Di Era Keruntuhan Surga, langit terbelah dan hujan darah mengubah dunia fana menjadi neraka. Para dewa telah kehilangan keseimbangan, melepaskan Bencana yang meruntuhkan sekte-sekte agung dan melahirkan Yao Aberasi pembawa maut.
Zeng Niu adalah seorang bocah desa dengan akar spiritual sampah. Ia tidak memiliki guru yang bijaksana, tidak ada klan besar yang melindunginya, dan takdir tidak memberinya keajaiban. Ketika hujan darah membasahi desanya dan mengubah segalanya menjadi monster buas, Zeng Niu harus menyaksikan seluruh penduduk desa, termasuk orang tuanya, dikoyak hingga tak bersisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: Cermin Kebohongan
Puncak Tangga Langit bukanlah gerbang emas yang dipenuhi bidadari, melainkan sebuah pelataran batu kelabu yang tertutup kabut tebal. Di tengah pelataran itu, berdiri sebuah cermin perunggu raksasa setinggi tiga tombak. Permukaannya tidak memantulkan bayangan fisik, melainkan pusaran asap hitam.
Itulah Cermin Hati, gerbang ujian ketiga sekaligus terakhir: Ilusi Hati.
Seorang Tetua berwajah kaku dari Paviliun Formasi berdiri di samping cermin. Ia melirik Zeng Niu yang baru saja tiba tanpa napas tersengal sedikit pun. Di balik ketenangannya, Tetua itu merasa heran.
"Masuklah ke dalam kabut cermin," perintah Tetua itu dingin. "Cermin ini terhubung langsung dengan ketakutan terdalam di lautan kesadaranmu. Jika kau berteriak minta ampun, atau akal sehatmu hancur dalam waktu sebatang dupa, kau gagal."
Zeng Niu tidak membuang waktu. Ia melangkah lurus menembus permukaan cermin perunggu tersebut.
Sensasi dingin sedingin es langsung menyelimuti tubuhnya. Pemandangan pelataran batu memudar, digantikan oleh kegelapan yang sangat familiar. Bau amis darah, rintik hujan yang berkarat, dan lolongan anjing mutan memenuhi telinganya.
Zeng Niu kembali berada di dasar sumur Desa Daun Kering.
Di atas sana, wajah ayahnya yang terputus menatapnya dengan darah mengalir dari mata. “Niu’er... kenapa kau tidak menyelamatkan kami? Kenapa kau hanya bersembunyi seperti tikus?” suara ayahnya menggema, penuh kebencian dan kutukan. “Kau sampah. Tubuh fana-mu tidak akan pernah menembus langit. Mati dan susul kami di neraka!”
Monster Babi Bermutasi melompat turun ke dalam sumur, rahangnya terbuka lebar siap menelan tubuh kurus Zeng Niu. Tekanan ilusi ini dirancang untuk menghancurkan mental seorang kultivator hingga mereka meragukan Dao mereka sendiri.
Namun, di dasar sumur ilusi itu, Zeng Niu tidak meringkuk. Ia tidak menangis. Ia hanya berdiri tegap, mengendus udara.
"Darah fana di desaku tidak berbau semanis ini," gumam Zeng Niu datar.
Ia mendongak, menatap wajah ayahnya yang membusuk, lalu menatap monster babi yang menerjangnya. Mata Zeng Niu tidak memancarkan ketakutan, melainkan kekecewaan yang sangat dingin. Ketakutan terbesarnya bukanlah kematian orang tuanya itu adalah masa lalu yang tak bisa diubah.
"Kau ingin menunjukkan keputusasaan padaku?" desis Zeng Niu, niat membunuh yang murni meledak dari dalam jiwanya. Aura kejam yang ia dapatkan dari memakan Inti Tingkat Brutal menyapu kegelapan sumur itu layaknya badai pedang. "Kalian yang bersembunyi di balik formasi ilusi ini... tidak tahu apa-apa tentang keputusasaan."
Zeng Niu tidak menggunakan Qi. Ia mengerahkan kekuatan Penempatan Tubuh Tahap 4 nya dan memukul dinding sumur ilusi itu dengan seluruh kebenciannya pada Bencana.
KRAAAK!
Dunia ilusi itu retak seperti kaca yang dipukul palu godam. Kabut hitam di dalam Cermin Hati menjerit, lalu hancur berantakan.
Di pelataran batu, Tetua penjaga membelalakkan matanya. Hanya butuh waktu tiga tarikan napas bagi pemuda fana ini untuk keluar! Dan dia tidak keluar dengan wajah lega, melainkan dengan tatapan buas seolah ia ingin membunuh cermin itu sendiri. Kemauan spiritual yang mengerikan!
Sesaat kemudian, Bao Tuo terlempar keluar dari cermin sambil menangis histeris. Ia memeluk kaki Tetua pengawas.
