Mentari, si gadis bar-bar kaya raya, dipaksa menukar gemerlap kelab malam dengan dinginnya lantai pesantren. Baginya, ini adalah hukuman mati, sampai ia bertemu Gus Zikri putra Kyai tampan yang sangat dingin dan selalu menjaga pandangan.
Merasa tertantang karena diabaikan, Mentari bertekad menaklukkan hati sang Gus. Namun, misinya tidak mudah. Ia harus menghadapi tiga teman sekamar yang ajaib: Fahma yang super lemot,Bondan yang genit mata keranjang, dan Hafizah yang hobi berceramah.
Di antara godaan pesona dan benteng iman, mampukah Mentari melelehkan hati Gus Zikri? Atau justru ia yang terjerat dalam sujud yang panjang?
"Satu misi gila: Membuat sang Gus jatuh cinta."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KATA PERTAMA DAN CEMBURU SANG IMAM
Pagi di Pesantren Al-Hidayah biasanya diisi dengan lantunan hafalan santri atau suara sapu lidi yang bergesekan dengan tanah. Namun, di kediaman Gus Zikri, suasana pagi ini jauh lebih tegang daripada ujian Imrithi. Muhammad Zayan Al-Fatih, yang kini sudah mulai bisa berdiri sambil berpegangan pada kaki meja, sedang menjadi pusat perhatian.
Mentari duduk bersila di atas karpet bulu, wajahnya penuh harap. "Ayo, sayang... bilang Um-mi... Um-mi..."
Gus Zikri, yang biasanya sangat berwibawa, kini ikut berjongkok di samping istrinya. Ia merapikan sorban kecil yang melingkar di leher Zayan. "Nak, panggil A-bi... A-bi... Ayo, nanti Abi belikan kitab kecil buat kamu coret-coret."
Zayan hanya mengerjapkan matanya yang bulat, menatap bergantian ke arah kedua orang tuanya sambil sesekali memasukkan mainan karet ke dalam mulutnya.
Tepat saat Zayan tampak sedang mengumpulkan napas untuk mengeluarkan suara, pintu rumah terbuka dengan suara keras.
"HALO EPRIBADEH! ONTI TERCANTIK DATANG!"
Bondan masuk dengan gaya bak model catwalk, mengenakan kemeja pantai bermotif bunga-bunga yang sangat mencolok di lingkungan pesantren. Di belakangnya, Fahma mengekor sambil membawa sekantong besar kerupuk kaleng.
"Bondan! Pelankan suaramu, Zayan sedang belajar bicara!" tegur Mentari gemas.
Bondan tidak peduli. Ia langsung berlutut di depan Zayan, mengeluarkan sebuah kacamata hitam kecil dari sakunya. "Zayan, liat onti Bondan. onti yang selalu kasih kamu biskuit enak diam-diam kalau Abi kamu lagi ceramah. Bilang... Bon-dan..."
Zikri mendengus pelan. "Bondan, tidak mungkin kata pertamanya adalah nama orang lain. Secara fitrah, dia akan memanggil orang tuanya."
Zayan tiba-tiba berhenti mengunyah mainannya. Ia menatap lurus ke arah Bondan yang sedang menjulurkan lidah dengan jenaka. Bibir mungil bayi itu mulai bergerak-gerak.
"A... Ba... Ba..." Zayan bergumam.
Mentari menahan napas. "Tuh, Mas! Mau bilang Abi kayaknya!"
Zikri sudah bersiap dengan senyum kemenangan. Namun, yang keluar dari mulut Zayan justru adalah:
"...Don! Don! BON-DAN!"
Hening seketika.
Bondan membeku, lalu sedetik kemudian ia melompat kegirangan sampai hampir menabrak lampu gantung. "ALLAHU AKBAR! GUE MENANG! ZAYAN BILANG NAMA GUE! REKOR DUNIA!"
Fahma ikut bertepuk tangan heboh. "Wah, keren! Zayan tahu siapa yang paling sering kasih hiburan gratis!"
