NovelToon NovelToon
Dihina Tanpa Bakat, Ternyata Aku Pewaris Teknik Dewa Kuno

Dihina Tanpa Bakat, Ternyata Aku Pewaris Teknik Dewa Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Isekai / Akademi Sihir
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: naramas_

Aku mati karena terlalu percaya pada cinta dan persahabatan. Kini, aku terlahir kembali di dunia baru sebagai anak yang dibenci kerajaan. Mereka menyebutku sampah tanpa bakat? Silakan. Saat kalian memohon pada Dewa, aku melatih tinjuku untuk menghancurkan takhta kalian. Aku Arlan, dan kali ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun hidup setelah mengkhianatiku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naramas_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Konsekuensi Kemenangan Dan Undangan Akademi

Asap tipis masih mengepul dari lantai kayu arena yang kini telah hancur berantakan. Bau hangus dari mana gelap yang terbakar dan aroma debu yang beterbangan menciptakan atmosfer yang sangat mencekam di alun-alun Desa Oakhaven. Arlan berdiri di tengah reruntuhan itu, napasnya keluar dalam hembusan uap panas yang perlahan lahan mendingin. Di dalam tubuhnya, dia bisa merasakan sensasi seperti jutaan jarum yang menusuk sarafnya saat dia secara bertahap menutup Gerbang Kelima. Ini adalah harga yang harus dibayar kekuatannya mulai surut, meninggalkan rasa lelah yang luar biasa berat di otot-otot kakinya. Namun, Arlan tetap berdiri tegak. Dia menolak untuk jatuh atau memperlihatkan kelemahannya di depan ribuan mata yang kini menatapnya dengan penuh ketakutan.

Di kejauhan, di luar lingkaran alun-alun, tubuh Julian terbaring diam di atas tumpukan jerami yang hancur. Pemuda yang tadinya begitu angkuh itu kini tidak lebih dari sekadar onggokan daging yang terluka parah. Zirah mewahnya pecah, dan pedang terlarang yang dia banggakan kini hanya menyisakan gagang yang patah di dalam arena. Tidak ada sorakan dari para pengikutnya. Tidak ada teriakan marah dari pengawalnya. Yang ada hanyalah kesunyian yang menyakitkan. Mereka semua menyadari satu hal yang mutlak seorang anak tanpa berkah baru saja menghancurkan kasta bangsawan dengan tangan kosong.

Master Eldrian, Penyihir Agung yang menjadi ketua penguji, melangkah perlahan menuju tengah arena yang hancur. Dia tidak lagi melihat Arlan sebagai seorang peserta ujian biasa. Dia melihat Arlan sebagai sebuah fenomena yang bisa mengubah struktur kekuatan kerajaan. Eldrian berhenti tepat di depan Arlan, matanya menatap tajam ke arah tangan kanan Arlan yang masih sedikit bergetar.

"Pertarungan ini sudah berakhir," ucap Master Eldrian dengan suara yang berat namun jelas. "Arlan Vandermir, kamu telah memenangkan babak final dengan cara yang tidak pernah kami bayangkan. Namun, ada hal yang jauh lebih serius daripada sekadar kemenangan ini."

Eldrian membungkuk, mengambil potongan bilah pedang merah gelap milik Julian. Dia mengalirkan sedikit mananya ke potongan tersebut, dan seketika itu juga, aura hitam yang busuk keluar dari sana. "Pedang Penghisap Nyawa dan Kristal Darah Iblis. Julian menggunakan dua artefak terlarang sekaligus. Ini bukan hanya sebuah kecurangan, ini adalah pengkhianatan terhadap prinsip dasar akademi."

Sir Alistair, sang ksatria emas, ikut mendarat di samping Eldrian. Wajahnya yang biasanya ramah kini terlihat sangat dingin. Dia menoleh ke arah barisan pengawal Julian yang ketakutan. "Keluarga Valerius harus memberikan penjelasan resmi kepada Raja atas kepemilikan benda-benda ini. Julian tidak hanya kalah dalam pertarungan, dia telah menodai kehormatan ksatria kerajaan. Seret dia ke barak medis dan pastikan dia tetap hidup untuk diadili!"

