NovelToon NovelToon
Satu Ranjang Dua Luka

Satu Ranjang Dua Luka

Status: tamat
Genre:Rumah Tangga / Perjodohan / Misteri / Tamat
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Keana Elvaretta percaya bahwa pisau bedah di tangannya bisa mengungkap kebenaran yang disembunyikan mayat, namun ia gagal mengungkap isi hati suaminya sendiri, Ghazali Mahendra. Menikah karena sebuah wasiat dan paksaan keadaan, Keana harus menerima kenyataan pahit bahwa ranjang pengantinnya hanyalah medan perang emosional yang dingin.Bagi Ghazali, seorang Jaksa Penuntut Umum yang ambisius dan memuja kesempurnaan, Keana hanyalah wanita "berbau formalin" yang merusak citra idealnya.
Di siang hari, mereka adalah rekan profesional yang bersinergi memecahkan kasus hukum dan forensik, namun di malam hari, mereka hanyalah dua orang asing yang berbagi luka di bawah satu selimut. Saat rahasia besar mulai terkuak dari sebuah meja otopsi, Keana menyadari bahwa dirinya selama ini hanyalah 'alamat yang salah' untuk cinta yang dikirimkan Ghazali. Mampukah Keana bertahan saat luka yang ia bedah setiap hari ternyata adalah hatinya sendiri?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Sakit yang Tersembunyi

​Lift eksklusif yang membawa kami menuju lantai empat puluh dua apartemen Sudirman ini bergerak tanpa suara, namun dengungan di kepalaku terasa seperti deru baling-baling helikopter.

​Ghazali menyandarkan sebagian besar bobot tubuhnya pada bahuku. Napasnya terdengar berantakan, dangkal, dan diiringi getaran hebat dari giginya yang bergemeretak menahan dingin. Pakaian kami berdua basah kuyup, dipenuhi oleh lumpur merah dari Taman Pemakaman Umum Karet Bivak yang menempel menjijikkan di atas kain mahal. Air hujan menetes dari ujung rambut Ghazali, jatuh ke lantai lift berbahan granit, menciptakan genangan kecil yang merefleksikan kehancuran kami malam ini.

​Aku melingkarkan lengan kananku di pinggangnya, memeluknya seerat mungkin untuk menyalurkan sisa panas tubuhku.

​"Kita hampir sampai, Mas. Bertahanlah," bisikku, melirik ke arah panel angka lift yang merangkak naik.

​Ghazali tidak menjawab. Matanya terpejam rapat. Wajahnya yang biasanya memancarkan keangkuhan pualam seorang penuntut umum kini sewarna dengan abu vulkanik. Ia sedang mengerahkan seluruh sisa tenaganya hanya untuk tetap berdiri tegak, menolak untuk tumbang di depanku meskipun aku tahu organ internalnya sedang menjerit meminta pertolongan.

​Ting.

​Pintu lift terbuka. Aku segera memapahnya menyusuri koridor yang sunyi, memasukkan kode akses pada pintu apartemen, dan menyeret kami berdua masuk ke dalam kehangatan ruang tengah.

​Begitu pintu tertutup dan mengunci secara otomatis, sisa-sisa pertahanan fisik Ghazali akhirnya runtuh seutuhnya. Kakinya kehilangan tenaga. Jika aku tidak menahannya dengan sekuat tenaga, ia pasti sudah menghantam lantai kayu oak itu.

​"Duduk di sofa," aku membimbingnya dengan susah payah, membiarkan tubuh besarnya merosot ke atas bantalan sofa berbahan kulit.

​Ghazali menyandarkan kepalanya ke belakang, napasnya memburu. Tangan kanannya yang terbalut perban diletakkannya di atas paha dengan sangat hati-hati. Perban yang seharusnya steril itu kini telah berubah warna menjadi cokelat kehitaman akibat campuran darah, obat salep, dan lumpur kuburan yang mengandung jutaan bakteri anaerob.

​"Aku akan menyiapkan air hangat dan peralatan medis. Kau tidak boleh tidur dulu, Ghazali!" perintahku tegas, menahan kepanikan yang meremas lambungku.

