Guntur, pemuda Sidoarjo dengan rambut gondrong dan jurus silat warisan kakek, harus menerima kenyataan pahit saat cintanya dikandas oleh Amanda. Dengan bekal uang saku hasil menjual mesin pompa air dan sekeranjang perbekalan sederhana, Guntur berangkat ke Jakarta untuk mengubah nasib.
Di hari pertamanya, Guntur hampir ditabrak oleh Vaneshaseorang CEO galak yang ia juluki "Mak Lampir"yang ternyata adalah sepupu mantan kekasihnya! Takdir kemudian membawanya menyelamatkan Bang Soni, bos penguasa dunia malam yang anti-narkoba namun gemar minum keras, dari serangan preman.
Kini, Guntur terjebak di antara tugas menjaga Sekar putri Bang Soni yang tak kalah galak dan intrik keluarga kaya yang dulu meremehkannya. Dengan sifatnya yang sulit ditebak dan jurus silat yang mematikan, Guntur siap menggoncang Jakarta dan membuktikan bahwa jagoan sejati tidak butuh jas mewah untuk berkuasa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Amarah Sang Naga
Guntur duduk di kursi tunggu rumah sakit dengan pandangan kosong tapi tajam. Jaket ojeknya sudah nggak karuan bentuknya, ada noda darah yang mulai mengering di sana-sini. Di depannya, Adit berdiri mematung, dia tahu kalau bosnya ini lagi dalam mode "malaikat maut".
"Adit, cari tahu siapa bajingan yang megang kendali ruko tadi. Aku nggak mau denger alasan nggak ketemu. Malam ini juga, namanya harus ada di meja kerjaku!" bentak Guntur dengan suara rendah tapi ngerasa sampai ke tulang.
Adit segera menekan ponselnya dengan tangan gemetar. "Siap Mas. Laporan sementara, ruko itu kedok buat operasional gelap kelompoknya Rian yang masih tersisa di Jawa Timur. Mereka sengaja nyari mangsa anak-anak yang nggak punya keluarga buat dijadiin kacung urusan kotor."
Guntur bangkit berdiri, tangannya mengepal sampai berbunyi krek. "Bajingan! Jadi adikku selama ini dijadiin kacung sama sampah-sampah itu? Amanda sama Rian beneran belum kapok mau main-main sama nyawa keluargaku!"
Pintu ruang ICU terbuka, dokter keluar dengan wajah lelah. Guntur langsung menyambar kerah baju dokter itu sebelum dokter itu sempat bicara. "Gimana adikku? Kalau dia sampai kenapa-kenapa, aku ratakan rumah sakit ini sekarang juga!"
Dokter itu pucat pasi tapi berusaha tenang. "Sabar Pak Guntur. Pasien sudah melewati masa kritis. Lukanya cukup parah, ada beberapa tulang rusuk yang retak karena benda tumpul, tapi untungnya fisiknya sangat kuat. Sekarang dia sudah dipindah ke ruang perawatan."
Guntur melepaskan kerah baju dokter itu dan langsung masuk ke kamar rawat Bagas. Di sana, dia melihat adiknya terbaring lemas dengan banyak perban melilit tubuh kurusnya. Bagas mencoba membuka mata, suaranya sangat lirih. "Mas Guntur... maafno Bagas nggih..." (Mas Guntur... maafkan Bagas ya...)
Hati Guntur serasa diiris-iris melihat adiknya yang dulu hilang sekarang ketemu dalam kondisi hancur begini. Dia mengusap kepala Bagas dengan lembut. "Wes, kowe gak salah, Le. Sing salah iku bajingan-bajingan sing wis nggawe kowe koyok ngene. Turu dhisik, rasah mikir opo-opo. Masmu iki sing bakal mbales kabeh!" (Sudah, kamu nggak salah, Dek. Yang salah itu bajingan-bajingan yang sudah bikin kamu kayak gini. Tidur dulu, nggak usah mikir apa-apa. Masmu ini yang bakal balas semua!)
