Satria adalah cowok SMA yang memiliki "berkah" sekaligus kutukan: ia bisa melihat makhluk halus. Sialnya, Satria tidak seperti tokoh indigo di film-film yang terlihat misterius dan keren. Satria adalah seorang Indigo Semprul. Bukannya mengusir setan dengan doa yang khusyuk, ia lebih sering bernegosiasi dengan kuntilanak menggunakan voucher kuota atau menawar pocong agar tidak melompat di depannya karena ia punya penyakit jantung ringan.
Pindah ke SMA Wijaya Kusuma—sekolah tua peninggalan Belanda yang kabarnya sangat angker—Satria berharap bisa hidup normal. Namun, harapannya pupus saat ia bertemu Arini, gadis manis ketua OSIS yang ternyata adalah cinta pertamanya saat SD.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meneer Tanpa Kepala yang Cemburuan
Setelah tragedi jatuh dari tangga yang sukses menghancurkan wibawa Satria di depan Arini, Satria menyadari satu hal penting: mencintai Arini berarti siap menjadi sasaran empuk bagi dunia astral. Namun, musuh terbesarnya saat ini bukanlah kuntilanak yang hobi tertawa atau tuyul administrasi milik Pak Broto. Musuh terbesarnya adalah sesosok perwira kolonial yang memiliki tinggi dua meter, bau tanah basah, dan—yang paling merepotkan—tidak memiliki kepala.
Meneer Van De Berg. Itulah nama yang didengar Satria dari Pak Broto. Sang Meneer tampaknya telah mendedikasikan kehidupan abadi pasca-kematiannya untuk menjadi pengawal pribadi Arini. Dan celakanya, ia memiliki standar yang sangat tinggi untuk pria yang boleh mendekati "Noni"-nya. Standar yang jelas tidak dimiliki oleh Satria yang tampangnya lebih mirip korban begadang tugas matematika daripada seorang pahlawan.
"Sat, kamu beneran nggak apa-apa?" Arini bertanya untuk yang kesepuluh kalinya saat mereka berjalan menuju kantin setelah upacara selesai. Arini tampak sangat khawatir, tangannya sesekali menyentuh lengan Satria untuk memastikan cowok itu tidak pingsan.
Setiap kali jari Arini menyentuh kulit Satria, suhu di sekitar mereka mendadak turun drastis, seolah-olah mereka sedang masuk ke dalam freezer raksasa. Satria melirik ke arah bahu kiri Arini. Di sana, si Meneer tanpa kepala sedang melayang dengan posisi berdiri tegak, memegang pedang kavaleri yang ujungnya diarahkan tepat ke arah jakun Satria.
"Gue oke, Rin. Cuma... lo ngerasa nggak kalau kantin ini mendadak kayak di Kutub Utara?" Satria mencoba bercanda sambil menggertakkan giginya yang gemetar karena dingin yang tidak alami.
"Mungkin karena laper, Sat. Kalau laper kan gula darah turun, jadi berasa dingin," jawab Arini polos.
Bukan gula darah yang turun, Rin, tapi nyawa gue yang mau turun ke tanah kalau ini hantu nggak berhenti nodongin pedang! batin Satria berteriak.
Mereka duduk di salah satu meja pojok kantin yang agak sepi. Satria sengaja memilih kursi yang menghadap tembok, berharap bisa meminimalisir gangguan visual. Namun, si Meneer justru duduk di kursi kosong tepat di sebelah Satria. Meskipun tidak punya wajah, Satria bisa merasakan aura "kebencian kolonial" yang terpancar kuat dari sosok itu.
"Rin, aku pesen mi ayam dulu ya. Kamu mau apa?" tanya Satria.
"Samain aja, Sat. Sama es teh manis," Arini tersenyum.
Satria berdiri untuk memesan. Begitu ia menjauh dari meja, si Meneer tanpa kepala tidak mengikuti Arini, melainkan justru membuntuti Satria. Saat Satria mengantre di depan kios Mi Ayam Pak Kumis, ia merasakan sebuah tekanan dingin di tengkuknya.
“KAU... ANAK MANUSIA YANG DEKIL,” suara berat dan bergema itu muncul lagi di pikiran Satria.
Satria menarik napas panjang. Ia berpura-pura sedang memperbaiki kerah seragamnya agar bisa berbisik tanpa terlihat gila oleh siswa lain. "Dengar ya, Meneer. Saya akui Anda dulu mungkin jenderal hebat. Tapi sekarang ini tahun 2026. Arini butuh pacar yang bisa diajak nonton bioskop, bukan yang bisa diajak perang VOC. Anda nggak bisa beliin dia tiket bioskop, kan?"