​Aku berlari ke kamar mandi, mengambil baskom kecil berisi air hangat, handuk bersih, dan menyambar kotak P3K kelas bedah minor dari laci meja kerja Kakek. Saat aku kembali ke ruang tengah, Ghazali sedang berusaha membuka kancing kemeja hitamnya yang basah menggunakan tangan kirinya yang gemetar.

​"Biar aku saja," aku berlutut di sela-sela kakinya, menepis tangan kirinya dengan lembut.

​Dengan cekatan, aku membuka satu per satu kancing kemejanya, lalu menarik kain basah itu dari bahunya yang lebar. Otot-otot di dadanya berkontraksi hebat menahan dingin. Aku mengambil handuk tebal dan mengeringkan tubuh atasnya serta rambutnya dengan gerakan cepat namun hati-hati, memastikan tidak ada lagi sisa air hujan yang bisa memperburuk hipotermianya.

​"Kau berlebihan, Dokter," gumam Ghazali dengan suara seraknya. Ia memaksakan sebuah senyum miring yang sangat tipis, berusaha mengusir raut ketakutan dari wajahku. "Aku pernah ditikam oleh buronan kasus korupsi tiga tahun lalu dan masih bisa menyetir sendiri ke rumah sakit. Sedikit lumpur tidak akan membunuhku."

​"Buronan itu menikammu dengan pisau, Mas, bukan dengan Asam Hidrofluorik murni," balasku tajam, tidak termakan oleh lelucon pertahanannya.

​Aku menggeser posisiku, meraih lengan kanannya yang hancur. Tatapanku seketika berubah menjadi tatapan klinis seorang ahli patologi forensik.

​"Asam Hidrofluorik adalah zat kimia korosif yang tidak memiliki belas kasihan. Saat kau memegang sabuk yang meleleh di bunker itu, ion fluorida menembus epidermis kulitmu," jelasku dengan suara datar, mencoba menutupi getaran ngeri di nadaku saat aku mulai menggunting perban kotor itu. "Lumpur pemakaman yang menempel di perban ini mengandung bakteri patogen. Jika bakteri ini masuk ke dalam jaringan nekrotik (jaringan mati) di lukamu, kau akan mengalami sepsis. Bakteri itu akan memakan dagingmu dari dalam, dan sebelum matahari terbit, ahli bedah terpaksa harus mengamputasi tanganmu dari siku ke bawah."

​Senyum di bibir Ghazali luntur seketika. Ia menelan ludah dengan susah payah saat lapisan perban terakhir berhasil kubuka.

​Pemandangan di balik perban itu cukup untuk membuat siapa pun memalingkan wajah.

​Kulit punggung tangannya telah melepuh mengerikan, menyisakan daging berwarna merah kehitaman yang meradang. Beberapa bagian kulit yang mati telah mengelupas, mengekspos lapisan lemak subkutan yang mulai membusuk akibat kontaminasi lumpur dan air kotor. Bengkak di sekitarnya menandakan bahwa inflamasi akut sedang terjadi.

​Aku menahan napas. Rasa perih yang mendera tangannya pasti berada di luar batas toleransi manusia normal. Namun pria ini... ia bahkan tidak mengerang sedikit pun saat berada di pemakaman tadi. Ia menyembunyikan rasa sakit fisiknya di balik duka kematian putranya.

​Sakit yang tersembunyi. Pria ini selalu menanggung semuanya sendirian di dalam kegelapan.

​"Ini akan sangat menyakitkan, Ghazali," aku menatap lurus ke dalam matanya, mengambil sebotol NaCL (salin steril) dan sebuah pinset anatomi berserta scalpel ukuran 11. "Aku tidak punya anestesi lokal yang kuat. Aku harus melakukan debridement darurat malam ini juga. Aku harus mengangkat semua jaringan daging yang mati dan terkontaminasi lumpur ini secara manual, agar infeksi tidak menyebar ke aliran darahmu."

​Ghazali menatap scalpel tajam di tanganku, lalu menatap wajahku. Tidak ada kilat ketakutan di mata gelapnya, yang ada hanyalah penyerahan diri yang absolut.

