NovelToon NovelToon
Dan Ofid

Dan Ofid

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Nyx Morrigan, gadis yang terbuang dari keluarga konglomerat Beckham, Di usia ke-19 tahun Pelariannya membawanya bertemu Knox Lambert Riccardo, mahasiswa teknik sekaligus petarung jalanan.

Di bawah atap apartemen mewah Knox, rahasia Nyx perlahan terkuak, mengubah hubungan menjadi ikatan emosional yang intens.

Saat identitas asli Nyx terungkap, Knox justru menjadi pelindung utama dari kekejaman Dari keluarga nya.
Ketegangan memuncak ketika nama "Morrigan" ternyata menyimpan rahasia darah yang lebih besar dari sekadar skandal keluarga Beckham.

Di tengah konflik identitas, pengkhianatan keluarga, dan dunia yang berbahaya, Nyx harus memilih antara terus bersembunyi atau menyerahkan hatinya sepenuhnya kepada Knox.

Sebuah kisah tentang pencarian rumah, Untuk Rasa Sakit, dan penyembuhan luka.
.
Happy reading dear 🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#13

Gemercik sisa hujan di jalanan Rodeo Drive masih menempel pada bodi mengkilap Lamborghini hitam milik Knox saat mobil itu meluncur masuk ke dalam parkiran bawah tanah apartemen. Di kursi belakang, deretan kantong belanjaan dari butik-butik ternama—mulai dari gaun sutra, pakaian dalam berbahan renda yang halus, hingga sepatu hak tinggi—bertumpuk rapi.

Knox melangkah keluar dengan gaya angkuh yang khas, menyampirkan jaket kulitnya di bahu, sementara Nyx berjalan di sampingnya membawa beberapa tas kecil. Keheningan lift yang bergerak naik ke lantai penthouse mendadak pecah oleh tawa kecil Knox yang menyebalkan.

"Kenapa kau tertawa?" tanya Nyx, melirik tajam dari balik bulu matanya.

"Tidak ada," jawab Knox, namun matanya tetap menyapu tubuh Nyx yang masih mengenakan kaos crop top buatannya sendiri. "Aku hanya sedang memikirkan gaun-gaun yang kita beli tadi. Kau tahu, Nyx? Sepertinya perancang busana itu terlalu optimis saat memberikan ukuran padamu."

Nyx mengerutkan kening. "Maksudmu?"

Begitu pintu apartemen terbuka dan lampu otomatis menyala, Knox meletakkan kantong belanjaan di atas sofa marmer. Ia berbalik, bersandar pada meja bar dengan tangan bersedekap, menatap Nyx dengan tatapan menilai yang sangat provokatif.

"Maksudku..." Knox menjeda, seringai nakalnya melebar. "Tadi saat kau mencoba bra-bra itu di balik tirai, aku sempat mengintip sedikit bayanganmu. Dan jujur saja, Nyx... dadamu tidak terlalu besar. Bahkan cenderung... minimalis?"

Nyx mematung. Wajahnya yang semula pucat karena lelah langsung berubah menjadi merah padam. "K-kau... kau bilang apa?!"

"Dan jangan lupakan bagian belakangmu," lanjut Knox tanpa rasa berdosa, ia berjalan mendekat ke arah Nyx yang kini sudah mengepalkan tinju. "Bokongmu juga kecil. Seperti remaja laki-laki yang sedang masa pertumbuhan. Kasihan sekali suami masa depanmu nanti, dia pasti akan merasa rugi besar karena mendapatkan 'aset' yang kurang menonjol."

"KNOX LAMBERT RICCARDO! KAU BENAR-BENAR BAJINGAN!" teriak Nyx, suaranya menggema di seluruh ruangan. Ia menyambar sebuah bantal sofa dan melemparkannya tepat ke wajah Knox.

Knox menangkap bantal itu dengan mudah sambil tertawa terbahak-bahak. "Hei, aku hanya bicara fakta! Kau butuh banyak makan protein agar lekukanmu sedikit lebih 'terlihat'. Kalau tidak, orang akan mengira aku sedang jalan dengan adik laki-lakiku yang memakai baju perempuan."

Nyx melangkah maju, mendorong dada bidang Knox dengan kedua tangannya. "Kau pikir semua wanita harus seperti bintang porno yang sering kau tonton itu? Aku tidak peduli dengan pendapatmu, Tuan Teknik Mesin yang Mesum! Lagipula, siapa yang mau menikah denganmu? Suami masa depanku pasti akan jauh lebih menghargai otakku daripada sekadar ukuran dadaku!"

Knox menunduk, mendekatkan wajahnya hingga napasnya yang beraroma mint menyentuh kening Nyx. "Otak itu penting, Nyx. Tapi di atas ranjang, tangan pria butuh sesuatu untuk digenggam, bukan untuk mencari-cari di mana letak lengkungan itu."

