kisah perjalanan Marsha valerine yang kehadirannya ditolak oleh ibunya, dan saat merencanakan perjalanan ke Eropa bersama keluarga besar, ibunya dengan kejamnya meninggalkan Marsha valerine yang saat itu masih kecil.
Marsha Zaiva Dominic.
Angin malam menyentuh wajahnya, membawa hawa dingin yang tak mampu mengusik ketenangan yang ia bangun selama bertahun-tahun. Ia tidak tahu bahwa nama yang ia bawa sekarang bukanlah miliknya sejak lahir.
Ia hanya tahu—hidupnya dimulai kembali saat ia diadopsi oleh sepasang dokter.
Dokter Erlan Dominic dan Dokter Shafira Hanazawa.
Dari merekalah ia mengenal arti rumah. Bukan tempat yang megah, tapi tempat yang hangat. Bukan sekadar keluarga, tapi orang-orang yang memilih untuk mencintainya tanpa syarat.
Dari mereka pula, Marsha belajar tentang kehidupan tentang merawat, tentang bertahan, dan tentang menjadi seseorang yang berarti bagi orang lain.
Dan dari sanalah… ia memilih jalan yang sama.
Menjadi dokter.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 4 kesayangan ayah
Perlahan, waktu Andreas justru lebih banyak dihabiskan di tempat lain atau lebih tepatnya di kamar lain, bersama putri kecilnya Marsha, hal-hal kecil yang dulu tidak pernah ada, kini mulai terbentuk, makan bersama, meski dalam diam dan mendengarkan cerita sederhana sebelum tidur atau sekadar duduk tanpa kata, dengan tangan kecil itu berada dalam genggamannya, Andreas tidak banyak bicara namun kehadirannya cukup, cukup untuk membuat Marsha merasa ia tidak sepenuhnya sendirian.
Suatu sore, tanpa sengaja Selena melihat mereka di ruang keluarga, Marsha duduk di samping Andreas, membaca dengan suara pelan, terbata namun berusaha jelas, sesekali Andreas membetulkan dengan sabar, nadanya rendah, tenang, pemandangan yang sederhana, namun entah mengapa menimbulkan perasaan tidak suka dan ketidaknyamanan yang tidak ingin ia akui, Ia melangkah mendekat.
Suara langkahnya membuat Marsha langsung terdiam anak itu menoleh, dan secara refleks tubuh kecilnya sedikit merapat ke arah Andreas, gerakan kecil dan hampir tak terlihat, namun cukup jelas.
Selena menghentikan langkahnya.
“Kamu belum tidur siang?” tanyanya datar.
Marsha menggeleng pelan.
“Aku sedang belajar baca…”
Selena mengangguk tipis, “Jangan terlalu lama. Kamu masih dalam masa pemulihan.” nada suaranya tepat tidak salah namun tidak hangat, apalagi menatapnya dengan penuh kebencian.
Marsha menunduk.
“…iya.”
Andreas hanya menatap Selena dengan tajam sarat penuh peringatan, tanpa harus berkata apa-apa, namun ada sesuatu di tatapannya yang tidak lagi tersembunyi Selena memilih mengabaikannya.
Sejak saat itu, sikap Selena berubah dengan cara yang berbeda bukan menjadi lebih lembut, melainkan lebih tegas, lebih teratur dan lebih dingin, jika dulu ia hanya menjaga jarak, kini ia mulai membangun batas yang nyata.
Suatu siang, pengasuh datang membawa beberapa pakaian untuk Marsha. “Ini dari lemari Nona Valerina, masih sangat bagus.” bajunya memang layak bersih, terawat, namun tetap saja bukan miliknya, Marsha menerimanya tanpa banyak bicara, Ia menyentuh kain itu sebentar, lalu mengangguk kecil. “Aku tahu.” tidak ada nada kecewa atau pun pertanyaan, seolah ia sudah memahami tanpa perlu dijelaskan.
Di hari yang sama, ruang tamu dipenuhi kotak-kotak indah kiriman baru untuk Valerina, warna-warna lembut, pita-pita halus, semuanya tertata sempurna, Valerina berputar kecil di depan cermin, wajahnya cerah.
“Mama, ini cantik!”
Selena tersenyum tipis.
“Memang.”
Di sudut ruangan, Marsha berdiri dalam diam matanya melihat ke arah itu, namun tidak lagi menyimpan keinginan seperti dulu, tidak ada dorongan untuk mendekat atau berharap untuk dipanggil, Ia hanya melihat sebagai seseorang yang tahu, bahwa itu bukan bagiannya.
