NovelToon NovelToon
The Don & The Disaster

The Don & The Disaster

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Action
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Aiden "The Ghost" Volkov adalah definisi dari kesempurnaan yang mematikan. Sebagai raja mafia penguasa jalur perdagangan gelap Eropa, ia dikenal dingin, tak tersentuh, dan sangat mencintai keteraturan. Hidupnya adalah tentang strategi, senjata, dan keheningan.
Namun, tatanan hidup Aiden hancur berantakan saat ia bertemu dengan Ziva, seorang gadis Indonesia yang tinggal di luar negeri dan bekerja sebagai kurir makanan paruh waktu. Pertemuan mereka dimulai dengan bencana: Ziva secara tidak sengaja menabrak konvoi mobil baja Aiden dengan skuter bututnya, lalu malah memarahi Aiden karena "merusak spion estetiknya".
Ziva bukan cewek tangguh yang jago bela diri; dia hanyalah gadis dengan tingkat keberuntungan negatif dan mulut yang tidak punya rem. Di saat musuh-musuh Aiden menggunakan peluru, Ziva menggunakan ketidaksengajaan—seperti menjatuhkan vas kuno seharga jutaan dollar tepat di kepala pembunuh bayaran yang sedang mengincar Aiden.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makan Malam Formal yang Berantakan

Malam di Milan kali ini tidak diawali dengan desingan peluru, melainkan dengan aroma lilin aromaterapi dan ketegangan yang jauh lebih mencekam bagi Aiden Volkov: sebuah jamuan makan malam formal. Acara ini bukan sekadar ajang pamer kekayaan, melainkan pertemuan strategis dengan Konsorsium Perbankan Swiss yang memegang kunci aliran dana pencucian uang di seluruh Eropa.

​Aiden berdiri di depan cermin besar di kamarnya, menyesuaikan letak jam tangan Patek Philippe miliknya. Ia tampak sempurna, sebuah perwujudan dari otoritas dan kelas. Namun, pikirannya tidak tenang. Ia menoleh ke arah pintu yang tertutup rapat, di mana di baliknya, Ziva sedang dipaksa oleh tiga pelayan profesional untuk bertransformasi dari "gadis seblak" menjadi "wanita kelas atas".

​"Gue nggak mau pakai ini! Ini bajunya kurang bahan di bagian punggung! Gue bisa masuk angin duduk!" teriak suara cempreng Ziva dari balik pintu.

​"Nona, ini adalah gaun sutra Versace terbaru. Mohon kerja samanya," suara kepala pelayan terdengar pasrah.

​Aiden mengetuk pintu. "Ziva, keluar sekarang atau aku akan memerintahkan Marco untuk menarikmu keluar dengan derek mobil."

​Pintu terbuka. Aiden tertegun. Ziva melangkah keluar dengan gaun malam berwarna merah marun yang memeluk tubuhnya dengan elegan. Rambutnya yang biasanya seperti sarang burung kini disanggul modern dengan beberapa helai jatuh membingkai wajahnya yang dipoles riasan tipis. Ia tampak sangat cantik, sampai pada saat ia membuka mulutnya.

​"Bang Don, ini heels-nya tinggi banget. Gue berasa jalan di atas egrang. Kalau gue jatuh terus nungging di depan bankir Swiss itu, lu jangan pura-pura nggak kenal ya?" Ziva berjalan dengan kaki yang gemetar, mencoba menjaga keseimbangan.

​Aiden mendekat, menawarkan lengannya dengan tatapan yang sedikit melembut. "Kau tampak... lumayan. Cukup diam, jangan bicara kecuali ditanya, dan demi apa pun yang kau anggap suci, jangan bahas soal bumbu dapur."

​"Iya, iya. Gue bakal jadi pajangan estetik malam ini," gerutu Ziva sambil mencubit lengan Aiden.

Restoran Il Lusso telah dikosongkan untuk acara ini. Di dalam ruangan yang dipenuhi lampu kristal dan musik harpa, para tamu undangan—pria-pria tua berambut perak dengan tuxedo dan wanita-wanita dengan perhiasan yang harganya bisa membeli satu pulau—sudah menunggu.

​Aiden masuk dengan Ziva di lengannya. Kehadiran mereka segera menarik perhatian. Aiden Volkov yang dingin kini membawa seorang wanita misterius yang auranya sangat berbeda.

​"Volkov, senang melihatmu membawa... warna baru dalam hidupmu," sapa Baron Von Heussen, bankir paling berpengaruh di Zurich.

​Aiden menjabat tangannya. "Ini Zivanna, asisten khususku."

​Ziva tersenyum lebar, menunjukkan gigi putihnya. "Halo, Bang Baron. Nama saya Ziva. Wah, jam tangannya bagus ya? Itu kalau dijual bisa buat beli sawah berapa hektar di kampung saya?"

​Aiden segera meremas tangan Ziva sedikit lebih keras. "Ziva sedang bercanda, Baron. Dia sangat menyukai nilai investasi properti."

