NovelToon NovelToon
Solo Reaper At The End Of The World

Solo Reaper At The End Of The World

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: RyzzNovel

Suatu hari, setiap umat manusia dari bumi diseret secara paksa ke dunia apocalypse dimana monster berada. Mereka menerima Aspek, sistem, dan satu tujuan tunggal yakni bertahan hidup.

Player 991 tidak panik. Dia tidak bergantung pada siapapun. Dia tidak mencari bantuan. Dia hanya mulai membunuh.

Sementara yang lainnya membentuk kelompok untuk memastikan keselamatan mereka, Player 991 mendaki papan peringkat global satu demi satu melalui jumlah kill yang dia kumpulkan sendirian.

Namun bertahan hidup saja tidak cukup. Ketika sistem memilih enam pemain terkuat sebagai Sovereign dan memberi mereka kekuasaan untuk membangun kembali peradaban manusia di dunia yang baru, Nate Leicester menemukan dirinya bukan hanya sebagai pemain terkuat — tapi sebagai salah satu dari enam penguasa yang akan menentukan masa depan seluruh umat manusia.

Papan peringkat tidak pernah berbohong. Dan saat ini, hanya ada satu nama di puncak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RyzzNovel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Tepat sebelum gelombang selanjutnya dimulai, mereka mengubah strategi. Menjaga jalur masing-masing digantikan dengan pertahanan terpusat di sekitar kristal, di mana mereka bisa saling membantu satu sama lain.

Ini juga akan menjadi kali pertama mereka benar-benar melihat kemampuan satu sama lain dalam pertarungan.

Nine mengeluarkan pedangnya, cahaya keemasan fajar mengalir lembut di bilahnya. Loen berdiri dengan tenang, memegang gagang pedang besar yang baru dia buat dari beberapa lusin inti esensi monster. Rome berada di barisan belakang bersama legiun pasukan bayangannya yang jumlahnya sudah mendekati seribu. Nelphy tampak dikelilingi domain ungu, energi gelap merembes di sekitar tubuhnya, pupil matanya berputar seperti jurang yang hidup. Zenith mengambang di langit, memantau pergerakan monster dari atas dengan pupil mata vertikalnya yang tajam.

Dan Nate, dengan sabit yang terus memuntahkan asap ungu, berdiri paling depan dengan suhu udara di sekitarnya yang sudah turun beberapa derajat.

[Gelombang ke 11/20 Dimulai!]

Getaran luar biasa terasa di seluruh jalur sekaligus. Asap naik ke langit dari semua penjuru, dan tidak lama setelahnya ribuan monster terlihat mengalir dari berbagai arah.

Karena mereka kini berkumpul di lapangan luas sekitar kristal, Nate bisa melihat dengan jelas bahwa setiap jalur punya monster yang berbeda-beda. Tidak ada satu pun yang sama dengan apa yang dia lawan sebelumnya. Pengetahuan itu membuat semua orang waspada secara bersamaan.

Begitu para monster bergerak, Loen adalah yang pertama melangkah. Dia membiarkan dirinya dikubur oleh lautan monster, lalu dengan pedang besarnya dia menghempaskan mereka semua sekaligus, menciptakan ledakan yang mengguncang sekelilingnya.

Baam!! Krabooom!!

Monster-monster itu tercabik-cabik, beberapa hancur menjadi bubur dan tidak lagi bisa dikenali.

Bersamaan dengan itu Rome mengangkat satu tangannya, dan legiun pasukan bayangannya melesat membantu di medan perang. Mereka berdua menjaga dua jalur sekaligus.

Di sisi lainnya, Nelphy dan Zenith. Pertarungan mereka kacau dengan cara yang berbeda. Zenith mengamuk di tengah-tengah medan perang, merobek, menggigit, menghancurkan, menendang, melakukan segala hal yang bisa dilakukan dengan tubuhnya. Sementara Nelphy, layaknya putri yang tak tersentuh, menghabisi setiap monster yang berhasil lolos dari kepungan Zenith. Jumlah yang lolos itu cukup banyak, wajar mengingat Zenith sendirian menghadapi dua jalur sekaligus.

Lalu ada Nate dan Nine.

Ekspresi Nine tidak pernah tersenyum sedikit pun. Wajahnya gelap seperti seseorang yang baru saja menginjak sesuatu yang tidak menyenangkan.

"Kenapa aku harus bersama denganmu?" Dia bergumam, tapi cukup keras hingga Nate mendengarnya.

"Kenapa aku terus yang salah di sini?" Nate mendecakkan lidahnya. "Tidak bisakah kamu diam dan fokus saja?"

Nine mengepalkan jari-jarinya hingga kukunya memutih, lalu menjauh beberapa langkah dan menghunus pedangnya.

"Aku tidak akan membantu kalau sesuatu terjadi padamu!"

Teriakan itu sudah terdengar dari punggungnya yang berbalik, karena Nine sudah melesat maju begitu beberapa monster menerjang ke arah mereka berdua.

Tubuhnya yang kecil menari dengan anggun, menebas setiap monster yang mendekat. Cahaya fajar yang samar tertinggal di setiap jejak tebasannya, dan seperti sebelumnya setiap monster itu mendapat beberapa detik untuk bernapas sebelum akhirnya tiba-tiba mati dan terpotong dengan rapi. Satu per satu, tanpa suara.

Manuver Nine terlihat sangat jelas dari sini saat dia berada di kepungan ribuan monster, cahaya fajarnya berkedip samar tanpa henti, menunjukkan aspeknya yang kuat dan mengerikan dengan cara yang terasa terlalu indah untuk sebuah pembantaian.

Nate menikmatinya sejenak, lalu dengan senyuman kecil menghunus sabitnya.

