Demi menyelamatkan hak waris adiknya dari keserakahan sang kakak tiri, seorang CEO wanita yang berhati dingin terpaksa terjebak dalam pernikahan kontrak. Ia harus bersanding dengan pengacara mendiang ayahnya—pria yang memandangnya dengan kebencian, namun memegang kunci kekuatan hukum yang ia butuhkan.
Tempaan hidup yang keras telah membentuknya menjadi sosok yang tegas dan tak kenal lelah. Di bawah atap yang sama, tak ada ruang bagi cinta, hanya ada dendam yang membara di hati sang suami. Demi ambisi masing-masing, keduanya terpaksa memerankan sandiwara rumah tangga yang sempurna di mata dunia.
Akankah benih cinta tumbuh di sela-sela permusuhan mereka, ataukah perpisahan pahit yang menjadi akhir dari kesepakatan ini?
Mau tahu kelanjutan ceritanya? Jangan lupa baca di sini, ya. 🤗
Jangan lupa, like dan komentarnya sebagai penyemangat Author. Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ndo' Anha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. WATACI
Kesadaran mendadak menghantam Adnan. Begitu menyadari bibirnya baru saja mendarat di mata Nika, ia langsung melepaskan dekapannya dan membantu Nika berdiri tegak dengan gerakan kaku.
"Ma—maaf! Tadi itu ... refleks. Iya, refleks supaya kamu tidak pusing!" seru Adnan asal bicara.
Tanpa menunggu jawaban Nika, ia berbalik dan melangkah seribu keluar ruangan dengan langkah yang hampir tersandung kakinya sendiri.
Adnan membanting pintu ruangannya dan langsung menyandarkan punggungnya di sana, napasnya memburu. Di dalam ruangan, Lucas yang sedang memeriksa berkas di sofa sontak mendongak. Ia mengerutkan kening melihat bos sekaligus sahabatnya itu tampak seperti orang yang baru saja lolos dari kejaran hantu.
"Nan? Kamu kenapa? Habis lari maraton di lorong?" tanya Lucas heran.
Adnan tidak menjawab. Ia berjalan cepat menuju mejanya, lalu menyambar gelas air mineral dan meminumnya sampai habis dalam sekali teguk. Wajahnya, terutama bagian pipi dan telinganya, sudah berubah warna menjadi merah padam seperti udang rebus.
Lucas bangkit dan menghampiri meja Adnan dengan senyum jahil yang mulai terukir. "Wah, lihat ini. Kenapa wajahmu merah begitu? AC ruanganku mati atau kamu baru saja melihat bidadari tanpa sayap?"
"Diam, Lucas. Kerjakan tugasmu," ketus Adnan sambil mencoba membuka laptop, namun tangannya sedikit gemetar hingga salah memencet tombol berkali-kali.
"Nan, kamu memegang mouse terbalik," celetuk Lucas sambil tertawa kecil.
"Ayo cerita. Apa yang terjadi di ruangan Nika? Tadi kalian romantis sekali saat konferensi pers."
"Tidak ada apa-apa! Aku hanya ... hanya menyelamatkannya dari kabel!" sahut Adnan cepat, terlalu cepat.
Lucas menyipitkan mata, lalu bersandar di meja Adnan. "Menyelamatkan dari kabel sampai mukamu mau meledak begitu? Jangan-jangan ... kamu habis melakukan sesuatu yang 'lebih' ya?"
Adnan mendengus frustrasi. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Aku tidak sengaja mengecup matanya, Lucas! Puas?!"
Hening sejenak, lalu tawa Lucas pecah memenuhi ruangan. "Mengecup mata? Nan, kamu itu mau jadi suami atau mau jadi tabib pengobatan alternatif? Kenapa matanya?"
"Sialan kamu! Itu refleks karena dia cantik ... maksudku, karena matanya indah! Ah, sudahlah! Keluar dari ruanganku!" seru Adnan sambil melemparkan bantal kursi ke arah Lucas.
Lucas menangkap bantal itu sambil terus terbahak. "Oke, oke, aku keluar. Tapi serius, Nan, kalau mau lanjut, jangan matanya saja. Kasihan Nika-nya bingung!"
"LUCAS!"
