NovelToon NovelToon
Penantian 7 Tahun

Penantian 7 Tahun

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:561
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Airellia Kaivena hidup dalam penantian yang tak pernah benar-benar ia pahami. Selama tujuh tahun, ia setia menunggu seseorang dari masa kecilnya yang berjanji akan kembali.

Ketika akhirnya sosok itu muncul kembali dalam wujud Zevarion Hale, harapan yang lama terkubur perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam.

Namun di balik pertemuan yang seharusnya indah, tersembunyi kebenaran yang mampu menghancurkan segalanya, mengubah penantian menjadi luka yang tak pernah ia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4 - Hari Hujan Yang Sama

Langit berubah lebih cepat dari biasanya hari itu, seolah waktu mempercepat langkahnya tanpa memberi tanda yang jelas. Sejak siang, awan sudah menggantung berat di atas kota, menutup cahaya matahari yang seharusnya masih terasa hangat di kulit. Udara menjadi lebih lembap, dan angin yang berembus membawa aroma khas yang hanya muncul sebelum hujan turun, sesuatu yang terlalu familiar bagi mereka yang sering memperhatikan hal-hal kecil.

Airel Virellia berdiri di depan gedung kampus, tidak terburu-buru seperti orang-orang di sekitarnya. Matanya terangkat sedikit, mengikuti pergerakan awan yang semakin gelap, seolah mencoba membaca sesuatu yang tidak tertulis di sana. Di sekelilingnya, langkah kaki mulai dipercepat, beberapa orang membuka payung sebelum hujan benar-benar jatuh, sementara yang lain sibuk mengecek ponsel, mungkin berharap bisa pulang lebih cepat.

Airel tidak bergerak.

Tangannya tetap di samping tubuh, tidak mencoba mencari perlindungan, tidak pula menunjukkan tanda ingin pergi. Ia hanya berdiri, seolah waktu di sekitarnya berjalan lebih cepat dibandingkan yang ia rasakan sendiri.

“Kamu enggak bawa payung lagi, ya?”

Suara Kalista terdengar dari samping, cukup dekat untuk membuat Airel menoleh. Gadis itu sudah siap dengan payung di tangannya, tasnya dipindahkan ke depan seolah bersiap menghadapi hujan yang tidak lama lagi turun.

Airel menggeleng pelan. “Enggak.”

Kalista menghela napas, ekspresinya menunjukkan kelelahan yang sudah terlalu sering muncul. “Serius, Airel. Kamu tuh ya, tiap hujan selalu begini. Kayak sengaja.”

Airel tersenyum tipis, tidak mencoba membantah.

Ia tidak menjelaskan.

Karena ia sendiri tidak yakin bagaimana harus menjelaskannya.

Hujan bukan hanya soal air yang jatuh dari langit, bukan hanya soal basah dan dingin. Ada sesuatu yang selalu ikut turun bersama rintik-rintik itu, sesuatu yang tidak pernah benar-benar pergi meski hari berganti.

“Kalau kamu mau, aku bisa anterin sampai depan,” kata Kalista lagi, mengangkat sedikit payungnya sebagai tawaran.

Airel menggeleng sekali lagi. “Kamu duluan saja.”

Kalista menatapnya beberapa detik lebih lama, seperti ingin memastikan bahwa keputusan itu tidak akan ia sesali. Namun pada akhirnya ia hanya menghela napas pelan, menyadari bahwa memaksa Airel tidak akan mengubah apa pun.

“Kamu pasti ke sana lagi, ya?” tanyanya.

Airel tidak menjawab langsung, tetapi cara ia mengalihkan pandangan sudah cukup jelas.

Kalista mengangguk kecil, seperti mengerti meski tidak sepenuhnya memahami. “Aku duluan.”

Ia berbalik dan berjalan menjauh, payungnya terbuka tepat saat titik-titik hujan pertama mulai jatuh.

Awalnya pelan, hanya beberapa tetes yang nyaris tidak terasa.

Namun tidak butuh waktu lama hingga suara hujan mulai terdengar jelas, rintik yang semakin rapat berubah menjadi aliran yang konsisten. Dalam hitungan menit, kota itu tertutup oleh suara air yang jatuh tanpa henti, menciptakan ritme yang menenangkan sekaligus menyisakan kesunyian.

Airel masih berdiri di tempatnya.

