NovelToon NovelToon
Cegilnya Mas Ajudan

Cegilnya Mas Ajudan

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Menikahi tentara / Duniahiburan
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Sebagai putri anggota DPR sekaligus model papan atas, Aurora Widjaja punya segalanya. Namun, hatinya justru jatuh pada Langit Ardiansyah, ajudan sang ayah yang kaku, dingin, dan sangat terikat protokol.
Bagi Langit, Aurora adalah tanggung jawab yang harus dijaga. Bagi keluarga Widjaja, hubungan dengan ajudan adalah skandal yang harus dihindari. Namun bagi Aurora, aturan dan kasta hanyalah rintangan yang siap ia tabrak.
Saat dunia melarangnya mendekat, Aurora justru memilih maju. Karena bagi seorang Aurora, mencintai Langit bukan lagi soal status, tapi soal hati yang sudah jatuh sedalam-dalamnya—to the bone.
“Mas Langit nggak usah repot-repot jaga jarak. Mau sejauh apa pun Mas lari, tujuannya tetep cuma satu: Jadi imam aku.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24

Lampu gantung kristal di ruang tamu utama kediaman Widjaja membiaskan cahaya keemasan yang hangat, namun atmosfer di ruangan itu terasa begitu tegang. Anggara Widjaja duduk di kursi kebesarannya, menyandarkan punggung dengan wajah yang tampak letih. Di depannya, Aurora berdiri tegak, masih mengenakan pakaian yang ia pakai saat pemotretan tadi siang. Ia melipat tangan di dada, matanya menatap sang ayah dengan binar kemenangan yang tak bisa disembunyikan.

Di sudut ruangan, Langit berdiri siaga. Wajahnya datar, namun jemarinya yang bertautan di depan tubuh menunjukkan betapa ia sedang menahan gejolak kegugupan yang luar biasa. Baginya, ruangan ini sekarang terasa lebih panas daripada medan latihan militer mana pun.

"Jadi gimana, Pa?" tanya Aurora memecah keheningan. Suaranya tidak lagi meledak-ledak seperti tadi pagi, melainkan tenang namun penuh penekanan. "Keputusan Papa apa?"

Anggara tidak langsung menjawab. Ia menatap langit-langit ruangan sejenak, lalu beralih menatap Langit, dan terakhir menatap putrinya yang sangat keras kepala itu. Ia menghela napas panjang—sebuah helaan napas yang terdengar seperti penyerahan diri seorang panglima perang yang kalah strategi.

"Oke," ucap Anggara pelan namun jelas. "Papa restui kalian berdua."

Mata Aurora membelalak. Senyumnya merekah lebar hingga ke telinga. "YESSS!!! Yuhuuu...! Papa emang the best! Aku tahu Papa nggak bakal tega liat anak kesayangan Papa ini kawin lari!"

Aurora hampir saja melompat untuk memeluk ayahnya, namun gerakan Anggara yang mengangkat tangan menghentikannya.

"Tunggu dulu. Ada syaratnya," potong Anggara tegas. Wajahnya kembali serius, aura kewibawaannya kembali menguar. "Restu ini bukan tanpa konsekuensi."

Aurora mengerem gerakannya, kembali berdiri tegak. "Apa syaratnya? Apa pun bakal aku lakuin!"

Anggara menatap Langit dengan tajam. "Pernikahan kalian akan digelar secara privat. Sangat tertutup. Papa tidak mau ada satu pun media yang tahu, setidaknya sampai situasi politik Papa stabil. Pastikan tidak ada yang tahu selain orang-orang terdekat keluarga kita. Dan... diadakan satu minggu lagi."

"Satu minggu?!" pekik Aurora dan Langit hampir bersamaan.

Langit sedikit tersentak dari posisi siaganya. "Mohon izin, Pak. Satu minggu? Bukankah itu terlalu cepat untuk persiapan?"

