Lima mahasiswa KKN terjebak di Desa Larangan, desa gaib yang tidak ada di Google Maps.
Hari ketiga, Rani hilang dari kamar terkunci. Di kasurnya hanya ada selendang merah dan tanah kuburan. Kepala desa cuma bilang: "Tumbal pertama sudah diambil."
Setiap jam 01.00, gamelan dari hutan memanggil nama mereka. Sosok wanita berkebaya merah menatap dari sumur tua belakang balai desa.
Ternyata 7 tahun lalu ada mahasiswi KKN dibunuh dan dibuang ke sumur itu. Arwahnya menuntut 5 nyawa.
Mereka harus temukan tulang mahasiswi itu sebelum purnama, atau jadi penghuni tetap desa. Masalahnya, satu orang harus jadi tumbal sukarela untuk turun ke sumur.
Akankah mereka pulang selamat? Atau pulang tinggal nama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahrani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 SATU BULAN UNTUK HIDUP
Pagi datang terlambat di Desa Larangan.
Matahari sudah tinggi, tapi sinarnya seperti disaring awan kelabu yang tidak bergerak. Tidak ada ayam berkokok. Tidak ada suara ibu-ibu ke sumur. Desa ini mati setelah purnama.
Di posko, kami bertujuh duduk melingkar. Tidak ada yang bicara sejak subuh. Di tengah kami, Sinta terbaring. Wajahnya pucat, tapi napasnya sudah normal. Dia tidur, tidur sungguhan, bukan pingsan karena kerasukan.
“Jadi... kita cuma punya waktu 28 hari?” suara Dina memecah sunyi. Pelan, hampir berbisik. Tapi di ruangan sesunyi ini, suaranya seperti petir.
Paklik Joyo yang dari tadi duduk di ambang pintu mengangguk lemah. Semalam dia tidak pulang. Katanya, “Kalau aku tinggal, kalian sudah jadi lauk ‘mereka’”.
“Purnama depan jatuh tanggal 19 Mei. Hari ini tanggal 22 April,” sambung Rendi sambil lihat kalender di HP. Baterainya tinggal 12%. Sinyal? Nol. “27 hari lagi.”
27 hari untuk hidup. Setelah itu, kami berlima yang ditunjuk Si Penabuh Tinggi semalam akan dijemput. Kurang lima. Aku, Rendi, Bayu, Dina, dan Fajar. Ardi sudah dibayar. Sinta batal.
“Gak ada cara lain, Paklik? Kita kabur aja sekarang!” Bayu menggebrak meja. Matanya merah, bukan karena nangis, tapi karena tidak tidur dan marah.
Paklik Joyo menggeleng. “Sudah saya bilang, Le. Nama kalian sudah dicatat di ‘sana’. Kalian lari ke Jakarta, ke Arab, ke mana saja... ‘mereka’ ikut. Malah lebih bahaya. Di sini, di tanahnya, setidaknya ada aturan. Di luar... kalian sendirian.”
Aturan. Aturan gila yang menumbalkan manusia.
“Lalu kita mau ngapain? Duduk nunggu mati?” tanyaku. Suaraku pahit.
Paklik Joyo menatapku lama. Lalu dia menatap Sinta yang tidur. “Ada satu cara. Tapi... hampir mustahil. Dan taruhannya nyawa.”
Kami berlima serentak menatap Paklik Joyo. Mustahil pun kami lakukan asal ada harapan.
“Cara batalin tumbal itu cuma satu,” kata Paklik Joyo pelan. “Harus ada yang sukarela... menggantikan Mbak Dewi di sumur. Masuk ke dalam, dan menutup ‘gerbang’ dari dalam. Selamanya.”
Gerbang. Jadi sumur tua itu memang gerbang.
“Maksudnya... salah satu dari kita harus bunuh diri di sumur itu?” Fajar, yang paling pendiam, akhirnya bicara. Wajahnya pucat.
“Bukan bunuh diri, Le. Tumbal. Beda,” koreksi Paklik Joyo. “Kalau bunuh diri, rohmu gentayangan. Kalau tumbal... rohmu jadi kunci gembok gerbang. Kamu gantikan Mbak Dewi, dan ‘mereka’ berhenti nagih. Kontrak 10 tahunan selesai. Desa aman. Kalian berlima... bebas.”
