Kania (20 tahun) mengira hidupnya tamat saat dijodohkan dengan dr. Devan (30 tahun), dokter bedah saraf jenius yang lebih mirip robot daripada manusia. Baginya, Devan adalah "kulkas dua pintu" yang hanya bicara soal logika dan efisiensi.
Namun, di balik tembok es itu, Devan menyimpan lelah yang tak tersentuh. Kania yang ceroboh dan berisik datang sebagai anomali yang mulai merusak ritme jantungnya yang selalu stabil. Kini, Kania punya satu misi gila: Mencairkan hati sang Dokter Es.
Di antara aroma antiseptik, ancaman dr. Sarah yang ambisius, dan taruhan nyawa di meja operasi, Kania harus memilih: Terus mengejar pria yang dunianya tak tersentuh, atau menyerah pada dingin yang mematikan?
Satu janji kelingking, dua kutub yang berbeda. Siapkah kamu melihat sang Dokter Es berlutut karena cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KONTUSI DAN KONSEKUENSI
Pagi setelah keributan di lobi rumah sakit, atmosfer di koridor RS Medika Utama terasa lebih dingin dari biasanya. Kabar tentang seorang mahasiswi yang berani pasang badan untuk dr. Devan menyebar lebih cepat daripada virus flu musiman. Di meja perawat, di kantin dokter, hingga ke ruang administrasi, nama "Kania" menjadi subjek perdebatan hangat.
Bagi sebagian orang, Kania adalah sosok pemberani yang tulus. Namun, bagi otoritas rumah sakit, dia adalah gangguan keamanan yang tidak terduga.
Devan duduk di ruang kerjanya, menatap surat teguran resmi yang tergeletak di meja. Ia baru saja kembali dari ronde pagi, dan wajahnya masih menunjukkan jejak-jejak kelelahan yang belum tuntas. Pintu ruangannya diketuk dengan kasar.
"Masuk," suara Devan terdengar berat.
Sarah melangkah masuk. Kali ini ia tidak membawa map medis, melainkan sebuah tablet yang menampilkan rekaman video amatir saat Kania berteriak di lobi kemarin.
"Kamu sudah lihat ini?" tanya Sarah tanpa basa-basi. "Video ini viral di grup internal manajemen. Kamu tahu apa artinya ini bagi kredibilitas departemen bedah saraf, Devan? Kita terlihat seperti drama opera sabun, bukan institusi medis profesional."
Devan menyandarkan punggungnya ke kursi kulitnya. "Kania hanya berusaha membela fakta, Sarah. Keluarga pasien itu sudah tenang sekarang. Operasi anak mereka juga menunjukkan progres positif. Apa yang menjadi masalah?"
"Masalahnya adalah kamu membiarkan warga sipil masuk ke tengah konflik medis!" suara Sarah meninggi satu oktaf. "Dia menyebutkan soal kencan kalian di Puncak. Dia membeberkan bahwa kamu meninggalkan tugas demi urusan pribadi. Itu adalah amunisi bagi keluarga pasien jika mereka benar-benar ingin menuntut malpraktik atas keterlambatan tindakan!"
Devan berdiri, matanya menatap tajam ke arah Sarah. "Saya tidak meninggalkan tugas. Jadwal saya sedang kosong saat itu. Dan yang paling penting, Sarah... kenapa kamu terlihat begitu bersemangat ingin menghancurkan dia? Apa ini benar-benar soal rumah sakit, atau soal egomu yang terluka karena dia yang berhasil membawa saya keluar dari ruangan ini, bukan kamu?"
Wajah Sarah memerah padam. Ia terdiam selama beberapa detik, napasnya memburu. "Kamu akan menyesal, Devan. Cinta monyet ini akan menghancurkan karier yang sudah kamu bangun selama sepuluh tahun."
Setelah Sarah keluar dengan bantingan pintu, Devan memijat pelipisnya. Ia meraih ponselnya dan melihat pesan dari Kania yang masuk sepuluh menit lalu.
Kania: Dokter... aku nggak dilarang masuk RS kan hari ini? Aku mau bawain jus jeruk biar vitamin C Dokter naik. Janji, aku bakal lewat pintu belakang dan pakai masker biar nggak ketahuan!
Devan tersenyum kecil di tengah sakit kepalanya. Ia mengetik balasan.
Devan: Tetap di kampus, Kania. Fokus pada skripsimu. Kita bicara nanti malam. Jangan melakukan manuver berbahaya lagi.
Di kampus, Kania merasa seperti selebritas dadakan dengan alasan yang salah. Bianca terus-menerus menunjukkan komentar di media sosial kampusnya tentang "Gadis Pembela Dokter".
"Kan, lo beneran nekat ya. Lo nggak takut itu bakal berpengaruh ke nama baik lo juga?" tanya Bianca sambil menyeruput es tehnya.
"Gue nggak mikirin itu, Bi. Gue cuma nggak tahan lihat Devan dipojokkan padahal dia udah kerja keras. Lo tahu nggak, dia itu tipe yang bakal nyalahin diri sendiri kalau ada pasien yang gagal, padahal dia udah maksimal. Dia butuh seseorang yang bilang kalau itu bukan salah dia," jawab Kania sambil mencoret-coret bukunya.
