Di sebuah kabupaten kecil di provinsi Jawa Barat, di Negara Nusantara, Arkan Wijaya baru saja lulus SMA, namun saat pulang dia mendapati rumahnya kosong, kedua orang tuanya tidak ada, dia mencari kesana kemari namun tidak ada kabar tentang mereka, hanya menemukan secarik kertas bertuliskan "Arkan kamu sudah dewasa, carilah jalanmu sendiri, kami tidak bisa terus menjagamu, dan ada kewajiban yang harus kami lakukan, suatu saat nanti mungkin kamu akan mengerti, maafkan kami Arkan." Dan di samping kertas itu ada cincin emas berbentuk kepala dan permata kecil berkilau di kedua matanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suryadharma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Gerbang Alam Rahasia
Dua hari setelah turnamen, Arkan dan rombongannya tiba di kaki Gunung Gede. Alam Rahasia hanya terbuka selama tiga hari setiap tahun, dan hari ini adalah hari pertama. Token emas yang didapat Arkan sebagai juara turnamen berkilau di tangannya, memancarkan cahaya hangat.
“Kita masuk berempat saja,” kata Arkan tegas. “Saya, Sela, Ayah, dan Ibu. Juanda Om tetap di luar mengawasi situasi.”
Juanda Hartono mengangguk berat. “Hati-hati. Alam Rahasia penuh harta sekaligus bahaya. Banyak sekte mengirim orang kuat ke sini.”
Arkan memegang pedang Naga Emas Muda di pinggangnya. Tubuh kekarnya dibalut baju hitam ramping yang memudahkan gerakan. Sela berdiri di sampingnya dengan pakaian tempur putih-emas, rambutnya diikat ekor kuda tinggi, membuat wajah cantik dan tubuh seksi-nya terlihat lebih tegas.
Mereka melangkah masuk ke gerbang kabut yang terbuka di lereng gunung. Begitu melewati kabut, dunia berubah total. Alam Rahasia adalah dimensi kecil yang kaya Qi. Pohon-pohon raksasa, sungai bercahaya, dan binatang roh berkeliaran.
“Qi di sini sangat murni,” kata ayah Arkan kagum. “Kita bisa kultivasi lebih cepat.”
Mereka bergerak hati-hati. Dalam satu jam pertama, mereka sudah menemukan beberapa ramuan langka berusia ratusan tahun. Arkan langsung memetiknya untuk bahan pil nanti.
Tiba-tiba, seekor Harimau Api tingkat tinggi muncul dari semak. Binatang itu meraung keras dan menyerang Arkan.
“Ini latihan bagus,” gumam Arkan.
Ia tidak menggunakan pedang. Hanya Tinju Naga Emas. Satu pukulan telak menghantam kepala harimau tersebut. Binatang roh itu terpental dan mati seketika. Arkan mengambil inti api-nya sebagai bahan kultivasi.
Sela tersenyum bangga. “Kamu semakin dominan.”
Mereka terus maju ke pusat Alam Rahasia. Di tengah hutan, mereka menemukan sebuah danau suci bercahaya biru. Di tengah danau ada sebuah altar batu dengan sebuah kotak kristal di atasnya.
“Itu… Kotak Warisan!” kata ibu Arkan bersemangat.
Tapi sebelum mereka mendekat, sekelompok orang sudah berada di sana — 12 orang dari Sekte Naga Hitam dan dua sekte gelap lainnya. Pemimpin mereka adalah seorang pria berjubah hitam bernama Elder Han, Core Formation Tingkat 6.
“Pewaris Naga Emas,” kata Elder Han sambil tersenyum licik. “Kau datang juga. Serahkan cincinmu dan kami biarkan kau pergi dengan warisan kecil.”
Arkan melangkah maju, aura dominannya menyebar. “Kalian yang harus minggir. Atau mati.”
Pertarungan meledak di pinggir danau.
Elder Han menyerang langsung dengan **Cakar Naga Hitam Besar**. Arkan menarik pedang dan balas dengan **Naga Muda Mengaum**. Dua serangan bertemu, gelombang energi mengguncang danau hingga airnya naik tinggi.
Sela melindungi orang tua Arkan sambil melawan tiga orang sekaligus. Tekniknya semakin matang. Setiap serangan Sela tepat sasaran, membuat lawan kewalahan.
Arkan bertarung sengit melawan Elder Han. Meski levelnya lebih rendah, warisan Naga Emas membuatnya mampu bertahan dan bahkan mendominasi. Setelah 30 jurus, Arkan berhasil menebas dada Elder Han hingga dalam.
“Kau… monster kecil!” teriak Elder Han sebelum mundur terluka parah.
Anak buah Naga Hitam yang tersisa melarikan diri. Arkan tidak mengejar. Ia lebih memilih mengambil warisan di altar.