"Lebih cepat lebih baik sebelum Aurora berubah pikiran atau melakukan kegilaan lain yang merusak reputasi keluarga ini," jawab Anggara dingin. Ia kembali menatap Langit. "Dan kamu, Langit. Setelah menikah, statusmu bukan lagi sekadar ajudan. Tapi tanggung jawabmu pada Aurora menjadi berkali-kali lipat lebih berat. Jika dia terluka sedikit saja, saya tidak akan melihatmu sebagai menantu, tapi sebagai kegagalan."

Langit memberikan hormat dengan sangat khidmat. Wajahnya kini memancarkan ketegasan yang luar biasa. "Siap, Pak. Saya berjanji dengan nyawa saya untuk menjaga Aurora. Terima kasih atas kepercayaan Bapak."

"Siap pah kalau itu mah! Satu minggu? Jangankan satu minggu, besok pun aku siap!" seru Aurora riang, ia akhirnya benar-benar menghambur memeluk ayahnya dan mengecup pipi Anggara gemas. "Makasih ya, Pa! Papa beneran pahlawan aku!"

"Sudah, sudah. Lepasin. Papa pusing," gerutu Anggara, meski tangannya perlahan mengusap rambut putrinya.

"Kegatelan banget lo..."

Suara berat dan bernada meledek itu terdengar dari arah tangga. Elang turun dengan langkah santai, tangannya dimasukkan ke saku celana. Ia sudah mendengar seluruh percakapan itu sejak tadi.

Aurora melepaskan pelukannya dan berkacak pinggang menatap kakak laki-lakinya. "Apa sih? Sirik ya? Bilang aja kalau iri liat adiknya yang cantik ini dapet jodoh duluan!"

Elang mendengus, ia berjalan melewati Aurora dan menepuk bahu Langit dengan keras—sebuah tanda selamat yang maskulin. "Gue cuma kasihan sama Langit. Punya istri modelan lo, bakal habis stok kesabaran dia dalam sebulan. Lo itu rewel, manja, dan 'cegil' level akut."

"Eh, biar begini Mas Langit sayang banget ya sama aku!" balas Aurora sambil menjulurkan lidahnya. "Umur lo udah tua belum nikah kan? Udah mau bangkotan, dilangkahi sama adiknya sendiri. Kasihan deh Kak Elang, calonnya mana? Masih di masa depan atau emang nggak ada?"

"Mulut lo ya, Ra," Elang menjitak kepala Aurora pelan. "Gue itu milih-milih karena gue berkualitas. Nggak kayak lo yang main todong Papa pakai ancaman kawin lari."

"Yang penting berhasil!" Aurora tertawa kemenangan, lalu ia menghampiri Langit dan tanpa malu-malu menggandeng lengan pria itu di depan ayahnya. "Mas, denger kan? Satu minggu lagi! Kita harus mulai siapin daftar tamu yang cuma segelintir itu."

Langit menatap Aurora dengan tatapan yang sangat lembut, seolah dunia di sekitar mereka menghilang. "Iya, saya dengar. Kita akan siapkan semuanya bersama-sama."

Anggara yang melihat kemesraan itu hanya bisa berdehem keras, merasa sedikit gerah di rumahnya sendiri. "Langit, kembali ke paviliun. Persiapkan dirimu untuk jadwal besok. Jangan karena sudah dapat restu, kamu jadi lalai bertugas."

"Siap, Pak. Izin pamit," jawab Langit patuh.

Aurora melepaskan gandengannya dengan enggan. "Besok kita cari cincin ya, Mas! Pokoknya harus yang paling bagus!"

Begitu Langit keluar, Aurora kembali menoleh ke arah Elang. "Kak, jangan lupa ya siapin kado paling mahal buat gue. Anggap aja itu denda karena lo udah telat nikah!"

