Lin Chen dulunya adalah jenius nomor satu di Kota Awan Merah. Namun, pada usia 12 tahun, Meridiannya dihancurkan oleh musuh misterius, membuatnya menjadi "Sampah" yang tidak bisa mengumpulkan Qi. Dihina oleh klannya dan tunangannya dibatalkan, Lin Chen jatuh ke titik terendah. Suatu malam, darahnya secara tidak sengaja membangunkan sebuah relik kuno peninggalan ibunya: Sisik Naga Primordial. Relik ini tidak hanya memulihkan meridiannya, tetapi juga memberinya Teknik Kultivasi terlarang: Seni Pemakan Surga Sembilan Naga. Dimulailah perjalanan Lin Chen dari kota kecil yang terpencil menuju puncak semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Utusan Sekte dan Pembatalan Pertunangan
Pengumuman dari penjaga itu bagaikan batu besar yang dilemparkan ke danau yang tenang. Keriuhan alun-alun seketika tergantikan oleh keheningan yang mencekam.
Sekte Pedang Awan Surgawi!
Itu adalah raksasa absolut yang menguasai wilayah puluhan ribu mil di sekitar Kota Awan Merah. Dibandingkan dengan Sekte tersebut, Klan Lin hanyalah sebutir debu. Seorang murid luar dari Sekte Pedang Awan Surgawi bahkan memiliki status yang lebih tinggi daripada Kepala Klan Lin.
Lin Tian segera menekan kegembiraannya atas kembalinya kekuatan Lin Chen. Wajahnya kembali serius. "Cepat, siapkan formasi penyambutan! Jangan sampai tamu agung merasa diabaikan!"
Namun, sebelum murid-murid Klan Lin sempat mengatur barisan, sebuah tekanan energi yang luar biasa besar turun dari langit. Udara di alun-alun menjadi berat, membuat napas orang-orang tersengal.
Seekor burung bangau berbulu perak raksasa dengan lebar sayap mencapai sepuluh meter mendarat di tengah alun-alun, menciptakan hembusan angin badai yang menerbangkan debu dan kerikil.
Tiga sosok turun dari punggung bangau spiritual tersebut.
Di depan adalah seorang pria paruh baya mengenakan jubah keemasan yang mewah. Ia adalah Tuan Kota Awan Merah, Zhao Wuji, seorang ahli Ranah Pengumpulan Qi Bintang 8.
Di sebelahnya, berdiri seorang lelaki tua berjubah putih bersih dengan sulaman pedang perak di dadanya. Lelaki tua itu memejamkan mata setengah, memancarkan aura arogan yang seolah memandang rendah segala sesuatu di dunia fana. Tekanan mencekik tadi berasal darinya.
Ranah Inti Emas (Golden Core)! Dan di belakang mereka, berdiri seorang gadis muda berusia sekitar enam belas tahun. Ia mengenakan gaun putih sutra yang berkibar anggun tertiup angin. Wajahnya sangat cantik, kulitnya seputih salju, namun ekspresinya sedingin bongkahan es berusia ribuan tahun.
Melihat gadis itu, mata Lin Chen sedikit menyipit.
Liu Meng'er. Putri jenius dari Keluarga Liu, sekaligus tunangan Lin Chen yang telah ditetapkan sejak mereka masih bayi oleh mendiang kakek Lin Chen.
Lin Tian bergegas maju dan membungkuk hormat. "Klan Lin menyambut Tuan Kota Zhao dan Utusan dari Sekte Pedang Awan Surgawi. Kedatangan Tuan-tuan adalah sebuah kehormatan besar bagi klan kecil kami."
Zhao Wuji hanya mengangguk pelan, lalu menoleh pada lelaki tua berjubah putih itu dengan sikap menjilat. "Tetua Bai, silakan."
Tetua Bai membuka matanya perlahan, melirik Lin Tian dengan tatapan hampa. "Tidak perlu banyak basa-basi. Aku datang ke sini hari ini untuk mengurus masalah duniawi muridku, sebelum membawa dia kembali ke sekte utama."
"Murid...?" Lin Tian tertegun, pandangannya beralih pada Liu Meng'er.
Liu Meng'er melangkah maju. Tatapan matanya yang dingin menyapu seluruh alun-alun sebelum akhirnya berhenti pada sosok Lin Chen yang berdiri tak jauh dari panggung. Melihat pakaian Lin Chen yang compang-camping, secercah rasa jijik melintas di matanya, meski ia dengan cepat menyembunyikannya.
"Paman Lin," suara Liu Meng'er merdu namun terdengar sangat menjaga jarak. "Sebulan yang lalu, saat Tetua Bai melewati Kota Awan Merah, beliau menyadari bahwa aku memiliki Konstitusi Teratai Es Tertinggi yang hanya muncul seratus tahun sekali. Aku telah secara resmi diterima sebagai Murid Inti dari Sekte Pedang Awan Surgawi."
