Alea Winslow (22th), melanjutkan pendidikan S2-nya di salah satu kampus ternama di Belanda.
Hidupnya yang awalnya dia pikir akan bebas, malah hancur lebur karena harus berhadapan dengan Damon Alvaro. Dokter tampan 39 tahun, kadang hangat kadang dingin, yang tiba-tiba mulai terlibat dalam hidupnya.
Damon selalu menjadi saksi Alea melakukan hal-hal konyol. Bahkan mencuri di salah satu pertokoan di Belanda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tetangga baru
Mobil berhenti di depan sebuah gedung apartemen. Tidak terlalu mewah. Tapi lumayan lah. Di tengah-tengah. Setidaknya kalau teman-teman barunya datang nanti, dia gak di anggap kayak atau miskin. Biasa aja. Tepat seperti yang ia mau.
"Sudah sampai, nona."
Alea membuka pintu, keluar, lalu menatap bangunan itu beberapa detik.
"Not bad…" gumamnya.
Supir membantu menurunkan kopernya. Setelah membayar, Alea mengucapkan terima kasih dengan nada ceria lalu berdiri sendiri di depan pintu masuk. Ia menarik napas dalam-dalam
"Oke … mulai sekarang hidup mandiri."
Langkahnya masuk ke dalam lobby. Interiornya hangat. Tidak terlalu ramai. Beberapa orang berlalu-lalang, tapi tidak ada yang benar-benar memperhatikannya.
Alea mendekat ke meja resepsionis.
"Permisi, saya mau check-in. Nama Alea Winslow."
Petugas itu tersenyum ramah, lalu memeriksa data.
"Ya, sudah terdaftar nona. Ini kunci dan kartu aksesnya."
Alea menerimanya.
"Terima kasih!"
Ia langsung menuju lift, menarik koper besarnya dengan susah payah. Begitu masuk ke dalam lift, ia bersandar lelah.
"Ternyata… hidup mandiri capek juga ya… Tapi asik." gumamnya.
Lift berhenti di lantai yang dituju. Alea keluar, mencari nomor unitnya. Langkahnya sempat terhenti pada salah satu unit apartemen yang berada tepat berhadapan dengan kamarnya.
"Rumah tetangga. Apa perlu gue sapa nanti? Di kampung-kampung kan gitu. Kalo tetangga baru, kita si orang baru bikin kue, makanan atau apalah, terus di kasih sama rumah yang paling dekat dan bilang,"Hai saya tetangga sebelah. Baru di sini. Ini ada kue, silahkan di nikmati. Salam kenal ya".
Alea tertawa sendiri mengatakan kalimat itu.
"Oke. Nanti gue bikin kue dengan resep youtube, terus kasih. Sabar ya tetangga."
Alea nyengir sendiri, lalu berjalan lagi menuju pintunya.
"Semoga tetangganya gak galak." gumamnya santai.
Ia berhenti di depan unitnya, lalu membuka pintu dengan kartu akses. Begitu pintu terbuka, Alea melangkah masuk lalu berhenti.
Matanya menyapu seluruh ruangan.
"Waaah… lumayan juga…"
Apartemennya tidak terlalu besar, tapi cukup luas untuk satu orang. Ruang tamu sederhana dengan sofa empuk, dapur kecil yang rapi, dan jendela besar yang langsung menghadap ke luar. Cahaya sore masuk dengan lembut.
"Pas banget," katanya puas.
Ia menutup pintu dengan kaki, lalu menyeret koper besarnya masuk. Begitu sampai di tengah ruang tamu.
"Udah. Istirahat dulu."
Bruk.
Alea menjatuhkan dirinya ke sofa.
Apartemen itu sunyi sekali. Beda dengan rumahnya yang selalu ramai dengan suara mommy-nya yang super duper cerewet dan banyak banget komentarnya. Pokoknya mommy-nya suka banget bikin drama.
"Untung gue agak kalem, gak kayak mommy. Bisa kiamat ini dunia kalau semua perempuannya kayak mommy gue."
Katanya percaya diri tanpa sadar kalau sifatnya mirip sekali dengan mommy-nya. Beberapa detik, ia hanya menatap langit-langit.
"Lampunya kok ngedip-ngedip gitu? Kayak mau godain gue aja." gumamnya.
Alea menyipitkan matanya, masih tiduran di sofa sambil menatap lampu yang berkedip pelan. Namun tidak lama lampunya kembali normal. Ia bernafas lega. Padahal tadi dia pikir dia mungkin di ganggu sama penghuni lama apartemen ini.
Baru saja dia hendak membuka koper untuk menata semua cemilan yang dia bawa, ponselnya berbunyi. Dia pikir telpon dari daddy, mommy, Kael atau Kanzo, ternyata video call dari Kamara, si ipar mata keranjang.
"Nih bocah ngapain? Tumben banget." gumamnya. Walau malas ia tetap mengangkat.
"Aleaaaa, lo udah sampee?!"