Malam hari, Andreas kembali duduk di sisi ranjang Marsha. “Sudah makan?” tanyanya pelan.
Marsha mengangguk.
“Sudah.”
Andreas mengusap rambutnya perlahan.
“Kamu mau cerita sesuatu?”
Marsha menundukkan kepalanya dan terdiam sesaat lalu menggeleng pelan. “tidak ada papah” jawaban itu sederhana namun berbeda.
Tidak ada lagi usaha untuk berbagi, tidak ada lagi pertanyaan kecil yang dulu sering muncul, ia tidak lagi mencoba, seolah ia sudah belajar bahwa tidak semua hal perlu diucapkan, Andreas menatapnya lebih lama. Dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar menyadari Marsha tidak hanya diam, ia sedang menutup diri perlahan tanpa suara. “Lihat papah punya hadiah, anak cantiknya papah bilang ingin buku-buku baru kan.”
Andreas tersenyum hangat, mengangkat dua paperbag besar yang berisi buku-buku anak dan ensiklopedia bergambar. Usahanya tampak sederhana, tapi penuh harap seolah dari halaman-halaman itu, ia ingin mengembalikan cahaya di mata putrinya.
Mata Marsha yang semula redup perlahan berbinar, tatapannya langsung tertuju pada sang ayah, seakan hanya Andreas satu-satunya tempat yang masih ia percaya, tanpa ragu, ia berlari kecil lalu memeluk ayahnya erat sangat erat, seakan takut kehilangan satu-satunya dunia yang masih tersisa untuknya. Dan di dalam pelukan itu, Andreas merasakan sesuatu yang menyesakkan bahwa anaknya tidak hanya sedang sedih, tapi juga sedang belajar bertahan dalam diam.
“Mau buka sekarang?” tanya Andreas lembut. Ia belum sempat menunggu jawaban, sudah kembali meraih beberapa paperbag lain. “Papah juga punya hadiah lain untuk putri Papah yang cantik.” Satu per satu ia keluarkan isinya pakaian-pakaian baru dengan warna lembut dan potongan yang manis, seolah dipilih dengan penuh perhatian.
“Suka?”
Marsha mengangguk cepat, matanya berbinar. “Suka, Papah… ini sangat cantik. Papah, terima kasih banyak.”
Andreas tersenyum, namun ada gurat penyesalan tipis di wajahnya, ia mengusap pelan rambut putrinya. “Tidak perlu berterima kasih. Ini sudah jadi tugas Papah. Maaf ya kalau Papah sering sibuk bekerja.” Ia menarik nafas pelan, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih hangat.
“Papah akan berusaha meluangkan lebih banyak waktu untuk calon dokter kesayangan Papah.”
Marsha tersenyum kecil di pangkuannya, untuk sesaat, ia terlihat seperti anak kecil yang kembali utuh aman, tenang, dan dicintai. “Papah… aku mau lihat buku-bukunya.” Nada suaranya lembut, tapi kali ini ada sedikit antusias yang terselip, sesuatu yang hampir lama menghilang.
_______
Di sisi lain, Selena berdiri di depan cermin di kamarnya penampilannya sempurna seperti biasa, namun ruangan itu terasa lebih sunyi dari biasanya, ia terbiasa dengan keheningan, namun kini terasa berbeda, bukan karena rumah itu berubah, melainkan karena Andreas, pria itu tidak lagi menunggunya ataupun mencarinya dan tidak lagi berusaha mengisi ruang di antara mereka.
Dan untuk pertama kalinya Selena merasakan sesuatu yang asing, rasa kehilangan, namun alih-alih melembut, ia justru semakin menguatkan dirinya, seolah semua yang mulai lepas dari kendalinya harus kembali ia atur, termasuk menyingkirkan sumber masalahnya.
Dan tanpa ada yang benar-benar menyadari di dalam rumah yang sama, tiga hati berjalan menjauh, satu karena terlalu lama tidak dipeluk dan satu karena tidak tahu bagaimana cara memeluk dan satu lagi karena akhirnya berhenti berharap.
Marsha tidak lagi menangis tidak lagi memanggil Ia hanya diam dan menjauh, namun di balik diam itu ada sesuatu yang telah selesai perlahan tapi pasti hatinya tertutup, bukan karena ia tidak ingin mencintai. Melainkan karena ia belajar bahwa tidak semua cinta pernah benar-benar kembali.