Novel ini memiliki karakter utama wanita bernama Aiena. Gadis berusia dua puluh lima tahun di awal mulai cerita yang terjebak di dalam hubungan yang tidak sehat dengan pacarnya.
Tiap hari ulang tahun adalah kesempatan untuk checkpoint bagi Aiena. Apabila ia mengatakan ia bahagia dan puas dengan hidupnya, maka itu menjadi titik checkpoint-nya. Sebaliknya, ia suatu hari pada ulang tahunnya ia menyesal akan keputusannya dan mengatakan ingin kembali ke masa lalu, maka ia otomatis kembali ke titik checkpoint terakhirnya.
Bermula dari penyesalannya tidak bisa memberikan yang keturunan bagi suami yang begitu mencintainya, Aiena di masa kini berniat kembali ke masa lalu untuk menghindari toxic relationship dengan mantannya dan bertemu jodohnya, pria yang di masa kini menjadi suaminya lebih cepat dalam kondisi yang lebih baik. Namun ketika Aiena mengulang cerita hidupnya, ia justru bertemu orang lain yang tidak mampu ia tolak pesonanya.
Cerita menjadi semakin kompleks ketika Aiena menyadari siapa pria yang merebut hatinya itu, bertemu dengan sang mantan pacar toxic, dan bertemu dengan pria yang dipercaya sebagai jodohnya dalam situasi yang kini jauh berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quoari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Shane Turun Tangan
Sore hari itu, tepat setelah jam kantor berakhir, terjadi keributan. Suara dentuman keras dan teriakan makian mendominasi, bersaing dengan bisik-bisik para karyawan yang memilih untuk tinggal sedikit lebih lama ketimbang langsung beranjak pulang seperti biasa.
Di pelataran gedung, kekacauan terjadi. Haze, yang seperti biasa setia menunggu di kap mobilnya atau seberang jalan dengan pose acuh tak acuh, kini terkapar di aspal panas. Di atasnya, Shane, sang bos muda yang biasanya tampak begitu elegan dan terkontrol, sedang meluapkan amarah yang meledak-ledak. Kemeja rapi Shane sudah agak berantakan, jasnya tidak lagi menempel pada tubuh dan wajahnya mengeras oleh ekspresi yang belum pernah dilihat siapapun di kantor itu sebelumnya.
“Jangan pernah... berani... menyentuhnya lagi!” teriak Shane di sela-sela serangan fisiknya. Suaranya rendah namun bergetar hebat oleh amarah yang membara.
Para karyawan yang menonton berkerumun di balik pintu kaca lobi. Bisikan-bisikan terus terdengar, namun tidak ada satupun yang berani melangkah maju untuk melerai. Sosok Shane saat ini tampak begitu mengintimidasi, jauh dari citra bos yang ramah.
Di sisi lain, para satpam gedung hanya berdiri dan bergerak canggung di dekat kekacauan itu. Mereka tampak serba salah, tidak benar-benar mencoba memisahkan atau menghentikan Shane, seolah mereka juga tahu bahwa Haze pantas mendapatkan itu.
Aiena melangkah keluar dari lift tepat ketika keributan itu mencapai puncaknya. Ia menerobos kerumunan agar dapat melihat mebih dekat, jantungnya seolah berhenti berdetak. Pemandangan di depannya begitu mengerikan. Haze, dengan wajah yang mulai lebam dan berdarah, mencoba melindungi diri dari serangan Shane. Amarah Shane tampak begitu mentah dan berbahaya.
Rasa panik, malu, dan takut berkecamuk di dalam dada Aiena, mencekik napasnya. Panik karena melihat dua pria dalam hidupnya terlibat dalam perkelahian brutal. Dan juga ada rasa takut jika Shane akan terluka, atau jika amarah Shane akan berakibat fatal, atau bahkan takut jika Haze akan semakin menggila setelah ini.
Aiena ingin berteriak, ingin berlari memisahkan mereka, namun kakinya terasa terpaku pada lantai marmer. Ia hanya bisa berdiri disana, menatap nanar kehancuran yang terjadi di depannya, menyadari bahwa pelariannya semalam dari Shane dan obsesi Haze baru saja meledak menjadi sebuah tragedi yang memalukan di depan semua orang.
