NovelToon NovelToon
Cinta Yang Ku Beli Dengan Air Mata.

Cinta Yang Ku Beli Dengan Air Mata.

Status: sedang berlangsung
Genre:Bapak rumah tangga / Keluarga / Cerai
Popularitas:870
Nilai: 5
Nama Author: Widianti dia

Satria tidak pernah meminta hidup yang mudah.*
> *Ia hanya ingin satu hal sederhana: dicintai dan dihargai.*
> *Tapi di hari ia datang melamar perempuan yang ia cintai,*
> *yang ia dapat bukan jawaban…*
> *melainkan ludah di kakinya dan tawa yang merobek harga dirinya.*
>
> *Dari situlah semuanya dimulai.*
> *Ia bangkit. Membangun hidup dari nol dengan gerobak cilok dan tangan yang kapalan.*
> *Sampai akhirnya ia bertemu perempuan yang ia kira adalah jawaban dari doanya.*
> *Ternyata… itu awal dari penjara.*
>
> *Enam tahun hidup dalam hinaan.*
> *Enam tahun menahan luka yang tidak terlihat.*
> *Enam tahun bertahan — bukan karena kuat,*
> *tapi karena ada satu anak kecil yang setiap hari berkata:*
> *"Ayah jangan sedih… Aini sayang Ayah."*
>
> *Karena pada akhirnya, bukan soal seberapa lama kita bertahan —*
> *tapi untuk siapa kita memilih untuk tetap hidup.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widianti dia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5. Menunggu Di Gerbang Pabrik.

Ibu membangunkanku jam setengah lima.

Bukan diketuk. Bukan dipanggil dari luar. Tapi caranya yang lama, cara yang sudah dilakukannya sejak aku kecil, tangannya menyentuh bahuku pelan-pelan, digoyang pelan, sampai aku membuka mata sendiri. Tidak ada yang dipaksakan. Tidak ada yang tergesa.

"Subuh, Nak."

Dua kata. Itu saja.

Aku bangun. Kepalaku masih berat dari semalam, dari semua yang terjadi kemarin, dari lumpur dan hujan dan makam Bapak dan tangan yang berdarah, tapi aku bangun juga. Ambil wudu di kamar mandi yang catnya sudah mengelupas di sudut bawah. Air dari keran selalu dingin di pagi hari, dan pagi ini terasa lebih dingin dari biasanya, atau mungkin itu cuma perasaanku saja.

Kami shalat bertiga. Aku, Ibu, Agung.

Aku yang jadi imam.

Waktu pertama kali Ibu minta aku jadi imam setelah Bapak pergi, aku hampir menolak. Rasanya tidak pantas. Rasanya ada sesuatu yang salah dengan konfigurasi itu, anak SMP berdiri di depan ibunya sendiri dan memimpin shalat, seolah ada peran yang tertukar dan tidak ada yang mau mengakuinya. Tapi Ibu bilang dengan tenang, "Kamu laki-laki tertua di rumah ini sekarang, Tri. Itu artinya kamu imamnya." Dan aku tidak bisa membantahnya, jadi aku berdiri di depan, dan Ibu dan Agung berdiri di belakang, dan aku baca surah dengan suara yang waktu itu masih agak gemetar karena tidak biasa.

Sekarang sudah tidak gemetar lagi. Sudah biasa. Lima tahun sudah sangat cukup untuk membuat sesuatu yang tadinya berat jadi terasa seperti bagian dari napas.

Tapi pagi ini terasa beda lagi.

Mungkin karena aku tahu hari ini aku akan ke mana.

Selesai shalat, Ibu menyeduh teh. Aku duduk di meja makan yang kecil itu, makan nasi sisa semalam yang digoreng Ibu dengan telur dan sedikit kecap. Agung makan sambil ngantuk, kepalanya hampir jatuh ke piring dua kali. Normal. Biasa. Pagi seperti pagi-pagi yang lain.

Tapi tidak.

Aku makan pelan. Mengunyah tapi tidak benar-benar merasakan rasanya. Kepalaku sudah di tempat lain. Di gerbang pabrik garmen di Jalan Raya Cimahi. Di wajah yang belum aku lihat sejak kemarin pagi. Di kalimat yang sudah aku susun dan hancurkan dan susun lagi dari semalam tapi tidak pernah terasa cukup.