​Baron tertawa sopan, meski matanya menunjukkan kebingungan. "Tentu, tentu. Mari kita duduk."

Makan malam dimulai dengan hidangan pembuka: Escargot (siput prancis) dengan saus mentega bawang. Ziva menatap piringnya dengan ekspresi ngeri yang tidak bisa disembunyikan.

​"Bang Don," bisik Ziva sekeras suara orang sedang berteriak. "Ini beneran siput? Siput yang biasa ada di pohon pisang belakang rumah itu? Masa orang kaya makan ginian sih? Ini mah di tempat gue namanya hama!"

​Aiden mencoba tetap fokus pada pembicaraan soal bunga pinjaman. "Makan saja, Ziva. Itu makanan mahal."

​Ziva mencoba menggunakan garpu kecil khusus siput. Namun, karena tidak terbiasa, siput itu justru meluncur licin dari garpunya, terbang melewati meja, dan mendarat tepat di dalam gelas sampanye milik istri Baron.

​SPLASH!

​Hening. Istri Baron menatap gelasnya yang kini berisi siput dengan wajah pucat.

​Ziva menutup mulutnya. "Aduh! Maaf ya, Tante! Itu siputnya kayaknya masih hidup, mau ikutan minum dia. Sini saya ambil pakai tangan..."

​"Ziva!" potong Aiden cepat. "Tolong bawakan gelas baru untuk Nyonya Von Heussen."

​Aiden menatap Baron dengan mata abu-abunya yang tajam. "Sebuah demonstrasi tentang betapa sulitnya mengendalikan variabel kecil dalam bisnis, bukan begitu, Baron?"

​Baron, yang terintimidasi oleh aura Aiden, hanya bisa mengangguk kaku. "Analogi yang sangat... unik, Volkov."

Hidangan utama tiba: Wagyu A5 dengan siraman saus truffle. Ziva mulai merasa frustrasi karena porsi makannya yang sangat kecil.

​"Ini daging apa sampel laboratorium? Kecil banget! Gue butuh nasi, Bang. Perut gue nggak bisa diajak kompromi kalau cuma dikasih daging secuil begini," Ziva mulai mengoceh lagi.

​Di sisi lain meja, pembicaraan mulai memanas. Seorang rival Aiden dari sindikat maritim, Lorenzo, mencoba memancing emosi Aiden. "Kudengar Volkov sekarang lebih suka bermain-main dengan 'kurir' daripada mengurus pelabuhannya. Apakah kau mulai melembut, Aiden?"

​Aiden meletakkan pisaunya dengan tenang. "Lembut adalah kata yang salah. Aku hanya sedang mencoba diversifikasi... hiburan."

​Ziva, yang merasa Aiden sedang dihina, tiba-tiba angkat bicara. "Eh, Bang Lorenzo! Daripada ngomongin pelabuhan orang, mending urusin tuh nasi yang nempel di dagu lu. Lu makan kayak anak TK, berantakan ke mana-mana."

​Lorenzo meraba dagunya dengan panik, padahal tidak ada nasi di sana. Para tamu lain mulai berbisik-bisik menahan tawa.

​"Kau!" Lorenzo berdiri, merasa terhina.

​"Duduk, Lorenzo," suara Aiden mendadak turun beberapa oktav, mengirimkan getaran dingin ke seluruh ruangan. "Asistenku hanya memperhatikan detail yang tidak kau sadari."

​Ziva dengan santainya mengambil sebotol saus sambal saset yang ia sembunyikan di dalam tas clutch mahalnya. Ia merobek plastik itu dengan gigi dan menuangkannya ke atas daging wagyu mahal itu. Aroma cabai instan yang menyengat langsung merusak aroma truffle yang elegan.

​"Nah, gini baru enak! Ada rasa-rasa perjuangannya," ucap Ziva sambil melahap dagingnya dengan lahap, mengabaikan tatapan horor dari koki restoran yang melihat dari balik pintu dapur.

Momen makan malam hampir berakhir saat hidangan penutup, Chocolate Lava Cake, disajikan. Tiba-tiba, lampu restoran padam.

​Aiden langsung menarik Ziva ke bawah meja. "Jangan bergerak!"

​Suara tembakan terdengar dari lantai atas. Pasukan pembunuh bayaran yang disewa oleh Lorenzo mencoba menyergap Aiden di momen lemahnya. Para tamu berteriak dan berlarian tak tentu arah.

​"Aduh! Gaun gue jangan sampai robek! Ini pinjeman!" teriak Ziva di tengah kegelapan.

​Aiden mengeluarkan pistol yang ia sembunyikan di balik betisnya. "Marco, amankan pintu keluar!"

​Di tengah kekacauan, Ziva melihat salah satu pembunuh bayaran sedang membidik Aiden dari balik meja saji. Tanpa pikir panjang, Ziva meraih piring besar berisi Cream Puff yang ada di dekatnya.

​"SINI LU, PENJAHAT ESTETIKA!"

