Ini bukan kisah cinta yang indah dan damai, melainkan hubungan yang dibangun di atas kekuasaan, ketakutan, dan hasrat yang membara namun membinasakan.
Disclaimer: ini cerita pendek
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lusi rohmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TEMPAT YANG TAK TERDUGA
Sore harinya, matahari sudah mulai condong ke barat, menyebarkan cahaya jingga yang menerangi seluruh kota. Seperti yang dikatakan, Raka datang tepat waktu. Sebuah mobil berwarna hitam mengkilap berhenti di halaman rumah, dan ia turun dari dalam dengan pakaian santai tapi tetap terlihat berwibawa. Sekilas saja, orang akan mengira ia orang biasa yang punya kedudukan tinggi, tidak ada yang menyangka apa sebenarnya yang ada di balik sosoknya itu.
Alana sudah siap menunggu di ruang depan. Ia memakai baju yang sederhana saja, seperti yang diperintahkan. Hatinya berdebar kencang sejak tadi, campuran antara takut, cemas, dan juga perasaan aneh yang terus muncul tanpa diminta. Saat ia melangkah keluar dan bertemu pandang dengan Raka, ia langsung membuang muka, tidak sanggup menatap matanya terlalu lama.
“Kau datang juga,” ucap Raka saat berhadapan dengannya. Suaranya tenang, tapi ada nada senang yang samar terdengar di dalamnya.
“Bagus. Aku senang kau tidak membuatku kecewa di awal-awal ini.”
Alana tidak menjawab, hanya diam saja. Ia berjalan mengikuti Raka masuk ke dalam mobil. Begitu pintu tertutup dan kendaraan mulai bergerak, ia merasa seperti terputus dari dunia luar. Di dalam sini, hanya ada mereka berdua, dan suasana terasa begitu berat dan sunyi.
Mobil melaju menembus jalan-jalan kota yang sibuk, lalu berbelok ke daerah yang makin lama makin sepi dan jauh dari pusat keramaian. Bangunan-bangunan tinggi dan megah perlahan berganti dengan gedung-gedung tua, jalanan yang tidak terlalu terawat, dan lingkungan yang sama sekali tidak pernah dikunjungi oleh Alana sebelumnya.
Ia tidak tahan lagi akhirnya, dan bertanya dengan suara yang pelan, “Kita mau ke mana sebenarnya? Kenapa harus ke tempat seperti ini?”
Raka yang sejak tadi hanya menatap ke depan, menoleh dan menatapnya sekilas. “Kau penasaran ya? Bagus. Itu tandanya otakmu masih berfungsi dengan baik. Kita mau ke tempat yang menjadi pusat segala-galanya buatku. Tempat di mana semua yang kau dengar, semua yang kau takuti, semuanya ada di sana.”
Mendengar itu, jantung Alana berdegup makin kencang. Ia sudah menduga bahwa ia akan dibawa ke tempat semacam itu, tapi saat benar-benar menghadapi kenyataannya, rasa takut itu terasa jauh lebih nyata.
“Kenapa kau bawa aku ke sana? Aku tidak mau tahu hal-hal itu, aku tidak mau terlibat lebih dalam lagi,” katanya, nada bicaranya terdengar memohon sedikit.
Raka tersenyum miring. “Kau mau atau tidak, itu sudah tidak ada artinya lagi. Kau sudah jadi bagian dari hidupku, Alana. Jadi kau harus tahu juga apa saja yang ada di dalam hidupku. Kau harus tahu dengan siapa sebenarnya kau berurusan. Supaya kau tidak pernah berpikir untuk bermain-main di belakangku lagi.”
Setelah berjalan cukup jauh, mobil berhenti di depan sebuah gedung besar yang tampak tua tapi tetap kokoh berdiri. Di luar tidak ada apa-apa yang menonjol, tidak ada tulisan nama atau tanda apa pun yang bisa memberi tahu orang apa gunanya gedung itu. Tapi begitu mereka masuk, suasana di dalamnya benar-benar berubah drastis.
Di dalamnya terang benderang, terawat dengan sangat baik, dan penuh dengan orang-orang yang bergerak ke sana kemari. Semua orang yang lewat di hadapan mereka selalu menundukkan kepala sebagai tanda hormat, dan tatapan mereka saat melihat Raka penuh dengan rasa takut sekaligus kagum. Begitu melihat ada Alana yang ikut bersamanya, tatapan mereka juga tertuju padanya—tatapan yang penuh rasa ingin tahu, ada yang waspada, ada juga yang seolah sedang menilai.
Alana berjalan di samping Raka, merasa seolah semua mata di sana sedang menelanjangi dirinya. Ia menundukkan kepala, berusaha tidak menatap siapa-siapa, berharap bisa menghilang begitu saja dari pandangan orang-orang itu.