Adnan melempar bolpennya, namun Lucas sudah lebih dulu menghilang di balik pintu sambil tetap tertawa puas. Adnan kembali terduduk, menyentuh bibirnya sendiri, lalu mengacak rambutnya dengan gemas.
"Bodoh, Adnan. Benar-benar bodoh," gumamnya, meski senyum kecil tak bisa berhenti mengembang di bibirnya.
Di sisi lain, di dalam ruangannya, Nika masih mematung di posisi yang sama. Jarinya perlahan menyentuh kelopak matanya yang tadi dikecup Adnan. Hangatnya masih terasa, namun pikirannya justru semakin semrawut.
"Dia kenapa, sih?" gumam Nika pada diri sendiri. "Dia punya Vivian, tapi kenapa sikapnya malah seperti ini? Apa dia sedang merencanakan sesuatu?"
Nika teringat Adnan yang dulu—pria dingin yang menikahinya hanya karena terpaksa oleh wasiat. Namun, pria yang baru saja lari terbirit-birit keluar itu terasa seperti orang yang berbeda.
Tok! Tok!
Pintu terbuka, dan Geby masuk membawa beberapa dokumen. Langkah Geby terhenti saat melihat Nika berdiri melamun di tengah ruangan dengan wajah yang memerah.
"Bu? Anda tidak apa-apa? Wajah Anda merah sekali, apa Anda demam?" tanya Geby khawatir, meletakkan dokumen di meja.
Nika tersentak, lalu buru-buru merapikan rambutnya yang tidak berantakan. "Geby ... aku rasa aku butuh pendapatmu."
Geby mengernyitkan dahi, lalu duduk di kursi depan meja Nika. "Ada apa? Soal tuan Barra?"
"Bukan. Soal Adnan," jawab Nika pelan. Ia pun menceritakan kejadian aneh barusan, tentang Adnan yang menolongnya hingga kecupan tak terduga di matanya.
"Dia aneh sekali, Geb. Aku tahu dia mencintai Vivian, tapi kenapa dia melakukan itu? Apa dia hanya kasihan melihatku?"
Geby terdiam sejenak, lalu menarik napas panjang. Ia menatap Nika dengan tatapan yang lebih bijak dari biasanya.
"Buk, menurut saya, ya. Kadang kita terlalu terpaku pada apa yang kita dengar di masa lalu, sampai kita menutup mata pada apa yang terjadi di depan mata kita sekarang," ujar Geby lembut.
"Maksudmu?"
"Tuan Adnan itu manusia, bukan mesin. Rasa kasihan tidak akan membuat seorang pria menatap wanita seperti cara dia menatap Anda tadi di konferensi pers," lanjut Geby.
"Mungkin dia sendiri sedang bingung dengan perasaannya. Tapi satu hal yang pasti, dia ada di sini, bersama Anda, dan dia baru saja mempertaruhkan banyak hal untuk menyelamatkan posisi Anda."
Nika menunduk, memainkan jemarinya. "Tapi aku takut berharap, Geb."
"Wajar kalau Anda takut, apalagi setelah semua yang Anda lalui. Tapi tidak ada salahnya mencoba bersikap lebih baik, Buk. Bagaimanapun juga, Tuan Adnan sekarang suami Anda. Cobalah buka sedikit saja pintu hati Bu Nika. Jangan terus memasang tembok tinggi. Siapa tahu, Tuan Adnan yang dianggap musuh ini sebenarnya adalah orang yang dikirim untuk menyembuhkan luka Bu Nika."
Nika terdiam meresapi ucapan Geby. Tembok pertahanan yang ia bangun selama bertahun-tahun terasa sedikit goyah.
"Cobalah pelan-pelan," tambah Geby sambil berdiri.
"Jangan ketus terus. Nanti kalau dia benar-benar lari ke Vivian lagi karena bosan dimarahi, nanti Adna sendiri yang bingung."
"Geby!" seru Nika kesal, namun ada senyum kecil yang mulai muncul di sudut bibirnya.
"Saya keluar dulu. Jangan lupa, Tuan Adnan itu butuh dikasih senyuman sesekali, bukan cuma laporan keuangan!" goda Geby sebelum menghilang di balik pintu.
Nika menghela napas, menatap pintu ruangannya. Mungkin Geby benar. Mungkin sudah saatnya ia mencoba bersikap sedikit lebih manis pada pria "aneh" bernama Adnan itu.