Pedang si Meneer tiba-tiba melayang dan memotong helai rambut di atas telinga Satria secara metafisik. Satria merasakan sensasi perih yang dingin, meski tidak ada darah yang mengalir.
“NONI ARINI ADALAH KETURUNAN YANG HARUS DIJAGA. KAU HANYALAH KERIKIL DI SEPATU SAYA,” balas si Meneer.
"Kerikil? Meneer, saya ini cinta pertamanya! Kami punya sejarah! Kami punya koneksi susu kotak cokelat!" Satria mendesis pelan.
"Mas? Mau pesen apa?" tanya Pak Kumis, penjual mi ayam, menatap Satria dengan bingung karena Satria bicara sendiri ke arah tiang kantin.
"Eh, mi ayam dua, Pak. Yang satu jangan pakai bawang, yang satu lagi jangan pakai... jangan pakai hantu," jawab Satria ngawur.
Pak Kumis mengernyit. "Hantu? Mas ini lucu ya. Ya sudah, tunggu sebentar."
Saat Satria menunggu pesanan, si Meneer melakukan tindakan sabotase pertamanya. Ia menendang botol kecap di atas meja Pak Kumis. Botol itu meluncur jatuh tepat ke arah sepatu putih bersih milik Satria. Dengan refleks indigo yang sudah terasah karena sering dilempar piring oleh poltergeist, Satria menangkap botol itu di udara sebelum menyentuh sepatunya.
"Hampir saja," gumam Satria sombong ke arah si Meneer.
Namun, si Meneer tidak menyerah. Ia meniup telinga Pak Kumis yang sedang menuangkan kuah panas. Pak Kumis tersentak, tangannya gemetar, dan sesendok kuah panas hampir saja tumpah ke arah tangan Satria. Satria menghindar dengan gerakan ala Matrix, membuat siswa di belakangnya menatapnya seperti orang gila.
"Meneer, stop! Ini kekanak-kanakan!" bisik Satria marah.
Si Meneer hanya menyilangkan tangannya di dada—gerakan yang sangat menyebalkan untuk ukuran makhluk tanpa kepala.
Satria akhirnya kembali ke meja membawa dua mangkuk mi ayam. Arini sedang asyik memainkan ponselnya. Saat Satria meletakkan mangkuk di depan Arini, si Meneer sengaja meniup poni Arini hingga menutupi matanya. Saat Arini sibuk membetulkan poni, si Meneer dengan cepat mencoba memasukkan "sesuatu" yang tampak seperti gumpalan energi hitam ke dalam mangkuk Satria.
"Eits! Tidak semudah itu, Ferguso!" Satria dengan cepat menutup mangkuknya dengan telapak tangan, menghalangi energi hitam itu masuk.
Arini mendongak. "Sat? Kamu ngomong sama siapa? Dan kenapa mangkuk kamu ditutupin gitu?"
"Ini... anu, Rin. Aku lagi... berdoa! Iya, ini doa cara baru. Menutup mangkuk agar berkahnya nggak terbang ke langit," Satria beralasan, keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya.
Arini tertawa kecil, suara tawanya yang merdu sedikit meredakan ketegangan Satria. "Kamu ada-ada saja, Sat. Ayo makan, keburu dingin."
Mereka mulai makan. Satria mencoba mengabaikan si Meneer yang kini berdiri di belakang kursi Arini, membelai rambut Arini dengan jari-jari transparannya yang panjang. Satria merasa cemburu—sangat cemburu. Ia bahkan tidak berani menyentuh ujung rambut Arini, tapi hantu Belanda ini dengan seenaknya melakukan itu.
"Rin," panggil Satria di tengah kunyahannya. "Lo... pernah ngerasa nggak sih, kayak ada yang selalu jagain lo? Kayak... ada bodyguard yang nggak kelihatan?"
Arini berhenti mengunyah. Ekspresinya mendadak berubah menjadi sedikit serius, bahkan ada sedikit kesedihan di matanya. "Sejujurnya, Sat... iya. Sejak kecil, aku sering ngerasa ada hawa dingin di sekitar aku. Teman-teman aku yang cowok dulu sering tiba-tiba menjauh atau malah kena sial kalau deket sama aku. Makanya, aku nggak punya banyak teman cowok yang awet."