​"Lakukanlah," ucapnya pelan. Ia menyandarkan kepalanya kembali ke sofa, memejamkan mata, dan mencengkeram erat tepi bantalan sofa kulit itu dengan tangan kirinya hingga buku-buku jarinya memutih. "Aku percaya padamu."

​Kata-kata itu adalah beban sekaligus kehormatan terbesar yang pernah kuterima sepanjang karier medisku.

​Aku menarik napas panjang, menyingkirkan identitasku sebagai seorang istri yang cemas, dan memakai mahkotaku sebagai seorang ahli medis.

​"Gigit handuk ini," aku menyodorkan gulungan handuk bersih ke mulutnya. "Jangan menahan napasmu, atau detak jantungmu akan kembali mengalami aritmia."

​Ghazali menggigit handuk tersebut. Aku menuangkan cairan salin untuk membilas lumpur dari permukaan lukanya. Begitu air garam itu menyentuh dagingnya yang terbuka, tubuh Ghazali tersentak keras ke depan. Otot di leher dan lengannya menonjol ekstrem. Matanya terpejam sangat rapat hingga kerutan dalam muncul di dahinya.

​"Maaf... maafkan aku," bisikku berulang kali layaknya sebuah mantra penebus dosa.

​Dengan tangan yang harus kupaksa stabil, aku menggunakan pinset untuk menjepit ujung jaringan kulit mati yang menghitam, lalu menggunakan scalpel untuk memotongnya. Suara basah dari daging yang dipotong mengisi kesunyian apartemen. Darah segar kembali mengalir, menandakan bahwa aku telah mencapai lapisan jaringan yang masih hidup.

​Keringat dingin mengucur deras dari pelipis Ghazali. Ia mengerang tertahan dari balik handuk yang ia gigit. Suara erangan itu menyayat-nyayat katup jantungku. Setiap kali aku menggoreskan pisau itu, rasanya seolah aku sedang menyayat nadiku sendiri. Namun aku tahu, jika aku berhenti karena rasa kasihan, aku justru akan membunuhnya.

​Lima belas menit berlalu bagaikan penyiksaan abadi di dasar neraka.

​"Selesai," aku melempar scalpel dan pinset yang berlumuran darah itu ke dalam baskom. Tanganku gemetar hebat.

​Aku dengan cepat mengoleskan salep kalsium dosis tinggi pada area yang sudah kubersihkan, lalu membalutnya kembali dengan tumpukan kasa steril berlapis-lapis.

​Begitu perban terakhir terpasang, Ghazali memuntahkan handuk dari mulutnya. Ia terengah-engah mencari oksigen, dadanya naik turun dengan sangat brutal. Seluruh tubuhnya berkeringat seolah ia baru saja berlari maraton di tengah gurun pasir.

​Aku mencelupkan handuk kecil ke air hangat dan menyeka keringat di wajah dan lehernya. Tangisku, yang sejak tadi kutahan demi menjaga visibilitas medisku, akhirnya jatuh menetes.

​"Kau sudah melewati bagian terburuknya, Mas," isakku, menyandarkan dahiku ke dada kirinya yang bidang dan hangat. Suara detak jantungnya yang berpacu cepat menjadi melodi paling menenangkan yang pernah kudengar. "Lukanya sudah bersih."

​Ghazali menghela napas panjang, membiarkan rasa sakitnya perlahan mereda. Tangan kirinya bergerak naik, menelusup ke balik rambutku yang setengah basah, lalu membelai tengkukku dengan kelembutan yang luar biasa protektif.

​"Menangis saat sedang melakukan operasi? Kau bisa ditegur keras oleh konsulenmu, Dokter Keana," goda Ghazali dengan suara serak, mencoba menggunakan sisa energinya untuk mengusir rasa bersalah yang terpampang di wajahku.

​Aku mengangkat kepalaku, menatap wajahnya dengan pandangan kesal yang bercampur lega. "Jangan berani-berani bercanda, Jaksa Mahendra. Aku baru saja menguliti tanganmu hidup-hidup."