"Mau ke mana hari ini?" Ibu bertanya tanpa menatapku, fokus ke kompor.

Aku berhenti mengunyah sebentar.

"Ada yang mau aku urus dulu, Ma."

Ibu tidak bertanya lebih lanjut. Beliau tahu. Ibu selalu tahu hal-hal yang tidak aku ucapkan, entah dari mana beliau dapat kemampuan itu, tapi sudah dari dulu begitu. Beliau cuma mengangguk pelan dan mengangkat piring Agung yang sudah kosong.

Aku berangkat jam delapan.

Motor tuaku, Yamaha tua yang catnya sudah belang dan knalpotnya suka batuk kalau pertama dinyalakan, butuh tiga kali kick starter sebelum mau hidup. Helm butut yang visiernya retak di sudut kanan bawah aku pakai seperti biasa. Sudah lama mau beli yang baru tapi selalu ada keperluan yang lebih mendesak.

Pabrik garmen itu jam istirahat siang jam dua belas.

Aku sampai jam sebelas lewat sedikit.

Jadi aku menunggu.

Di tepi jalan di depan gerbang pabrik yang besar itu, dengan motor diparkir di bawah pohon akasia yang rindang, aku duduk di jok dan menunggu. Satu jam. Lebih. Buruh-buruh pabrik yang keluar-masuk lewat pintu samping melirikku sebentar lalu tidak peduli. Satpam di pos sudah dua kali menatapku dengan tatapan "kamu mau apa" tapi tidak sampai mendatangi.

Aku menunggu.

Bukan untuk merebut. Bukan untuk berkelahi. Bukan untuk mengubah apa yang sudah terjadi kemarin karena itu tidak bisa diubah, tidak ada yang bisa kembali ke teras rumah Pak Hendra dan mengulang adegan itu dengan akhir yang berbeda.

Aku cuma perlu berpamitan dengan benar.

Itu saja. Hanya itu.

Karena kemarin dia tidak ada. Dia tidak tahu apa yang terjadi. Dan aku tidak bisa pergi begitu saja dari hidupnya tanpa bilang apa-apa, tanpa menjelaskan, tanpa memberi dia kesempatan untuk tahu. Itu tidak adil. Dan apapun yang terjadi, aku tidak mau jadi tidak adil ke Aisyah.

Jam dua belas kurang sepuluh, gerbang pabrik mulai ramai.

Perempuan-perempuan dengan seragam biru keluar berduyun-duyun, beberapa langsung ke kantin seberang, beberapa buka bekal di trotoar, beberapa langsung ke warung makan di sebelah kiri. Suara tawa dan obrolan dan sandal yang bergesekan dengan aspal.

Dan di antara semua itu, aku melihat dia.

Aisyah.

Rambut hitamnya diikat ke belakang, seragam biru yang sedikit kebesaran di bahunya karena badannya memang kecil, sepatu kets putih yang sudah agak kekuningan. Dia jalan sambil ngobrol sama temannya, kepalanya menunduk, tidak lihat ke arahku.

Aku tidak panggil.

Cuma berdiri.

Dan mungkin karena itu, mungkin karena ada sesuatu yang membuat orang tanpa sadar menoleh ketika seseorang menatap mereka terlalu lama, Aisyah mengangkat kepalanya.

Matanya ketemu mataku.

Satu detik. Dua detik.

Wajahnya berubah.

Temannya bilang sesuatu tapi Aisyah sudah tidak mendengar. Dia berjalan ke arahku, makin cepat, sampai hampir berlari, dan waktu dia sampai dua langkah di depanku, matanya sudah basah.

"Tria..."

Suaranya pecah di nama itu.

"Bapak bilang apa ke kamu? Tria, aku baru tahu tadi malam waktu pulang, Bapak bilang kamu datang dan dia... dia bilang kamu pergi sendiri, dan aku coba hubungi tapi..."

"Syah." Aku memotong pelan.

Dia berhenti.

Matanya menatapku dengan sesuatu yang sangat susah aku hadapi. Sesuatu campuran antara harap dan takut, campuran antara mau dengar dan tidak mau dengar, campuran antara tahu jawabannya tapi masih menunggu siapa tahu salah.

