Di balik kemegahan istana presiden, cinta hanyalah sebuah bidak yang dikorbankan demi takhta.
Adrian (Ian) menggunakan Rhea, seorang mahasiswi kedokteran, sebagai tunangan kontrak untuk membalas dendam pada ibu tirinya, Cansu. Namun, di balik kebencian itu tersimpan rahasia kelam tentang pengkhianatan dan pengorbanan yang dipaksakan oleh ambisi politik sang Perdana Menteri.
Saat rahasia masa lalu terbongkar dan nyawa menjadi taruhan, mereka harus menyadari satu kenyataan pahit: di puncak kekuasaan, setiap kemenangan selalu meminta tumbal.
Kekuasaan memiliki harga, dan mereka harus membayarnya dengan air mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kharisa Patasiki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: BENANG MERAH YANG TERCEKIK
Langit Veneto yang tadinya cerah perlahan berubah menjadi kelabu, seolah-olah alam pun ikut menahan napas menyaksikan benturan dua ego yang sedang hancur. Matteo telah dibawa menjauh oleh Yusuf—atas isyarat tegas dari Ian—untuk melihat lumba-lumba di sisi lain kolam. Kini, hanya tersisa Adrian dan Cansu, berdiri di tengah taman yang mendadak terasa seperti penjara terbuka.
"Aku akan membawanya pulang, Cansu. Aku akan bertanggung jawab penuh," suara Ian rendah namun penuh tekanan, jenis suara yang biasanya ia gunakan untuk menutup kesepakatan bisnis triliunan rupiah.
Cansu tertawa getir. Suara tawa itu lebih tajam daripada tamparan yang ia berikan tadi. "Bertanggung jawab? Dengan cara apa, Adrian? Mengumumkan pada dunia bahwa Putra sulung keluarga diningrat memiliki anak haram dari mantan ibu tirinya? Dari putri seorang narapidana paling dibenci di negeri ini?"
"Matteo adalah darah dagingku! Aku tidak peduli dengan stigma itu!" Ian melangkah maju, namun Cansu mundur, menciptakan jarak yang tak kasat mata namun absolut.
"Kamu peduli, Adrian! Kamu sangat peduli!" teriak Cansu, suaranya pecah oleh emosi yang tertahan bertahun-tahun. "Pikirkan posisimu. Pikirkan istrimu! Rhea sedang hamil. Kamu ingin dia hancur tepat di saat dia sedang mengandung anakmu yang lain? Kamu ingin dia melihat suaminya membawa pulang seorang anak berusia lima tahun dan berkata, 'Maaf, ini adalah sisa dosaku di masa lalu'?"
Ian tertegun. Nama Rhea disebut seperti hantaman godam di dadanya. Bayangan wajah lembut Rhea yang sedang menantinya di Jakarta membuat lututnya lemas. Namun, saat ia melihat ke arah Matteo di kejauhan, rasa posesif sebagai seorang ayah membakar logikanya.
"Aku bisa mengatur semuanya. Aku punya kekuasaan untuk membungkam media, untuk membersihkan namamu—"
"Jangan menjadi bodoh!" potong Cansu tajam. "Kamu tahu persis sejarahku. Aku adalah kekasih masa remajamu yang meninggalkan mu. Lalu aku menjadi istri ayahmu, menjadi Ibu Negara yang kau benci karena posisi itu. Aku bercerai dari presiden, dan ayahku, Pradikta, sekarang membusuk di sel penjara sebagai pengkhianat negara. Jika Matteo dikaitkan denganku dan kamu, dia tidak akan pernah memiliki hidup normal. Dia akan dianggap sebagai 'skandal berjalan'. Dunia akan melabelinya sebagai anak dari sebuah hubungan incest dan penghianatan."
Cansu mendekat, matanya yang basah menatap tepat ke dalam manik mata Ian. "Matteo aman di sini. Di bawah perlindungan Paman Lorenzo, dia adalah pewaris Valenti. Dia punya nama, dia punya masa depan tanpa bayang-bayang keluarga Diningrat yang berdarah. Biarkan dia tetap seperti itu."
Negosiasi Hati yang Patah
Ian mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Jadi kamu ingin aku berpura-pura tidak pernah tahu bahwa aku punya putra? Kamu ingin aku kembali ke Jakarta dan tersenyum pada Rhea seolah-olah hidupku tidak baru saja meledak di Italia?"
"Itulah harga yang harus kamu bayar untuk kebahagiaan yang kamu pilih, Adrian," bisik Cansu, kini suaranya melembut, penuh dengan kepedihan yang mendalam. "Malam itu... malam setelah Pradikta dipenjara, kamu datang padaku karena kamu hancur. Aku menerimamu karena aku masih mencintaimu. Aku tahu risiko itu, dan aku memilih untuk menanggungnya sendiri. Aku tidak pernah memintamu kembali. Aku tidak pernah menuntut hak atas nama Diningrat."