Perintah Sir Alistair segera dilaksanakan. Beberapa ksatria kerajaan berlari membawa tandu untuk mengangkut Julian yang masih tidak sadarkan diri. Di panggung utama, Gort mencoba melarikan diri, namun Sir Alistair memberikan isyarat kepada anak buahnya untuk menangkap kepala desa tersebut. Gort diseret turun dari panggung dengan tangan terikat, wajahnya dipenuhi air mata dan keringat karena dia tahu masa kejayaannya di desa ini telah berakhir.

Arlan memperhatikan semua kejadian itu dengan tenang. Di kehidupan lamanya sebagai Adit, dia sering melihat bagaimana sebuah kekuasaan runtuh seketika saat fondasi kebohongannya terungkap. Gort dan Julian adalah dua orang yang mencoba membangun kesuksesan di atas penindasan dan kecurangan. Arlan hanya menjadi katalisator yang mempercepat kehancuran mereka.

"Arlan," Master Eldrian kembali menatapnya. "Hasil pengukuran mana nol milikmu tetap berlaku, namun kemampuan fisik dan teknik bela diri yang kamu tunjukkan jauh melampaui standar ksatria tingkat menengah. Atas nama Akademi Ksatria dan Penyihir Kerajaan Astra, aku secara resmi memberikanmu undangan jalur khusus. Kamu akan masuk ke akademi tanpa melalui seleksi tambahan di ibu kota."

Eldrian mengeluarkan sebuah medali perak berbentuk kepala elang yang sedang mengepakkan sayap. Ini adalah Medali Undangan Langit, sebuah tanda kehormatan yang hanya diberikan kepada satu orang setiap sepuluh tahun. Arlan menerima medali itu dengan tangan kanannya. Logam perak itu terasa dingin di kulitnya, namun beratnya memberikan rasa kepastian.

"Terima kasih, Tuan Penguji," ucap Arlan sambil membungkuk sopan. "Kapan saya harus berangkat?"

"Satu minggu dari sekarang," jawab Eldrian. "Sebuah kereta kerajaan akan datang menjemputmu dan ibumu. Kami telah memutuskan untuk memindahkan ibumu ke wilayah perumahan keluarga akademi di ibu kota untuk memastikan keselamatannya. Kami tidak ingin ada tindakan balas dendam dari sisa-sisa pengikut keluarga Valerius."

Arlan mengangguk. Ini adalah hasil terbaik yang bisa dia dapatkan. Dengan membawa Elena ke ibu kota, dia tidak perlu lagi khawatir tentang keamanan ibunya saat dia sedang belajar atau menjalankan misi nanti. Dia telah berhasil menyelesaikan tujuan utamanya di desa ini: mengamankan masa depan ibunya dan menghancurkan musuh musuhnya.

Arlan berjalan keluar dari arena menuju arah Elena. Penduduk desa yang dia lewati kini memberikan jalan dengan kepala menunduk. Tidak ada yang berani menatap matanya. Ketakutan mereka telah berubah menjadi bentuk penghormatan yang terpaksa. Arlan tidak peduli. Dia menghampiri ibunya yang sedang menangis bahagia di pinggir lapangan.

"Kita akan pergi dari sini, Ibu," bisik Arlan sambil memeluk Elena. "Kita akan ke ibu kota. Tidak akan ada lagi orang yang berani menyentuhmu."

Elena hanya bisa mengangguk, dia tidak bisa berkata kata karena terlalu bahagia. Hari-hari penuh penderitaan di gubuk yang bocor dan hinaan setiap pagi akhirnya akan berakhir.

Selama satu minggu berikutnya, Desa Oakhaven berada dalam kondisi transisi. Seorang penjabat baru dikirim dari kota terdekat untuk menggantikan Gort. Arlan menghabiskan waktunya untuk memulihkan tubuhnya. Dia menghabiskan sisa ramuan yang dia miliki dan melakukan meditasi di hutan setiap malam. Dia tahu bahwa di akademi nanti, dia akan bertemu dengan orang-orang yang jauh lebih kuat daripada Julian. Dia akan bertemu dengan para pangeran, putri, dan keturunan dari tujuh keluarga besar kerajaan yang memiliki berkah dewa tingkat tinggi.