Beberapa monster sudah melewati jalur Nine dan menuju langsung ke kristal. Dengan jumlah monster yang meningkat beberapa kali lipat dan level rata-rata mereka yang sudah mencapai enam belas, Nate memutuskan untuk lebih berhati-hati dari biasanya. Bukan hanya karena jumlah dan level, tapi juga fakta bahwa ada campuran begitu banyak monster yang tidak dia kenali.

Dia melesat. Tubuhnya menabrak angin, sabitnya memotong bersih setiap monster yang mendekati kristal.

Buum!! Buum!! Buum!!

Ledakan beruntun terjadi di mana pun dia muncul. Nate tampak kabur, terkadang muncul di sisi kanan medan perang, terkadang sisi kiri, terkadang di tengah-tengah. Setiap tempat yang dia singgahi selalu meninggalkan kekacauan ledakan yang tidak ada habisnya.

Beberapa player melirik ke arahnya sepersekian detik, menyadari sesuatu yang sudah mereka ketahui tapi baru benar-benar terasa sekarang. Dengan kekuatan semacam ini, menyapu bersih monster sebanyak apapun adalah pekerjaan yang mudah bagi Nate.

Itulah level dari peringkat pertama di papan peringkat global seluruh server.

Selanjutnya adalah pembantaian murni.

Gelombang demi gelombang datang dengan hasil yang sudah bisa ditebak. Jam terus berdetak, waktu berlalu dalam sekejap, dan saat mereka menyadarinya, gelombang keenam belas sudah dimulai.

Mereka mendapat tiga puluh menit istirahat seperti sebelumnya, tapi berbeda dari sebelumnya, istirahat kali ini tidak benar-benar mengembalikan kondisi prima mereka.

Kelelahan terlihat jelas di wajah-wajah mereka yang gelap, kantung mata yang menghitam, dan gerakan yang perlahan-lahan kehilangan kecepatan semula. Monster terus meningkat dengan cara yang semakin tidak masuk akal, dan level rata-rata mereka sudah mencapai tujuh belas. Ukuran setiap monster tumbuh, dan setiap serangan mereka menjadi sesuatu yang bisa membunuh siapa pun yang salah langkah sedikit saja.

Dungeon ini sejak awal adalah medan perang yang memaksa mereka untuk terus tumbuh. Sekali saja mereka ketinggalan dalam pertumbuhan, kematian sudah menunggu di ujung langkah itu.

Beberapa dari mereka mulai melonggarkan pertahanan hingga beberapa monster berhasil melewati garis mereka dan mendekati kristal.

Tapi Nate selalu bersiap sebelum sesuatu sempat terjadi. Selain Zenith yang punya kecepatan tinggi, hanya Nate yang bisa mengimbanginya. Dia sebenarnya ingin mengandalkan Zenith, tapi melihat kondisi pria itu saat ini membuat itu mustahil.

Zenith bertarung dengan segala yang dia miliki, merobek dan mencabik-cabik monster dengan seringai buas di wajahnya. Cakarnya menancap tepat ke dalam mata monster lalu menarik keluar dengan paksa. Darah merembes ke mana-mana.

Nelphy sudah lama menutup matanya. Dia tidak lagi membiarkan jurang gelapnya bekerja sendiri, kali ini dia mengendalikannya langsung. Radius jangkauannya semakin besar, dan tubuhnya yang berada di medan perang melahap apapun yang mencoba mendekat.

Loen menerima begitu banyak luka, beberapa cakar monster bahkan tertancap dan tertinggal di tubuhnya. Matanya memerah karena amukan, dan setiap akumulasi damage yang dia terima dikembalikan dalam bentuk ledakan sonik yang mematikan.

Krabooom!!

Legiun pasukan Rome sudah mencapai batas tiga ribu bayangan, tapi mereka tidak berhenti tumbuh. Perlahan-lahan setiap bayangan mendekati level dua puluh.

Nine masih tidak tersentuh dengan cara yang terasa tidak adil. Bahkan ketika tangannya terpotong, itu beregenerasi sendiri. Ketika tubuhnya tertusuk, luka itu menutup tanpa bekas. Sesekali tameng keemasan muncul melindungi tubuhnya, dan pada saat itu bilah pedangnya memancarkan kilau cahaya fajar yang sangat terang sebelum menghancurkan seluruh monster di sekelilingnya.

Swaaah!! Kraaak!!

Nate di sisi lain sudah bertarung dengan cara yang tidak pernah dia pikirkan sebelumnya. Terkadang membantu Rome dan Loen, terkadang Nelphy dan Zenith, tapi pertarungan terberatnya selalu berakhir di sisi Nine yang sendirian menghadapi dua jalur. Meski Nate hanya mengayunkan sabitnya sekali saja di setiap medan perang, itu sudah cukup untuk menciptakan ledakan yang menghancurkan sebagian besar monster yang berdekatan.

Dan saat mereka menyadarinya, gelombang kedua puluh sudah dimulai.

Hanya ada satu monster pada gelombang terakhir itu. Dan untuk pertama kalinya, mereka diberi waktu istirahat satu jam penuh.

***

1
Pradama Okta
harusnya udah peringkat D gak sih, kan syarat dari E ke D 5600 kill
Nameless: yang dihitung monster peringkat E keatas, kalau F kebawah gak kehitung
total 1 replies
SETH
cerita nya bagus..mudah2an rajin update dan gak hiatus
bysatrio
bagus
Nameless: terimakasih!
total 1 replies
KayyLawrence
mampir cuyy,jujur ceritanya bagus,langsung saja terbitkan dan adaptasi jadi manhwa
tintakering
mampir, k
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!