NovelToon NovelToon
Lima Putra Raja Biadab: Memori Koma Dan Makam Terkutuk

Lima Putra Raja Biadab: Memori Koma Dan Makam Terkutuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Epik Petualangan / TimeTravel / Misteri
Popularitas:172
Nilai: 5
Nama Author: Herwanti

Aura membuka mata melihat dirinya sudah ada di ruangan putih dengan peralatan medis. Awalnya Aura hanya binggung, hingga dia merasa kalau dia bermimpi panjang." Sebenarnya apa yang sudah terjadi denganku,:guman Aura melihat sekitarnya. Tampak orang tua yang dia rindukan sudah ada didepan matanya. Apa yang terjadi dengan Aura sebenarnya, ingin tahu kisahnya silakan datang membaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Takdir dan Para Ahli

Aura bersama dengan Deni dan Mbak Yeni yang berjalan keluar dari makam pemeran, hingga mereka melihat keramaian dan tenda terpasang di dekat lokasi. Setelah menghabiskan dua jam di perut bumi, Aura melangkah keluar dari mulut makam yang gelap, diikuti oleh Mbak Yeni dan Deni. Cahaya matahari sore yang menusuk mata terasa menyakitkan setelah kegelapan yang panjang.

Wajah Aura pucat pasi, bukan hanya karena kelelahan fisik, tetapi juga karena gambaran ukiran kuno yang ia temukan di dalam sebuah ramalan yang tak ingin ia percayai.

“Akhirnya kita keluar,” gumam Deni, menyeka keringat dan debu dari wajahnya.

“Ayo kita pulang, Aura,” balas Mbak Yeni, meskipun suaranya terdengar serak karena kelelahan.

Saat mereka berjalan menuju tenda utama, pandangan Aura terhenti. Di tengah lanskap gersang yang didominasi tenda-tenda militer dan peralatan kasar, sebuah mobil mewah hitam yang terlihat terlalu besar dan terlalu mahal untuk berada di tempat itu berhenti mulus di jalan setapak. Kilauan catnya kontras dengan debu padang pasir.

“Siapa yang datang ke sini?” tanya Aura, nadanya dipenuhi keheranan. Tempat ini adalah lokasi proyek rahasia.

Mbak Yeni, yang juga melihat mobil itu, menyipitkan mata. “Mungkin tamu yang diundang? Biasanya, kalau tamu VIP, Jenderal memang menjemput mereka langsung ke lapangan.”

Aura mengamati dua sosok yang keluar dari mobil itu. Kedua pria itu memiliki perawakan yang mencolok, masing-masing memancarkan aura yang sangat berbeda, namun sama-sama menguasai. Hati Aura tiba-tiba berdebar kencang, sebuah resonansi aneh di dalam dadanya. Itu bukan debaran romantis, melainkan gemuruh pengakuan dari jiwa yang telah hidup terlalu lama.

Aku kenal aura ini.

Ia melihat dengan serius, matanya menyelidiki setiap detail, mulai dari cara mereka berdiri hingga tatapan mereka yang penuh perhitungan. Pikirannya dipenuhi bisikan. Apa mereka berdua keturunan dari mereka berdua? Apakah garis darah itu benar-benar tidak bisa diputus?

Aura segera memalingkan wajahnya, berusaha melepaskan diri dari emosi yang mulai menyeretnya. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi terlibat dalam takdir para Raja. Ia ingin hidup sebagai penulis biasa, menerjemahkan naskah kuno demi hobi, bukan demi menyelamatkan dunia.

Namun, rasa frustrasinya tak tertahankan. Ia bergumam sangat lirih, hampir tak terdengar, “Kenapa Raja Asaarmata bisa ada di sini, sih? Bahkan setelah ribuan tahun…”

Gumamannya yang penuh beban itu rupanya tertangkap oleh telinga tajam seorang anggota tim peneliti seorang pemuda bernama Harun yang sedang beristirahat sambil menyesap kopi di bawah tenda terdekat. Harun langsung menoleh ke arah Aura, matanya memancarkan kebingungan dan alarm. Nama yang disebut Aura adalah nama yang hanya boleh diketahui oleh lingkaran dalam proyek.