"Denda apaan? Yang ada lo yang harus sungkem karena udah langkahin gue!" Elang tertawa, namun matanya memancarkan rasa lega. Ia tahu, di balik sikap kakunya, Langit adalah satu-satunya orang yang benar-benar bisa menangani sifat liar adiknya.

Malam itu, di kediaman Widjaja, rencana besar mulai disusun. Sebuah pernikahan rahasia yang akan menyatukan sang primadona panggung dan sang penjaga bayangan. Aurora kembali ke kamarnya dengan perasaan terbang, sementara di bawah, Anggara duduk termenung, menyadari bahwa ia baru saja menyerahkan permata paling berharganya kepada seorang pria yang ia tahu tidak akan pernah membiarkan permata itu tergores sedikit pun.

"Satu minggu," gumam Aurora sambil menatap bayangannya di cermin. "Satu minggu lagi, aku resmi jadi istrinya Mas Woo-seok-ku."

***

Tujuh hari menuju pelaminan terasa seperti lari maraton di atas pecahan kaca bagi Langit. Meskipun kata "restu" sudah keluar dari mulut Anggara Widjaja, atmosfer di dalam mansion megah itu tidak lantas berubah menjadi hangat. Sebaliknya, udara terasa makin berat dengan ketegangan yang disamarkan oleh kesibukan dekorasi minimalis dan urusan katering yang sangat tertutup.

Aurora, di sisi lain, seolah menutup mata dari pandangan dingin ayahnya. Ia sibuk memeriksa draf undangan digital yang hanya akan dikirimkan kepada dua puluh orang terpilih.

"Mas, pilih yang font emas atau yang emboss perak?" tanya Aurora sambil menyodorkan tablet ke depan wajah Langit yang baru saja selesai bertugas.

Langit menarik napas panjang, mencoba memfokuskan matanya yang lelah. "Yang mana saja bagus, Ra. Yang penting informasinya jelas."

"Ih, kok gitu jawabannya? Ini kan sekali seumur hidup!" Aurora merengut, duduk di samping Langit di sofa ruang tengah.

Tiba-tiba, langkah kaki yang berat terdengar dari arah tangga. Anggara turun dengan setelan rumah yang rapi, diikuti Melati di belakangnya. Keduanya tidak memandang ke arah sofa, seolah-olah Langit hanyalah bagian dari furnitur rumah yang tidak sengaja berada di sana.

"Melati, pastikan vendor bunga jangan yang terlalu mencolok. Saya tidak mau tetangga curiga ada keramaian di sini," ucap Anggara dengan nada bicara yang datar dan dingin.

"Iya, Pa. Mama sudah bilang sama Mayang buat koordinasi semuanya lewat pintu belakang," jawab Melati pelan.

Aurora berdiri, mencoba mencairkan suasana. "Pa, Ma, liat deh pilihan cincinnya. Bagus kan? Mas Langit yang pilih lho."

Anggara berhenti melangkah. Ia menoleh sekilas, matanya menatap Langit dengan tatapan yang masih merendahkan—sebuah tatapan yang mengatakan bahwa meski ia memberikan restu, ia tidak pernah menganggap Langit setara.

"Pilih saja yang menurut kamu bagus, Aurora. Toh, uangnya juga sebagian besar dari tabungan kamu, kan?" sindir Anggara tajam.

Langit mengepalkan tangannya di samping tubuh, namun ia tetap berdiri tegak. "Mohon maaf, Pak. Saya sudah menyiapkan tabungan saya sendiri untuk mas kawin dan cincin ini. Meskipun mungkin tidak seberapa dibanding koleksi perhiasan Non Aurora, tapi itu murni hasil kerja saya."

Anggara mendengus sinis. "Hasil kerja sebagai ajudan saya? Ironis sekali."

"Papa!" Aurora membela, suaranya mulai meninggi. "Bisa nggak sih sehari aja nggak usah nyindir? Kita ini mau nikah, bukan mau sidang kasus korupsi!"