Tidak mungkin Aiena maju melangkah untuk menghentikan Shane. Hal itu akan mengkonfirmasi desas-desus yang mengatakan perkelahian mereka berhubungan dengan Aiena. Tentu beberapa rekan kerja sudah tahu bahwa Haze adalah pacar Aiena yang biasa mengantar-jemput wanita itu.
Shane berhenti dan bangkit ketika Haze benar-benar sudah tidak berdaya. Haze terbatuk, mengeluarkan darah dari mulutnya. Wajahnya penuh dengan luka.
Dapat terlihat tangan Shane juga terluka dan lecet berdarah akibat gesekan pukulan itu, namun tampaknya ia tak peduli. Shane menepuk-nepuk kemejanya yang kotor, seolah sedang menyingkirkan sisa debu dan kotoran dari tubuhnya.
Tatapan Shane yang setajam elang mendarat tepat pada sosok Aiena yang mematung di barisan depan kerumunan. Dengan napas memburu, Shane melangkah lebar menerobos kerumunan karyawan yang kini terdiam seribu bahasa. Tanpa mengucap sepatah kata pun, ia menyambar pergelangan tangan Aiena, menggenggamnya kuat-kuat namun tanpa menyakiti, lalu menariknya menjauh dari pusaran kekacauan tersebut.
Sebelum benar-benar meninggalkan pelataran gedung, Shane memutar tubuhnya sedikit, menunjuk Haze dengan dagunya ke arah kepala satpam yang berdiri kaku di dekatnya.
“Urus dia.”perintah Shane dengan nada dingin dan otoriter yang tak membantah.
Satpam itu hanya bisa mengangguk kaku, buru-buru mendekati Haze yang mulai merintih kesakitan.
Keheningan yang mencekam mengiringi langkah Shane dan Aiena saat mereka melewati koridor lobi menuju area lift. Puluhan pasang mata karyawan mengikuti pergerakan mereka, bisikan-bisikan tertahan mulai terdengar kembali seperti dengungan lebah. Beberapa orang memandangi Aiena dengan tatapan spekulatif, sebagian lagi menatap Shane dengan kekaguman yang bercampur ngeri.
Begitu pintu lift logam itu tertutup rapat, mengisolasi mereka dari dunia luar, atmosfer di dalam kabin sempit itu terasa begitu tegang dan menyesakkan. Suara napas Shane yang masih memburu menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar.
Aiena menatap punggung tegap bosnya yang membelakanginya, hatinya berkecamuk antara rasa lega karena telah diselamatkan dan ketakutan akan konsekuensi dari tindakan nekat pria itu.
“Kenapa, Shane? Kenapa pakai kekerasan?” tanya Aiena akhirnya, suaranya parau karena rasa takut yang masih tersisa.
Pria itu tidak menoleh. Ia tetap menatap lurus ke pintu lift, rahangnya mengeras, memperlihatkan gumpalan amarah yang belum sepenuhnya reda. “Saya sudah ngomong baik-baik sama dia, dan dia yang nantang duluan. Dia yang main fisik duluan juga.”
Aiena memberanikan diri melangkah mendekat, meski masih ada keraguan dalam hatinya. “Tadi itu terlalu bahaya, Shane. Kamu bisa terkena masalah besar karena ini. Haze bisa lapor polisi atas tuduhan penganiayaan, dan itu bisa menghancurkan reputasimu, reputasi perusahaan.”
Mendengar kalimat itu, Shane perlahan memutar tubuhnya. Ia menatap Aiena dengan sorot mata yang sulit diartikan. “Semua bakal baik-baik saja, Aiena. Aku akan urus semuanya.”.
Shane melangkah mendekat, memerangkap Aiena di sudut lift, membuat wanita itu bisa mencium aroma parfumnya yang menenangkan, kini bercampur dengan bau keringat dan adrenalin.
Aiena menunduk. Tidak berani membalas tatapan mata Shane yang terasa begitu menusuk.
“Ini semua demi kamu, Aiena. Saya nggak mau kamu terus diperlakukan seperti itu oleh Haze.”
Akhirnya Aiena mengangguk. Ia tak lagi menyalahkan, meski juga belum sanggup berterima kasih. Di dalam hatinya, ia merasa lega karena akhirnya ada orang yang memahami posisinya dan turun tangan melawan Haze.
***