Kotak kristal terbuka saat Arkan mendekat dengan token turnamen. Di dalamnya ada sebuah **Buku Teknik Naga Emas Tingkat Tinggi** dan sebuah **Pil Inti Naga** yang sangat langka.
Arkan langsung menelan pil itu. Energi dahsyat meledak di dalam tubuhnya. Ia duduk bersila di tepi danau, mulai kultivasi mendalam. Sela menjaga di sampingnya, sementara orang tuanya mengawasi sekitar.
Selama enam jam, tubuh Arkan mengeluarkan keringat hitam tebal. Dantiannya berputar ganas. Saat matahari terbenam, ia berhasil breakthrough ke **Qi Condensation Tingkat 7**.
Arkan membuka mata. Matanya berkilau emas cerah. Kekuatannya melonjak drastis. Ia merasa bisa menghancurkan gunung kecil dengan satu pukulan penuh.
“Selamat, Nak,” kata ayahnya bangga.
Sela langsung memeluknya erat. “Kamu semakin jauh di depan. Tapi aku akan kejar terus.”
Malam itu mereka berkemah di tepi danau. Arkan membagi teknik baru dari buku warisan kepada Sela dan orang tuanya. Ayah dan ibunya yang dulunya biasa saja, kini mulai membuka meridian mereka berkat Qi Alam Rahasia yang kaya.
Hari kedua di Alam Rahasia, mereka menemukan sebuah gua kuno. Di dalam gua ada lukisan dinding tentang sejarah Naga Emas — seekor naga emas raksasa yang dulu melindungi Nusantara dari kegelapan ribuan tahun lalu.
“Jadi ini asal-usulnya,” gumam Arkan.
Di ujung gua, mereka menemukan sebuah pedang spiritual tingkat menengah bernama **Pedang Raja Naga**. Arkan langsung mengikatnya dengan darah. Pedang baru ini jauh lebih kuat dari pedang sebelumnya.
Tapi kedamaian tidak bertahan lama.
Sebuah kelompok besar — sekitar 30 orang dari Sekte Naga Hitam dan sekutu mereka — mengepung gua. Kali ini dipimpin oleh seorang wanita cantik tapi beracun bernama Lady Viper, Core Formation Tingkat 7.
“Arkan Wijaya, serahkan semua warisan atau kami bunuh keluargamu di sini,” ancam Lady Viper.
Arkan keluar gua dengan Pedang Raja Naga di tangan. Auranya sudah sangat dominan. “Kalian terlalu banyak bicara.”
Ia menyerbu sendirian duluan. Pedang Raja Naga menebas seperti naga hidup. Tiga orang langsung tewas dalam satu ayunan. Sela dan orang tuanya ikut bertarung di belakang.
Lady Viper menyerang dengan jurus racun hitam. Arkan menggunakan Teknik Tubuh Naga sepenuhnya. Sisik emas muncul di kulitnya, menetralkan racun. Ia mendekat dengan cepat dan menebas bahu Lady Viper.
Pertarungan berlangsung brutal. Arkan mendominasi. Setelah 20 jurus, ia memotong satu lengan Lady Viper. Wanita itu berteriak kesakitan dan melarikan diri dengan sisa anak buahnya.
Arkan tidak mengejar. Ia kembali ke gua dan duduk meditasi, memulihkan Qi.
Malam harinya, di sekitar api unggun, Arkan memeluk Sela erat. “Kita sudah dapat banyak. Besok hari terakhir. Kita ambil sebanyak mungkin lalu keluar.”
Sela menyandarkan kepala di dada Arkan. “Aku bahagia bisa berjuang bersamamu.”
Orang tua Arkan tersenyum melihat kedekatan mereka. “Kalian berdua ditakdirkan bersama.”
Hari ketiga, mereka menjelajah lebih dalam. Mereka menemukan sebuah kolam Spiritual yang sangat murni. Arkan dan Sela berendam bersama di sana, menyerap Qi sambil saling memeluk. Kedua orang tua Arkan kultivasi di pinggir kolam.
Di akhir hari, Arkan mencapai **Qi Condensation Tingkat 8**. Sela naik ke Tingkat 6. Orang tuanya juga mengalami kemajuan besar.
Saat gerbang Alam Rahasia mulai menutup, mereka keluar tepat waktu. Juanda sudah menunggu dengan wajah cemas.
“Di luar ada pasukan Naga Hitam menunggu. Mereka marah besar atas kekalahan di dalam.”
Arkan tersenyum dingin sambil memegang Pedang Raja Naga.
“Biarkan mereka datang. Aku sudah siap menyambut.”
Mereka berjalan keluar dari kabut. Di depan sana, ratusan kultivator Naga Hitam sudah berbaris siap perang.
Arkan melangkah maju sendirian. Aura Raja Naga-nya meledak penuh.
“Siapa yang mau mati duluan?”
Perang besar di kaki Gunung Gede pun tak terhindarkan.
cerita bagus dan menarik, kak.
semangat🐳