NovelToon NovelToon
Teror Maut Di Pabrik Karet

Teror Maut Di Pabrik Karet

Status: sedang berlangsung
Genre:Kumpulan Cerita Horror / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Hantu / Horor
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: UncleHoon

Bambang, pengangguran yang jadi bulan-bulanan tetangganya, nekat tanda tangan kontrak satpam di pabrik karet Kalimantan. Gaji lima belas juta. Kamar mewah. Tapi denda lima ratus juta jika berhenti sebelum setahun. Malam pertama ia dengar suara karet diregangkan dari gudang produksi.

Malam kedua ia lihat bayangan tanpa tubuh di dinding pos satpam. Malam ketiga ia sadar: pabrik ini tak pernah menghasilkan karet. Yang keluar dari gerbang setiap subuh adalah sesuatu yang meniru wajah manusia. Dan kontrak yang ia tanda tangan bukan kontrak kerja. Tapi daftar korban berikutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UncleHoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pondok di Tepi Sungai

Malam itu terasa lebih panjang dari malam-malam sebelumnya. Bambang duduk di sudut pondok, memeluk lututnya, mencoba mengecilkan tubuhnya sekecil mungkin. Udara di dalam pondok lembab dan berbau tanah basah. Atap rumbia tidak rapat, ada celah-celah kecil di mana cahaya bintang masuk, tapi tidak cukup untuk menerangi ruangan. Hanya kegelapan di mana-mana. Kegelapan yang tebal. Kegelapan yang terasa seperti bernapas.

Ucok duduk di samping pintu, punggungnya bersandar pada dinding kayu yang lapuk. Matanya tertutup, tapi Bambang tahu Ucok tidak tidur. Pernapasan Ucok tidak teratur seperti orang yang tidur. Pernapasan Ucok pendek-pendek, waspada, seperti binatang buas yang sedang mengintai mangsa atau menghindari pemburu.

"Ucok," bisik Bambang.

"Iya."

"Kamu pikir mereka akan menemukan kita di sini?"

Ucok membuka matanya. Di kegelapan, Bambang hanya bisa melihat siluet tubuh besar itu, tidak bisa melihat ekspresinya. Tapi suara Ucok terdengar berat, seperti orang yang sudah lelah berpikir.

"Aku tidak tahu, Bambang. Mungkin. Mungkin tidak. Yang jelas, kita tidak bisa keluar malam ini. Kita harus bertahan di sini sampai subuh."

"Kalau mereka tahu kita di sini?"

"Kita lawan."

"Kita bisa lawan? Cuma berdua? Dengan pisau dan parang?"

Ucok tidak menjawab. Bambang tahu jawabannya. Tidak. Mereka tidak bisa melawan. Mereka hanya bisa lari. Tapi di dalam pondok ini, tidak ada tempat untuk lari. Hanya satu pintu. Satu jalan keluar. Kalau makhluk-makhluk itu menemukan mereka, mereka akan terjebak.

Dari luar, suara-suara mulai terdengar. Suara seperti karet diregangkan. Suara langkah kaki di atas dedaunan kering. Suara bisikan yang tidak jelas asalnya.

Bambang merasakan bulu kuduknya berdiri. Tangannya yang memegang parang mulai berkeringat. Dia menggenggam erat gagang kayu itu, berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa parang ini bisa melindunginya. Tapi di dalam hati, dia tahu. Parang ini tidak akan berguna. Makhluk-makhluk itu tidak takut pada besi. Yang mereka takut hanya satu. Darah. Darah manusia.

"Ucok, aku takut," bisik Bambang.

"Aku juga."

"Kamu? Kamu yang paling berani di antara kami."

"Aku bukan berani. Aku hanya pandai menyembunyikan rasa takut. Tapi di dalam sini," Ucok menunjuk dadanya, "di dalam sini, aku gemetar setiap malam. Setiap malam aku takut tidak akan melihat Laras lagi."

Suara di luar semakin dekat. Bambang bisa mendengar langkah kaki yang berat, seperti ada sesuatu yang besar sedang berjalan mengelilingi pondok. Berputar. Mencari celah. Mencari jalan masuk.

Bambang menutup mulutnya sendiri dengan tangan, menahan napas, berusaha tidak membuat suara sekecil apa pun. Ucok melakukan hal yang sama. Mereka berdua diam. Hening. Bahkan jantung mereka berusaha mereka redam.

Langkah kaki itu berhenti tepat di depan pintu.

Bambang menatap pintu. Di balik pintu kayu yang tipis itu, hanya ada kegelapan. Tapi dia tahu sesuatu berdiri di sana. Sesuatu yang menunggu. Sesuatu yang mengendus-endus bau mereka.