​Ghazali tersenyum tipis. Ia menatap tangan kanannya yang kini terbalut perban bersih, lalu menatap cincin pernikahan platinum yang tadi kupasang paksa di jari manis tangan kirinya. Ia memutar cincin itu pelan dengan ibu jarinya, sebuah gestur yang memancarkan rasa hormat yang mendalam.

​"Sakit ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa sakit saat aku mengira aku akan kehilanganmu," ucap Ghazali, menatap lurus ke dalam mataku. "Di makam tadi... saat kau memasangkan kembali cincin ini dan menolak untuk meninggalkanku... aku menyadari bahwa aku tidak lagi peduli pada kutukan darah keluargaku. Jika aku adalah monster yang lahir dari monster, maka biarlah cintamu yang menjadi satu-satunya rantai yang mengurungku."

​Kata-kata itu begitu murni, begitu jujur, hingga membuatku terdiam. Namun, di balik keromantisan yang memilukan itu, sebuah batu raksasa mendadak menghantam kembali nuraniku.

​Gala.

​Anak laki-lakinya. Putra yang ia tangisi di pemakaman kotor itu, karena ia berpikir Maia telah menyuntik mati anak itu enam tahun lalu.

​Ghazali baru saja menyerahkan seluruh sisa kewarasannya kepadaku malam ini. Ia memilih untuk hidup karena ia mengira ia hanya memiliki aku. Ia tidak tahu bahwa duka yang ia ratapi tadi di makam adalah duka yang salah. Balita yang mati karena suntikan sianida di klinik aborsi itu tidak pernah ada. Bidan Darmi telah menyelamatkan anak itu, menyembunyikannya, hingga akhirnya Nyonya Ratna menemukannya dan memindahkannya ke Panti Asuhan Kasih Mahendra.

​Dan kenyataan yang paling mematikan: anak yang bertahan hidup hingga usia enam tahun itu, justru mati sebulan yang lalu karena dijadikan tikus percobaan untuk menakar racun Digoxin oleh Maia.

​Maia membunuh darah dagingnya sendiri tanpa sadar, dan Nyonya Ratna membiarkannya terjadi.

​Aku menelan ludah dengan susah payah. Ujung jariku menjadi sedingin es.

​Ini adalah sakit yang tersembunyi. Rasa sakit yang sesungguhnya. Sebuah rahasia berdarah yang kusimpan rapat-rapat di balik lidahku. Jika aku membuka mulutku sekarang, jika aku memberitahu Ghazali bahwa putranya sebenarnya baru saja dibunuh bulan lalu, kejutan psikologis itu (psychological shock) akan memicu lonjakan kortisol dan katekolamin yang fatal. Aritmia jantungnya akan kembali menyerang, dan kali ini, tidak akan ada Kalsium Glukonat yang bisa menyelamatkannya.

​Aku harus berbohong. Aku harus membedah kasus ini sendirian dari bayang-bayang, sampai jantung pria ini cukup kuat untuk menerima hantaman palu realita.

​"Kenapa kau diam, Keana?" Ghazali memiringkan kepalanya, menangkap kekosongan yang melintas sesaat di mataku.

​"Tidak apa-apa," aku memaksakan sebuah senyum hangat, menangkup sebelah pipinya. "Aku hanya lelah. Dan aku bersyukur kau masih bernapas di hadapanku malam ini."

​"Kita akan beristirahat malam ini," Ghazali mengecup telapak tanganku yang menempel di pipinya. "Karena besok, kita harus bersiap menghadapi badai yang sesungguhnya. Bareskrim dan pengadilan tidak akan membiarkan kita bersembunyi lebih lama lagi. Aku harus merancang strategi bagaimana caranya menyeret ibuku dan Maia ke kursi pesakitan, meskipun statusku saat ini adalah seorang buronan administratif."

​"Ghazali," aku menyebut namanya dengan serius, mengalihkan fokus pembicaraan. "Mengenai Pengadilan Agama lusa nanti..."