Tanpa sadar, karena gumaman tunggal itu, Aura telah mengikat dirinya dan secara paksa terlibat lebih dalam dalam proses pencarian pasukan yang hilang dan artefak Raja Armaan Ash.

“Nona apa anda mau masuk ke dalam,kata Harun berdiri dibelakang dengan wajah tersenyum ramah. Tapi menyembunyikan niat lain. Aura menoleh bersama dengan Mbak Yeni.

“Maaf apa yang anda katakan itu,”ucap Aura dengan wajah tenang dan polos menyembunyikan perasaan waspada. Harun tanpa menjawab segera manarik Aura ke dalam tenda. Sedangkan Mbak Yeni dan Deni hanya diam membeku. Saat mereka berdua ingin masuk ke dalam Harun menoleh dan berkata,”Kalian berdua tetap disini saja. Aku tidak akan melukai saudara perempuan anda.”

Mbak Yeni dan Dani hanya bisa menuggu diluar hingga Aura kembali.

Lima belas menit kemudian, saat Aura sudah ada didalam tenda. Semua mata menatapnya ke arah Harun. “Hai Harun kenapa kamu membawa wanita itu ke sini?,”tanya salah satu rekannya.

Harun tidak menjawab hanya melirik ke arah Aura dengan wajah serius hingga ia berkata,”Nona apa anda mau bergabung dalam tim ekspedisi makam kuno ini. Aku rasa anda tahu sendiri tentang makam ini. Apa tebakan saya benar?.”

Aura melihat dengan wajah polos lalu ia menjawab,”Apa bagusnya aku itu melakukan penjelajahan makam kuno ini?.”

“Anda akan mendapatkan bayaran dan pengetahuan, bagaimana?,”kata Harun. Aura merasa enggan untuk ikut. Tapi karena ada perasaan penasaran, ia hanya bisa menghela nafas.

“Jika aku ikut bukan akan menjadi beban,”kata Aura.

Tapi tiba-tiba dari luar masuk seorang tiga orang.Membuat suasana tenda utama kini dipenuhi energi yang lebih padat dan tegang. Jenderal Jati berdiri di tengah, di samping dua pria yang tadi dilihat Aura.

“Saudara-saudara sekalian,” ucap Jenderal itu, suaranya lantang. “Saya perkenalkan dua pilar baru dalam misi kita, orang-orang yang memiliki keahlian khusus yang kita butuhkan.”

Pria pertama melangkah maju. Tingginya semampai, tubuhnya berotot, dan tatapannya penuh kendali. Ia memancarkan wibawa yang luar biasa, diselimuti aura hitam yang terasa dingin dan menekan, sebuah aura yang mengingatkan Aura pada kegelapan makam itu sendiri.

“Ini adalah Kieran Harits Habibie,” kata Jenderal. “Seorang yang pernah menjadi Ketua Tim Eksplorasi rahasia. Ia pernah masuk dan keluar dari makam-makam kuno yang dianggap mustahil dan selalu berhasil. Ia akan menjadi Ketua Tim Pencarian di lapangan.”

Kieran hanya mengangguk tipis, matanya yang gelap menyapu seluruh ruangan, memberikan tatapan menilai yang tajam. Sikapnya begitu tegas, seolah setiap gerakan adalah perintah.

Pria kedua maju, senyum ramah dan cerdas menghiasi wajahnya. Ia memiliki pembawaan yang jauh lebih ringan, kontras total dengan Kieran.

“Dan ini adalah Felix Bani Baim,” lanjut Jenderal. “Seorang ahli logistik dan persenjataan. Tidak ada masalah suplai yang tidak bisa ia pecahkan. Ia juga ahli dalam memitigasi risiko keamanan. Ia bertugas menyuntikkan humor tegang ke dalam situasi yang paling sulit.”

“Halo semuanya!” sapa Felix, melambaikan tangan dengan santai. “Aku di sini untuk memastikan kalian tidak mati kelaparan, kehabisan baterai, atau kekurangan amunisi. Santai saja. Hidup ini sudah cukup rumit tanpa harus memikirkan kaus kaki cadangan, bukan?”

Tawa ringan meledak di antara beberapa staf, menunjukkan keahlian Felix dalam meredakan suasana tegang.

Saat perkenalan selesai, Kieran melangkah mendekat ke arah Aura, seolah ditarik oleh benang takdir.