Begitu Bagas terlelap karena pengaruh obat, Guntur keluar dari ruangan itu. Dia menatap Adit dengan mata merah penuh amarah. "Hubungi kabeh ojek pangkalan Sidoarjo karo Surabaya. Kandani, bengi iki Naga mudhun dalan. Kabeh titik sing dicurigai nggone anak buahe Rian, sikat kabeh! Gak usah kakehan cangkem, langsung obrak-abrik!"
"Tapi Mas, ini bisa jadi masalah hukum besar kalau kita main hakim sendiri," ucap Adit mencoba menenangkan. Guntur malah mencengkeram bahu Adit dengan sangat kuat sampai Adit meringis kesakitan.
"Hukum? Hukum itu buat orang yang masih punya rasa kemanusiaan, Dit! Tapi buat setan-setan yang nyiksa adikku, hukumku cuma satu: nyawa bayar nyawa! Gak usah kakehan aturan, langsung gass pol!" bentak Guntur.
Malam itu, Surabaya terasa mencekam. Ratusan motor mulai berkumpul di beberapa titik perbatasan kota. Guntur memimpin di depan dengan motor matic bututnya, tapi auranya sudah seperti panglima yang siap membakar seluruh kota demi kehormatan keluarganya. Sang Naga sudah tidak butuh jas mewah lagi untuk berkuasa, malam ini aspal akan menjadi saksi betapa ngerinya amarah seorang kakak yang kehilangan adiknya selama sepuluh tahun.
Guntur nggak banyak bacot. Begitu gerbang besi ruko itu jebol, dia langsung melesat seperti kilat. Preman paling depan yang bawa celurit bahkan belum sempat ayunkan tangan, tapi lutut Guntur sudah mendarat telak di ulu hatinya.
TEK!
Suara sikut Guntur menangkis serangan parang dari samping terdengar garing banget. Guntur memutar badannya, tangannya menyambar pergelangan tangan musuh, lalu diputar balik sampai bunyi KREK! Preman itu menjerit histeris saat tulang tangannya mencuat keluar dari tempatnya.
"Maju semua bajingan! Jangan cuma satu-satu kayak antre sembako!" teriak Guntur dengan mata yang sudah merah membara. Dia menggunakan jurus "Sabetan Naga", tangannya menangkis serangan pipa besi dengan lincah. Begitu ada celah, Guntur mengirim pukulan dua jari tepat di jakun musuhnya.
TEK! YEK!
Preman yang kena pukulan leher itu langsung kaku, matanya melotot lalu ambruk seperti pohon pisang ditebas. Guntur nggak berhenti, dia melompat lalu menendang dada preman lainnya pakai tendangan putar. Suara tulang rusuk yang remuk terdengar jelas banget di telinga.
KRAAAKK!
"Ini balasannya karena sudah menyentuh Bagas!" bentak Guntur sambil membanting kepala musuh ke tembok beton. Dhuarr! Temboknya sampai retak, dan kepala preman itu langsung bocor mengalirkan darah segar. Guntur bener-bener jadi monster malam ini, gerakannya nggak kaku, tapi luwes seperti air tapi mematikan seperti beling.
Satu preman yang badannya paling gede mencoba merangkul Guntur dari belakang. Guntur cuma tersenyum iblis. Dia menyundul ke belakang pakai kepalanya, DUAK! Hidung preman itu langsung pesek seketika. Guntur lantas menyambar tangannya, dibanting pakai teknik banting lantai yang bikin ubin ruko itu pecah semua.
TEK... TEK.
KREKK.
Guntur menginjak leher preman yang sudah terkapar di lantai itu sampai bunyi YEK.. suaranya bikin kawan-kawannya yang lain langsung ciut nyali dan mundur teratur. Guntur mengusap darah yang nyiprat di pipinya pakai jempol, lalu meludah di depan mayat-mayat hidup itu.
"Siapa lagi?! Sini maju! Aku masih kepengin dengar suara tulang patah!" tantang Guntur sambil memasang kuda-kuda silat pamungkas warisan kakeknya. Hawa di dalam ruko itu jadi panas banget, bukan karena api, tapi karena amarah Sang Naga yang sudah nggak bisa dibendung lagi.