"Buseet! Suara lo bisa pelan dikit napa? Gue bisa budek ini!" Omelnya.
"Lo udah sampe belum?"
"Udah dong. Ngapain lo video call gue? Gue curiga lo ada maksud lain."
"Bener banget. Lo emang paling tahu gue. Gak sia-sia kita kenal dari kecil."
Alea mendengus.
"Cepet ngomong, ada apa?"
"Tahu nggak? Gue tadi ngeliat story-nya om Damon. Dia ada di bandara Belanda. Demi apa coba? Om Damon gue sekarang udah jauh banget buat gue gapai. Lo ketemu dia di bandara gak tadi. Kayaknya kalian satu penerbangan deh. Kalo ketemu, jangan lupa bilang Kamara yang cantik jelita ini titip salam ya? Bilangin om Damon tetap ada di hati Kamara."
Astaga. Ini orang.
"Gak ketemu. Ngapain lo titip salam begitu sama laki-laki lain? Gue laporin entar ke kakak gue, mau?!" Balas Alea galak. Dia bisa lihat perubahan Kamara.
"Jangan-jangan. Dia bisa jadi monster ranjang kalo lo lapor. Udah-udah, gue tutup. Cih, dasar galak. Bye, hmmph!" sambungan terputus.
Alea tertawa. Kamara itu takut sekali pada suaminya, tapi tetap saja mata keranjang sama yang bening-bening. Dasar aneh.
Alea masih menatap layar ponselnya yang sudah gelap.
"Gue nggak boleh kasih tahu Kamara kalo gue ketemu om Damon. Gak boleh. Ya Tuhan, tolong bikin Kamara hamil ya Tuhan, biar matanya fokus ke anak dan suaminya aja." Alea mengangguk sendiri, merasa doanya sangat masuk akal.
"Amin paling serius hari ini," gumamnya puas.
Ia melempar ponselnya ke sofa, lalu kembali ke koper. Tiba-tiba ia mendengar pintu apartemen tetangga berbunyi, ia cepat-cepat melangkah mendekat pintunya. Tangannya menggenggam gagang pintu, tapi tidak langsung dibuka lebar. Ia hanya membukanya sedikit.
Creeeek…
Celah kecil terbuka. Alea mengintip. Di luar, pintu apartemen tepat di seberangnya terbuka. Seseorang baru saja keluar. Tinggi, tegap. Punggungnya membelakangi Alea.
"Cowok? Wuiih, badannya bagus banget. Kayak cool abis itu." ucapnya pelan. Pelan sekali.
Alea berusaha mencari lihat seperti apa wajahnya, tapi laki-laki itu sudah menghilang masuk ke apartemennya. Alea menghembuskan nafas kesal.
"Hufftt ... Gagal." Gumamnya.
Otaknya berpikir keras. Kemudian ia terpikir sesuatu.
"Ah! Bikin mie terus anterin ke dia sekalian kenalan tetangga baru!"
Mata Alea langsung berbinar. Ide itu terasa jenius, menurut versinya sendiri tentunya.
"Iya! Mie instan penyelamat hubungan sosial," gumamnya mantap.
Tanpa buang waktu, ia langsung berbalik ke arah dapur kecilnya. Koper cemilan yang tadi belum sempat dibuka langsung diseret lagi, dibuka dengan semangat. Bungkus-bungkus makanan khas Indonesia langsung menyembul keluar.
"Nah ini dia… mie kebanggaan bangsa," katanya bangga sambil mengambil dua bungkus.
Ia mulai memasak dengan penuh percaya diri. Air direbus, mie dimasukkan, bumbu disiapkan. Bahkan ia sempat bersenandung kecil, merasa seperti chef profesional.
"Kalau dia suka, berarti selera dia bagus. Kalau nggak suka… berarti dia yang aneh."
Beberapa menit kemudian, mie pun matang. Alea menuangkannya ke dalam mangkuk, lalu menatap hasilnya dengan puas.
"Perfect."
Ia mengambil sendok garpu, lalu berhenti.
"Hm… masa iya cuma mie doang? Kurang effort."
Ia membuka lagi kopernya, mengambil beberapa cemilan.
"Tambahin ini biar makin berkesan."
Dengan hati-hati, ia membawa mangkuk mie dan beberapa cemilan ke pintu. Tangannya sudah di gagang pintu, tapi langkahnya tiba-tiba berhenti.
"Gimana kalau dia orangnya galak? Atau… jutek? Atau … psikopat?"
Alea menelan ludah.
"Yaelah Alea, jangan lebay. Ini Eropa, bukan film horor."
Ia menarik napas dalam, lalu membuka pintu dan melangkah keluar.
Tok tok tok.
Ia mengetuk pintu tetangganya.
Beberapa detik kemudian pintu itu terbuka. Dan saat Alea mendongak dengan senyuman lebarnya untuk melihat siapa yang berdiri di hadapannya, senyumnya langsung menghilang perlahan.
"Om Damon?"