“Nona,” sapa Kieran, suaranya rendah dan serak, memancarkan otoritas tak terbantahkan.

Mata Aura bertemu dengan mata Kieran. Di sana, di kedalaman gelap mata pria itu, Aura merasa melihat pantulan fragmen-fragmen masa lalu yang ia simpan rapat. Ia merasakan ikatan aneh yang sudah ada jauh sebelum pertemuan ini sebuah kaitan yang hanya ada dalam mimpi buruknya.

Ia membalas tatapan itu, senyum getir terukir di bibirnya. “Nasib buruk,” bisiknya, hanya untuk didengar Kieran. “Aku hanya ingin menjadi penulis biasa, Tuan Kieran. Bukan mencari makam kuno yang penuh kutukan.”

Kieran tidak bereaksi dengan ekspresi, namun aura gelapnya sedikit menegang. “Apa wanita  ini juga ikut dalam ekespedisi ini,”balasnya dingin, menyiratkan bahwa ia pun terikan tidak jelas dengan wanita didepanya.

Felix, yang memperhatikan interaksi intens itu, menyela dengan keceriaan palsu. “Kenapa murung begitu, Nona Penulis? Di mana ada makam, di situ ada harta. Anggap saja ini riset lapangan untuk novel thriller terbaik Anda.”

“Makam ini bukan tentang harta, Tuan Felix,” kata Aura, tatapannya beralih ke Felix. Ada kejujuran yang menyakitkan dalam matanya. “Makam ini tentang kehancuran dan pasukan yang tak akan pernah kembali.”

Felix tiba-tiba menghentikan senyumnya. Untuk sesaat, ia membiarkan kecerdasannya yang murni bersinar, tanpa humor. “Sepertinya Anda punya koneksi pribadi dengan makam ini, Nona. Jangan ragu untuk berbagi dengan kami semua.”

Aura hanya menghela napas, menyadari bahwa ia tidak bisa lagi mundur. Kedua pria ini, dengan aura hitam dan kecerdasan yang kontras, adalah kepingan takdirnya.

Jenderal Jati kembali mengambil alih. Ia menunjuk ke peta digital kuno yang muncul di layar lebar peta yang memuat lima titik tersembunyi.

“Kita memulai misi ini. Makam yang kita temukan ini adalah milik salah satu dari Lima Putra Raja Armaan Ash yang tersebar di berbagai belahan dunia,” jelas Jenderal Jati.

Aura merasakan denyutan sakit kepala yang intens. Ia sudah tahu ini.

“Makam yang pertama dan paling penting untuk dieksplorasi adalah Makam yang baru saja ditemukan, milik Putra Pertama, Raja Asaarmata,” lanjut Jenderal. “Di makam ini, tersimpan seuah rahasia yang harus kita jelajahi untuk pengetahuan dunia.”

Ketegangan di ruangan itu mencapai puncaknya. Semua mata tertuju pada Kieran.

Kieran menatap lurus ke arah Aura, tatapannya mengunci. “Nona,” katanya, suaranya tajam dan berwibawa. “Pengetahuan Anda tentang naskah kuno dan ramalan Raja Armaan Ash sangat penting untuk kelangsungan hidup tim. Anda akan ditempatkan di tim inti.”

“Tunggu, Tuan Kieran! Saya hanya seorang wanita biasa saja kok,” protes Aura, sedikit panik.

“Seorang penerjemah yang mengetahui nama Raja Asaarmata tanpa membaca naskah resmi, dan seorang yang melihat kedatangan kami,” balas Kieran. Ia berjalan mendekat ke Aura, mencondongkan tubuh sedikit. “Anda terikat, Nona. Dan saya tidak akan membiarkan ‘Raja Asaarmata’ kedua jatuh ke tangan musuh yang sama yang menyegel leluhur kita.”

Ancaman itu, yang terdengar seperti janji, membuat Aura terdiam. Ia menatap Kieran, lalu ke Felix yang kini berdiri dengan ekspresi serius di belakang Kieran. Ia adalah seorang penulis yang terseret ke dalam epik kuno.

Misi telah dimulai. Nasib buruknya, kini menjadi takdir.

1
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Herwanti: terima kasih sudah berkunjung
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!