Air mulai membasahi rambutnya, perlahan turun ke wajahnya, melewati pipi hingga jatuh ke ujung dagunya. Pakaian yang ia kenakan mulai menyerap air, tetapi ia tidak bergerak untuk menghindarinya.

Matanya tertutup sebentar.

Dan seperti yang selalu terjadi, sesuatu datang bersamaan dengan hujan itu.

Bukan ingatan yang utuh.

Namun cukup untuk menariknya menjauh dari kenyataan.

Langkah kecil di atas genangan air terdengar samar, bercampur dengan suara tawa yang ringan. Seseorang berlari di depannya, langkahnya cepat, lalu berhenti dan berbalik dengan gerakan yang lincah.

“Ayo.”

Suara itu terdengar ringan, seperti ajakan yang tidak perlu dipikirkan.

Airel membuka matanya perlahan.

Dunia di depannya terasa sedikit kabur, seperti lapisan tipis yang menghalangi pandangannya. Hujan masih turun, tetapi ada bagian dari dirinya yang seolah berada di tempat lain.

Ia menarik napas dalam, lalu mulai berjalan.

Langkahnya tidak ragu.

Tubuhnya sudah hafal arah itu.

Jalan yang sama, dengan trotoar yang sedikit retak di beberapa bagian. Belokan yang sama, dengan lampu jalan yang mulai menyala satu per satu. Semua terasa akrab, seperti sesuatu yang sudah diulang terlalu sering.

Dan akhirnya, tempat itu kembali terlihat.

Sebuah taman kecil di ujung jalan, dengan jembatan kayu yang melintang di atas aliran air yang tidak terlalu besar. Tempat itu jarang ramai, bahkan di hari biasa, apalagi saat hujan seperti ini.

Airel melangkah masuk tanpa berhenti.

Sepatu yang ia pakai mulai basah, air meresap perlahan hingga terasa dingin. Namun ia tidak memperhatikan itu, matanya sudah tertuju pada satu titik.

Jembatan kayu itu.

Langkahnya melambat saat mendekat, seolah ada sesuatu yang membuatnya tidak ingin terlalu cepat sampai. Hujan jatuh lebih deras sekarang, mengenai permukaan kayu dengan suara yang teratur, sementara air di bawahnya mengalir lebih cepat dari biasanya.

Airel berdiri di tengah jembatan.

Tangannya terangkat perlahan, menggenggam pagar kayu yang terasa sedikit kasar. Permukaannya sudah mulai lapuk, tetapi masih cukup kuat untuk dijadikan pegangan.

Matanya menatap lurus ke depan.

Dan ingatan itu kembali.

Lebih jelas.

Namun tetap tidak sepenuhnya utuh.

Seorang gadis kecil berdiri di tempat yang sama, menatap ke bawah dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Hujan membasahi rambutnya, membuatnya terlihat sedikit berantakan, tetapi ia tidak bergerak untuk menghindarinya.

Di sampingnya, anak laki-laki itu berdiri.

Ia memegang sesuatu di tangannya.

Payung kecil, mungkin.

Namun tidak benar-benar digunakan dengan benar.

Sebagian tubuhnya tetap terkena hujan.

“Kalau hujan, kamu tetap ke sini?” tanya suara kecil itu.

Anak laki-laki itu tidak langsung menjawab, matanya tertuju pada aliran air di bawah mereka. Seolah ia lebih fokus pada sesuatu yang bergerak daripada pada pertanyaan yang diberikan.

“Kadang.”

Jawaban itu singkat, tanpa penjelasan tambahan.

Gadis kecil itu mengernyit. “Kenapa?”

Anak laki-laki itu mengangkat bahunya sedikit, seperti tidak terlalu memikirkan jawabannya.

“Biar ingat.”

Kata-kata itu sederhana, tetapi cukup untuk membuat gadis kecil itu diam. Ia tidak langsung bertanya lagi, seolah mencoba memahami sesuatu yang belum sepenuhnya ia mengerti.

Airel menelan pelan.

Jantungnya berdetak lebih cepat.

Setiap detail kecil dari potongan itu terasa nyata, meski wajah anak laki-laki itu tetap tidak jelas. Setiap kali ia mencoba fokus, bayangan itu justru mengabur, seolah menolak untuk dikenali.

Hujan semakin deras.

Air menetes dari ujung rambutnya, jatuh ke tangannya yang masih menggenggam pagar.

Ia memejamkan mata.

