“Ibu … apa Ibu akan kembali menjemputku?”
Itu adalah kata-kata terakhir Lu Ming sebelum ibunya pergi dan tak pernah kembali.
Ditinggalkan di kota asing, ia tumbuh dengan harapan yang tak pernah padam—menunggu seseorang yang mungkin tak akan pernah datang.
Saat ia berumur 10 tahun, ia berhenti menunggu dan memilih mencari. Perjalanan itu membawanya pada satu tujuan: menemukan ibunya.
Namun ketika akhirnya ia bertemu … bukan pelukan hangat yang ia dapatkan, melainkan kenyataan pahit yang menghancurkan segalanya.
Apakah kebenaran yang begitu kejam itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Apa yang kau lakukan Liu Shen?!
Tiga musim dingin telah berlalu, masing-masing membawa badai salju yang lebih kejam dari sebelumnya.
Tubuh Lu Ming dan Liu Shen telah tumbuh lebih tegap dan berisi, ditempa oleh latihan fisik yang nyaris mustahil bagi anak seusia mereka.
Namun, di Kota Azure, kekuatan fisik hanyalah modal untuk menjadi kuli yang lebih produktif; beban hidup justru semakin menghimpit mereka tanpa ampun.
Paman Han, sosok yang selama ini menjadi tameng, guru, sekaligus ayah bagi mereka, kini tak lagi bisa berteriak sombong.
Ia terbaring lemah di atas dipan kayu yang lapuk di sudut gubuk mereka yang bocor.
Rambutnya telah memutih sepenuhnya, bukan putih murni yang artistik seperti milik Liu Shen, melainkan putih kusam yang kering, menandakan energi Qi di dalam tubuhnya telah layu dan membusuk akibat luka dalam yang tak pernah terobati.
"Ukh… hukk! Uhuk!" Paman Han terbatuk hebat. Tubuhnya tersentak setiap kali dadanya mengerak, hingga akhirnya ia menyemburkan cairan hitam kental yang berbau anyir ke lantai tanah.
"Paman! Bertahanlah! Jangan banyak bergerak!" Lu Ming segera mendekap tubuh kurus itu, mencoba memberikan kehangatan dari tubuhnya sendiri.
Di sudut ruangan yang remang-remang, Liu Shen berdiri mematung. Tangannya mengepal begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih dan kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri.
Mereka telah melakukan segalanya. Mereka mendatangi setiap aula pengobatan, bahkan bersujud di tengah salju di depan gerbang sekte besar hanya untuk memohon setetes Pil Penahan Nyawa tingkat rendah yang sudah kedaluwarsa sekalipun.
Namun, dunia kultivasi adalah tempat yang tuli bagi jeritan yang lemah dan tidak ada untungnya untuk di bantu.
Jawaban yang mereka terima selalu sama: "Hanya sampah yang peduli pada sampah lainnya." Di mata para petinggi kota, nyawa seorang kultivator gagal seperti Paman Han tidak lebih berharga daripada rumput liar yang tumbuh di sela-sela ubin jalanan.
"Dunia ini… busuk," bisik Liu Shen. Suaranya rendah, namun mengandung getaran amarah yang membara di balik matanya yang abu-abu. "Mereka melihat kita mati sebagai hiburan, Lu Ming. Mereka tertawa di balik jubah sutra dan dinding batu ruh mereka sementara kita membusuk di sini."
"Liu Shen, jangan bicara begitu! Kita pasti menemukan jalan! Aku akan pergi ke pasar lagi besok, mungkin ada yang butuh tenaga tambahan!" seru Lu Ming, meski suaranya sendiri pecah oleh air mata yang mulai menetes.
Malam itu, hujan deras mengguyur Azure dengan kemarahan yang luar biasa. Lu Ming berlari menembus badai, napasnya tersengal-sengal.
Ia baru saja kembali dari pasar setelah mencoba menjual tenaga kasarnya untuk mengangkut karung-karung beras selama belasan jam, hanya untuk mendapatkan beberapa keping perunggu kusam.
Hatinya diliputi firasat buruk. Liu Shen tidak ada di gubuk sejak matahari terbenam.
Lu Ming mencari ke setiap gang gelap, hingga langkahnya terhenti di sebuah lorong sunyi di belakang distrik hiburan para bangsawan.
Bau anyir darah yang sangat pekat menusuk hidungnya, mengalahkan aroma tanah yang basah oleh hujan.
Di sana, di bawah cahaya lampion merah yang bergoyang tertiup angin kencang, Lu Ming terpaku. Dunia seolah berhenti berputar.
Liu Shen berdiri tegak di tengah guyuran hujan. Rambut putihnya yang biasanya bersih kini lepek, menempel di wajahnya yang pucat, dan bercampur dengan noda merah pekat yang segar.
Di bawah kakinya, seorang saudagar kaya yang sering terlihat menghina orang miskin di pasar terbujur kaku dengan leher tersayat sempurna.
Di tangan kanan Liu Shen, ia menggenggam sebuah kantong sutra mahal yang berat, berisi koin perak dan emas yang berlumuran darah.
"Liu Shen… apa yang kau lakukan?" suara Lu Ming bergetar hebat. Seluruh tubuhnya mendadak lemas.