''Semua laki-laki sama, termasuk kamu."
Duniaku hancur saat tahu Ayah punya keluarga lain. Malam itu juga, aku pergi meninggalkan rumah, kenangan, dan laki-laki yang paling mencintaiku tanpa satu pun kata pamit. Bagiku, cinta hanya sebuah kepalsuan.
Lima tahun berlalu, aku kembali sebagai wanita mandiri yang keras hati. Namun, takdir mempertemukanku lagi dengannya di sebuah persimpangan.
Dia tidak lagi mengejarku. Dia hanya memilih duduk di sampingku saat aku menangis, mendengarkan tanpa banyak tanya, dan menjagaku dari kejauhan.
Apakah aku sanggup membuka hati, saat bayang-bayang pengkhianatan Ayah masih menghantui? Bisakah aku berdamai dengan luka, jika memaafkan saja terasa begitu mustahil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Aku menyeka wajahku dengan tisu kasar, mencoba mengatur napas yang masih tersengal. Setiap kali aku memejamkan mata, wajah Ayah yang menatapku tanpa pengenalan itu kembali muncul, lebih menyakitkan daripada luka di telapak tanganku.
Aku membuka pintu toilet dengan gerakan lelah. Langkahku terhenti seketika saat melihat sosok tinggi tegap menyandar di dinding koridor yang sepi.
Farez.
Dia tidak sedang menatap ponsel atau melakukan hal lain. Dia hanya berdiri di sana, menungguku. Matanya yang tajam langsung turun ke arah telapak tanganku yang masih sedikit basah dan memerah. Aku mencoba menyembunyikannya di balik blazer, tapi dia lebih cepat.
Farez melangkah mendekat. Tanpa sepatah kata pun, ia meraih tanganku. Gerakannya sangat tenang, tidak ada paksaan, namun aku tidak punya tenaga untuk menolak. Ia mengeluarkan selembar plester dari saku kemejanya. Dengan ketelitian yang menyakitkan, ia menempelkan plester itu di atas bekas kuku yang melukai kulitku.
Selama proses itu, keheningan di antara kami terasa begitu pekat. Aku menunggu dia bertanya kenapa aku sehancur ini, atau mungkin dia akan mengasihani aku karena Ayah tidak mengenaliku. Tapi Farez tetap setia dengan diamnya. Dia tahu bahwa saat ini, kata-kata hanya akan menjadi beban tambahan bagiku.
Setelah memastikan plester itu terpasang rapi, Farez perlahan melepaskan tanganku. Ia menatapku sejenak—sebuah tatapan yang seolah mengatakan bahwa dia akan selalu ada di sana, menjaga rahasia kehancuranku, meskipun aku terus mendorongnya menjauh.
Tanpa mengucap satu patah kata pun, tanpa menoleh lagi, Farez berbalik dan melangkah pergi menuju lift. Suara langkah sepatunya yang mantap di atas lantai marmer perlahan menghilang, meninggalkanku yang kembali berdiri sendirian di koridor dingin itu.
Dia benar-benar pergi kembali ke gedung kantornya, meninggalkanku dengan rasa perih yang sedikit berkurang di tangan, namun rasa sesak yang kian menggunung di dada. Dia memberiku apa yang kubutuhkan: perlindungan tanpa tuntutan penjelasan.
Aku menatap plester di telapak tanganku. Lima tahun lalu, aku mematahkan kartu SIM untuk membuangnya. Tapi hari ini, di tengah pengkhianatan Ayah yang terasa baru kembali, Farez justru menjadi satu-satunya orang yang memberiku alasan untuk tetap berdiri tegak.
Aku menatap lorong kosong itu cukup lama, bahkan setelah pintu lift tertutup dan suara langkah Farez tak lagi terdengar. Di telapak tanganku, plester itu terasa hangat, kontras dengan hatiku yang sedang membeku.
Laki-laki itu... kenapa dia tidak berubah?
Pikiranku terseret kembali pada pertemuan-pertemuan kami dalam beberapa minggu terakhir. Farez berhak marah. Dia berhak memaki karena aku meninggalkannya begitu saja tanpa pamit lima tahun lalu. Dia bahkan punya alasan untuk membenciku setelah aku menyebutnya hanya sebagai "kerikil" tempo hari. Saat dia menuntut penjelasan dan aku hanya memberinya kebungkaman yang dingin, seharusnya dia menyerah.
Tapi Farez tetaplah Farez.
Dia adalah laki-laki yang sama dengan dia yang dulu sabar mengupas jeruk untukku di ayunan kayu. Hanya saja sekarang, perhatiannya lebih dewasa, lebih tenang, dan lebih menyakitkan karena aku sadar betapa tidak pantasnya aku menerimanya. Selama lima tahun aku melarikan diri, aku meyakinkan diriku bahwa semua laki-laki adalah salinan dari Ayah—penipu yang mahir menyembunyikan wajah aslinya. Namun, Farez justru berdiri sebagai satu-satunya pengecualian yang paling nyata.
Dia tetap baik saat aku jahat. Dia tetap menjaga saat aku mendorongnya menjauh. Bahkan di saat duniaku baru saja dihantam kenyataan bahwa Ayah kandungku sendiri tidak mengenali wajahku, Farez adalah orang yang justru menyadari luka di tanganku.
"Bodoh," bisikku pada diri sendiri, tapi aku tak tahu apakah kata itu kutujukan untuk Farez yang begitu setia, atau untuk diriku yang begitu takut untuk kembali percaya.
Aku mengepalkan tangan yang sudah terplester itu perlahan. Rasa nyeri di telapak tanganku masih ada, tapi setidaknya ia tidak lagi berdarah. Aku menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa Rana si asisten manajer yang tangguh. Aku harus kembali ke ruanganku. Aku harus menghadapi sisa hari ini, menghadapi proyek Wira Pratama, dan menghadapi kenyataan bahwa aku sedang bekerja di bawah bayang-bayang pria yang melupakan namaku.
Namun, di sela semua kekacauan itu, aku tahu satu hal: di gedung seberang sana, ada satu orang yang tidak akan pernah melupakan siapa aku, meskipun aku memohon padanya untuk melakukannya.