"Ampun! Ampuuun! Aku janji tidak akan makan paha babi lagi! Jangan biarkan Monster Diet raksasa itu mengejarku dengan mangkuk sayur! Aku rela makan rumput!" ratap si gendut. Di dalam ilusi, ketakutan terbesar Bao Tuo bukanlah mati, melainkan dunia di mana semua daging berubah menjadi monster kubis yang memaksanya berolahraga.
Menyusul di belakangnya, Lin Xiaoyu keluar dengan langkah terhuyung-huyung, memegangi kepalanya yang pusing. "Ugh... dasar pelit," rutuk gadis itu. "Formasi ilusi ini menggunakan susunan dasar elemen air kelas tiga! Aku mencoba menipu ilusinya agar memberiku mimpi tumpukan Kristal Roh, tapi formasinya malah membuatku mual!"
Meskipun dengan cara yang sangat absurd, ketiganya berhasil mempertahankan kesadaran mereka hingga waktu yang ditentukan. Mereka lulus.
Seorang murid senior dengan jubah abu-abu bertuliskan karakter Luar memandu mereka melewati gerbang sejati akademi.
"Selamat datang di Pelataran Murid Luar," ucap senior itu dengan nada malas.
Pemandangan di balik gunung karang membuat Bao Tuo dan Xiaoyu tercengang. Jangan bayangkan istana dewa yang melayang di awan itu adalah Area Inti. Pelataran Luar lebih mirip perkemahan militer yang sangat keras. Ribuan pondok kayu sederhana berjejer di lereng gunung gersang. Tidak ada pelayan, tidak ada kemewahan. Hanya ada debu, keringat, dan tatapan lapar dari ribuan murid luar yang saling mengawasi seperti serigala.
Senior itu membagikan sebuah plakat kayu murahan kepada masing-masing dari mereka.
"Ini Token Murid Luar kalian. Di dalamnya terdapat Sepuluh Poin Kontribusi sebagai modal awal," jelas senior itu, senyum sinis tersungging di bibirnya. "Poin itu digunakan untuk membeli jatah makan di kantin, menyewa ruang meditasi, atau menukar teknik dasar di Paviliun Sutra. Tanpa poin, kalian akan mati kelaparan, karena akademi melarang keras perburuan liar di area pelataran."
Baru saja senior itu pergi, sebuah suara arogan terdengar dari balik deretan pondok.
"Ah, daging segar baru tiba."
Sekelompok murid luar, dipimpin oleh seorang pemuda jangkung berpakaian sedikit lebih rapi dengan lencana serigala hitam di dadanya, menghampiri kelompok Zeng Niu. Pemuda jangkung itu memancarkan kultivasi Pengumpulan Qi Tahap 6. Di pelataran luar, tingkat ini sudah cukup untuk menjadi bos kecil.
"Namaku Wang Lei, dari Faksi Serigala Hitam," ucap pemuda itu sambil menyisir rambutnya dengan jari. Matanya yang tajam langsung mengunci Bao Tuo yang terlihat paling makmur dan empuk. "Di akademi ini, kami murid senior punya tradisi untuk 'membimbing' junior agar tidak tersesat. Biaya bimbingannya murah... serahkan Token Murid Luar kalian, dan jika kalian menyembunyikan Kristal Roh dari luar, serahkan juga. Setengah bulan pertama, kami yang akan mengatur pengeluaran kalian."
Ini bukan sekadar penindasan; ini adalah perampokan. Di Paviliun atas awan, para Tetua melihat ini melalui cermin air. Tetua Mo Yin hanya diam, sementara Jian Kuang mendengus geli. Mereka sengaja membiarkan sistem sosial yang busuk ini. Jika seorang murid bahkan tidak bisa mempertahankan hartanya sendiri, mereka tidak pantas bertahan hidup di Era Keruntuhan Surga.
Bao Tuo memucat pasih. Tangannya secara refleks menutupi dadanya, tempat Cincin Penyimpanan berisi harta karun dari Hutan Kematian disembunyikan.
"K-kami tidak punya apa-apa! Kami hanya pengemis dari Kota Debu!" cicit Bao Tuo, mencoba bersembunyi di balik tubuh Xiaoyu yang jauh lebih kecil darinya.
Mata Wang Lei menyipit. Sebagai senior berpengalaman, ia tahu persis bahasa tubuh seseorang yang menyembunyikan harta. "Cari mati. Geledah babi gemuk itu! Patahkan kakinya jika dia melawan."
Dua anak buah Wang Lei yang berada di Tahap 3 maju dengan seringai jahat.
Bruk.
Sebuah langkah ringan terdengar. Zeng Niu bergeser, berdiri tepat di depan Bao Tuo, menghalangi kedua senior itu. Wajahnya datar, matanya sedingin es abadi.
"Mundur," desis Zeng Niu pelan.