Adit dan barisan ojek yang melihat dari belakang sampai menahan napas semua. Orang-orang itu baru sadar kalau bos mereka kalau sudah marah ternyata lebih menakutkan daripada setan penunggu kuburan. Guntur terus menerjang naik ke lantai dua, setiap langkah kakinya meninggalkan bekas darah musuh yang sudah remuk jadi satu dengan debu jalanan.
Guntur sampai di lantai paling atas dengan napas yang mulai memburu, tapi sorot matanya makin tajam. Di sana, tiga pengawal elit bertubuh kekar sudah menunggu dengan tongkat besi. Tanpa banyak gaya, mereka menyerbu Guntur dari tiga arah sekaligus.
Guntur merunduk, menghindari ayunan tongkat yang hampir membelah kepalanya. Dia menyambar pergelangan kaki salah satu pengawal, lalu menariknya sekuat tenaga sampai orang itu jatuh menghantam lantai dengan wajah duluan.
TEK! YEK!
Suara rahang yang beradu dengan lantai semen itu terdengar sangat renyah. Guntur nggak kasih ampun, dia menginjak punggung pengawal itu sampai terdengar suara tulang belakang yang bergeser. KREKK! Pengawal itu langsung lumpuh seketika tanpa sempat teriak.
Dua orang sisanya mencoba mengepung. Guntur menangkap tongkat besi salah satu musuh dengan tangan kosong, lalu dengan kekuatan monster, dia memelintir tongkat itu sekaligus dengan tangan yang memegangnya.
TEK... KRAAAKK!
Lengan pengawal itu patah jadi dua bagian, tulangnya mencuat menembus kulit. Guntur mengambil tongkat besi itu, lalu mengayunkannya tepat ke arah lutut pengawal terakhir. DUAK! Suara tempurung lutut hancur berkeping-keping itu bikin suasana ruangan jadi makin mencekam. YEK... Pengawal itu tumbang sambil memegangi kakinya yang sudah hancur.
Guntur berjalan menuju pintu ruangan utama tempat bos kecil mereka bersembunyi. Dengan sekali tendangan maut, pintu kayu jati itu hancur berkeping-keping. Di dalam, pria berjas itu gemetar hebat sambil menodongkan pistol dengan tangan yang nggak berhenti goyah. "Jangan mendekat! Gue tembak lu, bajingan!" teriaknya histeris.
Guntur tertawa, suara tawa yang sangat dingin. Dia bergerak lebih cepat dari tarikan pelatuk. Sebelum jari pria itu menekan, Guntur sudah mencengkeram pergelangan tangannya, memutarnya sampai pistol itu jatuh, lalu menghujamkan sikunya tepat ke tengah dada pria itu.
TEK DUAAARR!
Meja kaca di belakang pria itu hancur saat tubuhnya terbanting keras. Guntur menjambak rambut pria itu, menyeretnya ke jendela, dan menekan wajahnya ke sisa-sisa kaca yang tajam. "Dengarkan baik-baik, sampah! Kasih tahu Amanda, kalau dia berani nyenggol Bagas lagi, aku nggak akan kirim dia ke penjara, tapi aku kirim dia langsung ke lubang kubur!"
Guntur melepaskan pria itu yang sudah berlumuran darah dan kencing di celana karena ketakutan. Dia berbalik, berjalan keluar gedung dengan langkah gagah melewati tumpukan tubuh preman yang sudah remuk tulang-tulangnya. Ratusan driver ojek di luar langsung bersorak saat melihat Naga mereka keluar dengan kemenangan mutlak.
Malam itu, Surabaya jadi saksi bahwa kekuasaan sejati bukan ada pada jas mewah atau uang triliunan, tapi pada nyali dan persaudaraan. Guntur naik ke motor matic-nya, menatap langit malam dengan perasaan lega. Dendam untuk adiknya sudah terbayar lunas dengan suara remuknya tulang-tulang musuh. Sang Naga telah kembali, dan siapa pun yang mencoba mengusik kedamaiannya, harus siap hancur berkeping-keping di bawah kepalan tangannya