Mendengar itu, seluruh alun-alun tersiap. Murid Inti! Itu adalah eksistensi jenius yang akan dirawat dengan sumber daya tanpa batas. Keluarga Liu pasti akan meroket menjadi penguasa absolut Kota Awan Merah.
Lin Tian memaksakan sebuah senyuman. "Itu... itu adalah berita yang sangat luar biasa, Keponakan Meng'er. Ayahmu pasti sangat bangga."
"Benar. Namun, dengan statusku saat ini, ada beberapa hal yang harus disesuaikan," Liu Meng'er menatap lurus ke arah Lin Tian, lalu melirik Lin Chen. "Aku di sini untuk membatalkan pertunanganku dengan Lin Chen."
Jleb.
Meski banyak yang sudah menduganya, mendengarnya diucapkan secara langsung di depan ribuan orang adalah sebuah tamparan keras ke wajah Klan Lin.
Wajah Lin Tian memerah, campuran antara marah dan malu. "Keponakan Meng'er... ikatan pertunangan ini dibuat oleh ayahku dan kakekmu yang pernah berjuang hidup dan mati bersama! Bagaimana bisa dibatalkan begitu saja?"
"Masa lalu adalah masa lalu, Kepala Klan Lin," potong Tetua Bai dengan nada dingin dan tak terbantahkan. "Perbedaan antara naga di langit dan cacing di tanah terlalu besar. Meng'er ditakdirkan untuk menjadi tokoh besar di Benua ini, sementara putramu... kudengar meridiannya telah hancur dan ia menjadi orang cacat. Memaksakan pernikahan ini hanya akan menjadi noda abadi bagi Sekte Pedang Awan Surgawi kami!"
Tetua Bai mengibaskan lengan bajunya. Sebuah botol giok kecil melayang dan jatuh di depan kaki Lin Tian. "Di dalam botol itu ada tiga Pil Pengumpul Qi tingkat rendah. Ambillah sebagai kompensasi dari Sekte kami. Untuk sebuah klan kecil, pil ini cukup untuk menciptakan tiga kultivator baru. Anggap saja masalah ini selesai."
Tiga pil rendah untuk menukar harga diri sebuah klan. Ini bukan kompensasi, ini adalah penghinaan!
Tangan Lin Tian gemetar. Ia bersiap menolak botol itu, bahkan jika ia harus menyinggung raksasa sekelas Sekte Pedang Awan Surgawi.
Namun, sebuah tangan yang kokoh menepuk bahunya dari belakang.
"Ayah, biarkan aku yang mengurus ini."
Lin Chen melangkah maju. Berbeda dengan saat ia berhadapan dengan Lin Lang, kali ini auranya sepenuhnya ditarik masuk, membuatnya terlihat seperti pemuda biasa yang lemah. Ia menatap botol giok di tanah, lalu menendangnya dengan santai hingga botol itu menggelinding kembali ke kaki Tetua Bai.
"Pil sampah seperti itu, simpan saja untuk memberi makan anjing sekte kalian," ucap Lin Chen datar.
Keheningan seketika menyelimuti alun-alun. Bahkan Tuan Kota Zhao Wuji membelalakkan matanya. Anak cacat ini berani menghina Tetua Inti Emas dari Sekte Awan Surgawi?!
"Hahaha! Bagus! Pil rongsokan itu bahkan lebih buruk dari kotoran anjing! Konstitusi Teratai Es? Hah! Di hadapan Sembilan Naga-ku, konstitusi es macam itu bahkan tidak pantas menjadi alas kaki!" Mo Xuan tertawa terbahak-bahak di dalam kepala Lin Chen.
Wajah Tetua Bai langsung menggelap. Niat membunuh yang sangat dingin meledak dari tubuhnya, membuat udara di sekitar turun drastis. "Bocah bodoh... kau mencari mati!"
"Tunggu, Guru!" Liu Meng'er buru-buru menghalangi Tetua Bai. Ia menatap Lin Chen dengan alis berkerut kesal. "Lin Chen, aku tahu kau merasa terhina. Tapi terimalah kenyataan. Kau dan aku sudah berada di dua dunia yang berbeda. Jika kau mencoba menyinggung Guruku, kau hanya akan membawa malapetaka bagi seluruh Klan Lin."
Lin Chen menatap Liu Meng'er. Dulu, "Lin Chen yang lama" mungkin pernah menyukai gadis dingin ini. Tapi bagi Lin Chen yang sekarang, yang telah merangkak dari jurang kematian dan menelan darah di Pegunungan Kabut Darah, gadis ini tidak lebih dari sekadar orang asing yang congkak.
"Dua dunia yang berbeda? Kau benar," Lin Chen tersenyum tipis. "Tapi bukan kau yang berada di langit, melainkan aku yang tak sudi menarikmu naik."
