NovelToon NovelToon
Terjebak CEO Tampan

Terjebak CEO Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Selama 15 tahun pernikahan dengan Angga, Nayra bahkan tidak pernah bahagia. Meskipun dia sudah memiliki dua orang putri. Sikap kasar Angga tidak pernah hilang, dia sering memarahi Nayra di depan kedua anaknya. Ternyata sikap Angga, bukan hanya membuat Nayra tersiksa, tapi juga anak pertamanya yang mulai beranjak remaja. Nayra sempat berpikir keras untuk pergi dari rumah itu, tapi yang dia pikirkan hanya kedua anaknya, bagaiman masa depannya. Nayra terus bertahan meskipun luka di hatinya semakin besar, rasa cinta untuk Angga kini telah hilang. Saat Nayra terjebak hutang, Angga masih saja menyalahkannya, kini Nayra sudah berada di titik pasrah. Tapi Tuhan maha baik hidup Nayra di tolong oleh Arsen Wiratama, pemilik perusahaan terbesar di kota itu. Arsen menolong Nayra, tapi semua tidak gratis, Nayra harus bersedia meninggalkan Angga dan juga menikah dengannya secara kontrak. Bagaimana kelanjutan pernikahan kontrak mereka.

IG : purpleflower3125
FB : Flower Arsyta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23 : Saaahhh!

Pagi datang lebih cepat dari yang Nayra harapkan. Langit masih berwarna abu-abu lembut saat jam menunjukkan pukul enam tepat.

Di dalam kamar, Raya sudah bangun lebih dulu. Matanya masih sedikit mengantuk, tapi wajahnya terlihat jauh lebih segar. Ia menoleh ke kanan dan kiri, melihat Nayra dan Alea yang masih terlelap.

Perlahan, senyum kecil muncul di wajahnya. Dengan hati-hati, ia duduk di tempat tidur.

“Mama…” bisiknya pelan, menggoyangkan tangan Nayra.

Tidak ada respon, ia mencoba lagi, kali ini sedikit lebih berani.

“Mama… bangun…”

Nayra mengerjapkan mata perlahan. Cahaya pagi yang samar masuk dari celah tirai. Beberapa detik… ia hanya diam, seolah lupa sedang berada di mana.

Sampai akhirnya, ia ingat. Hari ini, hari pernikahannya, Nayra langsung duduk perlahan.

“Raya…” ucapnya lirih. “Kamu sudah bangun?”

Raya mengangguk cepat. “Sudah Ma,” ucapnya pelan.

Nayra tersenyum tipis. Tangannya menyentuh dahi Raya. Panas… tapi tidak setinggi tadi malam.

“Syukurlah…”

Di sisi lain, Alea ikut terbangun. “Udah pagi ya…” gumamnya sambil mengucek matanya.

Raya langsung duduk di atas kasur. “Hari ini kan Mama mau nikah,” ucapnya.

Ucapan itu membuat Nayra terdiam sesaat, hatinya kembali bergetar. Namun kali ini, ia tidak menolak perasaan itu. Ia hanya menarik napas pelan.

“Iya…” jawabnya lembut.

Beberapa saat kemudian, ketiganya mulai bersiap. Pakaian sudah disiapkan sejak malam sebelumnya. Make-up artist dan tim dekorasi sudah datang sejak subuh. Suasana rumah yang tadi malam sunyi… kini perlahan berubah ramai.

Langkah kaki terdengar di mana-mana. Suara orang berbicara pelan. Beberapa pintu terbuka dan tertutup.

Di sisi lain rumah, aula besar milik keluarga Arsen Wiratama telah berubah total. Biasanya hanya digunakan untuk pertemuan keluarga.

Kini... tempat itu disulap menjadi lokasi pernikahan yang elegan. Dekorasi bernuansa putih dan emas mendominasi.

Rangkaian bunga segar menghiasi setiap sudut. Kursi-kursi tersusun rapi menghadap ke depan. Di tengah, sebuah meja akad sederhana namun berkelas telah disiapkan.