"Aku ke sini cuma mau pamit."

Kalimat itu keluar lebih tenang dari yang aku sangka. Terlalu tenang, mungkin. Tapi kalau aku tidak membuatnya setenang itu, aku tidak akan bisa menyelesaikannya.

Aisyah menggeleng. Cepat.

"Jangan. Tria, jangan. Kita pergi aja. Kita pergi dari sini, aku gak peduli Bapak, kita bisa hidup bersama, aku mau kerja, kamu kerja, kita bisa. Kita bisa bangun sendiri. Mau ya, Tria, please..."

Suaranya makin retak di kata-kata terakhir itu.

Dan aku ingin bilang iya.

Sekujur tubuhku ingin bilang iya. Ingin bilang "oke, ayo pergi, aku tidak peduli juga, yang penting kamu ada di sana." Bagian itu ada dan nyata dan menyakitkan karena ada.

Tapi aku menggeleng.

"Aku gak mau jadi alasan kamu terputus dari keluarga kamu, Syah."

"Itu keputusanku sendiri, bukan kamu yang—"

"Aku tahu." Aku memotong lagi. Lebih pelan. "Aku tahu itu keputusanmu. Tapi kalau kamu putus dari keluargamu karena aku, dan nanti ada waktu di mana hidup kita susah, kamu akan inget keputusan itu. Kamu akan inget kamu meninggalkan semuanya untuk laki-laki yang bahkan belum bisa kasih kamu apa-apa yang layak. Dan aku tidak mau kamu menanggung itu."

Aisyah diam.

Bibirnya gemetar.

"Apa kamu benar-benar mencintaiku?" suaranya hampir habis. "Seperti janjimu dulu? Apa semua itu... apa semua itu nyata?"

Dadaku terasa seperti ada yang meremukkannya dari dalam.

"Nyata."

Satu kata. Dan itu yang paling menyakitkan karena itu benar.

"Kalau nyata, kenapa kamu mau pergi?"

"Karena," aku berhenti, mengambil napas, "kadang mencintai seseorang bukan berarti tetap ada. Kadang mencintai seseorang artinya kamu tahu kapan harus pergi."

Aisyah menunduk.

Bahunya naik turun.

"Maafkan aku, Syah. Aku memilih pergi dari hidupmu."

"Jangan." Kepalanya masih tunduk. "Tria, jangan. Kumohon, kamu harus kuat. Semakin kuat ujian kita, semakin kuat juga hubungan kita. Kamu pernah bilang itu ke aku dua tahun lalu waktu kita berantem dan mau putus. Kamu yang bilang itu."

Aku ingat.

Tentu saja aku ingat.

Dan momen itu, momen waktu kata-kataku sendiri dikembalikan ke aku oleh orang yang paling aku sayangi, adalah salah satu momen paling kejam yang pernah aku alami. Karena tidak ada yang bisa aku lakukan dengan itu. Tidak bisa aku bantah. Tidak bisa aku pura-pura tidak ingat.

Aku memasukkan tangan ke saku celana.

Cincin itu.

Cincin yang seharusnya jadi pertanda niat kemarin, yang seharusnya ada di tangan Pak Hendra bukan di sakuku, yang sudah semalam aku genggam di jembatan dan di makam dan di dalam rumah. Aku keluarkan.

Aisyah menatapnya.

"Ini bukan lamaran," aku bilang pelan. "Sudah tidak mungkin jadi lamaran. Tapi... simpan ini. Bukan karena apa-apa. Cuma supaya kamu tahu bahwa kemarin itu nyata. Bahwa aku datang dengan serius. Bahwa empat tahun kita itu bukan main-main."

Aisyah tidak mengambilnya langsung.

Tangannya naik ke mulutnya, menekan bibirnya sendiri, matanya sudah tidak bisa menahan lagi dan airnya jatuh, tidak satu-satu tapi sekaligus, tanpa suara.

Aku letakkan cincin itu pelan di telapak tangannya.

Menutup jari-jarinya di atasnya.

Lalu aku lepaskan.

Aku berbalik ke motor.

"Tria."

Aku tidak berhenti.

"Tria!"