"Keluar! Tidur di luar!" Nyx memukul bahu Knox berkali-kali, namun pria itu tidak bergeming. Rasanya seperti memukul tembok beton.

"Ini apartemenku, Sayang," bisik Knox, tangannya tiba-tiba menangkap kedua pergelangan tangan Nyx dan menguncinya di depan dada gadis itu. "Dan semalam kau sudah setuju bahwa aku adalah 'keluargamu'. Jadi, keluarga tidak tidur di luar."

Nyx mengatur napasnya yang memburu, matanya berkilat penuh amarah namun juga ada getaran aneh yang menjalar di tulang belakangnya saat Knox menatapnya sedekat itu. "Kau menyebalkan. Kau benar-benar pria paling tidak sopan yang pernah kutemui."

"Tapi kau menyukainya, kan?" goda Knox. Ia melepaskan tangan Nyx dan menepuk puncak kepalanya dengan gemas. "Sana, bersihkan dirimu dan pakai salah satu baju tidur baru itu. Aku ingin lihat apakah ukurannya benar-benar 'tenggelam' di tubuhmu."

Nyx mendengus kasar, menyambar salah satu tas belanjaan berisi lingerie sutra tipis dan berjalan masuk ke kamar dengan langkah menghentak. "Jangan berani-berani masuk sebelum aku mengizinkan!"

Satu jam kemudian, suasana apartemen sudah jauh lebih tenang. Lampu-lampu utama sudah dimatikan, menyisakan keremangan dari lampu tidur di sudut ruangan.

Nyx sudah berbaring di sisi ranjang, mengenakan baju tidur satin berwarna biru gelap yang terasa sangat lembut di kulitnya. Meski ia kesal dengan ucapan Knox, ia tidak bisa menampik bahwa baju-baju yang dipilihkan pria itu sangat berkualitas.

Tiba-tiba, sisi ranjang di belakangnya amblas. Aroma sabun maskulin yang tajam segera menyerbu indra penciumannya. Knox masuk ke bawah selimut tanpa suara.

Nyx tetap membelakangi pria itu, menutup matanya rapat-rapat. Namun, detik berikutnya, sebuah lengan besar dan hangat meluncur di bawah lehernya, sementara lengan lainnya melingkar erat di pinggangnya.

"Knox..." bisik Nyx, suaranya tidak lagi marah, melainkan lelah.

"Diamlah, Nyx. Aku hanya ingin tidur," jawab Knox rendah. Suaranya terdengar sangat dekat di telinga Nyx, hangat dan menenangkan.

Knox menarik tubuh mungil Nyx hingga menempel sempurna pada dada bidangnya. Ia menyandarkan dagunya di puncak kepala Nyx, menghirup aroma sampo mawar yang baru saja dipakai gadis itu. Perdebatan mesum tadi seolah menguap begitu saja, digantikan oleh keheningan yang intim.

"Meskipun kecil," gumam Knox tiba-tiba, hampir seperti igauan. "Tapi pas di pelukanku. Tidak terlalu banyak ruang kosong."

Nyx ingin membalas ejekan itu, namun rasa kantuk dan kehangatan dari tubuh Knox membuatnya kehilangan tenaga untuk bertengkar. Ia membiarkan tangan Knox tetap mendekapnya dari belakang, memberikan rasa aman yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.

Di tengah kegelapan malam Los Angeles, di atas ranjang yang luas itu, Nyx Morrigan akhirnya tertidur dengan tenang. Ia tidak lagi memikirkan David Beckham atau Agnesia. Baginya saat ini, dunia hanya sebatas pelukan hangat seorang pria teknik yang mesum, namun entah bagaimana, selalu tahu cara menjaganya agar tidak terjatuh lebih dalam ke jurang kesepian.

Knox sendiri menatap profil samping Nyx yang tenang sebelum ia memejamkan mata. Ia tahu ia sering menggoda gadis ini hingga batas kesabarannya, tapi baginya, itulah cara satu-satunya untuk melihat Nyx 'hidup' dan tidak terus-menerus bersembunyi di balik cangkang dinginnya.

"Mimpi indah, Gadis Kecil," bisik Knox sebelum ia ikut terlelap menuju alam mimpi bersama "keluarga" barunya.

1
ren_iren
lanjutkan.... 🤗
Ros🍂: okay kak🥰🙏
total 1 replies
ren_iren
dapatttt aja visual yg bening2 🤭😂
Ros🍂: biar halu kita lancar jaya kak 😍🤣🤣
total 1 replies
ren_iren
Nyx Knox....
gasss baca sampai habis.... 🤭😁😂
Ros🍂: Ma'aciww kak 🥰🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!