Dia mendengar suara tarikan napas panjang. Seperti seseorang yang sedang mencium bau makanan enak. Seperti seseorang yang sedang menikmati aroma sesuatu yang sudah lama dinanti.

"Bambang..."

Suara itu pelan. Lembut. Familiar. Suara perempuan. Suara yang sama semalam. Suara yang menirukan Ibu.

"Bambang, buka pintunya. Ibu kedinginan di luar."

Bambang menggigit bibirnya. Darah kembali mengalir dari luka di bibirnya yang belum sembuh. Rasa sakit itu membantunya tetap sadar. Membantunya tidak terjebak dalam tipuan.

"Itu bukan ibu kamu," bisik Ucok nyaris tidak terdengar.

"Aku tahu."

"Jangan jawab."

"Aku tidak akan jawab."

Suara di luar berubah. Tidak lagi lembut. Keras. Menekan.

"Bambang, kamu durhaka. Ibu menunggu di luar. Ibu dingin. Ibu basah. Buka pintunya!"

Bambang memejamkan mata. Air matanya jatuh. Tapi dia tidak menjawab.

"Bambang! Bapak juga di sini! Bapak mau lihat kamu! Buka pintunya!"

Suara Bapak. Suara yang serak karena stroke. Suara yang susah payah mengucapkan kata-kata. Tapi jelas. Jelas itu suara Bapak.

"Bambang, Bapak sakit. Bapak mau mati. Bapak mau lihat kamu terakhir kali. Buka pintunya, Nak!"

Tangan Bambang bergerak ke arah pintu. Tanpa sadar. Seperti ada tali yang menariknya. Seperti ada paksaanyang tidak bisa dia lawan.

Ucok menangkap tangannya. Kuat. "Bambang! Jangan!"

"Tapi itu suara Bapak, Ucok. Bapakku sakit. Bapakku stroke. Kalau beneran Bapakku di luar..."

"Itu bukan bapak kamu! Bapak kamu di rumah! Jauh dari sini! Kamu sendiri bilang, Bapak kamu stroke, dia tidak mungkin jalan ke hutan!"

Bambang terdiam. Ucok benar. Bapak tidak mungkin berjalan ke hutan. Bapak tidak bisa jalan jauh. Bapak bahkan susah ke kamar mandi sendiri.

"Aku... aku hampir terkecoh," bisik Bambang.

"Jangan dengarkan mereka. Apapun yang mereka katakan, jangan dengarkan. Mereka tahu kelemahan kita. Mereka tahu apa yang paling kita takutkan. Itu senjata mereka."

Suara di luar berubah lagi. Kini bukan suara Ibu atau Bapak. Tapi suara anak kecil. Suara Laras.

"Bapak... Bapak Ucok... Laras di sini, Pak. Laras kedinginan. Lasar lapar. Lasar mau pulang."

Bambang menatap Ucok. Di kegelapan, dia melihat tubuh besar itu membeku. Ucok menggigit bibirnya. Tangannya gemetar.

"Ucok, itu suara Laras?"

"Aku tahu."

"Itu palsu, kan?"

"Aku tahu itu palsu. Tapi... tapi suaranya persis. Persis sekali."

"Jangan jawab, Ucok. Kamu yang bilang ke aku, jangan jawab."

Ucok tidak menjawab. Matanya terpaku pada pintu. Tangannya yang gemetar kini memegang pisau besar.

"Bapak... Lasar nangis, Pak. Lasar takut. Di sini gelap. Di sini ada banyak orang jahat. Mereka pegang Laras. Sakit, Pak. Sakit sekali."

Ucok berdiri. Tubuhnya yang besar terlihat tegang. Dadanya naik turun cepat. Matanya merah. Bukan merah karena menangis. Tapi merah karena kemarahan.

"Ucok, duduk!" bisik Bambang keras.

"Mereka pegang Laras. Mereka sakiti Laras."

"Itu palsu! Laras tidak ada di sini! Laras di kampung! Laras sama adik kamu!"

Ucok tidak mendengarkan. Dia berjalan menuju pintu. Tangan besarnya meraih kayu pengganjal.

"Ucok! Jangan buka pintu!"

Tapi Ucok sudah tidak bisa mendengar. Matanya kosong. Seperti kesadarannya sudah ditutup oleh sesuatu. Seperti makhluk-makhluk di luar sudah masuk ke pikirannya.

Bambang bangkit berdiri. Kakinya sakit. Telapak kakinya yang luka terasa seperti diinjak-injak. Tapi dia tidak peduli. Dia meraih tangan Ucok yang hendak mencabut kayu pengganjal.