Satu nyawa ditukar lima nyawa. Plus nyawa Sinta dan Ardi yang sudah jadi korban.
Hening lagi. Pilihan yang disodorkan Paklik Joyo lebih kejam dari kematian itu sendiri. Siapa yang mau sukarela mati demi yang lain? Kami baru kenal 2 minggu karena KKN.
“Tidak ada cara lain?” Rendi mengulangi pertanyaan Bayu, suaranya bergetar.
Paklik Joyo diam. Itu jawabannya. Tidak ada.
Siang itu, kami sepakat untuk tidak sepakat. Tidak ada yang mau jadi tumbal, dan tidak ada yang mau membicarakan itu lagi. Terlalu berat. Kami memilih untuk... hidup. Menikmati 27 hari sisa umur kami.
Sore harinya, Sinta bangun.
Dia bangun dengan jeritan. “JANGAAAN!!”
Kami semua kaget dan langsung menghampirinya. Tubuhnya basah oleh keringat dingin. Matanya liar mencari-cari.
“Sin, aman. Kamu aman. Kita di posko,” Dina memeluknya, ikut nangis.
Sinta butuh waktu 10 menit untuk tenang. Setelah bisa bicara, kalimat pertamanya membuat kami membeku.
“Aku... aku lihat Ardi.”
“Di mana, Sin? Kamu mimpi?” tanyaku hati-hati.
Sinta menggeleng kencang. “Bukan mimpi. Waktu aku ditarik ke bawah tadi malam. Di dalam sana... gelap. Tapi ada ruangan. Kayak... penjara. Ardi di situ. Dirantai. Dia gak bisa ngomong, tapi matanya... matanya minta tolong sama aku.”
Ardi masih hidup? Di dalam sumur?
“Dia gak sendiri,” lanjut Sinta, suaranya makin lirih. “Ada banyak. Puluhan. Pakai baju KKN angkatan lama... ada yang pakai seragam SMA... Ada Mbak Dewi juga. Tapi Mbak Dewi... beda. Dia yang megang kuncinya. Dia... sipirnya.”
Jantungku rasanya mau copot. Jadi “pulang tinggal nama” itu artinya begini. Mereka tidak mati. Mereka dipenjara di bawah, di gerbang itu, jadi budak untuk menjaga agar gerbang tidak jebol. Dan setiap 10 tahun, tumbal baru harus dimasukkan untuk menggantikan tumbal lama yang sudah ‘habis’.
Mbak Dewi 3 tahun lalu kabur sebelum sah jadi tumbal. Makanya sekarang ‘mereka’ nagih 7 sekaligus. Untuk nutup utang 3 tahun + jatah 10 tahun ke depan.
Dan Ardi... Ardi adalah tumbal pertama yang berhasil mereka ambil. Sekarang dia jadi penghuni penjara itu.
“Berarti... kalau kita gagal kasih tumbal, kita berlima bakal nyusul Ardi ke bawah sana?” bisik Fajar. Tidak ada yang menjawab. Karena kami semua tahu jawabannya: Iya.
Malam kedua di Desa Larangan setelah purnama terasa berbeda. Tidak ada teror. Tidak ada suara gamelan. Desa ini benar-benar sepi seperti kuburan. Paklik Joyo bilang, “Mereka kasih waktu. 27 hari untuk kita pasrah, atau untuk mencari pengganti.”
Mencari pengganti. Kata-kata itu terngiang di kepalaku sampai hari ke-5.
Selama 5 hari itu, kami mencoba segala cara logis. Telepon rektorat? Sinyal nol. Mau jalan kaki keluar desa? Baru sampai gerbang desa, kami semua muntah darah dan pingsan. Paklik Joyo bilang itu “pagar gaib”. Mau minta tolong warga? Semua warga ngunci rumah, tidak ada yang berani bicara dengan kami. Kami sudah dicap “milik ‘mereka’”.
Di hari ke-6, Rendi mengumpulkan kami.
“Udah. Cukup,” katanya. Wajahnya lelah, tapi sorot matanya tajam. “Kita gak bisa nunggu mati. Dan gak ada yang harus mati sukarela. Kita lawan.”
“Lawan gimana, Ren? Kita aja mau keluar desa muntah darah!” sergah Bayu.