"Aurora, jaga bicaramu!" Melati mencoba menengahi, meski matanya juga menatap Langit dengan tatapan prihatin yang menyakitkan. "Mama dan Papa hanya ingin yang terbaik. Kamu itu model internasional, Ra. Menikah secara sembunyi-sembunyi dengan... dengan Langit... ini benar-benar menjatuhkan martabat yang sudah kita bangun."

"Martabat siapa? Martabat Papa di depan partai?" Aurora tertawa pahit. "Aku nggak peduli! Mas Langit itu lebih bermartabat daripada semua teman Papa yang mukanya dua!"

Suasana makin memanas ketika malam harinya, mereka berkumpul di ruang makan untuk membahas akad nikah. Langit duduk di sana, merasa seperti terdakwa di kursi pesakitan. Elang juga hadir, lebih banyak diam sambil memainkan ponselnya, sesekali melirik Langit dengan simpati yang tersembunyi.

"Penghulu akan datang jam sembilan pagi hari Sabtu. Tanpa resepsi. Hanya makan siang keluarga," Anggara membacakan jadwal dengan nada seperti membacakan proklamasi perang. "Setelah itu, Langit, kamu tetap tinggal di paviliun sampai saya memutuskan kapan waktu yang tepat untuk kalian pindah atau mempublikasikan ini."

"Tunggu, Pa," potong Aurora. "Setelah nikah, Mas Langit itu suami aku. Masa tinggal di paviliun? Dia harus tinggal di kamar aku dong!"

Anggara membanting sendoknya ke piring. Ting! Suara itu bergema di ruang makan yang sunyi. "Di rumah ini, saya yang membuat aturan! Dia tetap ajudan di mata orang luar. Apa jadinya kalau pelayan di rumah ini melihat ajudan saya keluar-masuk kamar anak saya setiap malam?"

"Dia menantu Papa! Bukan ajudan lagi!" seru Aurora.

"Di atas kertas, iya. Di depan umum, tidak!" balas Anggara tak kalah keras.

Langit menyentuh punggung tangan Aurora di bawah meja, mencoba menenangkan badai yang sedang mengamuk itu. "Ra, sudah. Saya tidak keberatan. Yang penting kita sah secara agama dan hukum dulu. Soal tempat tinggal, saya bisa menyesuaikan."

Aurora menatap Langit dengan mata berkaca-kaca. "Tapi ini nggak adil buat kamu, Mas."

"Keadilan?" Anggara terkekeh hambar. "Keadilan adalah ketika saya tidak menjebloskan dia ke penjara karena sudah berani menyentuh anak saya di balik punggung saya. Kamu harusnya bersyukur, Langit, saya masih memberikan kamu pekerjaan."

Langit menatap Anggara dengan tatapan yang tidak lagi goyah. "Saya bersyukur untuk restu Bapak, tapi saya tidak akan membiarkan martabat saya diinjak terus-menerus. Saya menikahi Aurora karena cinta, bukan karena ingin mencari suaka di rumah ini. Jika Bapak tidak keberatan, setelah satu bulan, saya akan membawa Aurora tinggal di rumah yang sudah saya cicil."

"Rumah apa? Tipe 36 di pinggiran kota?" sela Elang, kali ini ikut berbicara meski nadanya lebih ke arah bercanda untuk memecah ketegangan.

"Cukup layak untuk kami berdua, Mas Elang," jawab Langit tenang.

Anggara terdiam. Ia melihat ada api yang berbeda di mata Langit—sebuah kemandirian yang mulai mengancam otoritasnya sebagai kepala keluarga.

Satu hari sebelum hari H, suasana di paviliun ajudan tampak lebih manusiawi. Bintang dan Pak Bambang sedang membantu Langit menyetrika jas yang akan dipakainya besok. Jas hitam sederhana, namun Langit merawatnya seolah itu adalah jubah kerajaan.