Tangannya menyambar lengan kananku dari belakang. Cengkeramannya kuat, lebih kuat dari yang aku kira untuk tangan sekecil itu. Aku berhenti. Tapi tidak berbalik.

"Jangan pergi kayak gini. Jangan. Bilang ke aku ini bukan akhirnya. Bilang apapun. Bilang kamu akan balik. Bilang apapun, Tria, please."

Tangannya di lenganku. Aku bisa merasakannya gemetar.

Aku melepaskan genggamannya.

Pelan. Perlahan. Satu jari, dua jari, tiga jari. Seperti melepaskan sesuatu yang kalau dilepas cepat-cepat akan terasa lebih kejam dari yang sudah terlanjur kejam ini.

Aku pasang helm.

Visier yang retak itu turun menutupi wajahku.

Dan di balik retak di sudut kanan bawah itu, di balik plastik buram yang sudah lama minta diganti, air mataku akhirnya jatuh juga. Diam-diam. Tanpa suara. Mengalir sendiri di pipi yang tidak bisa dilihat siapapun dari luar.

Ini cara pengecutku.

Menangis di tempat yang tidak ada yang bisa lihat. Karena di luar visier ini, Aisyah masih berdiri di sana, dengan cincin di genggaman dan bahu yang turun dan mata yang sudah tidak bisa lebih basah lagi, dan dia tidak boleh tahu aku sama hancurnya.

Aku nyalakan motor.

Satu kali kick starter. Dua kali. Tiga kali baru hidup, seperti biasa.

Aku tidak menoleh.

Aku tidak bisa.

Karena aku tahu kalau aku menoleh satu kali saja, melihat wajahnya satu kali lagi, semua keputusan yang baru saja kuambil dengan susah payah itu akan runtuh dalam satu detik dan aku tidak akan punya sisa kekuatan untuk membangunnya lagi.

Jadi aku tidak menoleh.

Aku jalan terus.

Motor tuaku meninggalkan bayangan Aisyah yang makin kecil di kaca spion yang retak, sampai akhirnya tikungan mengambilnya dari pandangan dan tidak ada lagi yang bisa dilihat selain jalan di depan.

Air mata di balik visier itu terus mengalir sampai kampung.

Tidak ada yang tahu.

Tidak ada yang perlu tahu.

1
ASASTA
😄😄
tria123
ruqiyah aja tad si nirmala setan nya banyak
tria123
kasih aku waktu... demi si toxic.. pertahankan aja si toxic
tria123
udah mending cerai, nikahi sonia dan lo nanti bisa nyanyi "kubuat pagar besi yang mengelilingi dirimu... "
tria123
saya mencium perselingkuhan nih
tria123
bang bang kalima-lima gobang bang
tria123
paling gak suka sama perilaku seperti itu, emangnya esok nya masalah selesai ketika lo mati bundir, enggaklah..
yang ada makin rumit
uang bisa di cari
tria123
kebiasaan warga Konoha nih, ekonomi sulit gaya elit akhirnya hutang melangit
tria123
bemo oh bemo... 🤣
tria123
peran pelawak nih si bemo
tria123
haji udin aja baik, masa istri sendiri pelit, udah lah ceraikan nirmala nikahi haji udin ehh... 🤣
tria123
dan kedepan nya lo gak dapat lagi rezeki, karena rezeki yang lo dapat gak di Terima secara ikhlas, liat aja hukum karma nya
tria123
dasar anak daj**, masih kecil udah bicara kayak gitu ampun generasi anak Konoha
tria123
istri macam apa kamu 🤭🤣
tria123
hahahahah, denger kalo mau makan enak yaudah lahiran di warteg atau di warung nasi padang, nama nya juga rumah sakit
tria123
makanya dengerin nasihat ibu, cerita ini ada makna dan nasihat tertentu tentang firasat seorang ibu
tria123
tolol🤣, firasat ibu gak salah, dengerin dia yang ngelahirin lo
tria123
cerita nya bagus.. drama kehidupan nya berasa nyata dan semoga satria bisa bangkit dan sukses jangan gampang nyerah

pesan buat author tetap berkarya jangan buat lelaki lemah.. lelaki harus istiqomah dan kuat pentingkan perasaaan sendiri bukan orang lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!