[cp akan terlambat]
negara : Indonesia
sinopsis:
Mati setelah seumur hidup bekerja sendirian itu melelahkan. Ketika Olyvia Arabella membuka mata, ia kembali ke usia 20 tahun—tepat saat calon ibu mertua menyodorkan amplop "uang perpisahan" yang ternyata hanya berisi seratus ribu. Dunia sudah gila: nilai uang menurun 10.000 kali lipat, dan hanya Olyvia yang sadar karena rekening bank masa depannya ikut terbawa. Sekarang ia menjadi satu-satunya konglomerat di dunia yang mendadak miskin. Tapi kekayaan tak membuat hidupnya lebih mudah, terutama saat para pria dari masa lalunya kembali—kali ini dalam keadaan jauh lebih melarat. Balas dendam tak cukup dengan uang. Tapi setidaknya, Olyvia bisa membeli waktu untuk memilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Keluarga
Sabtu pagi itu langit Surabaya cerah tanpa awan. Olyvia sudah bangun sejak pukul lima, sesuatu yang jarang ia lakukan kecuali sedang begadang mengerjakan kode. Tapi pagi ini berbeda. Pagi ini keluarganya akan datang.
Ia mandi air hangat lebih lama dari biasanya, memastikan tubuhnya segar dan wangi. Ia memilih pakaian yang sederhana tapi rapi: kaus katun putih, celana jeans biru muda, dan sandal jepit kulit. Rambutnya diikat ekor kuda. Tidak ada makeup tebal, hanya pelembap dan lip balm rasa strawberry.
Mereka gak perlu lihat gue glamor. Mereka cuma perlu lihat gue sehat dan bahagia.
Ia turun ke dapur. Bu Sri, Bu Ratih, dan Bu Dewi sudah sibuk sejak subuh. Aroma masakan memenuhi seluruh rumah: opor ayam, rendang, sambal goreng kentang, dan aneka kue basah. Meja makan besar sudah ditata rapi dengan piring-piring putih dan gelas-gelas kristal.
Bu Sri menoleh dan tersenyum. "Mbak Oly, ini masakannya sudah hampir selesai. Saya masak yang spesial sesuai pesanan Mbak."
Olyvia tersenyum puas. "Terima kasih, Bu. Ibu saya pasti suka."
Pak Slamet dan Pak Dedi juga sudah bekerja lebih pagi. Taman sudah disapu, tanaman dipangkas rapi, kolam renang dibersihkan hingga airnya berkilau seperti kaca.
Rumah gue siap. Sekarang tinggal jemput mereka.
Olyvia sudah menyewa sebuah MPV mewah berwarna hitam lengkap dengan sopir. Mobil itu berhenti tepat di depan pintu utama. Olyvia naik dan duduk di kursi tengah. Sopir, seorang pria paruh baya bernama Pak Tono, menoleh dan tersenyum.
"Selamat pagi, Mbak Oly. Tujuan stasiun ya?"
"Iya, Pak. Stasiun Kota."
Mobil melaju mulus meninggalkan kompleks Royal Garden Estate. Sepanjang perjalanan, Olyvia terus mengecek ponselnya. Pesan dari Siska sudah masuk sejak tadi.
Siska: Mbak, kita udah di kereta. Galang kegirangan terus dari tadi. Ibu sama Bapak juga senyum-senyum terus.
Olyvia: Sabar ya, Dek. Mbak udah di jalan. Nanti Mbak jemput di pintu keluar.
Siska: Siap, Mbak! 🫡
Olyvia tersenyum membaca pesan adiknya. Ia bisa membayangkan Galang yang pasti menempelkan wajahnya ke jendela kereta sepanjang perjalanan, dan Ibu yang pasti membawa oleh-oleh hasil kebun meski Olyvia sudah bilang tidak usah.
Keluarga gue emang gitu. Gak bisa diem. Selalu bawa sesuatu.
Stasiun Kota Surabaya
MPV hitam itu berhenti di area parkir stasiun. Olyvia turun dan berjalan cepat menuju pintu keluar kedatangan. Jantungnya berdebar. Bukan karena cemas, tapi karena rindu yang sudah tidak terbendung.
Kereta dari Malang akhirnya tiba. Penumpang mulai berhamburan keluar. Olyvia berdiri di ujung koridor, matanya sibuk mencari empat sosok yang sangat ia kenal.
Dan di sana, di antara kerumunan, ia melihatnya.
Bu Sumarni berjalan pelan dengan tas anyaman bambu di tangan. Rambutnya disanggul rapi, memakai batik lengan panjang dan sandal jepit. Di sebelahnya, Pak Harjo memakai kemeja putih dan celana kain hitam, membawa ransel besar di punggung. Di belakang mereka, Siska dan Galang berjalan sambil tertawa, masing-masing membawa tas jinjing.