Ian membuang muka, menatap riak air kolam. Ingatannya tentang malam mabuk itu kembali menghantui. Ia merasa seperti bajingan paling rendah di muka bumi. Ia telah mencuri kehormatan wanita yang ia cintai di masa lalu, meninggalkannya dalam pengasingan, dan kini ia datang ingin merebut anak yang telah wanita itu besarkan dengan air mata dan persembunyian.
"Kakek tahu..." gumam Ian. "Itulah sebabnya dia memintaku ke sini. Itulah sebabnya dia memanggil Matteo 'Singa Kecil'. Dia ingin aku memperbaiki kekacauan ini."
"Kakekmu ingin Garis keturunan Diningrat tetap kuat, Adrian. Dia tahu Rhea mungkin hanya melahirkan anak perempuan, atau dia hanya ingin memiliki 'cadangan' ahli waris. Itu adalah pemikiran politikus tua yang dingin!" Cansu menarik napas panjang. "Tapi aku ibunya. Dan aku bilang tidak. Kamu tidak akan membawa Matteo ke pusaran racun di Jakarta."
Bayang-Bayang di Balik Pilar
Lorenzo Valenti mengamati perdebatan itu dari balkon lantai dua. Di sampingnya, seorang ajudan berdiri menunggu perintah.
"Biarkan mereka bertarung, Lorenzo?" tanya sang ajudan.
Lorenzo menyesap cerutunya, asapnya membubung tertiup angin laut. "Adrian adalah macan yang baru saja menemukan taringnya yang hilang. Cansu adalah mawar yang sudah terlalu sering diinjak. Pertunjukan ini belum selesai. Adrian tidak akan bisa pulang ke Jakarta dengan hati yang utuh, dan itulah tujuanku. Pria yang terbagi hatinya adalah pria yang mudah dikendalikan."
Keputusan yang Menggantung
Ian menatap Cansu kembali. "Jika aku pergi sekarang, apakah kamu akan membiarkanku bertemu dengannya lagi? Sebagai ayahnya?"
Cansu terdiam lama. Ia melihat Matteo yang sedang tertawa melihat Yusuf melakukan gerakan konyol. Kelembutan muncul sesaat di wajahnya.
"Pergilah dulu, Adrian. Selesaikan urusanmu di Jakarta. Temani Rhea hingga dia melahirkan. Jangan biarkan dia merasakan ketakutan yang aku rasakan saat hamil Matteo sendirian di Milan. Setelah itu... jika keadaan sudah tenang, kita bicara lagi. Tapi jangan pernah bawa nama besar keluarga mu di depan Matteo. Baginya, kamu hanyalah 'Paman Adrian' dari masa lalu Mamanya."
Ian merasakan jantungnya diremas. Menjadi orang asing bagi putranya sendiri adalah hukuman yang lebih berat daripada penjara mana pun. Namun, ia menyadari kebenaran dalam kata-kata Cansu. Stigma "Mantan Ibu Negara yang punya anak dengan anak tirinya" adalah bom atom yang akan menghancurkan segalanya—karakter ayahnya sebagai mantan Presiden, reputasi Rhea, dan kesehatan mental Matteo.
"Aku akan pergi," ucap Ian dengan suara serak. "Tapi jangan harap aku akan melepaskan ini. Matteo adalah anakku. Dan darah Diningrat tidak akan pernah bisa dihapus hanya dengan jarak ribuan mil."
Cansu tidak menjawab. Ia hanya berdiri mematung saat Ian berbalik dan berjalan pergi dengan langkah yang goyah. Ian tidak berpamitan pada Matteo; ia tidak sanggup melihat mata anak itu tanpa ingin menggendongnya dan membawanya lari dari kenyataan pahit ini.
Yusuf segera mendekat saat melihat Ian berjalan menuju mobil dengan wajah yang tampak sepuluh tahun lebih tua.
"Tuan Muda..."
"Jangan katakan apa pun, Yusuf. Siapkan penerbangan kembali ke Jakarta. Sekarang," perintah Ian, suaranya dingin dan hampa.
Saat mobil mulai melaju meninggalkan estate Valenti, Ian menatap melalui jendela belakang. Ia melihat Cansu yang kini sudah berlutut memeluk Matteo di tepi kolam. Pemandangan itu menjadi memori paling menyakitkan dalam hidupnya. Di depannya adalah perjalanan pulang menuju istri yang ia cintai, namun di belakangnya tertinggal sepotong jiwanya yang baru saja ia temukan.
Sang Macan Diningrat kembali ke sarangnya, namun kali ini dengan luka dalam yang tidak terlihat. Dan di Jakarta, Rhea yang sedang hamil muda menanti dengan senyum, tidak pernah tahu bahwa pria yang ia cintai baru saja meninggalkan rahasia terbesar yang siap meledak kapan saja.