Dikhianati oleh tunangannya sendiri demi merampas akar spiritual bawaannya, Lin Tian—sang jenius nomor satu dari Kota Daun Gugur—jatuh menjadi "sampah" yang dilumpuhkan dan dihina oleh klannya sendiri. Selama tiga tahun, ia menelan segala penderitaan dan penindasan dalam diam, bertahan hidup hanya demi mencari kebenaran tentang orang tuanya yang hilang dan membalas dendam pada mereka yang merampas masa depannya.
Namun, roda takdir berputar ketika darahnya tanpa sengaja membangkitkan jiwa Kaisar Alkemis Surgawi yang tertidur di dalam liontin peninggalan ibunya, Mutiara Kekacauan Primordial.
Mendapatkan warisan kuno dan merombak fisiknya menjadi Tubuh Pedang Kekacauan, Lin Tian kembali menapak jalan kultivasi yang kejam. Di dunia di mana hukum rimba berlaku mutlak dan kekuatan adalah satu-satunya kebenaran, Lin Tian harus menggunakan akal, taktik, dan kekuatan barunya untuk membelah segala rintangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Racun Tersembunyi dan Rencana di Bawah Cahaya Bulan
Kabar tentang jatuhnya Lin Feng di pelataran Aula Sumber Daya menyebar dengan kecepatan yang tak terbayangkan. Bagi para anggota tingkat bawah Klan Lin, peristiwa itu bagaikan badai yang tiba-tiba melanda di tengah hari yang cerah. Seorang pemuda yang tidak bisa menyerap secuil energi spiritual pun, yang selama tiga tahun telah menjadi sinonim dari kata "sampah", secara brutal mengalahkan seorang kultivator Pengumpulan Qi Tingkat 3 hanya dengan satu pukulan biasa.
Namun, tokoh utama dari badai tersebut, Lin Tian, sama sekali tidak mempedulikan kasak-kusuk yang terjadi di sekitarnya.
Setelah mengambil tiga Batu Spiritual tingkat rendah dari diakon yang masih gemetar ketakutan, Lin Tian segera meninggalkan kompleks utama klan. Ia berjalan menelusuri jalan setapak berbatu yang semakin lama semakin sempit dan ditumbuhi ilalang, mengarah ke sudut paling terpencil di wilayah timur Klan Lin. Di sanalah terdapat sebuah gubuk kayu reyot yang bahkan tidak layak dihuni oleh pelayan tingkat rendah.
Atapnya bocor di beberapa tempat, dan dinding kayunya telah lapuk dimakan usia. Ini adalah tempat di mana mantan Kepala Klan Lin, Lin Zhen, menghabiskan sisa hidupnya dalam penderitaan.
Lin Tian membuka pintu kayu itu dengan perlahan agar engselnya yang berkarat tidak berderit terlalu keras. Udara di dalam ruangan terasa pengap, bercampur dengan aroma obat-obatan herbal yang direbus terlalu lama dan bau apak dari kelembapan.
Di atas sebuah ranjang bambu yang keras, terbaring seorang pria paruh baya dengan rambut yang telah memutih sepenuhnya. Tubuhnya sangat kurus, nyaris hanya tinggal kulit pembalut tulang. Wajahnya pucat pasi, dihiasi rona kehitaman yang tidak wajar di sekitar kantung mata dan bibirnya. Sesekali, napasnya terdengar putus-putus, seolah udara enggan masuk ke dalam paru-parunya.
Pria ini adalah Lin Zhen. Tiga tahun lalu, ia adalah salah satu ahli bela diri terkuat di Kota Daun Gugur, berada di puncak Tahap Pendirian Yayasan. Namun, sebuah "insiden" saat menjalankan misi pengawalan klan membuatnya terluka parah. Tak lama setelah itu, Lin Tian dijebak dan dilumpuhkan oleh Su Yue. Memanfaatkan momentum kejatuhan ayah dan anak ini, Tetua Pertama Lin Kuang segera menggalang kekuatan, melancarkan kudeta internal, dan merebut posisi Kepala Klan.
