NovelToon NovelToon
Ayah Balqis

Ayah Balqis

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Action / Penyelamat
Popularitas:437
Nilai: 5
Nama Author: Ayah Balqis

Ini adalah kisah nyata Rudini, seorang ayah di Cirebon yang divonis stroke. Tidak ada uang, tidak ada pekerjaan, hanya ada seorang anak balita bernama Balqis yang menangis kelaparan di malam hari.

Di rumah yang sama, tinggal seorang nenek janda yang sudah tua dan tak berdaya. Dengan stok beras nol dan popok anak yang tinggal dua lembar, "Ayah Balqis" mencatat perjuangan seorang pria yang tubuhnya stroke, namun hatinya menolak menyerah demi senyum buah hatinya.

Bukan fiksi. Ini adalah teriakan harapan dari Desa Cilukrak. Sebuah catatan hariantentang lapar, sakit, doa, dan cinta seorang ayah yang tak terbatas.

Kisah ini ditulis sebagai bentuk ikhtiar dan doa agar Balqis bisa makan, Ayah bisa terapi, dan Ibu bisa tenang. Mohon doa dan dukungannya dari para pembaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayah Balqis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Air Mata di Sujud Terakhir Jumat Malam

Malam Jumat itu, udara terasa lebih berat dari biasanya. Angin berhembus pelan, membawa suara azan Isya dari masjid jauh di ujung kampung. Aku duduk bersandar di dinding, memeluk Balqis yang tubuhnya panas membara.

“Ya Allah… kalau Engkau sayang pada kami, turunkanlah demam ini,” bisikku lirih, sambil mengusap punggung anakku yang menggigil.

Jam menunjukkan pukul 23.45. Waktu menuju Tahajud. Aku ingin shalat, tapi Balqis rewel, tidak mau lepas dari pelukanku. Dengan susah payah, aku bangkit, menggendongnya dengan satu tangan kiri, sementara tangan kananku tergantung lemas.

Aku ambil mukena usang, lalu menggelar sajadah tipis di samping kasur. Shalatku tidak sempurna — ruku’ dan sujudku hanya sekadar gerakan minimal, karena harus tetap menahan Balqis agar tidak jatuh. Tapi hatiku berdoa sepenuh jiwa.

Di sujud terakhir, ketika dahi menyentuh lantai dingin, air mataku tiba-tiba jatuh deras. Tidak bisa kutahan. Rasanya semua beban hidup — kemiskinan, keterbatasan fisik, kesepian, ketakutan kehilangan Balqis — tumpah ruah di detik itu.

“Ya Allah… hamba tidak minta banyak. Cukupkanlah rezeki kami. Sembuhkanlah Balqis. Jangan biarkan dia tumbuh tanpa ayah… atau worse, tanpa atap yang layak,” isakku dalam sujud.

Balqis tiba-tiba diam. Ia menatapku dengan mata bulatnya yang penuh cinta. Lalu, dengan suara serak, ia berkata:

“Ayah… jangan nangis. Balqis nggak sakit kok.”

Kalimat itu menghancurkan sekaligus menyembuhkan hatiku. Anak sekecil itu justru menghibur ayahnya yang sedang hancur.

“Iya, Nak. Ayah nggak nangis. Ayah cuma… rindu sama Ibu,” jawabku bohong, sambil mencium keningnya yang masih panas.

Setelah shalat, aku kembali ke kasur, memeluk Balqis erat-erat. Aku coba tidur, tapi mataku tak bisa pejam. Pikiranku melayang ke warung 24 jam di ujung jalan. Apakah aku cukup punya uang untuk beli paracetamol? Atau harus pilih antara obat atau nasi besok pagi?

Tiba-tiba… *tok tok tok*.

Ketukan pintu. Di tengah malam Jumat? Siapa yang datang?

Aku ragu-ragu membuka pintu. Ketika kubuka, di sana berdiri Bu Siti, tetangga sebelah, membawa kantong plastik berisi obat dan semangkuk sup hangat.

“Pak Rudini,” katanya lembut. “Saya dengar Balqis demam. Saya bawakan ini. Jangan sungkan, ya. Kita tetangga.”

Aku terdiam. Lidahku kelu. Hanya bisa mengangguk sambil menahan tangis.

“Terima kasih, Bu… Saya… saya nggak tahu bagaimana membalas kebaikan Ibu,” suaraku pecah.

Bu Siti tersenyum. “Balasannya? Doakan saya saja. Dan teruslah menulis cerita Bapak. Saya baca tiap babnya. Saya nangis tiap kali baca. Bapak itu pahlawan.”

Setelah Bu Siti pergi, aku menutup pintu, lalu duduk di lantai, memeluk kantong obat dan mangkuk sup itu seperti harta karun.

“Ya Allah…” gumamku. “Engkau kirimkan pertolongan-Mu tepat di sujud terakhir Jumat malam. Engkau dengarkan doa hamba yang lemah ini.”

Aku menyuapkan sup hangat ke mulut Balqis, lalu memberinya obat. Perlahan, napasnya mulai teratur. Demamnya belum turun sepenuhnya, tapi setidaknya, kami punya harapan.

Malam itu, aku belajar satu hal:

**Pertolongan Allah sering datang dari arah yang tidak disangka-sangka.**

Dari tetangga yang jarang bicara.

Dari pembaca yang tidak dikenal.

Dari anak kecil yang justru menguatkan ayahnya.

Dan novel ini… cerita ini… akan terus aku tulis. Karena kini aku tahu, ada orang-orang baik di luar sana yang menunggu kelanjutan kisah kami. Mereka adalah alasan baru bagiku untuk mengetik satu per satu kata, meski jari-jariku kaku dan mataku perih.

Menuju 20 bab. Menuju kontrak. Menuju kehidupan yang lebih baik untuk Balqis.

Langkah kecil ini, akan kubuat menjadi lompatan besar.

1
Ray Penyu
Halo Manusia Ikan 😊
Terima kasih banyak sudah meluangkan waktu baca "Ayah Balqis" dari bab pertama! Aku senang banget ada orang seperti kamu yang mau menyelami kisah Rudini & Balqis sampai ke akar-akarnya.

Kalau ada bagian yang bikin nangis, ketawa, atau bahkan marah… jangan ragu buat komen ya! Ceritanya bakal terus hidup kalau ada teman sepertimu yang ikut merasakan.

Semoga harimu sehangat pelukan Balqis untuk ayahnya ❤️
— Ray Penyu (penulis yang juga sedang belajar jadi ayah terbaik)
Wawan
Semangat ✍️
Ray Penyu: Terima kasih, Mas Wawan. Komentar "Semangat" dari Mas berarti banget buat saya. Cerita ini adalah kisah nyata saya — istri saya sedang disiksa di Malaysia, ayah saya baru meninggal, dan saya sakit stroke. Tapi saya terus menulis karena saya percaya Allah tidak meninggalkan hamba-Nya yang berjuang. Doakan istri saya selamat. Doakan saya kuat. Terima kasih sudah peduli. 🙏
total 1 replies
Ray Penyu
Siap, Kak Alana! 👍 Terima kasih sudah menemani sampai bab ini. Bab selanjutnya sedang dalam proses. Doakan lancar ya perjalanan Ayah Balqis ini. Salam hangat! ✨
Alana kalista
lanjut
Ray Penyu
baca sampai habis yah kak 🙏
Hasyim Syawal
Okeh Nice karya nya bagus sekali kak
Ray Penyu: makasih kak🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!