Restu merasa hidup dalam keputus asaan ketika Istri dan anaknya suka menyalahkan dirinya hingga dirinya emosi membentak istri dan anaknya tersebut namun kini dirinya jadi orang yang di anggap paling bersalah hingga dia merasa hidup dalam ke hampaan tanpa harus bisa berbuat apa pun selain hanya diam karena apa pun yang dilakukannya akan jadi tambah Salah hingga akhirnya dia ingin mengakhiri hidupnya di suatu jurang yang dalam namun tiba-tiba takdir berkata lain, dia mengurungkan niatnya dengan mencari cara untuk memberi pelajaran kepada istei dan anaknya dengan bantuan sistim yang tiba-tiba datang memberikan pilihan bantuan hingga akhirnya dia mengatur cara agar semuanya menyadari kesalahannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DANA SUPRIYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Gelap Mata
Hujan di luar semakin deras, seiring derasnya air mata yang mengalir di pipi Restu. Namun kali ini, air matanya bukan lagi air mata kesedihan, melainkan air mata yang bercampur dengan tekad gelap yang mulai terbentuk di benaknya. Ketika apa yang di pikirkan mengalami kebuntuan
Pikirannya yang kacau itu perlahan menemukan satu jalan keluar... jalan yang salah, jalan yang berbahaya, namun satu-satunya jalan yang terlihat jelas di hadapannya saat ini.
'Uang... aku butuh uang cepat...'
Batinnya berteriak seperti tidak bisa ditahan karena masalah yang datang bertubi-tubi.
'Semua orang meninggalkanku. Bahkan teman yang pernah ku tolong pun berpaling. Kalau cara halus tidak berhasil, kalau kebaikan tidak dibalas dengan kebaikan... maka aku harus mengambil jalan lain.'
Restu perlahan mengangkat wajahnya. Matanya yang tadi kosong kini berubah menjadi tajam dan dingin. Ada kilatan putus asa yang berubah menjadi keberanian nekat yang mungkin membuat dia gelap mata untuk melakukan kejahatan yang mungkin dulu sangat dia jauhi.
Ia berdiri perlahan, meski tubuhnya terasa remuk redam. Ia berjalan gontai menuju lemari tua di sudut ruangan. Tangannya meraba-raba di balik tumpukan baju, lalu mengeluarkan sebuah benda panjang yang terbungkus kain minyak.
"Itu adalah Golok, golok pusaka"
Peninggalan ayahnya dulu yang ia simpan sebagai kenang-kenangan, dan kadang ia bawa hanya untuk rasa aman saat lembur pulang malam. Namun malam ini, fungsi benda itu berubah total.
Restu membuka pembungkusnya. Besi golok itu tampak mengkilap meski sudah tua, memantulkan cahaya lampu yang remang-remang. Tangannya menggenggam gagangnya dengan erat, jemarinya memutih karena menahan kekuatan.
"Maafkan aku Tuhan..."
Bisiknya parau, suaranya terdengar seram dan datar.
"Hamba sudah berusaha menjadi orang baik. Hamba sudah bekerja jujur. Tapi dunia tidak memberi celah sedikitpun untuk hamba bertahan."
Ia menatap golok itu dalam-dalam hingga dia yakin akan apa yang harus dia lakukan saat ini.
"Anak-anakku butuh uang sekolah... Ibumu butuh makan... Kalau Papa tidak melakukan ini, kita semua akan mati kelaparan atau diusir dari rumah ini. Papa tidak punya pilihan lain..."
Restu menyelipkan golok itu di balik jaketnya yang compang-camping dan kotor. Ia mengenakan topi untuk menutupi wajahnya.
Langkahnya mantap menuju pintu keluar. Hujan masih mengguyur, membuat suasana malam semakin gelap dan mencekam.
"Ke mana kamu mau pergi lagi?!" terdengar teriakan istrinya dari balik pintu kamar yang terkunci, nada suaranya masih penuh cibiran. "Mau cari hutang lagi?! Jangan malu-maluin kami saja!"
Restu tidak menjawab. Ia tidak punya tenaga untuk berdebat lagi. Ia hanya menunduk, lalu melangkah pergi meninggalkan rumah kontrakan itu.
Kakinya berjalan tanpa tujuan yang pasti, namun instingnya membawanya ke tempat-tempat yang sepi, ke arah jalan raya utama di mana mobil-mobil mewah sering lewat, atau ke arah minimarket yang sepi.
Di dalam hatinya, nurani masih berteriak memberontak, namun rasa putus asa dan kebutuhan yang mendesak jauh lebih kuat menguasai dirinya.
'Sekali saja... hanya sekali ini saja...' batinnya meyakinkan diri. 'Aku butuh uang untuk bayar kuliah dan makan. Setelah ini, aku janji tidak akan melakukannya lagi. Tapi sekarang... aku harus ambil resiko.'
Wajahnya berubah dingin, tanpa ekspresi. Pria baik hati dan pekerja keras itu seakan sudah mati tertimbun masalah. Yang tersisa sekarang hanyalah seorang manusia yang nekat, siap melakukan apa saja demi bertahan hidup karena dia sudah gelap mata dan mungkin hanya hidayah Tuhan juga saja yang bisa menghentikannya
"Sret"
Suara langka kaki yang dipaksakan mulai.terdengar yang menimbulkan suara yang menakutkan bagi orang yang mendengarnya.
tinggalkan jejak sobat ya
makasi