Mereka berjalan terus sampai tiba di sebuah ruangan yang luas di bagian paling dalam. Ruangan itu terasa lebih sepi dan lebih sunyi dibandingkan tempat lain, dan suasananya terasa lebih berat lagi. Begitu masuk, Raka langsung duduk di kursi besar yang ada di tengah ruangan, lalu menatap Alana yang masih berdiri di dekat pintu.
“Duduklah,” perintahnya sambil menunjuk kursi yang ada di hadapannya.
Alana berjalan perlahan dan duduk, tapi tetap menjaga jarak sejauh mungkin darinya. Ia menatap sekeliling ruangan, dan pandangannya terhenti pada berbagai macam benda dan barang yang ada di sana—beberapa di antaranya terlihat biasa saja, tapi ada juga yang membuat bulu kuduknya meremang, karena ia bisa menebak kegunaannya apa.
“Ini semua milikmu?” tanyanya akhirnya, tidak tahan dengan keheningan yang terasa mencekam itu.
“Ya. Semua yang ada di sini, semua orang yang bekerja di sini, bahkan sebagian besar wilayah di sekitar sini... semuanya milikku. Aku yang mengatur segalanya, aku yang memutuskan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan,” jawab Raka dengan nada datar, tapi penuh keyakinan.
“Selama ini ayahmu sibuk bercerita betapa jahat dan berbahayanya aku, bukan? Ia bilang aku penjahat, aku orang yang merusak ketertiban, aku musuh masyarakat. Benar tidak?”
Alana terdiam sejenak, lalu mengangguk perlahan. “Ya. Ia selalu bilang begitu. Ia bilang kau orang yang tidak punya hati, yang hanya tahu menyakiti orang lain demi keuntungan dirimu sendiri.”
Raka tertawa kecil, suaranya menggema di dalam ruangan yang luas itu. “Ia memang berkata begitu. Tapi apakah ia pernah menceritakan kenapa aku menjadi seperti ini? Apakah ia pernah menceritakan apa yang terjadi di masa lalu, yang membuat aku akhirnya memilih jalan hidup seperti ini?”
Ia berhenti sejenak, lalu tatapannya berubah, menjadi lebih gelap dan terasa menyakitkan. Sesuatu yang selama ini selalu ia tutup rapat-rapat, seolah perlahan mulai terlihat sedikit demi sedikit.
“Dulu, aku juga orang biasa. Punya keluarga, punya orang-orang yang aku sayangi, punya mimpi-mimpi yang ingin aku wujudkan. Tapi semuanya hancur begitu saja, hanya karena orang-orang yang memegang kekuasaan saat itu—termasuk orang-orang yang bekerja sama dengan ayahmu—ingin mengambil apa yang kami miliki. Mereka menghancurkan segalanya, membunuh orang-orang yang aku cintai, dan membiarkanku hidup dalam kesusahan dan kesepian. Mereka pikir aku akan mati begitu saja, atau tidak akan bisa berbuat apa-apa. Tapi mereka salah besar. Aku bertahan. Aku bangkit. Dan sekarang, aku mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku, dan aku juga membalas apa yang sudah mereka lakukan padaku.”
Kata-kata itu membuat Alana tertegun. Ia tidak pernah mendengar cerita ini sebelumnya, tidak ada yang pernah menceritakan hal ini padanya. Selama ini ia hanya mendengar satu sisi cerita saja, cerita yang membuat Raka terlihat sebagai orang yang sepenuhnya salah. Tapi sekarang, mendengar langsung dari orangnya sendiri... ia bingung. Ia tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah.
“Tapi... itu bukan alasan untuk melakukan hal-hal yang sama buruknya, kan?” katanya pelan.
“Kalau mereka salah, kenapa kau harus menjadi sama seperti mereka? Kau bisa memilih jalan yang lain, jalan yang lebih baik.”
Raka menatapnya tajam, tapi tidak ada amarah di tatapan itu. Hanya ada kesedihan yang dalam dan dingin.
“Jalan yang lain? Sejak kapan ada jalan yang lain buat orang sepertiku? Dunia ini, Alana... ini dunia orang yang berkuasa. Orang yang kuat bisa melakukan apa saja yang ia mau, sedangkan orang yang lemah hanya bisa menerima apa yang diberikan, atau apa yang diambil darinya. Dulu aku lemah, dan aku merasakan akibatnya. Sekarang aku kuat, dan aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi lagi padaku. Atau pada orang-orang yang aku miliki.”
Ia melangkah maju dan berdiri tepat di hadapan Alana, lalu menunduk sedikit sehingga wajah mereka sejajar.