Cahaya pagi masuk melalui jendela-jendela besar, menambah kesan hangat dan sakral. Tidak perlu gedung mewah. Rumah ini saja, sudah lebih dari cukup.

Di kamar, Nayra duduk di depan cermin. Gaun putihnya sudah dikenakan. Sederhana, namun anggun. Rambutnya ditata rapi, make-up-nya lembut, menonjolkan kecantikannya tanpa berlebihan. Ia menatap bayangannya sendiri di depan cermin, mencoba meyakinkan dirinya.

Pintu terbuka pelan.

Martha masuk dengan senyum hangat.

“Nona sudah siap…”

Nayra mengangguk kecil. Namun sebelum berdiri ia menahan napas sejenak. Tangannya menggenggam ujung gaun. Hari ini bukan sekadar hari biasa. Hari ini... hidupnya akan berubah.

Di aula Arsen sudah lebih dulu berada di sana. Setelan jasnya rapi, wajahnya tenang seperti biasa. Namun jika diperhatikan lebih dalam, ada ketegangan tipis di matanya.

Para tamu mulai berdatangan. Suasana semakin hidup, namun tetap terjaga khidmatnya. Sementara itu, di balik salah satu pintu... Ibu Ambar berdiri diam.

Matanya mengarah ke arah aula, wajahnya datar dan sulit ditebak. Namun satu hal pasti, tatapannya tidak berubah. Masih sama seperti semalam, penuh ketidaksukaan.

Kembali ke Nayra, ia berdiri perlahan. Menarik napas dalam. Lalu melangkah keluar kamar, setiap langkah terasa berat... namun pasti.

Di ujung lorong, cahaya dari aula terlihat jelas. Dan di sana takdirnya sudah menunggu.

Nayra melangkah perlahan menuju aula. Di sisi kanannya, Raya menggenggam tangannya erat. Langkah kecil gadis itu masih tertatih. Sesekali wajahnya meringis, menahan nyeri di kaki yang belum sepenuhnya pulih.

Namun ia tetap berjalan, tetap bertahan. Seolah tidak ingin melewatkan momen penting itu. Di sisi kiri, Alea berjalan sambil sesekali melirik ke berbagai arah.

Matanya berbinar. Perhatiannya jelas bukan pada suasana haru, melainkan pada meja-meja makanan yang tertata rapi di setiap sudut aula.

Berbagai hidangan tersaji. Manis, gurih, berwarna-warni. Dan di tengah aula, sebuah kue pernikahan tinggi menjulang. Putih, bertingkat dengan inisial A & N terpasang indah di bagian atasnya.

“Waah…” bisik Alea tanpa bisa menahan diri. “Makanannya banyak banget, itu kue pengantinnya juga besar dan tinggi sekali… seperti yang ada di ponsel Kak Raya.”

Raya langsung melirik ke arahnya. “Alea… jangan berisik,” bisiknya pelan.

Namun nada suaranya tidak benar-benar marah. Lebih seperti mengingatkan. Alea langsung menutup mulutnya dengan tangan.

Tapi matanya masih tidak bisa lepas dari makanan. Mereka bertiga terus berjalan. Karpet merah terbentang panjang di bawah kaki mereka.

Di ujung sana, Arsen sudah berdiri. Di sampingnya, kedua orang tuanya dan di belakang para pelayan mengikuti langkah Nayra dengan rapi.

Suasana aula yang sebelumnya dipenuhi suara pelan, perlahan menjadi lebih hening. Tatapan mulai tertuju pada satu arah, yaitu Nayra.

Bisikan kecil mulai terdengar di antara para tamu.

“Cantik sekali…”

“Itu calon pengantinnya?”

“Padahal sudah punya anak…”

“Anggun sekali…”

Rasa kagum itu jelas terdengar dalam nada mereka. Namun Nayra tidak menoleh, tidak juga tersenyum. Tatapannya lurus ke depan, hanya satu tujuan.

Langkahnya tetap tenang, meski di dalam jantungnya berdetak jauh lebih cepat. Raya menggenggam tangannya lebih erat. Seolah memberi kekuatan. Alea berjalan lebih rapi sekarang, mencoba menahan rasa kagumnya sendiri.

