NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Pernikahan Palsu Kita

Rahasia Di Balik Pernikahan Palsu Kita

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Penyelamat / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Candra Arista

Pernikahan tanpa cinta adalah impian Alya, atau setidaknya itu yang dia pikirkan. Namun, apa yang akan terjadi jika suaminya menyimpan rahasia tentang dirinya sejak awal? Alya tidak terduga bahwa suaminya, Raka Pratama, adalah seorang yang dingin, berkuasa, dan tidak terlalu terbuka. Mereka menikah dengan kontrak, tapi dengan satu syarat yang tidak biasa: jangan pernah jatuh cinta. Apakah Alya dapat memenuhi syarat itu, ataukah cinta akan menghancurkan kontrak pernikahan mereka?
Ketika kebohongan berlangsung terus-menerus, batas antara apa yang palsu dan apa yang nyata mulai kabur. Alya harus menghadapi keputusan sulit: mempertahankan kebohongan yang telah ia jalankan atau meninggalkan pria yang telah berhasil memenangkan hatinya. Pernikahan ini tampaknya telah terjadwal dengan baik, tetapi ada satu hal yang tidak termasuk dalam kontrak: perasaan yang sebenarnya. Sekarang, Alya harus memilih antara kebenaran dan kebahagiaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candra Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 – Tatapan yang Sulit Dibaca

Hotel lokasi acara itu diadakan tampak mewah bahkan dari kejauhan.

Gedung tinggi yang didominasi kaca dan memancarkan cahaya keemasan itu menjulang gagah di pusat kota. Beberapa mobil mewah terparkir rapi di depan lobi, sementara para tamu tiba dengan busana formal yang sempurna dan senyuman yang terkesan mahal.

Alya seketika merasa gelisah begitu mobil mereka berhenti.

Ia menatap ke luar jendela dan menghela napas perlahan.

“Masih sempat kah saya melarikan diri?”

Raka yang duduk di sampingnya melirik sekilas.

“Tidak.”

Jawaban cepat itu membuat Alya menghela napas dalam.

“Tentu saja.”

Sebelum ia sempat mempersiapkan diri lebih lanjut, pintu mobil sudah dibukakan oleh seorang petugas hotel.

Raka keluar lebih dulu.

Kemudian, seperti biasa—

Ia mengulurkan tangan.

Alya menatap tangan itu sepersekian detik.

Entah mengapa, isyarat kecil itu mulai terasa janggal baginya. Sebab, meskipun semua ini hanyalah sandiwara, Raka selalu melakukannya dengan alami.

Seolah ia benar-benar seorang suami yang perhatian.

Alya akhirnya menerima uluran tangan itu dan turun dari mobil.

Jepretan kamera seketika menyambut mereka.

Beberapa wartawan ternyata masih menunggu sejak konferensi pers kemarin.

“Pak Raka!”

“Pak, apakah ini penampilan pertama Anda bersama istri setelah menikah?”

“Bu Alya, bagaimana perasaan Anda menjadi bagian keluarga Pratama?”

Alya spontan menegang.

Namun sebelum ia sempat panik, tangan Raka perlahan berpindah menuju punggung bagian bawahnya.

Sentuhan ringan.

Tapi cukup membuat Alya seketika tersadar.

Tenang.

Itu seperti pesan tak terucapkan dari pria itu.

Dan herannya… berhasil.

“Ayo,” kata Raka pelan.

Mereka masuk ke dalam hotel bersama-sama.

Begitu pintu lobi tertutup, suara jepretan kamera mulai mereda. Namun rasa gelisah Alya belum sepenuhnya hilang.

Ia melirik Raka.

“Kamu terbiasa dengan semua itu?”

“Ya.”

“Saya bisa gila jika harus hidup seperti ini setiap hari.”

“Karena Anda belum terbiasa.”

Alya menghela napas pelan.

“Dan apakah saya harus terbiasa?”

Raka menatap lurus ke depan.

“Kalau ingin bertahan di dunia saya, ya.”