Olyvia tidak bisa menahan diri. Ia berlari.
"IBU! BAPAK!"
Bu Sumarni mendongak dan langsung tersenyum lebar. Olyvia memeluk ibunya erat-erat, mencium pipinya berkali-kali. Lalu ia memeluk Bapaknya yang tersenyum malu-malu.
"Nduk, kamu kurusan," kata Bu Sumarni sambil memegang pipi Olyvia.
"Enggak, Bu. Olyvia sehat kok. Ibu yang keliatan capek. Sini tasnya Olyvia bawain."
Ia meraih tas anyaman ibunya dan menggandeng tangannya. Siska dan Galang langsung memeluk Olyvia bergantian.
"Mbak! Aku kangen!" seru Galang.
"Mbak, rumah kamu beneran ada kolam renangnya kan?" tanya Siska tak sabar.
Olyvia tertawa. "Iya, ada. Nanti kalian bisa berenang sepuasnya."
Mereka berjalan bersama menuju parkiran. Pak Tono sudah menunggu di samping MPV hitam. Begitu melihat mobil mewah itu, Bu Sumarni dan Pak Harjo saling pandang.
"Nduk, ini mobil siapa?" tanya Bu Sumarni.
"Olyvia sewa, Bu. Biar kita bisa jalan bareng. Bapak gak usah capek nyetir."
Mereka naik ke dalam mobil. Siska dan Galang langsung menempelkan wajah ke jendela, mengamati gedung-gedung tinggi Surabaya yang mulai terlihat. Bu Sumarni dan Pak Harjo duduk di kursi tengah, mata mereka sibuk menatap sekeliling dengan takjub.
Royal Garden Estate
Mobil memasuki gerbang kompleks mewah. Satpam memberi hormat. Mobil melaju pelan melewati rumah-rumah megah dengan taman tropis yang tertata rapi.
Bu Sumarni memegang lengan Olyvia. "Nduk, kamu tinggal di sini? Kayak di film-film."
Olyvia tersenyum. "Iya, Bu. Sebentar lagi nyampe."
Mobil akhirnya berhenti di depan istana Olyvia. Gerbang besi tinggi dengan logo kerajaan terbuka otomatis. Mobil masuk dan berhenti di depan pintu utama.
Siska turun pertama. Mulutnya langsung terbuka lebar. "ASTAGA! INI RUMAH MBAK?!"
Galang turun berikutnya dan langsung berlari ke arah kolam renang. "MBAK! KOLAM RENANGNYA GEDE BANGET! BOLEH RENANG?!"
Olyvia tertawa. "Boleh, Lang. Nanti ya. Sekarang masuk dulu."
Bu Sumarni dan Pak Harjo turun dengan langkah pelan. Mata mereka menatap bangunan megah di hadapan mereka. Dinding marmer putih, jendela kaca besar, taman tropis dengan air terjun buatan, dan kolam renang infinity yang berkilau.
Bu Sumarni memegang dada. "Ya Allah, Nduk. Ini beneran rumah kamu?"
Olyvia merangkul ibunya. "Iya, Bu. Ini rumah Olyvia. Dan ini rumah Ibu sama Bapak juga."
Pak Harjo berdiri mematung. Matanya berkaca-kaca. Ia tidak berkata apa-apa, tapi Olyvia bisa melihat kebanggaan yang tidak bisa disembunyikan di wajahnya.
Mereka masuk ke dalam. Ruang tamu dengan lampu kristal raksasa dan lantai marmer menyambut mereka. Bu Sri, Bu Ratih, dan Bu Dewi sudah menunggu dengan senyum ramah.
"Selamat datang, Ibu, Bapak," sapa Bu Sri sopan.
Bu Sumarni terkejut melihat tiga pembantu berseragam rapi. "Nduk, ini...?"
"Mereka yang bantu-bantu di rumah, Bu. Ibu Sri kepala rumah tangganya."
Bu Sri mendekat dan menjabat tangan Bu Sumarni. "Ibu pasti bangga punya putri seperti Mbak Oly. Beliau baik sekali sama kami."
Bu Sumarni mengangguk haru. "Alhamdulillah. Terima kasih sudah jaga anak saya."
Olyvia menuntun keluarganya berkeliling rumah. Mereka melihat dapur utama yang luas dengan pulau marmer. Ruang makan dengan meja kayu solid. Home theater dengan kursi malas elektrik. Gym pribadi dengan peralatan lengkap. Dan kamar-kamar tidur yang masing-masing punya kamar mandi dalam.