"Tian'er... kau sudah kembali?" Suara serak dan lemah terdengar dari ranjang. Lin Zhen berusaha membuka matanya yang berat, menatap siluet putranya yang berdiri di ambang pintu.
"Ayah, jangan banyak bergerak," Lin Tian segera melangkah maju, meletakkan kantong berisi Batu Spiritual di atas meja kayu kusam, lalu duduk di tepi ranjang. Ia menggenggam tangan ayahnya yang dingin dan gemetar. "Aku sudah menukar jatah bulan ini. Sebentar lagi aku akan pergi ke Aula Pengobatan kota untuk membeli Ramuan Penghalau Dingin untukmu."
Lin Zhen tersenyum getir, sebuah senyuman yang menyiratkan rasa bersalah yang mendalam. "Ayah yang tidak berguna ini... terus-menerus menyusahkanmu. Tian'er, lupakan saja pengobatan ini. Simpan Batu Spiritual itu untuk dirimu sendiri. Pergilah dari Klan Lin. Dengan kecerdasanmu, kau pasti bisa bertahan hidup sebagai pedagang fana di kota lain. Tinggal di sini hanya akan membuat Lin Kuang dan anak-anaknya terus menyiksamu."
Mendengar kata-kata itu, hati Lin Tian terasa seperti diremas. Selama tiga tahun ia menelan segala bentuk penghinaan, namun ayahnya tidak pernah tahu bahwa alasan ia bertahan bukan karena ia tidak bisa pergi, melainkan karena ia tidak akan pernah meninggalkan ayahnya terbaring lumpuh di sarang serigala ini.
"Ayah tidak perlu bicara omong kosong," ucap Lin Tian dengan nada tenang namun tegas. "Kondisi Ayah akan membaik. Aku janji."
Tanpa menunggu balasan ayahnya yang mulai terbatuk-batuk, Lin Tian bangkit dan berjalan menuju tungku tanah liat di sudut ruangan. Ia menuangkan air ke dalam panci gerabah, memasukkan beberapa sisa ampas obat dari hari sebelumnya, dan mulai menyalakan api.
Sambil menunggu air mendidih, pikiran Lin Tian mulai bekerja dengan tajam. Ada sesuatu yang janggal.
Selama bertahun-tahun, ayahnya didiagnosis menderita luka dalam akibat racun udara dingin yang merusak meridian paru-parunya saat insiden misi pengawalan tersebut. Ramuan Penghalau Dingin yang ia beli setiap bulan dengan harga mahal seharusnya bisa menetralkan hawa dingin itu secara perlahan. Namun, alih-alih membaik, kondisi Lin Zhen justru semakin memburuk dari bulan ke bulan.
Dulu, Lin Tian tidak memiliki kemampuan untuk memeriksa tubuh ayahnya secara menyeluruh karena kultivasinya telah hancur. Namun sekarang berbeda.
Ia memiliki Tubuh Pedang Kekacauan, dan energi abu-abu di Dantiannya adalah Qi Primordial—akar dari segala bentuk energi di alam semesta. Qi ini sangat sensitif terhadap segala bentuk kotoran, racun, maupun ketidakseimbangan elemen.
"Ayah, izinkan aku memeriksa denyut nadimu sebentar," ujar Lin Tian, kembali ke sisi ranjang.
"Buat apa, Nak? Tabib klan sudah mengatakan—"
"Tolong, Ayah. Percayalah padaku." Tatapan Lin Tian begitu serius sehingga Lin Zhen akhirnya menghela napas dan membiarkan putranya menempelkan dua jari di pergelangan tangannya.
Lin Tian menutup mata. Ia memandu seutas energi Qi abu-abu yang setipis rambut dari Dantiannya, mengalirkannya melalui jarinya masuk ke dalam pergelangan tangan ayahnya. Berbeda dengan Qi biasa yang akan ditolak oleh meridian orang lain, Qi Primordial menyusup dengan sangat halus, mengalir mengikuti aliran darah Lin Zhen.
Begitu energi itu mencapai area dada ayahnya, alis Lin Tian berkerut tajam.