Satria tersedak potongan sawi. "Kena sial gimana?"
"Ya... ada yang tiba-tiba jatuh dari sepeda, ada yang mendadak mimisan, bahkan ada yang HP-nya tiba-tiba meledak waktu mau chat aku," Arini mendesah. "Aku kadang ngerasa aku pembawa sial, Sat."
Satria meletakkan sumpitnya. Ia menatap Arini dengan tatapan yang sangat dalam dan tulus. Ia bisa merasakan kesepian yang selama ini dirasakan Arini. Ternyata, keberadaan si Meneer bukan hanya melindungi, tapi juga mengisolasi Arini dari dunia luar. Ini bukan lagi soal cemburu, ini soal kebebasan Arini.
"Rin, dengerin gue," Satria memegang tangan Arini di atas meja. Dingin yang luar biasa langsung menyengat telapak tangannya, seolah si Meneer sedang mengalirkan arus listrik beku ke arahnya. Tapi Satria tidak melepaskannya. Ia menahan rasa sakit itu demi Arini.
"Lo bukan pembawa sial. Lo itu berharga, makanya ada yang... 'terlalu' protektif sama lo. Tapi lo jangan takut. Gue beda sama cowok-cowok yang dulu. Gue nggak akan pergi cuma karena sedikit hawa dingin atau HP meledak."
Mata Arini berkaca-kaca. "Kamu beneran nggak takut, Sat?"
"Takut sih dikit, tapi gue lebih takut kalau nggak bisa lihat senyum lo lagi," ucap Satria puitis, meskipun di dalam hatinya ia sedang merintih karena tangannya rasanya mau beku.
Tiba-tiba, sebuah suara dentuman keras terdengar. Meja kantin mereka bergetar hebat. Si Meneer tanpa kepala tampak sangat murka. Ia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, dan kali ini, auranya menjadi merah gelap. Ruang kantin yang tadinya ramai mendadak sunyi. Siswa-siswa lain mulai merasa tidak nyaman, beberapa dari mereka mulai pergi meninggalkan kantin tanpa alasan yang jelas.
“KAU... BERANI MENYENTUHNYA DENGAN TANGAN KOTORMU!” suara si Meneer menggelegar, kali ini begitu kuat sampai beberapa gelas es teh di meja sebelah retak.
Satria tahu ini sudah kelewatan. Ia berdiri dari kursinya. "Rin, tunggu sini bentar ya. Aku mau... mau ke kamar mandi. Kebelet banget!"
"Eh? Iya, Sat, cepetan ya!" Arini tampak bingung melihat perubahan suasana yang mendadak mencekam.
Satria berjalan cepat menuju lorong belakang kantin yang sepi, tempat gudang sekolah berada. Si Meneer terbang mengejarnya, menebas-nebas udara dengan pedangnya yang mengeluarkan percikan api biru.
Begitu sampai di area yang benar-benar sepi, Satria berbalik. "Oke, Meneer! Cukup! Kita selesaikan ini secara jantan... atau secara hantu-manusia!"
Satria merogoh saku celananya. Ia tidak membawa keris atau jimat, tapi ia membawa sesuatu yang selalu ia siapkan untuk keadaan darurat: garam dapur yang sudah dicampur dengan bubuk kopi sachet.
"Dengar, Meneer Van De Berg! Saya tahu Anda mencintai Arini sebagai keturunan dari keluarga yang dulu Anda layani atau apa pun itu. Tapi dia manusia hidup! Dia butuh teman, dia butuh cinta yang nyata, bukan cuma hawa dingin dan pedang karatan!"
“KAU TIDAK TAHU APA-APA! DUNIA INI KEJAM UNTUKNYA!” teriak si Meneer sambil mengayunkan pedangnya ke arah kepala Satria.
Satria merunduk, lalu dengan gerakan cepat, ia melemparkan campuran garam dan kopi itu ke arah sosok transparan tersebut. Begitu butiran garam menyentuh aura si Meneer, terdengar suara mendesis seperti daging yang dipanggang.
“AAAARRRGGHHH! APA INI?!”
"Itu namanya garam anti-galau, Meneer! Dan kopinya biar Anda sedikit bangun dari mimpi buruk masa lalu!" Satria berteriak. "Saya nggak mau musuhan sama Anda. Saya cuma mau minta izin buat jagain Arini dengan cara yang benar. Cara manusia!"