Siska langsung memilih kamar dengan balkon menghadap kolam renang. Galang memilih kamar di sebelahnya. Bu Sumarni dan Pak Harjo mendapatkan kamar utama tamu yang tidak kalah mewah.
Sepanjang tur, Bu Sumarni terus menggeleng tak percaya. Pak Harjo lebih banyak diam, tapi Olyvia bisa melihat sudut matanya yang basah.
Setelah tur selesai, mereka berkumpul di ruang makan. Meja sudah penuh dengan hidangan: opor ayam, rendang, sambal goreng kentang, lalapan, dan es teh manis.
Mereka makan bersama dengan lahap. Siska dan Galang tidak berhenti berceloteh tentang rencana mereka selama di Surabaya. Bu Sumarni sesekali menimpali dengan nasihat-nasihatnya. Pak Harjo makan dengan tenang, tapi sesekali tersenyum melihat anak-anaknya tertawa.
Olyvia menatap mereka satu per satu. Hatinya penuh.
Ini yang gue mau. Ini yang gue perjuangin.
Setelah makan siang, Galang langsung menyeret Olyvia ke kolam renang. Siska ikut serta. Mereka bertiga berenang dan bermain air seperti anak kecil. Olyvia lupa sudah berapa lama ia tidak tertawa selepas ini.
Bu Sumarni dan Pak Harjo duduk di gazebo tepi kolam, menikmati es kelapa muda. Bu Sumarni menatap Olyvia yang sedang mendorong Galang ke dalam air.
"Pak, lihat anak kita. Dia bahagia," bisik Bu Sumarni.
Pak Harjo mengangguk. "Iya, Bu. Dia berhasil. Dia lebih sukses dari yang pernah kita bayangkan."
Bu Sumarni menyeka matanya. "Saya bangga, Pak. Saya bangga punya anak seperti Olyvia."
Pak Harjo meraih tangan istrinya. "Saya juga."
Setelah makan malam, Olyvia meminta keluarganya berkumpul di ruang tamu. Ia duduk di sofa, berhadapan dengan Ibu dan Bapaknya. Siska dan Galang duduk di karpet.
Olyvia menarik napas panjang. "Bu, Pak. Olyvia punya sesuatu."
Ia mengambil sebuah map cokelat dari meja dan menyerahkannya pada Bu Sumarni. "Ini buat Ibu."
Bu Sumarni menerima map itu dengan bingung. Ia membukanya perlahan. Di dalamnya ada puluhan lembar dokumen: sertifikat apartemen, sertifikat ruko, dan sertifikat tanah yang lain. Semuanya atas nama Sumarni.
Bu Sumarni menatap dokumen-dokumen itu dengan mata membelalak. Tangannya gemetar. "Nduk... ini apa?"
"Itu properti yang Olyvia beli atas nama Ibu. Ada dua puluh apartemen studio di pusat kota, sepuluh ruko di jalan utama, sama tanah kosong seribu meter di area komersial. Semuanya udah jadi milik Ibu."
(oh yeah saya lupa buat kalau yang di antar ke rumah Bu Sumarni waktu itu itu properti surat tanah, lupa saya buatಥ‿ಥ)
Ruangan hening. Siska dan Galang ikut membelalak. Pak Harjo menatap Olyvia dengan mata berkaca-kaca.
Bu Sumarni tidak bisa berkata-kata. Air matanya mengalir deras. Ia memegang map itu erat-erat di dadanya.
"Nduk... kamu... kamu ngasih Ibu ini semua?"
Olyvia mengangguk, matanya juga mulai basah. "Iya, Bu. Olyvia mau Ibu berhenti jaga warung. Ibu tinggal terima uang sewa setiap bulan. Ibu sama Bapak tinggal nikmatin hari tua. Gak usah kerja keras lagi."
Bu Sumarni terisak. Ia memeluk Olyvia erat-erat. "Nduk... Ibu gak tau harus ngomong apa. Ibu gak pernah minta ini semua. Ibu cuma mau kamu bahagia."
Olyvia membalas pelukan ibunya. "Olyvia bahagia, Bu. Olyvia bahagia bisa bikin Ibu sama Bapak tenang. Itu kebahagiaan Olyvia."
Pak Harjo berdiri dan ikut memeluk mereka berdua. Siska dan Galang ikut merangkul. Keluarga kecil itu berpelukan di tengah ruang tamu mewah, menangis haru bersama.
Malam itu, di istana megah, keluarga Olyvia akhirnya merasakan buah dari perjuangan dan pengorbanan mereka selama ini. Dan Olyvia, untuk pertama kalinya dalam dua kehidupan, merasa benar-benar lengkap.