Di dalam paru-paru dan sekitar Dantian ayahnya yang telah retak, ia tidak menemukan sekadar "hawa dingin" alami seperti yang didiagnosis oleh tabib klan. Sebaliknya, ia menemukan gumpalan energi berwarna hitam kehijauan yang menempel seperti parasit pada dinding meridian ayahnya. Energi ini berdenyut pelan, terus-menerus menyerap vitalitas kehidupan Lin Zhen.
Ini bukan luka akibat pertarungan atau cuaca. Ini adalah racun buatan manusia!
Lebih mengerikannya lagi, setiap kali helai Qi abu-abu Lin Tian menyentuh residu dari Ramuan Penghalau Dingin yang tersisa di tubuh ayahnya, gumpalan racun hitam kehijauan itu justru bereaksi, menyerap residu obat tersebut dan menjadi sedikit lebih kuat.
Mata Lin Tian terbuka, memancarkan seberkas niat membunuh yang sangat dingin hingga membuat suhu di dalam gubuk terasa anjlok.
Sebuah konspirasi kotor terbentang dengan jelas di benaknya.
Ramuan Penghalau Dingin yang selama ini ia beli dari Aula Pengobatan dengan darah dan keringatnya, bukanlah obat penyembuh. Ramuan itu bertindak sebagai katalis! Racun di tubuh ayahnya adalah jenis racun kronis tingkat lanjut yang dirancang untuk secara perlahan menggerogoti Dantian dan vitalitas tanpa membunuh korban seketika. Pembuat racun ini sengaja membiarkan Lin Zhen tetap hidup dalam keadaan lemah tak berdaya.
Pertanyaannya, mengapa? Mengapa Lin Kuang tidak langsung membunuh ayahnya tiga tahun lalu saat kudeta terjadi?
Logika Lin Tian bekerja dengan cepat. Stempel Kepala Klan. Ya. Meskipun Lin Kuang telah mengambil alih kekuasaan secara de facto, ia belum diakui secara sah oleh Sekte Pedang Surgawi yang merupakan faksi pelindung di wilayah ini, karena Lin Kuang tidak memiliki Stempel Kepala Klan yang asli. Stempel itu adalah artefak tingkat menengah yang hanya bisa diaktifkan oleh garis keturunan langsung, dan ayahnya pasti menyembunyikannya di suatu tempat. Lin Kuang mempertahankan nyawa Lin Zhen semata-mata untuk menyiksa dan memaksanya menyerahkan lokasi stempel tersebut!
"Tian'er? Ada apa? Wajahmu terlihat menakutkan," tegur Lin Zhen dengan suara lemah, menyadarkan Lin Tian dari lamunannya.
Lin Tian segera menetralkan ekspresinya. Ia menarik kembali Qi abu-abunya dengan hati-hati agar tidak memicu reaksi dari racun parasit tersebut. Ia tidak boleh memberitahu ayahnya sekarang. Kondisi mental ayahnya sudah sangat rapuh, mengetahui kebenaran ini hanya akan memperburuk keadaan dan memicu keputusasaan.
"Tidak apa-apa, Ayah. Aku hanya memikirkan cara untuk mendapatkan obat yang lebih baik. Istirahatlah. Aku akan keluar sebentar," ucap Lin Tian lembut. Ia merapikan selimut tipis ayahnya, memastikan pria tua itu tertidur, lalu melangkah keluar dari gubuk.
Saat pintu kayu tertutup di belakangnya, wajah Lin Tian kembali menjadi dingin dan tanpa ampun. Tangannya terkepal erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Lin Kuang... Aula Pengobatan... Kalian telah mempermainkan nyawa ayahku selama tiga tahun. Utang darah ini akan kubayar dengan nyawa kalian, tuntas hingga ke akar-akarnya!
Namun, amarah tidak menutupi akal sehatnya. Ia sadar, dengan kekuatannya saat ini di Pengumpulan Qi Tingkat 2, menyerbu kediaman Kepala Klan atau mengamuk di Aula Pengobatan sama saja dengan bunuh diri. Lin Kuang berada di puncak Tahap Inti Emas, dua alam besar di atasnya. Bahkan dengan Tubuh Pedang Kekacauan, perbedaan kekuatan absolut tidak bisa dijembatani hanya dengan amarah.