​Ziva melemparkan piring itu seperti frisbee. Hidangan penutup yang lembut itu menghantam wajah sang penembak, menutupi matanya dengan krim putih tebal. Pria itu menembak ke langit-langit karena buta sesaat.

​Ziva kemudian meraih botol anggur merah yang belum dibuka dan mengayunkannya tepat ke arah kaki pembunuh lain yang sedang berlari melewatinya.

​BRAKK!

​Pria itu jatuh tersungkur, wajahnya mendarat tepat di atas kue tart stroberi yang besar.

​Aiden muncul dari balik pilar, menembak dua orang lainnya dengan presisi mematikan. Ia menoleh dan melihat Ziva yang sekarang berdiri di atas meja dengan sepatu heels dilepas, memegang kaki meja yang patah seperti tongkat baseball.

​"Ziva! Turun dari sana!" teriak Aiden.

​"Bentar, Bang! Ada satu lagi di deket tirai!" Ziva melempar sepatunya yang berujung tajam ke arah tirai yang bergerak. Suara erangan terdengar, dan seorang pria jatuh dari balik kain dengan sepatu Ziva menancap di bahunya.

Sepuluh menit kemudian, restoran itu tampak seperti medan perang yang dilapisi gula dan darah. Polisi mulai berdatangan, namun Aiden sudah mengatur segalanya agar nama mereka bersih.

​Baron Von Heussen berdiri di luar restoran dengan tuxedo yang terkena bercak krim. Ia menatap Aiden dan Ziva yang sedang berjalan keluar. Ziva kini berjalan nyeker, menenteng sisa sepatunya, sementara wajahnya penuh noda cokelat.

​"Volkov..." Baron menarik napas panjang. "Makan malam yang... paling tidak bisa dilupakan dalam sejarah perbankan Swiss."

​"Aku harap investasi kita tetap berjalan, Baron," ucap Aiden dingin.

​"Tentu saja. Siapa yang berani menolak pria yang memiliki asisten pemarah yang bisa membunuh orang dengan kue?" Baron tertawa kecut dan segera masuk ke mobilnya.

​Aiden menoleh ke arah Ziva. Gaun mahalnya kini benar-benar hancur, ternoda wine dan saus cokelat. Ziva menatap Aiden dengan wajah sedih.

​"Bang Don... gaunnya rusak. Gue harus ganti rugi berapa tahun gaji nih?"

​Aiden menatap Ziva lama. Ia melihat keberanian yang murni di balik tingkah konyol itu. Aiden melepaskan jas tuxedonya dan menyampirkannya ke bahu Ziva yang terbuka.

​"Lupakan soal gaun itu. Kau baru saja menyelamatkan kepalaku dari peluru dengan selembar kue," bisik Aiden. Ia menyeka noda cokelat di pipi Ziva dengan ibu jarinya. "Kau baik-baik saja?"

​Ziva mengangguk, lalu tiba-tiba perutnya berbunyi sangat keras. "Gue baik-baik saja, tapi gue laper banget, Bang. Tadi dagingnya cuma secuil, sisanya gue lemparin ke orang jahat. Beli nasi goreng pinggir jalan yuk?"

​Aiden tertawa pendek—suatu hal yang sangat langka. "Marco! Cari nasi goreng terdekat. Dan pastikan porsinya besar."

​"Siap, Tuan," sahut Marco yang wajahnya juga terkena sedikit krim.

​Saat mereka masuk ke dalam mobil, Ziva menyandarkan kepalanya di bahu Aiden. "Bang Don, lain kali kalau ada makan malam formal, kita bawa nasi bungkus aja ya dari rumah? Biar lebih hemat dan nggak emosi."

​"Kita lihat saja nanti, Ziva. Kita lihat saja nanti."

​Aiden merangkul pundak Ziva, menyadari bahwa meski malam ini berantakan secara protokoler, ia tidak pernah merasa sehidup ini sebelumnya. Di tengah dunia mafia yang gelap dan penuh tipu daya, Ziva adalah kekacauan paling manis yang pernah ia temui.

1
Dessy Lisberita
so sweet
Dessy Lisberita
athoor mereka berdua so sweet banget suruh siva belajar menembak dan bela diri thoor
Farida 18: Ziva bisa bela diri ko ya walau absurd caranya😄dan masalah nembak dah suka suka Ziva aja deh dari pada abis vas aiden yang harga ratusan/milyaran dolar jadi sasaran peluru nyasar Ziva
total 1 replies
Dessy Lisberita
sandal jepit mana bisa bergerak cepat mending pake sepatu ziva
Dessy Lisberita
so sweet
Farida 18
sekali2 serius🤭 jangan comedi terus🤭
Vie Desta
jangan serius” tor sesekali comedi biar gak garing 🤭
Vie Desta
lanjut torrr… suka lah sama ceritanya gak monoton tp muncul dengan nuansa baru comedi jd asik baca sambil ketawa😍
Farida 18
salam sejahtera juga beb
Amiera Syaqilla
salam sejahtera author🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!