Naima, seorang gadis cantik yang hidup sederhana di desa terpencil, harus menghadapi kenyataan pahit saat ayahnya yang buta. meninggal dunia dan ibunya mengalami depresi berat hingga harus dirawat di rumah sakit jiwa. Di tengah keterpurukannya, takdir justru mempertemukannya dengan Sean, seorang pria kaya raya yang memiliki kepribadian dingin.
Akankah pertemuan ini menjadi awal kebahagiaan baru bagi Naima, atau justru membawanya ke dalam lika-liku kehidupan yang lebih rumit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon i'm gresya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bertemu dia lagi
naima yang merasa bosan di villa, memutuskan untuk keluar jalan jalan di luar villa.
"indah sekali pemandangannya jika dilihat dari dekat seperti ini. kenapa tania malah tidak suka dengan villa ini" ucap naima memandang sekeliling villa.
naima kembali berjalan ke arah yang lebih jauh dari villa, tanpa sadar bahwa dirinya telah sampai ke jalan raya.
naima yang masih belum sadar telah jauh dari villa, terus berjalan sambil melihat lihat sekelilingnya. matanya lalu berfokus pada penjual bakpao. naima ingin sekali memakan bakpao itu, tapi dia tidak memiliki uang.
naima terus melihat penjual bakpao itu sampai tidak menyadari mobil dari kejauhan dengan kecepatan tinggi ingin menabrak dirinya. untungnya si pengendara langsung rem mendadak dan naima tidak terluka, hanya sedikit kaget dan takut saja.
si pengendara keluar dengan ekspresi marah pada naima.
"jika kau buta dan juga tuli setidaknya jangan berjalan di tengah jalan. apa kau tau jika aku tidak rem tadi kau bisa mati dan aku bisa masuk penjara.. aishhhhhh.. " marah si pengendara wanita itu pada naima.
naima menunduk, dan merasa bersalah pada wanita itu.
"kenapa kau diam saja, apa kau juga bisu haa.. " geram wanita itu pada naima.
naima menggeleng dan menatap wanita itu.
"maafkan aku kak, aku tidak tau tadi aku berjalan di tengah jalan. sekali lagi aku minta maaf" ucap naima menundukkan kepalanya sebagai tanda minta maaf pada wanita itu.
wanita itu hanya menatap naima dengan marah dan juga jijik, dia pergi tanpa mengatakan sepatah katapun pada naima.
naima menghela napas dan kambali berjalan pulang ke villa. untung saja naima ingat jalan pulang ke villa.
naima masuk ke villa mengunci pintunya, dia masuk ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya di kasur
dia ingat waktu di marahi tadi,
"aku memang pantas di marahi, aku terlalu bodoh untuk tinggal di sini" lirihnya sambil menutup matanya.
..
sean kembali ke rumahnya dan masuk ke kamarnya. di kamar sean memutuskan untuk mandi dan akan pergi ke suatu tempat untuk mencari logam berharganya.
shiren yang baru kembali dari luar untuk berbelanja, mengoceh tidak jelas setelah duduk di ruang tamu.
" dasar wanita bodoh, untung saja aku masih bisa rem mendadak tadi. kalau tidak aku bisa terkena masalah" oceh shiren mengingat kejadian tadi.
sean turun setelah siap berpakaian rapi. shiren melihatnya dan menegurnya.
"sean kau mau kemana lagi, bukankah Kau baru dari luar. " ucap shiren kepada sean.
sean berhenti setelah di panggil oleh shiren.
"aku ingin mencari barang berharga ku yang hilang" jawab sean datar dan pergi melangkah dari rumahnya.
..
sean menyalakan mesin mobilnya dan pergi dari halaman rumahnya.
naima yang baru selesai mandi, turun kebawah untuk memasak sesuatu untuknya makan.
tok... tok.. tok..
pintu villa di ketuk dari luar, naima yang baru selesai memasak dan ingin makan di kejutkan dengan suara ketukan itu.
naima berjalan pelan ke arah pintu dan tidak berani membukakan pintu itu. dia ingat kata kata tania sebelum pergi.
tok.. tok.. tok..
suara itu makin keras, naima terkejut dan berlari ke kamarnya untuk mengambil headphone nya untuk menelpon tania. tapi nomor tania tidak aktif, naima kembalikan turun ke bawah dan suara ketukan itu makin kencang.
"buka, jika tidak kami dobrak dari luar. kami tau kau bersembunyi di dalam" ucap pria itu dari luar.
naima makin takut, dia tidak punya pilihan. dia membuka pintu itu dan tampaklah dua pria berbadan besar dengan satu pria dengan berpakaian jas. di belakangnya ada satu lagi pria, tapi naima tidak bisa melihat wajahnya.
" ada apa tuan" ucap naima memberanikan diri bersuara.
pria yang berpakaian jas tadi langsung menyamping kan dirinya dan tampaklah sean dengan wajah tampannya dan pakaian rapih nya.
naima membulatkan matanya menatap sean yang berdiri nyata di hadapannya. dia memegang dadanya yang mendadak sakit, tapi dia tahan agar tidak terlihat lemah di hadapan mereka termaksud sean.
sean melihatnya datar ke arah naima dan seperti tidak mengenal naima yang pernah menghabiskan waktu panjang dengannya.
pria berjas tas membuka suaranya dengan sedikit santai agar naima tidak terlalu tegang melihat situasinya, mikael tau wanita di hadapannya itu pasti kaget melihat sean, seperti halnya dengan wanita lain yang menyukai sean.
"nona, kami datang kesini. untuk mengatakan suatu hal penting denganmu, apa kami bisa masuk kedalam" ucap Mikel kepada naima.
tapi, sebelum naima menjawab. sean membuka suaranya.
"tidak perlu meminta izin untuk masuk, karna aku bukan orang sembarangan. aku tidak suka merendah di hadapan orang yang rendah" ucap sean menatap naima yang sudah berkaca kaca.
mikael memegang pundak sean. tapi sean malah menatap tajam mikael seolah menyuruh mikael untuk diam.
tanpa izin dari tuan rumah, sean melangkah masuk ke dalam villa dan melewati naima yang berdiri di sampingnya.
sean tanpa sambutan dari naima, malah duduk di sofa sambil menatap tajam ke arah naima.
naima yang sudah tahan lagi menjatuhkan air matanya saat sean masuk kedalam. mikael yang melihat itu hanya bisa diam sambil. melihat ke arah naima. yang sudah di hina oleh sean tadi.
sean kembali bersuara membuat naima kaget dan segera menghapus air matanya.
" kenapa kau diam disitu, bukankah tadi asisten ku mengatakan. ingin membicarakan hal penting denganmu " ucap sean dengan nada yang sedikit meninggi.
naima berjalan ke arah sean dan menatapnya seolah tidak kenal dengan sean.
sean menatap sikap tenang naima dengan sedikit tersenyum jahat.
" berikan logam yang di berikan teman mu itu waktu di restoran " ucap sean the point dengan naima.
naima menatap heran sean.
"logam apa, aku tidak memiliki logam" jawab naima dengan datar pada sean.
sean berdiri dari duduknya berjalan mendekat ke arah naima dengan ekspresi marahnya.
"jangan berlagak sok tidak tau, logam yang waktu itu diberikan temanmu adalah milikku jadi sekarang aku minta kembalikan logam itu kepadaku kalau tidak kau tidak akan melihat hari esok lagi." ancam sean dengan menatap tajam bola mata naima.