"Ucok! Dengarkan aku! Laras tidak di sini! Itu tipuan! Kalau kamu buka pintu, kita mati!"

Ucok menoleh. Matanya kosong. Tapi di dalam kekosongan itu, ada sesuatu yang berjuang. Sesuatu yang mencoba keluar. Sesuatu yang mencoba sadar.

"Bambang... Laras..."

"Laras di kampung, Ucok. Laras menunggu kamu pulang. Kalau kamu buka pintu ini, kamu tidak akan pernah pulang. Laras akan kehilangan bapaknya. Selamanya."

Ucok terdiam. Tangannya yang memegang kayu pengganjal mulai gemetar. Matanya berkedip cepat. Dadanya naik turun lebih cepat dari sebelumnya.

"Laras... Laras..."

"Laras baik-baik saja, Ucok. Laras tidak di sini. Laras tidak bersama mereka. Laras di rumah. Laras aman."

Perlahan, mata Ucok mulai berubah. Kekosongan itu berganti dengan kesadaran. Kesadaran yang penuh dengan air mata.

Dia melepaskan kayu pengganjal. Tubuhnya lemas. Dia jatuh duduk di lantai tanah. Tubuh besarnya berguncang. Dia menangis. Menangis seperti anak kecil. Menangis karena takut. Menangis karena marah. Menangis karena hampir melakukan kesalahan besar.

Bambang duduk di samping Ucok. Dia memegang bahu besar itu. Tidak bicara. Hanya memegang. Memberi tahu bahwa dia tidak sendirian.

Suara di luar berubah lagi. Kini menjadi suara banyak orang. Suara orang dewasa. Suara perempuan. Suara laki-laki. Suara tua. Suara muda. Semua bicara bersamaan. Semua memanggil nama mereka.

"Bambang... Ucok... keluar... ikut kami... di sini enak... di sini tidak ada rasa takut... di sini tidak ada rasa sakit... keluar... keluar..."

Bambang menutup telinganya dengan tangan. Ucok melakukan hal yang sama. Mereka berdua duduk bersandar di dinding, saling berdekatan, saling menguatkan.

Malam itu terasa tidak pernah berakhir.

Suara-suara itu datang dan pergi. Kadang keras. Kadang pelan. Kadang dekat. Kadang jauh. Tapi tidak pernah berhenti. Selalu ada. Selalu memanggil. Selalu mencoba membujuk.

Sekitar pukul empat pagi, suara-suara itu mulai melemah. Berganti dengan suara angin yang berdesir. Berganti dengan suara jangkrik yang kembali terdengar.

Mereka sudah pergi, bisik Bambang.

Ucok mengangguk. Wajahnya masih basah oleh air mata. Matanya sembab. Tapi ada kelegaan di sana. Kelegaan yang terlihat meskipun di kegelapan.

Kita selamat, kata Ucok pelan.

Untuk malam ini.

Untuk malam ini. Besok kita masih harus berjuang.

Mereka berdua terdiam. Tidak ada yang bisa tidur. Tidak ada yang berani tidur. Mereka hanya duduk, saling berdekatan, menunggu matahari terbit.

Dan ketika cahaya pertama mulai masuk melalui celah-celah dinding kayu, Bambang merasakan sesuatu yang selama ini hilang. Harapan. Harapan yang kecil. Harapan yang rapuh. Tapi harapan.

Ucok, lihat, kata Bambang sambil menunjuk ke arah celah dinding.

Apa?

Cahaya. Matahari akan terbit. Kita selamat.

Ucok menatap celah itu. Cahaya kuning keemasan mulai menyelinap masuk, membentuk garis tipis di lantai tanah.

Kita selamat, ulang Ucok. Tapi perjalanan kita belum selesai. Masih sehari lagi. Mungkin lebih.

Tapi kita masih hidup. Itu yang penting.

Ucok tidak menjawab. Dia berdiri dengan susah payah. Tubuhnya terasa kaku setelah semalaman duduk di lantai tanah. Tangannya meraba-raba dinding untuk mencari keseimbangan.

Bambang juga berdiri. Kakinya masih sakit. Lukanya masih basah. Tapi dia tidak peduli. Yang dia peduli hanya satu. Keluar dari pondok ini. Keluar dari hutan ini. Pulang.

Mereka membuka pintu.

Udara pagi menyambut mereka. Dingin. Lembab. Tapi segar. Bambang menghirupnya dalam-dalam. Dadanya terasa lega.

Di depan mereka, sungai mengalir deras. Airnya berwarna keemasan karena pantulan cahaya matahari terbit. Pepohonan di seberang sungai terlihat hijau dan segar. Burung-burung mulai berkicau. Hidup. Semuanya terasa hidup.