Wang Lei tertawa terbahak-bahak. Ia menatap Zeng Niu dari atas ke bawah. "Seorang fana yang entah bagaimana beruntung lolos ujian fisik berani menyuruhku mundur? Pelataran Luar ini milik kultivator, sampah kotor! Minggir, atau kuubah kau jadi cacat permanen!"
Wang Lei tidak menyuruh anak buahnya. Ia sendiri yang melangkah maju, tangan kanannya memancarkan cahaya biru murni dari Qi elemen angin, membentuk sebuah cakar elang yang mengincar bahu Zeng Niu. Kecepatannya jauh melampaui bandit jalanan di Hutan Kematian. Ini adalah teknik bela diri kelas menengah sekte!
Bao Tuo menjerit, Xiaoyu menutup matanya.
Namun, di mata Zeng Niu yang telah menari dengan Kelelawar Wajah Manusia Tingkat Brutal, gerakan Wang Lei yang penuh gaya itu penuh dengan celah fatal. Kultivator manja ini bertarung demi pamer, bukan demi membunuh.
Alih-alih mundur atau menghindar, Zeng Niu memiringkan bahunya sedikit, membiarkan cakar angin Wang Lei merobek kain jubahnya dan menggores kulitnya. Goresan itu hanya meninggalkan garis putih pada kulit keabu-abuan Zeng Niu.
Di saat yang sama, momentum Wang Lei membawanya tepat ke dalam jangkauan pembunuhan Zeng Niu.
Tangan kanan Zeng Niu melesat ke atas seperti patokan ular berbisa. Tidak ada Qi, hanya kecepatan otot dan tulang besi. Tangan itu mencengkeram pergelangan tangan Wang Lei yang masih terulur.
KREK!
"AARRGGHH!" Wang Lei melolong keras. Tulang pergelangannya patah seketika di bawah cengkeraman Penempatan Tubuh Tahap 4 milik Zeng Niu.
Sebelum Wang Lei sempat mundur, kaki kiri Zeng Niu menendang lutut pemuda itu dengan brutal, membuatnya jatuh berlutut hingga tanah batu retak. Tangan kiri Zeng Niu langsung mencengkeram leher Wang Lei, mengangkatnya beberapa inci dari tanah layaknya mencekik seekor ayam kesakitan.
Keheningan menyelimuti area pondok Murid Luar. Puluhan murid yang awalnya menonton untuk menertawakan junior baru kini menahan napas, mata mereka membelalak ngeri. Wang Lei, bos kecil Tahap 6, ditaklukkan dalam satu detik oleh murid baru tanpa Qi!
Zeng Niu mendekatkan wajahnya yang dingin ke telinga Wang Lei yang sedang tersedak darahnya sendiri.
"Babi gemuk di belakangku ini adalah perbendaharaanku," bisik Zeng Niu, suaranya kering, tanpa emosi, dan dipenuhi niat membunuh yang membuat meridian Wang Lei membeku. "Siapa pun yang menyentuh perbendaharaanku, akan kucabut organ dalamnya dan kujadikan pakan monster di Lembah Hukuman."
Zeng Niu lalu menoleh ke arah dua anak buah Wang Lei yang membatu karena teror. "Serahkan Token kalian."
Kedua murid senior itu gemetar hebat. Hukum senioritas baru saja dihancurkan di depan mata mereka. Dengan tangan bergetar, mereka melemparkan token kayu mereka ke tanah.
Zeng Niu merampas token milik Wang Lei dari pinggangnya, lalu melempar tubuh senior itu ke tanah seperti membuang sampah.
"Xiaoyu, ambil poin mereka. Pindahkan ke token kita," perintah Zeng Niu datar, sambil mengelap tangannya ke bajunya yang kotor.
Gadis penipu itu menelan ludah, matanya berbinar penuh pemujaan bercampur kengerian. "B-baik, Tuan Pembunuh! Dengan senang hati!" Xiaoyu dengan cekatan memindahkan Poin Kontribusi dari token senior tersebut.
Zeng Niu berbalik, menatap Bao Tuo yang masih menganga tak percaya, lalu berjalan menuju sebuah pondok kayu kosong yang kebetulan posisinya cukup strategis.
"Kita tidur di sini," ucapnya.
Di Akademi Jiannan, tidak ada yang peduli darimana kau berasal. Hari pertama Zeng Niu sebagai Murid Luar tidak dimulai dengan meditasi yang damai, melainkan dengan mematahkan tulang, merampas poin senior, dan mendeklarasikan bahwa di pelataran yang kumuh ini, predator puncaknya telah tiba.
Di paviliun atas awan, Tetua Pedang Gila tertawa hingga menangis. "Hahaha! Rampok merampok perampok! Anak ini sangat cocok masuk Paviliun Pedang!"
Namun, sebuah senyum tipis terukir di wajah pucat Tetua Mo Yin. Ia bergumam pelan di dalam bayangan, "Tidak... kegelapannya terlalu murni. Dia milikku."