Dan potongan berikutnya datang.

Langkah kaki di atas jembatan.

Lebih cepat.

Lebih tergesa.

Gadis kecil itu berdiri sendirian kali ini.

Ia melihat ke kiri dan kanan, seolah mencari sesuatu yang tidak terlihat. Hujan turun dengan intensitas yang sama, tetapi suasana terasa berbeda, lebih sunyi dan lebih dingin.

“Aku di sini.”

Suaranya pelan, hampir tidak terdengar.

Namun ia tetap berdiri.

Menunggu.

Waktu berjalan tanpa tanda yang jelas.

Tidak ada yang datang.

Airel membuka matanya dengan cepat.

Napasnya sedikit tidak teratur, dadanya terasa lebih berat dari sebelumnya. Tangannya mencengkeram pagar lebih kuat, seolah itu satu-satunya hal yang membuatnya tetap berdiri di tempat.

Perasaan yang muncul kali ini tidak sama.

Bukan hanya kenangan.

Ada sesuatu yang lain.

Seperti bagian dari dirinya yang tertinggal di masa itu, masih berada di tempat yang sama, masih menunggu dengan keyakinan yang tidak berubah.

Hujan membasahi wajahnya sepenuhnya sekarang.

Ia tidak tahu mana yang air hujan, mana yang bukan.

Namun ia tidak berusaha menghapusnya.

Ia hanya berdiri di sana.

“Kenapa selalu hujan…” gumamnya pelan.

Pertanyaan itu keluar tanpa ia rencanakan, tetapi terasa seperti sesuatu yang sudah lama ingin ia ucapkan. Jawabannya tidak datang dalam bentuk kata, melainkan dalam perasaan yang sudah ia kenal sejak lama.

Hujan selalu membawa kembali sesuatu.

Sesuatu yang tidak pernah ia temukan di hari biasa.

Ia menunduk sedikit, matanya tertuju pada air yang mengalir di bawah jembatan. Pantulan wajahnya terlihat samar, terdistorsi oleh arus yang terus bergerak, membuat bentuknya tidak pernah benar-benar jelas.

Dan di dalam bayangan itu, sejenak ia merasa melihat sesuatu yang berbeda.

Bukan dirinya sekarang.

Melainkan versi yang lebih kecil.

Lebih sederhana.

Masih memegang harapan tanpa ragu.

Airel menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Ia mengangkat kepalanya kembali, menatap ke arah jalan di seberang jembatan yang kosong tanpa satu pun orang yang berdiri.

Ia melangkah mundur satu langkah.

Tangannya perlahan melepaskan pagar.

“Aku masih ke sini,” bisiknya pelan.

Suaranya tenggelam oleh hujan yang tidak berhenti.

Namun cukup untuk dirinya sendiri.

Ia berbalik, langkahnya mulai menjauh dari jembatan. Sepatunya sudah basah sepenuhnya, pakaiannya terasa lebih berat, tetapi ia tidak memperlambat langkahnya.

Beberapa langkah kemudian, ia berhenti sejenak.

Lalu menoleh kembali.

Tatapannya bertahan lebih lama, seolah berharap sesuatu akan berubah jika ia menunggu sedikit lagi.

Namun yang ada hanya hujan.

Airel akhirnya melangkah pergi.

Jalanan kembali ia lewati tanpa banyak pikiran, hanya suara hujan yang menemani langkahnya. Lampu-lampu jalan mulai menyala, memantulkan cahaya di permukaan aspal yang basah.

Namun satu hal tetap tinggal.

Hujan bukan sekadar cuaca baginya.

Hujan adalah pengingat.

Bahwa ada janji yang pernah diucapkan.

Bahwa ada seseorang yang pernah berdiri di sampingnya.

Dan bahwa di suatu tempat, di waktu yang tidak ia ketahui, seseorang itu seharusnya kembali.

Airel mengangkat wajahnya sedikit, membiarkan hujan jatuh tanpa halangan. Matanya terpejam sesaat sebelum akhirnya terbuka kembali, menatap ke depan dengan ekspresi yang lebih tenang.

“Aku masih nunggu,” ucapnya pelan.

Langkahnya terus berjalan.

Dan hujan tidak berhenti.

1
𝐀⃝🥀Weny
wah jangan² itu orang yang ditunggu selama ini.. tapi mereka sudah lupa dengan wajahnya😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!