​"Gugatan cerai itu batal demi hukum," potong Ghazali tanpa ragu. "Aku akan mencabutnya secara resmi. Atau jika tidak bisa, aku akan berdiri di ruang sidang Pengadilan Agama dan menyatakan pada hakim bahwa aku lebih memilih dihukum mati daripada harus berpisah darimu."

​"Tidak. Jangan dicabut," balasku cepat, membuat alis Ghazali bertaut tajam.

​"Apa maksudmu?" Ghazali menegang, aura kedinginannya sedikit kembali. "Apakah kau masih meragukanku?"

​"Bukan begitu, Mas," aku menjelaskan dengan suara tenang seorang ahli strategi. "Ingat rencanamu sendiri? Sidang perceraian yang terbuka untuk publik adalah satu-satunya panggung yang legal bagi kita untuk membeberkan kebusukan keluarga Mahendra tanpa bisa dibungkam oleh pasal pencemaran nama baik. Media massa akan meliput persidangan kita. Jika kita menggunakan forum itu untuk menggugat sita marital atas aset yayasan, hakim perdata akan terpaksa memanggil pihak terkait. Itu adalah pintu masuk kita."

​Ghazali terdiam, menimbang argumenku. Insting jaksanya kembali bekerja secara sinkron dengan logikaku.

​"Kau ingin menggunakan pengadilan agama sebagai pengadilan pidana bayangan?" Ghazali menyeringai tipis, sebuah kekaguman yang absolut terpancar di matanya. "Kau akan menjadikanku sebagai musuh di ruang sidang, untuk menghancurkan musuh kita yang sebenarnya yang duduk di kursi penonton."

​"Tepat sekali. Aku butuh Nyonya Ratna dan Maia hadir di ruang sidang itu. Dan mereka pasti akan hadir untuk memastikan perceraian kita benar-benar terjadi," aku menyandarkan tubuhku padanya, memeluk pinggangnya dengan posesif. "Mereka mungkin memiliki koneksi di Bareskrim, tapi mereka tidak bisa mengontrol kamera wartawan yang akan menyiarkan sidang perceraian paling sensasional di negara ini lusa nanti."

​"Kau benar-benar menakutkan jika sedang merancang sebuah pembalasan dendam, Dokter," Ghazali membalas pelukanku dengan tangan kirinya, mencium puncak kepalaku dengan dalam. "Ayo kita tidur. Malam ini, aku hanya ingin memeluk istriku."

​Cahaya pagi menerobos celah gorden apartemen, membangunkan kami dari tidur yang sangat singkat namun luar biasa nyenyak. Di atas ranjang berukuran besar ini, tidak ada lagi jarak spasial. Kami tidur dengan saling memeluk erat, seolah takut dunia akan merampas salah satu dari kami jika pelukan ini mengendur.

​Namun, kedamaian domestik itu dihancurkan seketika oleh suara dering telepon yang sangat nyaring dari ponsel burner yang diletakkan di atas nakas.

​Ghazali terbangun dengan cepat. Ia meraih ponsel itu dengan tangan kirinya dan menerima panggilan tersebut.

​"Ya, Herman?" suara Ghazali terdengar serak khas orang bangun tidur, namun auranya langsung berubah mematikan.

​Aku ikut duduk di atas ranjang, memperhatikan raut wajah suamiku yang mendadak menegang. Rahangnya mengeras. Matanya menyipit berbahaya.

​"Apa yang dia lakukan?!" desis Ghazali, suaranya naik satu oktaf. "Bagaimana mungkin Bareskrim menerima status itu tanpa ada uji silang (cross-examination)?!"

​Ghazali mendengarkan sejenak, lalu mematikan sambungan telepon dengan bantingan pelan ke atas kasur. Ia menoleh ke arahku, wajahnya memancarkan kengerian dan amarah yang meledak-ledak.

​"Ada apa, Mas?" tanyaku cemas.

​"Maia Anindita," Ghazali menyebut nama wanita iblis itu dengan gigi gemeretak. "Dia tahu kita memiliki bukti rekaman dari Koh Bong di Glodok dan hasil laboratorium kuku Bi Inah. Dia tahu posisinya terjepit."