Sebelum Liu Meng'er sempat bereaksi terhadap ucapan arogan itu, Lin Chen berjalan menuju meja pendaftaran di pinggir arena. Ia mengambil kuas, mencelupkannya ke dalam tinta merah, dan menarik sebuah kertas perkamen kosong.
Sret! Sret! Sret!
Tangan Lin Chen bergerak cepat di atas kertas, menuliskan sederet karakter kaligrafi yang tegas dan tajam bagai tebasan pedang. Setelah selesai, ia menggigit ujung jarinya hingga berdarah dan menempelkan cap jempol darahnya di bagian bawah perkamen tersebut.
Ia mengambil kertas itu dan berjalan kembali, lalu melemparkannya hingga melayang dan jatuh tepat di pelukan Liu Meng'er.
Liu Meng'er melihat perkamen itu dan matanya seketika melebar. Napasnya tercekat.
Bukan Surat Persetujuan Pembatalan Pertunangan.
Di bagian paling atas, tertulis dengan huruf merah yang menyolok: SURAT CERAI.
"Aku, Lin Chen, hari ini secara resmi menceraikan dan membuang Liu Meng'er dari Keluarga Lin. Mulai hari ini, jalan kita terpisah seperti air dan api. Ditulis oleh: Lin Chen."
"K-Kau... Kau menceraikanku?!" Wajah Liu Meng'er memerah karena marah dan rasa malu yang luar biasa. Di dunia kultivasi, seorang wanita yang diceraikan atau dibuang secara sepihak oleh pihak pria adalah aib yang sangat besar. Terutama karena yang membuangnya adalah seorang yang dianggap "sampah"!
"Bocah kurang ajar! Kau berani mempermalukan muridku?!" Tetua Bai tidak bisa lagi menahan amarahnya. Ia mengangkat telapak tangannya, bersiap menghancurkan Lin Chen menjadi kabut darah.
Namun, di saat yang sama, Lin Chen mendongak. Untuk pertama kalinya sejak utusan itu tiba, ia melepaskan secercah kecil—hanya secercah—aura murni dari Meridian Naga miliknya dan mengarahkannya lurus ke mata Tetua Bai.
BOOM!
Di dalam mata Lin Chen, Tetua Bai seolah melihat seekor naga emas primordial yang raksasa sedang menatapnya dari kedalaman jurang kosmik kosmik. Kekuatan absolut purba yang sangat menakutkan itu menghantam jiwa sang Tetua.
Tetua Bai, seorang ahli Ranah Inti Emas, tiba-tiba tersedak napasnya sendiri. Wajahnya pucat pasi, dan ia terhuyung mundur setengah langkah. Telapak tangannya yang terangkat turun perlahan, bergetar tanpa bisa dikendalikan.
Apa... apa itu tadi?! Ilusi? Bukan... aura penindasan garis keturunan itu nyata! Siapa sebenarnya anak ini?! Batin Tetua Bai berteriak panik, keringat dingin membasahi punggungnya.
Aura itu hanya muncul sekilas sebelum Lin Chen kembali menyembunyikannya. Tidak ada orang lain di alun-alun yang merasakannya selain Tetua Bai.
"Ambil surat itu dan pergilah," ucap Lin Chen sambil memasukkan tangannya ke dalam saku jubahnya yang robek. Matanya menatap tajam ke arah Liu Meng'er dan Tetua Bai secara bergantian. "Sebulan dari sekarang adalah Turnamen Kota Awan Merah. Jika Sekte Pedang Awan Surgawi kalian tidak terima, kirimkan murid terbaik kalian ke sana. Aku, Lin Chen, akan menerima semua tantangan."
Liu Meng'er meremas 'Surat Cerai' itu hingga kusut. Dadanya naik turun menahan amarah. "Bagus... Sangat bagus, Lin Chen! Kau punya nyali besar. Aku tidak akan turun tangan sendiri untuk mengotori tanganku di Turnamen Kota nanti, tapi para murid luar dari Sekte kami akan membuatmu menyesali kesombonganmu hari ini!"
Liu Meng'er berbalik, menatap gurunya. "Guru, ayo kita pergi. Udara di tempat ini membuatku muak."
Tetua Bai masih terlihat sedikit terguncang, matanya menatap Lin Chen dengan kewaspadaan yang tidak wajar. Tanpa mengucapkan sepatah kata ancaman pun seperti yang biasa ia lakukan, ia memanggil bangau spiritualnya.
"Kita kembali."
Dalam sekejap, bangau perak raksasa itu mengepakkan sayapnya dan melesat ke langit, membawa utusan Sekte dan Tuan Kota pergi dari Kediaman Klan Lin, meninggalkan alun-alun yang kini dilanda badai kebisuan baru.