Di bawah langit yang memisahkan tiga alam: Surga, Bumi, dan Neraka, lahir seorang anak yang sejak dalam kandungan telah menjadi bahan percobaan para tetua kultivasi terlarang.
Wei Mou Sha tidak pernah meminta untuk lahir. Ia tidak pernah meminta untuk menjadi percobaan. Dan ia tidak pernah meminta untuk merasakan ribuan kematian dalam satu jiwa.
Sejak usia tujuh tahun, tubuhnya ditanamkan Segel Kekosongan Abadi, sebuah kutukan kuno yang memakan sedikit demi sedikit rasa kemanusiaannya setiap kali ia menggunakan kekuatannya. Semakin kuat ia bertarung, semakin kosong jiwanya. Semakin kosong jiwanya, semakin brutal ia membunuh.
Yang mengerikan bukan caranya membunuh.
Yang mengerikan adalah ekspresinya yang tidak pernah berubah.
Ia tersenyum lembut saat menghabisi seorang jenderal dewa. Ia mengangguk sopan sebelum menghancurkan tulang seorang iblis betina. Tidak ada kebencian. Tidak ada kepuasan. Hanya kekosongan yang sempurna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 : Lembah Batu Merah
"Kamu yang tadi di bawah?" tanya Wei Mou Sha, matanya sebentar beralih ke arena di mana dua anggota Aula Api Sejati masih bertarung.
"Tidak. Aku sudah selesai latihan tadi pagi." Chen Liang Huo menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap arena dengan ekspresi santai. "Aku ke sini karena penasaran dengan orang yang bikin Feng Bai tidak bisa menggerakkan lengannya selama dua jam."
"Informasi yang beredar tidak akurat," kata Wei Mou Sha. "Dua jam terlalu berlebihan."
"Berapa lama yang benar?"
"Satu jam tiga puluh menit, kurang lebih."
Chen Liang Huo tertawa. "Hahaha, Lebih buruk dari yang kudengar. Feng Bai pasti frustrasi."
"Apakah terlihat begitu."
"Dia adalah orang yang teknik bertarungnya terlalu rapi untuk kondisi nyata," kata Chen Liang Huo dengan nada orang yang sudah memikirkannya sebelumnya. "Di pertarungan formal dia luar biasa. Tapi di kondisi yang tidak terprediksi..." ia mengangkat bahunya. "Pola yang terlalu rapi adalah pola yang terlalu mudah dibaca."
Wei Mou Sha tidak menjawab, tapi ia catat bahwa analisis ini akurat.
Chen Liang Huo melirik ke arah Wei Mou Sha. "Kenapa kamu diam."
"Aku setuju dengan yang kamu katakan. Tidak ada yang perlu ditambah."
Pemuda itu mengerutkan dahinya, ekspresi orang yang tidak terbiasa percakapannya direspons seperti itu.
"Padahal kebanyakan orang akan menambahkan sesuatu untuk terlihat lebih pintar dari lawan bicaranya."
"Itu tidak efisien."
"Hah." Chen Liang Huo menatapnya dengan ekspresi aneh. "Wei Mou Sha. Kultivator bebas. Tidak ada afiliasi sekte, tidak ada rekam jejak yang bisa ditemukan siapa pun di Wanhua." Ia berhenti sebentar. "Kamu dari mana sebenarnya?"
"Tempat yang tidak kamu kenal."
"Coba saja sebutin."
"Tidak penting."
Chen Liang Huo diam sebentar. Lalu ia tersenyum, senyuman yang memperlihatkan seseorang seperti menemukan hal yang menarik sesuai ekspektasinya.
"Kamu ikut turnamen?"
"Mungkin."
"Ikutlah, Aku ingin bertarung denganmu."
Wei Mou Sha menatapnya. "Kenapa?"
"Karena semua orang yang layak diajak bertarung di Wanhua ini sudah terlalu mudah kutangani." Chen Liang Huo menatapnya balik, mata emasnya terasa lebih tajam dari sebelumnya. "Tetapi kamu seperti nya tidak."
Mereka duduk dalam diam selama beberapa menit setelah itu.
Di bawah, pertarungan di arena terus berganti setiap pasangan nya.
Chen Liang Huo kemudian bertanya kembali.
"Kamu mengamati celah pertahanan mereka. Apakah untuk dipelajari atau untuk dipakai?"
"Keduanya."
"Tapi kayaknya kamu belum pernah belajar teknik biasa."
Wei Mou Sha menatap pemuda itu dengan sedikit lebih banyak perhatian. "Dari mana kamu mempunyai kesimpulan itu?"
"Caramu mengamati." Chen Liang Huo mengangguk ke arah arena. "Orang yang sudah memiliki teknik biasa akan mengamati untuk membandingkan dengan yang sudah mereka tahu. Kamu mengamati seperti sedang membangun sistem dari nol."
