Di sebuah kafe kecil yang tidak pernah benar-benar sepi, dua dunia yang berbeda perlahan saling bersinggungan.
Clay—dingin, tenang, dan terbiasa menjaga jarak.
Nindi—jujur, tegas, dan tidak suka sesuatu yang menggantung tanpa kepastian.
Mereka tidak pernah merencanakan apa pun. Tidak pernah mencari satu sama lain.
Namun setiap hari yang sama, percakapan yang sederhana, dan kebetulan yang berulang, perlahan mengubah batas antara “sekadar bertemu” menjadi “tidak ingin kehilangan”.
Dan ketika akhirnya mereka memilih untuk saling menggenggam, mereka juga harus belajar satu hal:
bahwa mempertahankan seseorang tidak pernah sesederhana memilihnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fadiez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Pagi itu, Clay sudah berada di kafe. Seperti biasa. Ia berjalan bolak-balik di sepanjang meja bar, menyiapkan segala sesuatu sebelum kafe dibuka. Tangannya bergerak cepat dan teratur, seolah setiap gerakan sudah tertanam menjadi kebiasaan.
Mesin kopi dinyalakan. Suara dengung halus langsung memenuhi ruangan. Clay mulai menata peralatan. portafilter, cangkir, sendok, pitcher susu, semuanya disusun dengan posisi yang presisi. Tidak boleh ada yang miring. Tidak boleh ada yang salah tempat.
Ia mengambil biji kopi, memilahnya sekilas, lalu menuangkannya ke dalam grinder. Setelah itu, ia membaginya ke dalam beberapa toples kaca yang sudah diberi label.
Rapi. Bersih. Teratur.
Setelah selesai, Clay menuju dapur. Di sana, Maria sudah sibuk di depan oven. Aroma roti yang baru dipanggang langsung menyambutnya.
“Pagi, Clay. Kamu sudah selesai?” sapa Maria tanpa menoleh.
“Iya,” jawab Clay singkat. Matanya langsung menangkap sesuatu yang berbeda. “Hari ini kamu bikin lebih banyak roti?”
Di atas meja, beberapa loyang berjejer. Jumlahnya jelas lebih banyak dari biasanya.
“Iya. Kemarin Sonya yang minta,” jawab Maria. “Katanya mulai hari ini dia punya firasat bagus tentang kafe ini.
Clay mengangkat alis. Firasat?
“Kamu tahu, gadis Asia yang mau kerja di sini hari ini?” lanjut Maria. “Katanya dia cantik. Sonya yakin bakal banyak pelanggan baru karena dia.”
Clay mendecih pelan. Entah dari mana Sonya mendapat keyakinan seperti itu.
“Dan kalau kafe benar-benar ramai,” tambah Maria sambil tersenyum kecil, “kita bisa dapat bonus.”
Clay berhenti sejenak.
“Bukannya selama ini juga sudah ramai?” gumamnya. “Kenapa dia bersikap seolah-olah kafe ini sepi?”
Ada sedikit rasa tidak suka dalam nada suaranya. Seolah kerja kerasnya selama ini, tidak cukup dihargai.
Maria tersenyum tipis. “Aku juga tidak tahu. Tapi, aku mau minta tolong.”
Clay melirik.
“Katanya gadis itu cuma kerja di sini tiga bulan, sebelum kembali ke negaranya.”
Tiga bulan? Clay tidak tahu kenapa, tapi informasi itu membuatnya sedikit lega.
“Kalau selama tiga bulan ini kita dapat bonus terus,” suara Maria melembut, “itu bisa bantu biaya pengobatan Dion.”
Clay diam sejenak. Lalu mengangkat bahu.
“Asal kerjanya bagus.”
Maria tersenyum lega. “Clay, saat ini aku benar-benar mengandalkan kamu.”
Clay menyeringai tipis.
“Memang. Di dunia ini cuma aku yang bisa kamu andalkan.” Nada sombongnya masih ada. Tapi Maria tahu, itu hanya caranya berbicara.
“Ya, kali ini aku akui,” balas Maria ringan.
Clay tidak menjawab. Ia mengambil loyang roti.
“Aku tata di rak depan.”
“Oke. Terima kasih, tampan.”
Krincing!
Suara lonceng pintu berbunyi. Clay melirik sekilas. Maron masuk dengan langkah penuh semangat.
“Pagi, bung!” sapanya ceria. Namun belum sempat Clay menjawab, Maron sudah berdiri di depannya dan berpose.
“Coba lihat penampilanku hari ini.”
Clay menghentikan pekerjaannya sejenak. Ia menatap Maron dari ujung kepala sampai kaki. Baju yang dikenakan Maron penuh corak aneh, perpaduan warna mencolok dengan motif yang menyerupai bunga dan naga. Di kepalanya, terpasang semacam penutup kepala yang tidak kalah mencolok.
Clay mengernyit. “Kamu pakai apa?”
Maron tersenyum bangga. “Ini batik. Dan ini, blankon.”