Malam sebelum keberangkatannya, Arlan pergi ke tempat latihan rahasianya di bawah pohon besar. Dia tahu kakek tua itu pasti ada di sana. Benar saja, kakek misterius itu sedang duduk di atas dahan pohon sambil menatap bulan purnama.

"Jadi, kamu benar-benar akan pergi ke sarang singa itu, ya?" tanya kakek itu tanpa menoleh.

"Aku butuh sumber daya akademi untuk membuka gerbang-gerbang selanjutnya," jawab Arlan. "Hutan ini sudah tidak cukup lagi untuk melatihku."

Kakek itu melompat turun dan mendarat tepat di depan Arlan. Dia memberikan sebuah gulungan kulit tua yang sangat usang kepada Arlan. "Ini adalah peta anatomi energi kehidupan tingkat lanjut. Di akademi nanti, kamu harus berhati hati. Ada beberapa orang di sana yang mungkin menyadari bahwa kekuatanmu berasal dari teknik kuno. Jangan pernah membuka Gerbang Keenam kecuali kamu sudah siap untuk mempertaruhkan separuh umurmu."

Arlan menerima gulungan itu dengan hormat. "Kenapa kakek membantuku sampai sejauh ini?"

Kakek itu tertawa pelan, tawanya terdengar sedikit sedih. "Mungkin karena aku bosan melihat dunia ini hanya dikuasai oleh mereka yang memohon pada dewa. Aku ingin melihat seorang manusia biasa mengguncang takhta mereka. Arlan, ingatlah satu hal, di ibu kota nanti musuhmu bukan lagi orang-orang bodoh seperti Gort. Musuhmu adalah sistem yang sudah berakar selama ribuan tahun. Jangan hanya menggunakan tinju mu, gunakan juga otakmu yang licik itu."

Kakek itu kemudian menghilang ke dalam kegelapan hutan, meninggalkan Arlan sendirian di bawah sinar rembulan. Arlan menyadari bahwa kakek itu bukan sekadar pengembara biasa, namun dia tidak ingin bertanya lebih jauh. Baginya, hasil lebih penting daripada asal-usul.

Keesokan paginya, sebuah kereta kuda mewah dengan pengawalan ksatria kerajaan berhenti di depan gubuk Arlan. Penduduk desa berkumpul untuk melihat keberangkatan mereka. Elena naik ke dalam kereta dengan pakaian terbaik yang dia miliki, wajahnya memancarkan kelegaan. Arlan berdiri di depan pintu gubuk sejenak, melihat ke arah rumah kecil yang telah menampung penderitaannya selama tujuh tahun. Dia kemudian berbalik dan naik ke dalam kereta tanpa menoleh lagi.

"Selamat tinggal, Oakhaven," gumam Arlan dalam hati. "Babak pertamaku selesai di sini."

Kereta kuda mulai bergerak, meninggalkan desa terpencil itu menuju jalan besar yang mengarah ke jantung Kerajaan Astra. Arlan duduk di dalam kereta yang empuk, menutup matanya dan mulai memasuki kondisi meditasi. Dia menyadari bahwa perjalanannya baru saja dimulai. Di depan sana, di ibu kota yang penuh dengan kemewahan dan intrik, Arlan Vandermir akan mulai membangun kekaisaran kekuatannya sendiri. Dia bukan lagi Adit yang dikhianati, dia adalah Arlan yang akan mendikte dunia.

Ibu kota Astra, sebuah tempat di mana sihir adalah hukum dan status adalah segalanya, segera akan menyadari bahwa seorang monster tanpa berkah sedang menuju ke arah mereka. Dan kali ini, tidak ada satu pun gerbang kerajaan yang akan sanggup menahan terjangan tinjunya.

1
Nanda 123
trus ga bls dendam ama shabat ny tu??
M Agus Salim II: oke siap, masih dalam proses 😅
total 1 replies
Aqil Septian
UDAHLAH KEBANYAKAN NOVEL KAYAK GINI BUATAN CHATGPT, HALAH TAIK AUTHOR TAIK
Jerry K-el: gass keun💪💪💪💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!