Gus Zikri terdiam seribu bahasa. Ia perlahan berdiri, merapikan baju kokonya, lalu berjalan menuju rak kitab dengan langkah yang sangat kaku. Ada guncangan hebat pada wibawanya hari itu.
"Mas... Mas Zikri cemburu ya?" goda Mentari sambil berusaha menahan tawa melihat punggung suaminya yang tampak "ngambek".
"Saya tidak cemburu, Mentari. Saya hanya sedang berpikir... mungkin saya kurang intens membacakan doa di dekat telinganya," jawab Zikri dengan nada bicara yang dibuat seformal mungkin, meski hatinya sedikit retak.
Bondan semakin menjadi-jadi. Ia menggendong Zayan dan membawanya keliling ruangan. "Ayo Zayan, bilang lagi! Bon-dan cantik!"
"Don... dan... ten..." celoteh Zayan polos.
Zikri langsung berbalik. "Cukup, Bondan! Jangan ajari anak saya hal-hal yang tidak sesuai fakta!"
Malam harinya, setelah Bondan dan Fahma pulang, Gus Zikri melakukan "operasi senyap". Saat Mentari sedang mencuci botol susu di dapur, Zikri mendekati Zayan yang sedang asyik bermain dengan tasbih kayu milik Abinya.
"Zayan," bisik Zikri sangat pelan. "Panggil Abi. A-bi. Nanti kalau kamu sudah besar, seluruh perpustakaan ini milik kamu. Kamu mau apa saja Abi kasih, asal jangan panggil nama Bondan lagi."
Mentari mengintip dari balik pintu dapur, hatinya meleleh melihat Gus yang sangat disegani itu kini sedang melakukan "negosiasi" dengan bayi berusia delapan bulan.
"Mas, udah dong. Masih cemburu aja sama Bondan," ucap Mentari sambil masuk ke kamar.
Zikri menghela napas, menatap istrinya dengan tatapan melas. "Mentari, saya yang mengazankannya, saya yang membimbing akidahnya setiap malam, tapi kenapa nama pria berbaju bunga itu yang dia sebut pertama kali?"
Mentari memeluk lengan Zikri. "Itu karena Bondan itu lucu, Mas. Anak kecil suka hal-hal yang ekspresif. Tapi tenang aja, di hati Zayan, Mas tetep Imam nomor satu. Sama kayak di hati aku."
Keesokan subuhnya, saat Zikri bersiap berangkat ke masjid, ia merasakan tarikan kecil di ujung sarungnya. Zayan merangkak mendekatinya dengan mata yang masih mengantuk.
"A... bi..." ucap Zayan sangat pelan, hampir tak terdengar.
Zikri membeku. Ia berjongkok, mengangkat putranya tinggi-tinggi dengan raut wajah yang lebih bahagia daripada saat memenangkan debat hukum fikih. "Tadi dia bilang apa, Mentari? Kamu dengar?"
"Iya, Mas. Dia panggil Abi," jawab Mentari dengan senyum lebar.
Zikri mencium pipi Zayan berkali-kali. "Alhamdulillah... Ternyata anak Abi tahu mana prioritas."
Pagi itu, Gus Zikri berangkat ke masjid dengan langkah yang sangat ringan. Di teras, ia berpapasan dengan Bondan yang baru saja bangun tidur. Zikri menepuk pundak Bondan dengan senyum penuh kemenangan.
"Bondan, mulai hari ini, jadwal kunjunganmu dikurangi. Zayan harus fokus belajar bahasa yang lebih... berkualitas," ucap Zikri sambil berlalu.
Bondan melongo. "Yah! Gus! Masa baru sekali aja udah diskualifikasi!"
Di dalam rumah, Mentari tertawa kecil sambil menyiapkan sarapan. Ia menyadari satu hal: di balik gelar-gelar hebat dan wibawa yang tinggi, seorang Gus hanyalah seorang pria biasa yang hatinya bisa luluh dan cemburu hanya karena sepatah kata dari buah cintanya.