Ia butuh kekuatan. Dan ia butuh cara untuk membersihkan racun di tubuh ayahnya dengan segera sebelum racun itu menyentuh jantungnya.
Berdasarkan pengetahuannya sebagai mantan jenius yang sering membaca kitab kuno klan, serta insting yang entah bagaimana menajam setelah menyatu dengan Mutiara Kekacauan Primordial, Lin Tian tahu bahwa untuk menghancurkan racun elemen Yin (dingin dan parasit) yang telah bermutasi, ia membutuhkan ramuan yang memiliki elemen Yang murni dan destruktif.
Rumput Matahari Merah berusia seratus tahun. Hanya tanaman spiritual tingkat dua itu yang mampu membakar habis racun tersebut tanpa membahayakan nyawa ayahnya yang sudah renta. Namun, Rumput Matahari Merah tidak dijual di toko obat pinggir jalan. Tanaman itu hanya bisa ditemukan di area tengah Hutan Siluman Kematian, atau dijual di pelelangan Paviliun Beribu Harta di pusat kota dengan harga selangit—setidaknya lima ratus Batu Spiritual tingkat rendah.
Tiga Batu Spiritual di sakunya saat ini tampak seperti lelucon.
"Aku harus menembus Tingkat 3 malam ini. Besok pagi, aku akan pergi ke Paviliun Beribu Harta. Jika aku tidak bisa membelinya, aku harus mencari cara untuk mendapatkan nilainya, atau setidaknya membeli perlengkapan dasar untuk masuk ke Hutan Siluman."
Malam pun turun menyelimuti Kota Daun Gugur. Cahaya bulan bersinar redup, terhalang oleh awan mendung yang berarak di langit.
Lin Tian duduk bersila di halaman belakang gubuknya yang tertutup rimbunnya pohon bambu. Di depannya, tiga Batu Spiritual sebesar ibu jari memancarkan cahaya putih samar, menandakan kandungan energi di dalamnya. Bagi kultivator seangkatannya, menyerap tiga batu ini membutuhkan waktu satu bulan penuh karena mereka harus menyaring kotoran dari dalam batu tersebut secara perlahan agar tidak melukai meridian mereka.
Lin Tian memejamkan mata. Ia memutar teknik pernapasan bawaan dari Tubuh Pedang Kekacauan.
Wush!
Sebuah gaya isap yang mengerikan muncul dari Dantiannya. Udara di sekitarnya terdistorsi. Tiga Batu Spiritual di depannya seketika bergetar hebat. Tidak ada proses penyaringan yang lambat. Energi spiritual di dalam batu-batu itu tersedot keluar layaknya air pusaran, langsung masuk ke dalam tubuh Lin Tian melalui pori-porinya.
Bagi Tubuh Pedang Kekacauan, energi spiritual biasa hanyalah bahan bakar mentah. Meridian abu-abu keperakan di dalam tubuh Lin Tian bertindak seperti tungku pembakaran mutlak, menghancurkan segala kotoran dalam energi tersebut secara instan, memurnikannya menjadi untaian Qi abu-abu murni, lalu memadatkannya ke dalam Dantian.
Hanya dalam waktu kurang dari setengah jam...
Krek... krek... Ketiga Batu Spiritual di depannya kehilangan cahayanya, retak, dan berubah menjadi tumpukan debu kelabu yang tertiup angin malam.
Lin Tian membuka matanya. Ia merasakan Qi di dalam Dantiannya bertambah, namun wajahnya justru menunjukkan sedikit frustrasi.
"Seperti yang Guru katakan. Kapasitas energi yang kubutuhkan terlalu besar," gumamnya pelan. "Tiga Batu Spiritual ini hanya mengisi kurang dari sepersepuluh Dantianku. Untuk menembus Tingkat 3, aku mungkin membutuhkan setidaknya empat puluh batu lagi."
Kebutuhan sumber daya yang tidak masuk akal ini adalah harga mutlak dari fondasi yang sempurna. Setiap tingkat kultivasinya akan jauh lebih kuat dari siapa pun, namun ia ditakdirkan untuk menjadi monster pemakan sumber daya. Ia tidak bisa lagi mengandalkan jatah bulanan yang menyedihkan dari klan.
