NovelToon NovelToon
Pernikahan Yang Lahir Dari Luka

Pernikahan Yang Lahir Dari Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: peony_ha

Zara Ayleen adalah perempuan religius dari keluarga sederhana yang percaya bahwa hidup selalu punya jalan lurus untuk tetap dijalani. Namun satu malam yang kelam menghancurkan keyakinannnya. Dalam keadaan yang tak pernah ia kehendaki, Zara menjadi korban dari kesalahan seorang lelaki yang bahkan tak kenal dengan baik—Arsyad Faizandra Wiratama pewaris perusahaan besar yang hidupnya penuh kendali, kekuasaan dan kesombongan. Kesalahan itu memaksa mereka terikat dalam pernikahan tanpa cinta. Bagi Arsyad pernikahannya dengan Zara merupakan bentuk tanggung jawab bukan perasaan. Bagi Zara, pernikahannya dengan Arsyad adalah ujian terberat dalam hidupnya. Dibawah satu atap, mereka hidup sebagai suami istri yang asing. Arsyad dingin dan berjarak, sementara Zara memendam luka dan berharap dalam diam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rasa nyaman yang diam-diam tumbuh

Pagi yang cerah. Aku berdiri disamping rumah, tempat jemur baju. Disampingku terdapat setumpuk jemuran yang harus aku jemur hari ini, ada dua seprei yang terkena muntahan mas Arsyad, walaupun mbak Asih sudah membantu sebagian, tapi lebih banyaknya aku yang kerjakan karena ini adalah tugasku sebagai istrinya mas Arsyad.

Ets….

Kok?

Yaudahlah lah ya, aku akui untuk sementara aku memang istrinya mas Arsyad sampai dengan ketentuan itu berlalu dan aku terbebas dari kukungan ini.

Matahari cerah mulai menyinari pagi ini, setelah dua hari aku mengurung didalam kamar mengurusi bayi gede yang sedang sakit, bahkan aku harus izin kerja karena mas Arsyad tidak mau ditinggal.

Setelah jemur baju aku kembali kedalam rumah, dalam keadaan baju yang masih basah terkena cipratan air. Kembali keruang loundry untuk menyimpan ember dan barang-barang lainnya.

“Non Ayleen.”

“Iya mbak?”

“Tampak capek banget, pasti kurang tidur ya?. Jangan sampe, sibuk ngurusin mas Ar sampe lupa sama kesehatan diri sendiri. Mbak buatkan jamu ya. mau?”

Memang sudah dua hari aku ngrusin mas Ar, sampe sering lupa makan dan tidur tidak teratur. Bagaimana mau tidur nyenyak, baru memejamkan mata pun mas Ar sudah bergumam minta dipijitin lagi, gitu saja berulang sampai larut malam. Sampai membekaskan cekungan mata panda di kedua mataku, saking kurang tidurnya.

Aku sudah memaksa untuk mas Ar buat pergi ke dokter, tapi kukuh pria itu tidak mau. Tapi untuk malam tadi kondisi mas Ar sudah mulai membaik, suhu tubuhnya berangsur turun.

“Hem… boleh deh bi, badan aku sedikit pegal-pegal juga. Mungkin kurang tidur.” Ucapku sambil menggerak-gerakan leher.

Aku kembali ke kamar untuk mandi dan membersihkan diri, entah mengapa dari tadi subuh perutku keram dan sembelit. Apa tamu bulanan ku datang?, memang sudah masuk tanggalnya sih, jika memang benar berarti aku tidak hamil anaknya mas Arsyad dong. Tapi entah mengapa kok aku merasa tidak bahagia, seharusnya aku bahagia karena aku akan terbebas dari belenggu ibu mertua yang tidak menganggapku. Apa aku sudah nyaman dirumah ini?.

Deg.

Ada denyutan halus didalam dada.

Aku mulai membuka hendel pintu kemudian memasuki kamar. Disana mas Arsyad sudah terlihat segar tapi diwajahnya masih menyisakan pucat. Pria bermata elang itu sepertinya sudah mandi terlihat dari rambutnya yang masih basah.

Aku mulai melangkahkan kaki. “Mas Ar, sudah mendingan?” Aku bertanya dengan hati-hati.

Pria itu meliriku sekilas, kemudian menyandarkan tubuhnya pada sofa dan membuka ponsel yang sudah berada ditangannya.

“Ekhem.. sudah.” Jawabnya dengan suara sedikit sengau, khas seperti orang yang sedang flu.