Wei Mou Sha tidak menjawab.
"Tidak salah," lanjut Chen Liang Huo. "Justru itu yang bikin kamu menarik. Orang yang belajar dari pengamatan murni tanpa fondasi teknik yang mengikat, mereka tidak bisa diprediksi dengan cara yang sama."
"Tapi ada batasnya," kata Wei Mou Sha.
"Ada." Chen Liang Huo tidak berusaha menyangkal itu. "Tanpa fondasi, kamu tidak bisa bangun di atas apa pun. Kamu efisien dalam jarak dekat, tapi kamu punya kerentanan yang besar sebelum bisa menutup jarak itu."
"Aku tahu."
"Dua minggu sebelum turnamen."
"Aku tahu itu juga."
Chen Liang Huo menatapnya lama, sudah berulang kali ekspresi nya berubah sejak ia memulai percakapan ini. Lalu ia bangkit untuk berdiri, kemudian merentangkan punggungnya.
"Ada tempat di barat kota, Lembah Batu Merah. Aku suka latihan di sana setiap jam tiga malam sebelum arena di buka." Ia tidak melihat ke arah Wei Mou Sha saat ngomong.
"Kalau kamu mau mengamati teknik yang lebih keras dari yang ada di arena ini, kamu bisa datang."
Ia turun dari tribun tanpa menunggu jawaban.
Wei Mou Sha menatap punggungnya yang menjauh.
***
Malam itu di kamar penginapannya, Wei Mou Sha duduk bersila dan memeriksa kondisi qi-nya secara menyeluruh.
Yang ia temukan tidak banyak berubah dari hari-hari sebelumnya, aliran qi yang stabil tapi terbatas, dibatasi oleh segel yang mengambil sebagian besar energi yang masuk untuk dirinya sendiri. Seperti pipa yang sebagiannya tersumbat, air masih bisa mengalir, tapi tidak dengan kapasitas penuhnya.
Ia menelusuri batas-batas segel itu dengan persepsi qi-nya, sesuatu yang sudah sering ia lakukan tapi selalu menghasilkan hasil yang sama.
Tapi malam ini ada yang beda.
Di satu titik, di bagian paling dalam segel, di tempat yang biasanya paling gelap dan paling tidak bisa ia raih, ada retakan yang sangat tipis yang tidak ia temukan kemarin.
Itu sangat kecil dan hampir tidak terdeteksi.
Wei Mou Sha kemudian memusatkan persepsinya ke sana.
Dari retakan itu terlihat sangat samar, ada sesuatu yang merembes keluar, bukan kekuatan, bukan juga qi yang bisa ia pakai. Lebih seperti... informasi. Seperti buku yang halamannya sedikit terbuka oleh angin dan menunjukan sepotong kalimat sebelum tertutup lagi.
Sepotong kalimat yang tidak bisa ia mengerti tetapi terasa seperti bahasa yang seharusnya ia kenali.
Wei Mou Sha membuka matanya dan kemudian menatap dinding kamarnya.
Retakan itu tidak berbahaya, tapi belum. Tapi itu berarti segel yang selama empat belas tahun terasa kuat dan tidak bisa berubah, ternyata bisa berubah. Entah karena ia semakin jauh dari laboratorium, atau karena sesuatu di Kota Wanhua ini mempengaruhi nya.
Atau karena keduanya.
Di luar jendela, Kota Wanhua tidak pernah benar-benar tidur.
Suara-suara yang lebih rendah dari siang hari tidak pernah berhenti, pedagang malam, penjaga yang bergantian, kultivator yang pulang terlambat dari misi, sesekali ada suara pertengkaran tetapi cepat terselesaikan.
Wei Mou Sha dengar semuanya dari atas ranjangnya.
Nama yang mulai beredar. Tawaran dari sekte-sekte yang tidak ia minta. Seorang pemuda berambut api yang menganalisa kelemahan bertarungnya dengan akurasi yang membuatnya tidak nyaman. Retakan di dalam segel nya yang tidak ia temukan kemarin.
Terlalu banyak variabel baru dalam waktu yang terlalu singkat.
Ia tidak terbiasa dengan ini, bukan karena kewalahan, tapi karena di laboratorium setiap variabel sudah ditentukan oleh orang lain dan tugasnya hanya merespon. Di sini, variabelnya tidak terbatas dan ia yang harus memutuskan mana yang lebih penting atau tidak.
Wei Mou Sha akhirnya menutup matanya.
Besok jam tiga malam, Lembah Batu Merah.
Bukan karena ia percaya kepada Chen Liang Huo, karena terlalu dini untuk itu. Tapi karena data lebih berguna dari tidak ada data, dan tawaran yang tidak merugikan secara kalkulasi layak untuk diterima.
Itu sudah cukup untuk sebuah alasan.