“Dan kau... kau datang dari dunia yang berbeda. Dunia yang indah, yang terlihat bersih dan teratur. Tapi sebenarnya, itu hanya topeng saja. Di baliknya sama saja kotornya, sama saja jahatnya. Dan aku ingin kau melihat semuanya. Aku ingin kau tahu, bahwa dunia tempat tinggalmu itu tidak sebaik yang kau kira. Dan aku ingin kau tahu juga, bahwa di dunia yang seperti ini... hanya aku satu-satunya orang yang bisa melindungimu. Hanya aku satu-satunya orang yang bisa memastikan bahwa tidak ada hal buruk yang akan menimpamu. Tidak ada orang lain. Bahkan ayahmu sendiri pun tidak mampu melakukannya.”
Alana menatap wajah di hadapannya itu, dan untuk pertama kalinya, ia tidak lagi melihat orang yang kejam dan menakutkan saja. Ia melihat seseorang yang pernah terluka, seseorang yang berjuang sendirian, seseorang yang memiliki luka batin yang tidak akan pernah bisa sembuh sepenuhnya. Rasa takut dan benci yang selama ini ada di dalam hatinya perlahan-lahan bercampur dengan rasa iba, rasa yang ia benci tapi tidak bisa ia hilangkan.
“Kenapa kau menjelaskan semua ini padaku?” tanyanya, suaranya nyaris berbisik.
“Apa tujuannya sebenarnya?”
Raka mengangkat tangannya, lalu meletakkan di atas bahu Alana dengan lembut—sesuatu yang sangat berbeda dari cara ia memperlakukannya selama ini.
“Karena aku ingin kau mengerti. Aku ingin kau tahu siapa aku sebenarnya, supaya kau tidak lagi melihatku hanya sebagai musuh, atau orang yang menyakiti hidupmu. Dan juga...” Ia berhenti sejenak, dan suaranya menjadi lebih rendah dan berat.
“Karena aku ingin kau tahu, bahwa perasaan yang aku miliki padamu ini bukan sekadar keinginan untuk membalas dendam atau sekadar ingin memiliki sesuatu yang berharga. Ada hal lain yang tumbuh di dalam diriku, hal yang selama ini tidak pernah aku rasakan pada orang lain. Dan aku tidak tahu apakah itu hal yang baik atau buruk, tapi yang aku tahu... aku tidak bisa melepaskanmu. Tidak akan pernah.”
Kata-kata itu menusuk langsung ke dalam hati Alana. Ia tidak tahu harus menjawab apa, tidak tahu harus merasa bagaimana. Semua yang ia ketahui, semua yang ia yakini selama ini, seolah perlahan-lahan runtuh satu per satu. Di hadapannya ada orang yang dianggap sebagai penjahat oleh semua orang, orang yang telah mengubah seluruh hidupnya, tapi sekaligus juga orang yang menunjukkan sisi dirinya yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Di tengah keheningan yang meliputi mereka, tiba-tiba pintu ruangan terbuka dengan kasar. Seorang pria masuk dengan wajah yang tampak panik dan khawatir. Ia langsung berlutut sedikit di hadapan Raka, dan berbicara dengan suara yang tergesa-gesa.
“Tuan! Ada masalah. Orang-orang yang bekerja sama dengan kita di pusat kota... mereka dikepung oleh pasukan yang dipimpin langsung oleh Gubernur William. Mereka sudah menangkap beberapa orang, dan sekarang sedang mencari bukti-bukti yang bisa menjatuhkan kita semua.”
Berita itu membuat suasana di ruangan itu langsung berubah drastis. Suasana yang tadinya agak tenang dan terasa berbeda, seketika kembali menjadi tegang dan mencekam.
Wajah Raka kembali berubah. Sisi lembut yang baru saja muncul menghilang begitu saja, digantikan dengan tatapan yang dingin, tajam, dan penuh amarah yang tertahan. Ia menatap orang yang melaporkan itu dengan pandangan yang membuat orang itu gemetar ketakutan.
“Jadi ia benar-benar berani melakukan hal ini,” katanya pelan, tapi suaranya terasa mengancam.
“Ia berpikir ia bisa mengalahkanku begitu saja, ya? Ia salah besar.”
Kemudian ia menoleh dan menatap Alana. Tatapan itu sama sekali tidak seperti beberapa menit yang lalu. Kini ia kembali terlihat seperti orang yang menakutkan, orang yang berkuasa dan tidak mau dikalahkan.
“Kau dengar itu kan? Ayahmu mulai bergerak. Dan ini artinya... perang antara aku dan dia sudah benar-benar dimulai. Dan kau, sayangku... kau berada tepat di tengah-tengahnya.”