Sisa malam itu dihabiskan Lin Tian untuk bermeditasi, menyerap energi spiritual tipis dari udara bebas secara langsung untuk menstabilkan fondasinya. Ia terus melatih kontrol mikroskopis atas Qi-nya, membaginya menjadi puluhan aliran kecil di dalam tubuhnya, bersiap untuk pertempuran sesungguhnya.
Keesokan paginya, sebelum matahari sepenuhnya terbit, Lin Tian telah meninggalkan wilayah Klan Lin. Ia mengenakan jubah abu-abu yang lebih besar, dengan tudung yang ditarik hingga menutupi sebagian besar wajahnya. Ia tidak ingin mencari masalah yang tidak perlu sebelum urusannya selesai.
Kota Daun Gugur adalah kota perdagangan yang cukup besar, terletak di perbatasan antara Kekaisaran Angin Biru dan Hutan Siluman Kematian. Jalanan kota dipenuhi oleh berbagai macam orang: pedagang keliling, tentara bayaran dengan senjata berlumuran darah kering, serta para pemburu siluman yang membawa gerobak berisi tulang dan inti monster.
Tujuan Lin Tian sangat jelas. Ia mengabaikan toko-toko kecil di pinggiran jalan dan berjalan lurus menuju distrik pusat kota, tempat sebuah bangunan megah berlantai lima berdiri menjulang. Bangunan itu terbuat dari kayu gaharu merah yang memancarkan aroma menenangkan, dengan plakat emas raksasa bertuliskan: Paviliun Beribu Harta.
Ini adalah cabang dari serikat dagang terbesar di Benua Fana. Kekuasaan dan kekayaan mereka sangat besar, bahkan Kepala Klan Lin pun harus bersikap sopan jika bertemu dengan manajer paviliun ini. Mereka memiliki segalanya: senjata, pil obat, teknik bela diri, hingga informasi. Tentu saja, semuanya diukur dengan harga yang pantas.
Lin Tian melangkah masuk ke lobi utama yang luas dan dihiasi lantai marmer mengkilap. Rak-rak kristal berjejer rapi, memajang berbagai macam artefak yang memancarkan cahaya spiritual yang menyilaukan. Udara di dalam ruangan dipertahankan pada suhu yang sejuk oleh susunan formasi es di keempat sudut ruangan.
"Selamat datang di Paviliun Beribu Harta, Tuan," sapa seorang pelayan wanita cantik dengan seragam sutra hijau. Senyumnya profesional, tidak menunjukkan tanda-tanda meremehkan meskipun pakaian Lin Tian terlihat sangat sederhana dan tua. "Apakah ada yang bisa saya bantu? Apakah Anda mencari senjata, atau bahan obat?"
"Aku ingin bertemu dengan penilai obat kalian. Aku memiliki sebuah transaksi," jawab Lin Tian dengan suara yang sengaja diberatkan agar terdengar lebih tua.
Pelayan itu sedikit terkejut, namun tetap mempertahankan kesopanannya. "Mohon maaf, Tuan. Penilai utama kami, Tabib Master Zhao, saat ini sedang menerima tamu VIP di lantai dua. Jika Anda ingin menjual ramuan atau herbal tingkat dasar, Anda bisa menunjukkannya kepada saya terlebih dahulu di meja konter luar."
Lin Tian mengerutkan kening di balik tudungnya. Ia tidak punya barang berharga untuk dijual. Rencananya adalah menawarkan jasa atau bernegosiasi menggunakan pengetahuannya.
Tepat saat ia berpikir bagaimana cara menerobos masuk secara halus, sebuah suara keras dan bernada panik terdengar dari tangga menuju lantai dua.
"Tabib Zhao! Tolong lakukan sesuatu! Tuan Muda memuntahkan darah hitam lagi! Jika terjadi sesuatu pada Tuan Muda saat berada di kota ini, seluruh Paviliun Daun Gugur akan dimintai pertanggungjawaban oleh Sekte Pusat!"