Kalimat itu membuat Alya sedikit terdiam.

*Dunia saya.*

Entah mengapa, pria itu selalu berbicara seolah kehidupan mereka benar-benar berbeda.

Padahal sekarang mereka berada dalam satu pernikahan.

Meski palsu.

Lift khusus membawa mereka menuju ballroom di lantai atas. Begitu pintu terbuka, suara percakapan dan musik lembut seketika terdengar.

Ruangan itu dipenuhi tokoh-tokoh penting.

Para pebisnis.

Investor.

Dan para sosialita dengan busana glamor.

Alya seketika merasa minder.

Sangat tidak berarti.

Tatapan orang-orang mulai tertuju pada mereka begitu Raka masuk.

Beberapa terlihat terkejut.

Sebagian lainnya penasaran.

Dan Alya tahu persis alasannya.

Ia bukan berasal dari dunia ini.

Raka melangkah tenang melewati kerumunan, sementara Alya berusaha mengikuti tanpa menunjukkan kecanggungan.

“Pak Raka.”

Seorang pria paruh baya mendekat sambil tersenyum lebar.

“Selamat atas pernikahannya.”

“Terima kasih,” jawab Raka singkat.

Pria itu lalu menoleh pada Alya.

“Jadi ini istri Anda? Cantik sekali.”

Alya memaksakan senyum sopan.

“Terima kasih.”

“Maaf jika saya lancang,” lanjut pria itu sambil tertawa kecil, “tapi masyarakat benar-benar terkejut. Tiba-tiba sekali.”

Raka menanggapi dengan tenang, “Kami memang tidak suka mengekspos hubungan pribadi.”

Jawaban sempurna lagi.

Alya mulai menyadari bahwa pria ini sangat mahir menjaga citra.

Beberapa orang lain mulai mendekat.

Memberi selamat.

Basa-basi.

Menilai diam-diam.

Dan semakin lama Alya berdiri di sana, semakin ia merasa sedang diuji.

“Dia cantik, tapi tampaknya bukan dari kalangan biasa.”

Bisikan kecil itu terdengar jelas di telinga Alya.

Ia menegang sedikit.

“Pak Raka biasanya sangat selektif…”

“Mungkin cinta membuat orang berubah.”

Alya menunduk sedikit, pura-pura tidak mendengar.

Namun dalam hati, ia mulai tidak nyaman.

Tatapan orang-orang ini berbeda.

Bukan sekadar penasaran.

Tapi seperti sedang mengukur apakah dirinya pantas berdiri di samping Raka atau tidak.

Dan mungkin…

Menurut mereka, Alya tidak pantas.

Tiba-tiba sebuah suara wanita terdengar dari belakang.

“Raka.”

Suasana seketika berubah.

Alya bisa merasakannya bahkan sebelum menoleh.

Dan ketika ia akhirnya melihat wanita itu—

Ia seketika mengerti alasannya.

Wanita itu sangat cantik.

Tinggi, elegan, dengan gaun merah tua yang membentuk lekuk tubuh yang sempurna. Rambut hitam panjangnya terurai rapi di bahu, sementara senyumnya memancarkan kepercayaan diri.

Namun matanya—

Matanya seketika tertuju tajam pada Alya.

“Akhirnya kamu datang juga,” katanya sambil mendekat perlahan.

Raka tetap tenang.

Namun Alya menangkap perubahan kecil di wajah pria itu.

Sedikit lebih dingin dari biasanya.

“Vanessa,” ucap Raka datar.

Jadi ini dia.

Mantan tunangan itu.

Vanessa tersenyum tipis.

“Kamu bahkan tidak memberi kabar bahwa kamu akan menikah.”

“Saya rasa itu bukan kewajiban saya.”

Jawaban Raka begitu tajam sehingga beberapa orang di sekitar seketika terdiam.

Namun Vanessa tidak terlihat terganggu.

Ia justru tertawa kecil.

“Masih sama seperti dulu.”

Kemudian, ia menoleh pada Alya.