Aku hanya mengangguk kemudian berjalan menuju lemari pakaian.

“Dari mana?”

Aku yang sedang memilih baju sontak menoleh. “Habis jemur seprei yang kena muntahan mas.” Jawabku jujur.

“Oh…” jawabnya singkat. Bilang makasih kek, gengsi banget kayanya.

***

Pov Arsyad

Aku menatap wajahnya yang sedang tertidur pulas disampingku, entah sejak kapan. Setauku tadi dia pergi kekamar mandi, namun tiba-tiba berada disampingku dan tertidur pulas.

Wajahnya yang putih bersih tanpa polesan, hidungnya yang kecil tapi bangir, dan bulu matanya yang lentik. Ada cekungan hitam dikedua bola matanya, capek setelah dua hari dia menunjukan sisi kepeduliannya kepadaku, bahkan dia rela izin kerja untuk merawatku. Benar kata papa, wanita ini berbeda, tampangnya memang sok tidak peduli tapi hatinya begitu lembut. Wanita ini cantik, namun bukan cantik yang memikat dengan satu kali melihat, kencantikannya akan disadari seiring berjalannya waktu. Dan aku mulai menyadarinya.

Tanganku terulur mengusap anak rambutnya yang berada didahinya, terlihat capek sekali. Menyentuh pipinya yang lembut. Baru kali ini aku menyentuh pipinya.

“Bu…. Ra mah es krim.” Gumamnya sambil menutup mata, ah tidak aku tidak boleh melihat kearah bibirnya. Kecil tapi bulat dan aku pernah merasakannya. Senyuman terlukis diwajahku, kenapa wanita ini terlihat seperti anak kecil yang ditinggalkan oleh ibunya pergi kepasar.

“Mau apa?”

“Es krim…” ucapnya lagi masih dengan memejamkan mata.

“Yaudah tunggu!”

“Heem..”

Badanku mulai segar, sekalian cari udara segar aku akan membelikannya es krim sebagai tanda terimakasih karena sudah merawatku dengan baik.

Aku menyelimuti tubuh kecilnya dengan selimut. Kemudian pergi meninggalkannya.

Tidak lama mungkin setengah jam aku sudah kembali kerumah.

“Mas sudah enakan?, habis dari mana?” Ada mbak Asih yang sedang mengangkat jemuran.

“Sudah mbak, habis dari luar cari udara segar. Sama gerakin badan juga.”

“Kalau dirawat sama istri ya gitu bakalan cepet sembuh, apalagi dirawatnya dengan penuh kelembutan.”

“Nih buat mbak.” Aku menyerahkan satu kantung es krim pada mbak Asih.

“Wi.. makasih mas. Enak banget siang-siang gini makan eskrim.”

Setelah pamit aku kembali memasuki kamar. Ayleen sudah bangun dan menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang. Wanita itu meliriku sekilas.

“Habis darimana. Emang pusingnya sudah hilang mas?”

Aku hanya mengangguk mengiyakan.

“Nih, mau es krim kan?” Wanita itu menatapku bingung.

“Emang aku minta?”

“Iya tadi pas tidur.”

“Ih itu mimpi kali, tapi makasih.” Dia tersenyum sambil mengambil kantung es krim dariku. Dan aku baru melihat senyuman itu.

Senyuman kecil yang sederhana, tapi entah kenapa membuat dadaku terasa aneh. Hangat.

*

*

Aduduh… ada yang mulai nyaman nih, author jadi gemes deh pengen cepet-cepet liat keromantisan mereka. Tapi semoga aja tidak ada pengganngu apa kita ikat dulu ya si Sabrine.

Janga lupa like ya💗

1
Aniza
lanjut thooor
roses: siap kak, dukung terus Author ya💗
total 1 replies
Suren
mantappp👍 Arsyad butuh org ada disampingnya tapi egonya tinggi
roses: berul ka, dukung terus Author ya💗
total 1 replies
Ineu
baru mulai baca
roses: makasih kak, dukung terus Author ya💗
total 1 replies
Lisa Kusmiran07
ceritanya menarik,tp agak bingung pas percakapan.atau dialog nyaga ada tanda nya.
Sri Jumiati
cantik .cocok thor
roses: Makasi yah kak, dukung terus author💗
total 1 replies
roses
iya kak, selamat membaca dan siap-siap diobrak abrik perasaan
Sri Jumiati
bagus ceritanya
Buku Matcha
Typo nya banyak ni thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!