Alya Maheswari, gadis sederhana dengan masa lalu kelam, dipaksa menikah dengan Arkan Virello, seorang mafia dingin dan kejam yang tak percaya cinta.
Pernikahan mereka bukan tentang cinta, melainkan perjanjian darah. Namun di balik sikap dingin Arkan, tersembunyi obsesi berbahaya. Dan di balik kepasrahan Alya, tersimpan rahasia yang bisa menghancurkan segalanya.
Ketika cinta mulai tumbuh di antara ancaman, pengkhianatan, dan dendam lama, satu pertanyaan muncul:
Apakah mereka akan saling menyelamatkan, atau justru saling menghancurkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketertarikan Berbahaya
Angin berhembus pelan, membawa hawa dingin yang merayap hingga ke dalam tulang.
Alya berdiri di balkon kamarnya, memeluk tubuhnya sendiri. Gaun tipis yang ia kenakan tak cukup menahan dingin, tapi bukan itu alasan ia tetap berada di sana.
Alya butuh ruang, butuh jarak, terutama dari pria yang kini menjadi pusat dari kekacauan dalam hidupnya.
Arkan Virello.
Nama itu seharusnya hanya menjadi simbol ketakutan, ancaman, dan sesuatu yang harus ia hindari.
Namun kenyataannya, tidak sesederhana itu lagi.
"Kalau kamu terus berdiri di sana, kamu bisa sakit."
Suara berat itu muncul dari belakangnya, tanpa peringatan.
"Aku tidak peduli," jawabnya pelan, dengan tetap menghadap ke depan.
Langkah Arkan mendekat, pelan, tapi pasti. Seperti predator yang sudah tahu mangsanya tidak akan lari.
"Tapi aku peduli, Alya."
Kalimat itu terdengar sederhana, tapi dari Arkan kata itu terasa begitu salah.
Alya akhirnya menoleh, tatapan mereka bertemu. Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara. Hanya ada keheningan yang aneh, dan penuh sesuatu yang tak terucap.
"Apa yang sebenarnya kamu inginkan?" tanya Alya.
Arkan berdiri cukup dekat, dan itu membuat Alya sadar akan kehadirannya dengan cara yang terlalu nyata.
"Aku memperhatikanmu."
Alya mengernyit heran, "Itu bukan jawabannya, Arkan."
"Itu jawaban yang paling jujur dariku."
Jantung Alya berdetak sedikit lebih cepat, ia tidak suka arah pembicaraan ini.
"Kenapa?" tanyanya lebih pelan.
Arkan menatapnya dalam-dalam, seolah mencoba membaca sesuatu di wajahnya.
"Atau mungkin, aku sedang mencoba memahami kenapa kamu tidak seperti yang lain."
Kalimat itu membuat Alya terdiam sesaat, "Yang lain? Apa maksudmu?"
"Wanita yang datang ke dalam hidupku, biasanya dia hanya punya satu tujuan. Uang, kekuasaan, atau perhatian," kata Arkan dingin.
"Apa aku tidak punya semua itu?"
"Tidak," jawab Arkan tanpa ragu. "Kamu bahkan terlihat seperti ingin kabur setiap kali aku mendekat."
Alya menelan ludah, "Itu karena aku memang ingin kabur."
Arkan tersenyum tipis, bukan senyum hangat. Tapi juga bukan senyum sinis seperti biasanya.
"Dan itu yang membuatmu menarik di mataku."
Alya membeku, ia menatap Arkan seolah ingin memastikan, bahwa ia tidak salah dengar.
"Aku menarik di matamu? Apa kamu tidak salah bicara?"
Arkan mengangguk pelan, "Bisa saja mungkin kamu memang berbahaya, tapi kamu juga cukup menarik."
Ada getaran aneh yang menjalar di dalam diri Alya, perasaan yang tidak ia pahami, dan jujur saja hal ini tidak ia inginkan.
"Aku bukan sesuatu yang bisa kamu jadikan permainan, Arkan," katanya, mencoba menguat dirinya sendiri.
Arkan mendekat satu langkah lagi, sekarang jarak mereka nyaris tidak ada.