"Tapi dr. Sarah itu nggak bakal diem aja, Kan. Dia tipe 'alpha female' yang bakal ngelakuin apa aja buat dapetin apa yang dia mau. Lo harus hati-hati."
Kania menghela napas. "Gue tahu. Tapi gue punya senjata yang nggak dia punya."
"Apa?"
"Gue punya martabak, jagung bakar, dan kejujuran. Dr. Sarah cuma punya ambisi dan bau antiseptik," jawab Kania dengan cengiran yang dipaksakan.
Sore harinya, Devan dipanggil ke ruang Direktur. Namun, kali ini ada orang lain di sana. Seorang pria tua dengan kursi roda yang sangat berwibawa. Devan tertegun; itu adalah Prof. Gunawan, pendiri yayasan rumah sakit sekaligus mentor Devan di masa koas dulu.
"Duduk, Devan," ucap Prof. Gunawan dengan suara yang masih kuat meski usianya sudah senja.
"Prof, senang melihat Anda kembali," sapa Devan hormat.
"Saya mendengar laporan yang cukup... menarik tentang kamu dan seorang mahasiswi hukum. Direktur bilang kamu mulai kehilangan efisiensi," Prof. Gunawan menatap Devan dengan mata yang tajam namun bijaksana.
"Saya akui ada sedikit kekacauan komunikasi, Prof. Tapi saya menjamin profesionalitas saya tidak terganggu," jawab Devan tegas.
"Devan, dulu saya mengajari kamu cara membedah saraf, tapi saya lupa mengajari kamu cara menjaga hati," Prof. Gunawan terkekeh pelan. "Saya sudah melihat video itu. Gadis itu... dia punya api yang tidak kamu miliki. Kamu itu seperti air yang terlalu tenang, Devan. Kadang-kadang, air butuh api untuk menjadi uap dan bergerak ke atas."
Devan terdiam, terkejut dengan pembelaan dari mentornya.
"Jangan biarkan birokrasi dan ketakutan orang lain menghambat kebahagiaanmu. Tapi, pastikan api itu tidak membakar rumah sakit saya. Mengerti?"
"Mengerti, Prof. Terima kasih."
Malam itu, Devan menjemput Kania di depan gerbang kampus. Kali ini, ia tidak menyuruh Kania masuk ke mobil dengan nada memerintah. Ia turun dari mobil, membukakan pintu, dan menyambut Kania dengan senyum yang membuat beberapa mahasiswi di sekitar mereka menjerit tertahan.
"Gimana sidangnya?" tanya Devan saat mobil mulai melaju.
"Bukan sidang, Dok! Baru penyerahan draf final! Tapi dosen pembimbingku bilang kalau revisi kali ini... sangat presisi. Dia tanya aku belajar dari mana, aku bilang aja belajar dari dokter bedah saraf paling kaku sedunia," Kania tertawa.
"Bagus. Itu artinya investasi waktu saya tidak sia-sia."
"Dokter... soal yang kemarin di RS... maaf ya kalau aku bikin Dokter malu," suara Kania mendadak mengecil.
Devan menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang sepi, di bawah jajaran pohon angsana yang rimbun. Ia menoleh ke arah Kania, menatapnya dengan intensitas yang membuat Kania menahan napas.
"Kania, duniaku memang dingin dan penuh dengan angka-angka keberhasilan hidup. Selama sepuluh tahun, saya pikir itulah satu-satunya cara untuk bertahan. Tapi kemarin, saat kamu berdiri di depan pria itu untuk membela saya... saya menyadari satu hal yang tidak ada di buku teks kedokteran mana pun."
"Apa?" bisik Kania.
Devan mengulurkan tangannya, membelai pipi Kania dengan ibu jarinya. "Bahwa saya lebih memilih menghadapi seribu keluarga pasien yang marah daripada harus kehilangan satu hari tanpamu. Kamu bukan gangguan, Kania. Kamu adalah rehabilitasi yang saya butuhkan untuk hati yang sudah terlalu lama mati rasa."
Kania tidak bisa berkata-kata. Ia hanya bisa membiarkan Devan mendekatkan wajahnya, hingga hidung mereka bersentuhan. Malam itu, di dalam mobil yang sunyi, dr. Devan tidak lagi memberikan diagnosa medis, melainkan memberikan sebuah pernyataan yang akan mengubah hidup mereka selamanya.
Sentuhan bibir Devan terasa sangat lembut, jauh dari kesan kaku yang selama ini ia tunjukkan. Itu adalah ciuman yang penuh dengan janji, rasa terima kasih, dan cinta yang akhirnya menemukan jalannya untuk mencair.
Di kejauhan, lampu-lampu kota Jakarta berkelap-kelip, menjadi saksi bahwa kontusi (luka) di masa lalu Devan telah menemukan obatnya. Dan obat itu bukanlah bahan kimia, melainkan seorang gadis mahasiswi hukum yang sangat berisik.