Tatapan mereka bertemu.

Dan Alya seketika merasakan sesuatu yang tidak nyaman.

Tatapan itu terlalu tajam untuk disebut ramah.

“Jadi kamu Alya,” katanya sambil tersenyum tipis. “Istri baru Raka.”

Alya memaksakan senyum sopan.

“Ya.”

Vanessa mengamati Alya beberapa detik.

Dari ujung kepala sampai kaki.

Dan Alya membenci cara wanita itu menilainya.

“Menarik,” gumam Vanessa pelan.

Alya mengernyit sedikit.

“Apa maksudnya?”

“Tidak ada.” Vanessa tersenyum manis. “Saya hanya tidak menyangka selera Raka berubah sejauh ini.”

Kalimat itu terdengar halus.

Namun jelas sebuah sindiran.

Alya seketika merasakannya.

Dan sebelum ia sempat membalas, Raka berbicara lebih dulu.

“Cukup, Vanessa.”

Nada suaranya rendah.

Tapi jelas sebuah peringatan.

Vanessa mengangkat kedua tangannya pura-pura tidak bersalah.

“Saya hanya bercanda.”

Namun matanya masih tertuju pada Alya.

Dan tatapan itu penuh arti.

“Saya harap Anda bisa bertahan,” katanya pelan. “Dunia Raka tidak mudah.”

Alya menahan napas.

Kalimat itu terdengar seperti ancaman terselubung.

Atau mungkin… peringatan.

Raka tiba-tiba berdiri sedikit lebih dekat dengan Alya.

Isyarat kecil.

Tapi cukup jelas.

Protektif.

“Dia tidak perlu pendapat Anda,” kata Raka dingin.

Untuk pertama kalinya, senyum Vanessa sedikit memudar.

Namun hanya sesaat.

“Baiklah,” katanya santai. “Kita pasti akan sering bertemu mulai sekarang.”

Kemudian ia pergi begitu saja.

Meninggalkan suasana canggung di belakangnya.

Alya baru menyadari bahwa jantungnya berdetak cukup cepat.

Wanita itu…

Berbahaya.

“Apa ia selalu seperti itu?” tanya Alya pelan setelah Vanessa menjauh.

“Ya.”

Jawaban singkat.

“Dan Anda dulu mau menikah dengannya?”

Raka menoleh.

Tatapan mereka bertemu beberapa detik.

Kemudian pria itu berkata tenang—

“Itu masa lalu.”

Entah mengapa, jawaban itu membuat Alya sedikit lega.

Padahal seharusnya tidak penting.

Namun sebelum ia sempat memahami perasaannya, seorang pria lain mendekat dan mulai mengajak Raka berbicara soal bisnis.

Alya akhirnya berdiri diam di sampingnya sambil memperhatikan sekitar.

Sampai tanpa sadar—

Ia mulai memperhatikan Raka.

Cara pria itu berbicara.

Cara ia mengendalikan percakapan.

Cara semua orang tampak menghormatinya.

Raka memang dingin.

Sulit ditebak.

Tapi ada sesuatu dalam dirinya yang membuat orang secara otomatis memperhatikannya.

Dan untuk pertama kalinya—

Alya mulai memahami mengapa wanita seperti Vanessa masih belum bisa melupakan Raka.

Karena pria itu seperti teka-teki.

Semakin dingin ia terlihat…

Semakin membuat orang ingin mendekat.

Tiba-tiba Raka menoleh.

Tatapan mereka bertemu secara langsung.

Dan Alya baru menyadari—

Sejak tadi ia memperhatikan pria itu terlalu lama.

“Ada apa?” tanya Raka pelan.

Alya langsung salah tingkah.

“Tidak ada.”

Namun sudut bibir Raka bergerak tipis.

Hampir seperti senyum kecil.

Dan entah mengapa—

Tatapan pria itu tiba-tiba terasa jauh lebih sulit dibaca daripada sebelumnya.

1
Mtch🍃
Tiba tibaaa bngt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!