak tangannya. "Soal pelukan tadi pagi... makasih ya. Gue ngerasa... lebih tenang."

​Arkan duduk di kursi sebelah Ziva, jarak mereka hanya terbatas oleh sudut meja. "Aku juga. Maaf kalau aku terkesan otoriter tadi di lobi. Aku cuma nggak tahan liat dia nyudutkan kamu."

​Tiba-tiba, ponsel Arkan bergetar di atas meja. Sebuah pesan masuk dari grup koordinasi OSIS.

​Clarissa: Arkan, besok ada rapat mendadak jam 06.30 pagi ya. Pak Danu mau bahas soal isu 'hubungan tidak sehat' antar siswa yang mulai meresahkan guru-guru. See you.

​Ziva membaca pesan itu karena layar ponsel Arkan menyala terang. Ia menatap Arkan dengan cemas.

"Hubungan tidak sehat? Apa Clarissa beneran udah lapor ke Pak Danu?"

​Arkan mengernyitkan dahi. "Sepertinya begitu. Clarissa nggak akan berhenti sebelum dia dapet apa yang dia mau. Dia mau aku, dan dia mau kamu keluar dari sekolah."

​Ziva meletakkan cangkirnya dengan tangan gemetar. "Gimana kalau besok Revan juga bicara? Kita dikepung, Ar."

​Arkan meraih tangan Ziva di atas meja.

Ini bukan pelukan, tapi genggaman tangan yang sangat erat.

"Dengar, Ziva. Di sekolah, kita kembali ke rencana awal. Kita musuh. Kita nggak kenal. Biar aku yang hadapi Clarissa dan Pak Danu. Apapun yang terjadi, jangan pernah akui apapun tanpa aba-aba dariku. Mengerti?"

​Ziva mengangguk pelan. Di bawah lampu dapur yang remang, mereka menyadari bahwa pernikahan paksa ini telah berubah menjadi aliansi perang. Mereka bukan lagi dua orang asing yang dipaksa tinggal bersama, melainkan dua prajurit yang saling melindungi punggung di tengah medan tempur bernama SMA Garuda.

​Esok Pagi: Ambang Badai

​Pukul 06.20, Arkan sudah berdiri di ruang OSIS. Clarissa sudah di sana, duduk dengan anggun sambil memeriksa kuku-kukunya. Saat Arkan masuk, Clarissa tersenyum manis, namun matanya memancarkan kedinginan.

​"Pagi, Arkan. Kamu kelihatan capek banget. Semalam tidur di mana? Di rumah... atau di 'tempat lain'?" tanya Clarissa dengan nada menyindir yang sangat kental.

​Arkan hanya meletakkan tasnya tanpa ekspresi. "Di tempat yang seharusnya, Clarissa. Mari mulai rapatnya. Aku tidak punya banyak waktu untuk basa-basi."

​Di luar ruang OSIS, Ziva berjalan melewati koridor dengan jantung berdebar. Ia melihat Revan sedang bersandar di loker, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

Revan tidak menyapa, hanya mengangguk kecil, seolah memberi kode bahwa ia masih memegang rahasia itu.

​Badai besar sedang berkumpul di atas SMA Garuda, dan kali ini, payung kuning Ziva tidak akan cukup untuk melindungi mereka berdua.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!