“Bukan lawan ‘mereka’,” jawab Rendi. “Kita lawan aturannya. Paklik Joyo bilang kuncinya ada di sumur. Mbak Dewi yang pegang kunci. Berarti kalau kita ngalahin Mbak Dewi dan ngambil kuncinya, kita bisa buka rantai Ardi. Kita bisa buka penjara itu dari luar.”
Gila. Ide Rendi gila. Tapi... itu ide pertama yang tidak berakhir dengan salah satu dari kami mati.
“Caranya?” tanyaku.
Rendi menunjuk ke arah Sinta. “Sin, waktu kamu di bawah, kamu lihat ada kelemahan? Apa aja?”
Sinta berpikir keras, memejamkan mata, mencoba mengingat mimpi buruknya. “Gelap... tapi... setiap kali ‘mereka’ kesakitan waktu kena petir biru, aku lihat... di dinding penjara, ada tulisan. Aksara Jawa. Banyak banget. Dan... di tengah ruangan, ada lonceng besar. Mbak Dewi selalu pegang pemukulnya. Dia gak pernah mukul loncengnya.”
Lonceng. Petir. Aksara Jawa.
Paklik Joyo yang dari tadi diam di pojok tiba-tiba berdiri. “Lonceng Kyai Setan Kober.”
Kami semua menoleh.
“Itu lonceng penutup. Dulu, 50 tahun lalu, kuncen pertama desa ini nutup gerbang pake lonceng itu. Tapi butuh 7 nyawa buat mukulnya. Tumbal. Makanya setelah itu, setiap 10 tahun nagih lagi. Aturannya sudah diikat pakai darah,” jelas Paklik Joyo. “Petir biru itu... itu bukan petir biasa. Itu ‘bala bantuan’ dari atas. Hanya muncul kalau yang mau ditumbalkan... menolak. Sinta menolak. Makanya petir itu datang.”
Jadi kalau kami berlima menolak, petir itu akan datang lagi?
“Bisa jadi,” angguk Paklik Joyo. “Tapi petir itu cuma ngusir ‘mereka’ sementara. Tidak nutup gerbang. Satu-satunya cara nutup gerbang selamanya ya... mukul Lonceng Kyai Setan Kober. Tapi bayarannya... tetap 7 nyawa.”
Kami kembali ke titik awal. 7 nyawa.
Kecuali...
“Gimana kalau... yang mukul lonceng bukan kita?” celetuk Dina.
Maksudnya?
“Gimana kalau yang mukul... ‘mereka’ sendiri?” lanjut Dina. Matanya berbinar. “Mbak Dewi yang megang pemukulnya kan? Gimana kalau kita paksa dia mukul lonceng itu? Bayarannya 7 nyawa... ya ambil dari 7 penabuh gamelan itu! Mereka kan juga ‘tumbal’ dari jaman dulu!”
Bangsat. Ide Dina lebih gila dari Rendi. Tapi... masuk akal. Sangat masuk akal.
Untuk menutup penjara, butuh 7 tumbal. Di dalam sana ada 7 penabuh + Mbak Dewi \= 8. Kalau Mbak Dewi kita paksa mukul, 7 penabuh itu yang jadi bayarannya. Penjara ketutup, Mbak Dewi bebas, Ardi dan tumbal lain bebas, dan kami berlima... bebas.
Tidak ada dari kami yang harus mati.
Masalahnya tinggal satu: Gimana caranya paksa dedemit sekuat Mbak Dewi untuk mukul loncengnya sendiri?
Rendi menatap kami satu-satu. Lalu dia menatap ke arah sumur tua yang terlihat dari jendela posko.
“Kita punya 21 hari lagi untuk cari tahu caranya,” katanya. Sorot mata takut di wajahnya hilang. Ganti jadi sorot mata seorang ketua KKN yang punya misi.
“Purnama depan,” sambungku, “kita tidak jemput Sinta.”
“Kita jemput Lonceng Kyai Setan Kober.” Bayu menimpali, mengepalkan tangan.
Untuk pertama kalinya setelah 6 hari, kami bertujuh merasa punya harapan. Tipis, hampir mustahil, tapi ada.
Kami tidak akan pulang tinggal nama.
Kami akan pulang membawa semua orang. Termasuk Ardi.