​"Lalu apa yang dia lakukan? Apakah dia melarikan diri ke luar negeri?"

​"Tidak. Dia menggunakan manuver hukum yang paling menjijikkan yang pernah kutahu," Ghazali turun dari ranjang, meremas rambutnya dengan frustrasi. "Tadi malam, Maia secara resmi mendatangi Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). Dia mengajukan diri sebagai Saksi Mahkota (Crown Witness) sekaligus Justice Collaborator."

​Darah di nadiku seolah berhenti mengalir.

​Saksi Mahkota adalah tersangka yang bersedia bersaksi melawan tersangka utama lainnya dalam sebuah tindak pidana penyertaan (turut serta), dengan imbalan kekebalan hukum atau keringanan hukuman yang sangat masif.

​"Dia melempar seluruh kesalahannya pada ibuku," lanjut Ghazali dengan suara menggelegar. "Dia bersaksi di depan penyidik bahwa seluruh perencanaan pembunuhan Kakek dan Bi Inah adalah perintah mutlak dari Nyonya Ratna Mahendra. Maia memosisikan dirinya sebagai korban manipulasi, sebagai pengacara yang diancam nyawanya jika tidak menuruti perintah Nyonya Ratna untuk membeli racun itu!"

​Aku menutup mulutku dengan kedua tangan. "Dia mengkhianati ibumu untuk menyelamatkan dirinya sendiri."

​"Ya! Dan karena dia memiliki semua rekam jejak ancaman finansial ibuku padanya, Bareskrim menerima status Justice Collaborator-nya!" Ghazali menatapku dengan sorot mata putus asa. "Status tersangka pembunuhan berencana pada Maia telah ditangguhkan. Dia kini berada di bawah perlindungan perlindungan fisik penuh dari negara. Kita tidak bisa menyentuhnya di pengadilan lusa, Keana. Secara hukum, dia telah kebal."

​Wanita iblis itu telah menggunakan tameng terakhirnya. Maia membiarkan Nyonya Ratna tenggelam sendirian, sementara ia naik ke atas sekoci keselamatan menggunakan kelicikan hukumnya.

​Di ranjang pengantin yang akhirnya menyatukan cinta kami ini, perang ternyata belum berakhir. Sang musuh utama baru saja mengenakan jubah pahlawan palsu, dan hukum negara baru saja memberinya pedang.

​Namun Maia tidak tahu, bahwa di dalam pikiranku, aku memegang sebuah rahasia yang jauh lebih menghancurkan daripada bukti pembunuhan mana pun. Rahasia tentang seorang balita di panti asuhan. Dan jika hukum formal tidak bisa menyentuh Maia, maka aku akan menggunakan rahasia berdarah itu untuk menghancurkan kewarasannya di depan publik, persis seperti yang ia lakukan pada suamiku.

1
falea sezi
ya uda end
falea sezi
novel sekeren ini sedetail ini sepi like ya ampun😍 aq ksih hadiah deh
falea sezi
uda Keana dia cocok ma maia yg uda di ewe
falea sezi
🤣 laki najis pernah tidur gk dia sama maya pasti pernah donk
falea sezi
mending cerai aja lah😕
Detia Anastasia
Gila aku suka novel gini, kenapa baru nemu sekarang🤧
Yeni Puspitasari
pernikahan yang mengerikan Thor,
baca part ini aku merinding
Mei TResna Rahmatika
kapan bahagianya thorr😭
Mei TResna Rahmatika
pliss thor nanti bikin happy ending buat keana sama ghazali😭
Mei TResna Rahmatika
kasian banget keana😭
Mei TResna Rahmatika
susah di tebak alurnya tp seruuu poll
Mei TResna Rahmatika
plisss Ghazali jangan mati thorr😭
Mei TResna Rahmatika
deg"an tiap baca part nya thor
Mei TResna Rahmatika
nangisss bangettt part ini 😭😭
Dewy Aprianty
seru banget, lanjut thorr
Mei TResna Rahmatika
baguss kak, cerita nya lain drpd yg lain
nunggu update selanjutnya kak😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!