Kita ikuti sungai, kata Ucok. Semakin ke selatan, sungai ini akan semakin lebar. Dan di tepi sungai yang lebar, biasanya ada desa. Atau setidaknya ada jalan.

Kalau tidak ada?

Kalau tidak ada, kita terus jalan. Sampai kaki kita tidak bisa jalan lagi. Sampai kita mati. Tapi kita tidak akan berhenti.

Bambang mengangguk. Dia mengepalkan tangannya. Parang di tangan kanannya terasa ringan. Ringan seperti harapan.

Mereka berjalan menyusuri tepian sungai. Kaki Bambang masih telanjang. Tanah di tepi sungai lebih lembut daripada tanah di hutan. Lumpur. Basah. Dingin. Tapi tidak terlalu menyakitkan.

Setelah berjalan sekitar dua jam, mereka mulai melihat sesuatu di kejauhan. Bukan pohon. Bukan semak. Tapi atap. Atap seng. Berkarat. Banyak. Berderet.

Ucok, lihat itu! seru Bambang.

Aku lihat, kata Ucok. Matanya menyipit. Itu... itu desa.

Desa?

Atau kota kecil. Tapi itu pemukiman. Itu manusia.

Mereka mempercepat langkah. Kaki Bambang terasa ringan. Lukanya tidak terasa. Lelahnya hilang. Yang ada hanya semangat. Semangat yang sudah lama terkubur.

Mereka berjalan semakin cepat. Hampir berlari. Pohon-pohon berganti dengan ladang. Ladang berganti dengan pagar. Pagar berganti dengan rumah-rumah.

Akhirnya, mereka sampai di sebuah desa. Desa yang lebih besar dari desa sebelumnya. Ada jalan tanah yang lebar. Ada warung-warung. Ada orang-orang yang lalu lalang dengan sepeda motor. Ada anak-anak yang bermain. Ada ibu-ibu yang berjualan di pasar.

Bambang berdiri di pinggir jalan. Tubuhnya kotor. Pakaiannya compang-camping. Kakinya luka-luka. Rambutnya acak-acakan. Dia terlihat seperti pengemis. Seperti orang gila. Seperti orang yang baru keluar dari neraka.

Tapi dia tersenyum. Dia tersenyum lebar. Air matanya jatuh.

Kita sampai, Ucok, bisiknya.

Ucok berdiri di sampingnya. Wajahnya yang menyeramkan itu juga tersenyum. Senyum yang sama. Senyum kelegaan.

Kita sampai, jawab Ucok.

Seorang ibu yang lewat dengan keranjang sayuran berhenti. Dia menatap mereka berdua dengan tatapan heran.

"Kalian dari mana, Nak? Kok kayak habis perang?"

Bambang menatap ibu itu. Bibirnya bergetar. Dia ingin bicara banyak. Ingin cerita semuanya. Tentang pabrik. Tentang makhluk. Tentang Joni. Tentang Dul. Tentang Herman. Tentang malam-malam yang panjang. Tentang ketakutan yang tidak pernah berhenti.

Tapi yang keluar dari mulutnya hanya satu kalimat. "Bu, di mana kantor polisi?"

Ibu itu menunjuk ke arah ujung jalan. "Lurus saja, Nak. Belok kiri di pertigaan. Ada kantor polisi di samping masjid."

"Terima kasih, Bu."

Bambang dan Ucok berjalan menuju kantor polisi. Langkah mereka berat. Tapi hati mereka ringan.

Mereka akan lapor. Mereka akan cerita semuanya. Mereka akan minta bantuan. Mereka akan menghentikan pabrik itu. Mereka akan menyelamatkan korban-korban berikutnya.

Atau setidaknya, mereka akan mencoba.

Karena setelah apa yang mereka alami, tidak ada lagi yang bisa mereka takutkan. Tidak ada lagi yang bisa mereka rugikan.

Mereka sudah kehilangan teman. Mereka sudah kehilangan waktu. Mereka sudah kehilangan banyak hal.

Tapi mereka tidak kehilangan harapan.

Dan selama harapan itu masih ada, selama itu mereka akan terus berjuang.

1
Mega Arum
lanjut kak...
Astuti Puspitasari
jangan lupa sholat nak 👍
Astuti Puspitasari
Hati2 mbang, kamu hanyalah anak yang ingin berbakti/Whimper/
Mega Arum
sereem
Mega Arum
mampir thor.. semoga cerita nya bagus
Ma Vin
seru,,,, bikin deg_deg'n tpi pnasaran
Seindah Senja
lanjut Thor,ceritanya seruu bangeet,😍ikut deg² kan bacanya😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!