"Aku tidak sedang bermain," bisiknya rendah.
Napas Alya seakan tertahan, ia bisa merasakan kehangatan napas Arkan. Bisa melihat jelas sorot mata gelap itu, penuh sesuatu yang sulit dijelaskan.
"Aku serius."
Alya mundur satu langkah, tapi Arkan lebih cepat. Tangannya terangkat, menahan pergelangan tangan Alya dengan lembut.
"Jangan mencoba lari dariku, Alya," katanya pelan.
"Aku tidak akan lari," jawab Alya, meski di matanya sangat jelas bahwa itu bohong.
"Kalau begitu, berhentilah untuk menjauh."
Alya menatap tangan Arkan yang masih menggenggamnya, sentuhan itu terasa aneh, tidak menyakitkan, dan tidak memaksa.
Untuk pertama kalinya, Alya tidak merasa ingin segera melepaskannya. Dan itu hal yang salah.
"Kamu selalu gemetar setiap kali aku menyentuhmu," ucap Arkan.
Alya menarik tangannya dengan cepat, "Itu karena aku takut."
"Bukan hanya itu."
"Maksudmu?" tanya Alya heran.
Arkan menatap Alya dengan identitas, yang membuat seorang gadis seakan sulit bernapas.
"Aku tidak suka permainan seperti ini," kata Alya. "Kalau kamu punya sesuatu hal untuk dikatakan, katakan saja."
Arkan mendekat lagi, kali ini lebih lambat. Seolah ia memberi Alya kesempatan untuk mundur, meski ia tahu gadis itu tidak akan melakukannya.
"Atau mungkin..." suara Arkan merendah. "Kamu juga ingin merasakannya."
"Ti-tidak," jawab Alya cepat.
Arkan tersenyum tipis, "Kamu selalu buruk dalam berbohong, dan kenapa kamu terlihat gugup, hmm?"
"Aku tidak..."
"Alya," potong Arkan cepat.
Ia mengangkat dagunya dengan lembut, memaksanya menatap lurus padanya.
"Jangan menipu dirimu sendiri," lanjutnya.
Alya ingin menyangkal, ingin marah, ingin menjauh, tapi tubuhnya justru membeku di tempat.
Tatapan Arkan terlalu kuat, terlalu dalam, seolah menariknya masuk ke dalam sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan.
"Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan," bisiknya, meski suaranya mulai kehilangan keyakinan.
Arkan menghela napas pelan, lalu ia menurunkan tangannya. Memberi jarak, tapi bukan berarti benar-benar melepaskannya.
"Bagus," katanya singkat.
"Bagus apanya?"
Kalau kamu mengakuinya sekarang, itu akan terlalu mudah."
Alya menatapnya bingung, "Apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku?"
Arkan tersenyum samar, "Jawaban itu akan kamu temukan sendiri."
"Dan kalau aku tidak mau?"
Arkan menatapnya dalam-dalam, "Sayangnya... dalam dunia ini, keinginanmu bukan satu-satunya hal yang penting."
Kalimat itu membuat Alya kembali pada kenyataan, pada dunia yang penuh aturan, pada pernikahan yang mengikatnya, dan pada pria tang berdiri di hadapannya, yang bisa menjadi pelindung, atau kehancuran.
"Aku bukan milikmu, Arkan," katanya tegas.
Arkan mendekat sekali lagi, cukup untuk berbisik di dekat telinga Alya.
"Kita lihat saja nanti."
Tubuh Alya menegang, lalu Arkan mulai mundur dan pergi begitu saja, meninggalkannya dalam keheningan yang terasa jauh lebih berat dari sebelumnya.
Alya tetap berdiri di tempatnya, pikirannya kacau, perasaannya lebih kacau lagi. Ia membenci Arkan, membenci cara pria itu mengendalikan situasi. Membenci tatapannya, sentuhannya, dan kata-katanya.
Namun di balik semua itu, ada sesuatu yang mulai tumbuh, perasaan tertarik yang ia tahu tidak seharusnya ada.
Dan yang membuatnya semakin takut, ia tidak yakin apakah ia cukup kuat untuk melawannya.