Seorang pria paruh baya berpakaian mewah setengah berlari menuruni tangga, wajahnya pucat pasi oleh kepanikan. Di belakangnya, seorang pria tua berjenggot putih—yang tampaknya adalah Tabib Zhao—mengikuti dengan langkah tergesa-gesa, wajah tuanya dipenuhi keringat dingin.
"Manajer Sun, saya sudah mencoba segala cara! Pil Pembersih Sumsum tingkat dua sama sekali tidak merespons. Udara dingin di dalam meridian Tuan Muda terlalu buas, sepertinya itu bukan sekadar luka es biasa, melainkan..." Tabib Zhao tampak ragu untuk melanjutkan kalimatnya.
"Melainkan apa?! Bicara yang jelas!" bentak Manajer Sun.
"Melainkan efek serangan dari Siluman Ular Es Berkepala Dua! Jika tidak dinetralkan dengan segera, hawa es itu akan membekukan organ dalamnya dalam waktu kurang dari satu jam teh!"
Kepanikan menyebar di lobi. Beberapa pelanggan yang berada di sana segera menyingkir, tidak ingin terlibat dengan masalah yang melibatkan petinggi Paviliun Beribu Harta.
Namun, di tengah kekacauan itu, sosok berjubah abu-abu justru melangkah maju dengan tenang. Suara yang dalam dan datar terdengar jernih, memotong kepanikan yang terjadi.
"Jika kau memberinya Pil Pembersih Sumsum, kau tidak sedang mengobatinya. Kau justru sedang mengantarkannya ke gerbang neraka lebih cepat."
Seluruh ruangan mendadak hening. Pandangan Manajer Sun dan Tabib Zhao serempak beralih ke arah Lin Tian yang berdiri santai dengan kedua tangan terlipat di dada.
Tabib Zhao mengerutkan alisnya dalam-dalam, merasa otoritasnya ditantang oleh sosok tak dikenal. "Siapa kau? Beraninya kau berkomentar sembarangan tentang ilmu pengobatan di hadapan Paviliun Beribu Harta?!"
Lin Tian sedikit mengangkat kepalanya, membiarkan sepasang matanya yang setajam pedang menatap langsung ke arah sang tabib dari balik bayangan tudungnya.
Ia tidak menjawab dengan makian, melainkan dengan urutan fakta logis yang mematikan.
"Siluman Ular Es Berkepala Dua tidak memuntahkan hawa dingin murni, melainkan miasma es yang bersifat korosif. Pil Pembersih Sumsum yang kau sebutkan memiliki sifat mendorong energi spiritual mengalir lebih cepat untuk membersihkan meridian. Dengan memaksakan aliran energi saat miasma es itu masih menempel di dinding meridian, kau sama saja dengan mengalirkan racun korosif itu dengan paksa menuju Dantiannya. Itu bukan menyelamatkannya... kau sedang mengukir jalan kehancurannya sendiri."
Tubuh Tabib Zhao seketika menegang. Matanya membelalak lebar, dan keringat dingin sebesar biji jagung meluncur deras di dahinya. Ia adalah tabib berpengalaman, dan saat logika Lin Tian diutarakan, pikirannya secara otomatis menyimulasikan reaksi medis tersebut, menyadari bahwa ucapan pemuda misterius ini sepenuhnya masuk akal secara teoritis.
Manajer Sun, melihat reaksi Tabib Zhao yang membisu dan pucat, langsung menyadari bahwa orang asing berjubah abu-abu ini bukanlah orang sembarangan. Ia segera mengubah sikap arogannya, menangkupkan kedua tangan dengan hormat.
"Tuan... apakah Anda memiliki cara untuk menyelamatkan Tuan Muda kami?" tanya Manajer Sun dengan suara bergetar penuh harap.
Di balik tudungnya, bibir Lin Tian melengkung membentuk senyuman tipis.
"Aku bisa menyelamatkannya," jawab Lin Tian perlahan, menatap tepat ke mata Manajer Sun. "Tapi sebagai gantinya, aku menginginkan Rumput Matahari Merah berusia seratus tahun, dan akses bebas ke perpustakaan lantai dua kalian."