Clay mencoba mengulang. “Batik? blankon?”Kedengarannya aneh di lidahnya.
“Iya. Dari Indonesia,” jelas Maron. “Aku beli khusus buat menyambut gadis itu.”
Clay memutar bola matanya. Lagi-lagi tentang gadis itu.
“Menurutmu, aku terlihat tampan, kan?” tanya Maron penuh harap.
Clay tidak menjawab. Ia kembali menata roti.
“Ck. Percuma tanya kamu,” gerutu Maron. “Lebih baik aku tanya Cris nanti.”
Krincing!
Pintu kembali terbuka. Cris masuk. Dan, penampilannya hampir sama persis dengan Maron. Batik. Blankon. Clay langsung menghela napas pelan.
“Hai, Clay. Gimana menurutmu penampilanku?” tanya Cris.
Clay bahkan tidak repot menjawab. Ia hanya mengibaskan tangan, tanda tidak tertarik.
“Dasar temperamental,” dengus Cris.
Clay tidak peduli.
Semua kembali sibuk. Clay dan Maria di area roti. Maron dan Cris menurunkan kursi dari atas meja.
Lalu terdengar lagi,
Krincing!
Suara pintu berbunyi lagi. Kali ini, semua orang menoleh. Sonya masuk. Dan di belakangnya, ada seorang gadis yang sedari tadi sudah di tunggu kedatangannya.
Untuk beberapa detik, suasana terasa berhenti. Maron dan Cris terpaku. Mata mereka membesar. Seolah waktu melambat. Gadis itu berdiri di sana dengan tenang. Dan cahaya pagi dari luar jatuh tepat ke wajahnya. Dan tanpa sadar, semua mata tertuju padanya.
“Guys, bisa kumpul sebentar?” suara Sonya memecah keheningan.
Maria langsung mendekat lebih dulu. Bahkan ia sudah tersenyum hangat dan memeluk gadis itu untuk menyambutnya.
“Wah, kalian pakai apa ini?” tanya Sonya sambil melihat Maron dan Cris.
“Batik dan blankon,” jawab gadis itu, tersenyum. Senyumnya ringan. Hangat. Dan manis.
“Oh man… dia tersenyum,” bisik Maron, nyaris memekik. “Cantik banget.”
“Aku suka lesung pipinya,” tambah Cris.
“Aku juga suka kulitmu,” sambung Maria.
Gadis itu tertawa kecil. “Terima kasih… aku jadi tersentuh.”
“Baiklah sudah cukup memujinya,” ujar Sonya. “Kita mulai perkenalan.” Ia menunjuk satu per satu.
“Ini Maron, ini Cris, ini Maria… dan itu Clay.”
Clay tetap berdiri di tempatnya. Diam. Tatapannya hanya sekilas.
“Dan ini, Nindi.”
Nindi tersenyum. “Senang bertemu kalian semua. Aku harap kita bisa dekat seperti keluarga.”
Maria langsung mengusap lengannya. “Di sini memang harus seperti keluarga.”
“Aku juga senang bertemu denganmu,” kata Cris.
Maron bahkan terlihat hampir terlalu bersemangat.
Sonya tersenyum puas. “Sepertinya kamu sudah diterima di sini.”
“Terima kasih,” jawab Nindi tulus.
“Baiklah, untuk seterusnya kalian bisa berkenalan sambil bekerja.” ujar Sonya. “Sekarang kalian bisa bubar.” Perintah Sonya kemudian.
Semua pun menurut dan langsung bubar.
Namun, Sonya kembali bersuara.
“Clay.”
Langkah Clay terhenti. Sonya menahannya, tidak membiarkan pemuda itu pergi begitu saja.
“Ingat pesanku kemarin,” ucap Sonya, kali ini dengan nada yang lebih tegas.
Clay menoleh sekilas. Tatapannya datar, nyaris tanpa ekspresi.
“Clay,” panggil Sonya lagi, memastikan ia benar-benar mendengar.
“Iya, aku tahu. Kamu tidak perlu khawatir,” sahut Clay singkat. Tanpa menunggu jawaban, ia kembali melangkah menuju tempatnya, seolah pembicaraan itu sudah selesai.
Sonya menghela napas pelan. “Oke… aku percaya padamu.”
Clay tidak menanggapi. Ia hanya berhenti sejenak, lalu mengalihkan pandangannya pada Nindi.
Saat itu pandangan mereka bertemu. Sedetik. Dua detik. Hingga akhirnya Nindi lebih dulu mengalihkan pandangannya dari Clay.
Clay tersenyum kecil.
Dia?
Ia memiringkan sedikit kepalanya, seperti mencoba menarik ingatan yang sempat tercecer. Cara Nindi menunduk itu… cara dia menghindari tatapan…
Pelan-pelan, sesuatu di kepalanya tersambung.
“Minimarket…” gumamnya hampir tak bersuara.
Senyum Clay berubah tipis, bukan lagi sekadar heran, tapi seperti seseorang yang akhirnya menemukan potongan yang hilang.
“Jadi kamu…”