"Sabar ya, Ngit. Bapak memang begitu, hatinya keras kayak batu kali," ucap Pak Bambang sambil menepuk bahu Langit.

"Saya nggak apa-apa, Pak. Saya cuma kasihan sama Aurora. Dia harus bertengkar sama orang tuanya terus demi saya," sahut Langit pelan.

"Dia itu pejuang, Bang," timpal Bintang. "Gue liat tadi dia di taman lagi nangis sambil nelfon Mayang, tapi pas liat Abang lewat, dia langsung hapus air mata dan senyum. Dia nggak mau Abang ngerasa bersalah."

Langit tertegun. Ia segera keluar dari paviliun dan mencari Aurora. Ia menemukan gadis itu sedang duduk di ayunan taman belakang, menatap bulan yang separuh tertutup awan.

Langit duduk di sampingnya tanpa suara. Aurora langsung menyandarkan kepalanya di bahu Langit.

"Mas... kita bakal bahagia kan? Walaupun Papa sama Mama kayak gitu?" bisik Aurora lirih.

Langit merangkul bahu Aurora, mengecup keningnya lama. "Bahagia itu kita yang buat, Ra. Bukan Papa, bukan Mama, bukan orang partai. Besok, setelah kata 'sah' diucapkan, dunia saya cuma kamu. Saya nggak peduli kalau harus tetap jadi ajudan di depan mereka, asal di depan kamu, saya adalah duniamu."

Aurora terisak pelan, memeluk pinggang Langit erat. "Aku cinta banget sama kamu, Mas Woo-seok kaku-ku."

"Saya lebih cinta lagi sama kamu, Aurora Bandel-ku," balas Langit dengan senyum kecil.

Meskipun rumah megah itu masih menyimpan dinginnya ketidaksukaan, di taman itu, di bawah saksi malam yang bisu, Langit dan Aurora tahu bahwa satu minggu penderitaan menuju persiapan ini hanyalah kerikil kecil. Besok, mereka akan melompat melewati jurang perbedaan itu, menuju sebuah awal yang mereka perjuangkan dengan darah, air mata, dan tentu saja, keberanian yang tak terbatas.

1
apiii
kapan jinaknya ini bapak"🤣
Rita Rita
🤭🤣🤣 Aurora bikin mas ajudan hidup terasa mati tapi mati paling nikmat, AQ aja berasa Jak jek Jak jantung baca aksi nekad Aurora 🤣😍😍
Istrinya _byeonwooseok💃: tungguin gebrakan Aurora selanjutnya ya kak🤣🙏
total 1 replies
Yosi Indah
alur dan penulisannya bagus, lanjut kak 😍
Istrinya _byeonwooseok💃: hehe maaciw😍
total 1 replies
apiii
si cegil makin cegil🤣
Fitri Yama
Mereka ngapain Thor??main kuda2 an kah???
Istrinya _byeonwooseok💃: belom sampe itu padahal 🤣
total 1 replies
Rita Rita
kasihan dengan dua anak manusia yg sama Dimata tuhan tapi sangat berbeda Dimata manusia yg punya pangkat dan jabatan. cinta terhalang kasta dan restu,,
apiii
lebih ganas ternyata dari singa nasution🥲
Istrinya _byeonwooseok💃: no no jangan disamain ya. yang ini diam-diam menghanyutkan 🤭🙏
total 1 replies
apiii
semangat ya cegil dan mas langit💪
apiii
demi apapun kagetttt🤣
Istrinya _byeonwooseok💃: jangan kaget ya sama cegil🤭
total 1 replies
apiii
akhirnya ya
apiii
semangat cegilll🤣
apiii
berhasil gasihh si cegil ini🤣
SuryaDharma S
bagus sich ceritanya...
apiii
kerja bagus kejar terus cegill
English Lesson
😍
English Lesson
bagus👍🏻
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
bapaknya jahat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!