Si Meneer terhuyung-huyung, auranya yang merah perlahan memudar kembali menjadi abu-abu pucat. Ia tampak terengah-engah (meskipun tidak punya paru-paru). Ia menatap Satria—atau setidaknya mengarahkan lehernya ke arah Satria—dengan cara yang berbeda.
"Saya indigo, Meneer. Saya bisa lihat apa yang orang lain nggak bisa lihat. Itu artinya, saya bisa jagain Arini dari gangguan hantu lain yang mungkin lebih jahat dari Anda. Kita bisa jadi tim, kan?" Satria mencoba menawarkan negosiasi.
Si Meneer terdiam cukup lama. Keheningan di lorong itu terasa sangat berat. Akhirnya, si Meneer menurunkan pedangnya. Ia menyarungkan kembali pedang itu ke pinggangnya yang transparan.
“KAU... PUNYA NYALI YANG BESAR UNTUK MANUSIA CULUN,” suara si Meneer terdengar lebih tenang, meski tetap sinis. “SAYA AKAN MENGAMATI KAU. JIKA KAU MEMBUATNYA MENANGIS... SAYA AKAN MEMASTIKAN KAU TIDAK AKAN PERNAH BISA MELIHAT MATAHARI LAGI.”
Setelah mengatakan itu, si Meneer menghilang menjadi butiran cahaya perak yang dingin.
Satria menyandarkan tubuhnya ke tembok gudang yang lembap. Jantungnya serasa mau copot. "Gila... gue baru saja negosiasi sama jenderal Belanda tanpa kepala pakai garam dapur dan kopi sachet."
Ia segera mencuci tangannya di wastafel terdekat dan kembali ke kantin. Di sana, Arini sedang menunggunya dengan wajah cemas. Begitu melihat Satria, wajahnya langsung cerah kembali.
"Lama banget sih, Sat? Aku kira kamu diculik hantu penunggu WC," canda Arini.
Satria duduk kembali di depan Arini. Anehnya, suhu udara di sekitar mereka sekarang terasa normal. Tidak ada lagi hawa dingin yang menusuk, tidak ada lagi pedang yang menodong lehernya. Ia melirik ke samping Arini, si Meneer masih ada di sana, duduk dengan tenang sambil melipat tangan, tapi kali ini ia tidak menunjukkan tanda-tanda ingin membunuh Satria.
"Nggak diculik, kok. Tadi cuma... negosiasi dikit sama 'urusan dalam negeri'," jawab Satria sambil tersenyum misterius.
"Kamu ini aneh-aneh aja," Arini tertawa, lalu ia mengambil sepotong tisu dan mengusap keringat di dahi Satria. "Tuh, sampai keringetan gitu. Kayak habis perang aja."
Satria terpaku. Sentuhan Arini kali ini terasa hangat. Sangat hangat. Ia melirik ke arah si Meneer. Hantu itu hanya membuang muka (atau setidaknya memutar bahunya ke arah lain).
"Rin," panggil Satria lembut.
"Ya?"
"Makasih ya... sudah mau temenan sama cowok aneh kayak gue."
Arini menatap Satria, matanya berbinar dengan emosi yang sulit dijelaskan. "Sat, justru karena kamu aneh, aku ngerasa dunia aku jadi lebih berwarna. Jangan berubah ya."
Di tengah riuhnya kantin sekolah, di antara aroma mi ayam dan es teh manis, dan di bawah pengawasan seorang perwira Belanda tanpa kepala yang sedang cemburu, Satria merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Ia tahu perjalanannya masih panjang—masih ada 96 bab lagi yang penuh tantangan—tapi setidaknya untuk hari ini, si Indigo Semprul berhasil memenangkan satu pertempuran kecil demi cintanya.
Namun, kedamaian itu terusik saat tiba-tiba seorang siswi berlari masuk ke kantin sambil berteriak histeris. "TOLONG! DI LAB BIOLOGI! KERANGKA MANUSIANYA JALAN SENDIRI DAN LAGI NGEJAR PAK GURU!"
Satria menghela napas panjang. "Baru juga mau romantis..."
Ia menatap Arini. "Rin, kayaknya kita harus liat. Siapa tahu kerangkanya cuma mau pinjam buku sejarah."
Arini tertawa, meski wajahnya sedikit pucat. "Ayo, Sat! Selama ada kamu, aku berani!"
Dan begitulah, pasangan paling absurd di SMA Wijaya Kusuma itu berlari menuju masalah berikutnya, diikuti oleh seorang Meneer tanpa kepala yang tampak sangat lelah dengan kehidupan (kematian)-nya sekarang.