Semakin dekat, semakin jelas sosok Arsen di hadapannya. Pria itu berdiri tegak, tatapannya langsung tertuju pada Nayra. Tidak berpaling dan untuk sesaat semua suara di sekitar seolah menghilang.

Yang tersisa hanya jarak yang semakin menipis di antara mereka. Dan satu langkah lagi, Nayra hampir sampai di hadapan Arsen. Jarak di antara mereka kini hanya beberapa langkah. Detak jantungnya semakin keras.

Satu langkah lagi Nayra akhirnya sampai di hadapan Arsen. Langkahnya berhenti, untuk beberapa detik mereka hanya saling menatap... tanpa kata.

Namun ada sesuatu yang berpindah di antara keduanya. Tenang… tapi dalam seperti semua keraguan yang sempat ada tadi malam, perlahan mengendap.

Arsen sedikit mengangguk, isyarat kecil. Namun cukup, Nayra menarik napas pelan. Lalu mengangguk tipis sebagai jawaban.

Beberapa saat kemudian, mereka sudah duduk berdampingan di depan meja akad. Penghulu telah bersiap. Para saksi duduk di sisi kanan dan kiri, suasana kembali hening. Lebih khidmat dan lebih serius.

Semua mata tertuju ke depan. Penghulu mulai membuka acara dengan suara tenang. Beberapa kalimat pembuka diucapkan dengan jelas. Hingga akhirnya, ia menoleh ke arah Nayra.

“Ananda Nayra Anindita,” ucapnya pelan, “siapa wali yang akan menikahkan Anda?”

Pertanyaan itu, membuat waktu seolah berhenti. Nayra terdiam, matanya sedikit berkedip. Bibirnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar.

Tangannya di atas pangkuan perlahan mengencang. Suasana mulai berubah, beberapa tamu saling melirik. Ibu Ambar menyipitkan mata, menunggu dan menilai.

Sementara itu, Arsen menoleh ke arah penghulu. Tatapannya tajam, tanpa banyak kata namun penuh tekanan.

Penghulu terdiam sejenak, menangkap isyarat itu. Lalu tanpa banyak bertanya lagi, ia mengangguk kecil.

“Baik, kita mulai saja,” ucapnya sedikit gugup.

Suasana kembali hening, akad pun dimulai. Semua orang menahan napas, Arsen duduk lebih tegak. Tangannya siap, suara penghulu kembali terdengar.

“Saya nikahkan dan saya kawinkan ananda Nayra Anindita dengan ananda Arsen Putra Wiratama…”

Jeda sejenak.

"Dengan mas kawin...” Suara itu terdengar semakin jelas. "Berupa satu unit mobil Rolls-Royce Phantom terbaru…”

Beberapa tamu mulai saling pandang.

"Dan satu set Pink Star Diamond ”

Bisikan kecil mulai terdengar.

"Serta uang tunai Lima Ratus Miliar di bayar tunai.”

Dan saat kalimat itu selesai, suasana aula berubah. Tidak lagi sekadar khidmat. Namun juga dipenuhi keterkejutan.

Ibu Ambar yang sejak tadi berdiri, kini benar-benar terdiam. Matanya membesar, untuk pertama kalinya ekspresinya berubah. Jelas tidak menyangka.

Arsen langsung menjawab dengan lantang. “Saya terima nikah dan kawinnya Nayra Anindita dengan mas kawin tersebut, tunai." Sekali ucap, tegas, tanpa ragu.

Suara “SAH!” menggema di seluruh aula.

1
Arditya
Buku ini bagus ceritanya. Authornya mendalami banget ya sama cerita ini. lanjut thor sampai ratusan bab.
Vhiie Chavtry
suka banget, ada gambar visualnya di babnya... semangat Thoor😍
Vhiie Chavtry
aku suka banget sama Alea...hheee

semangat, lanjut thoor😄👍
Vhiie Chavtry
Ceritanya sangat menarik, dan relate... semangat author. recommended bangt sih😎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!