Seorang wanita zaman kuno yang mati akibat di bunuh oleh kekasihnya saat ia sedang membuat pil naga suci untuk menjadi abadi.
Tapi ia malah berpindah ke tubuh seorang wanita modern, seorang istri lemah, yang setiap hari di siksa oleh suaminya seorang pemabuk, KDRT dan seorang penjudi.
Yang lebih membingungkan, ia malah sudah memiliki seorang gadis kecil cantik berusia 6 tahun.
"Dasar suami sampah! Ini saatnya aku membalas suami brengksek itu karena sudah menyakiti pemilik tubuh asli ini!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
...Happy Reading...
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
Pria tua itu kini sudah bisa bernapas dengan lega, wajahnya sudah tidak pucat lagi.
Ia mencoba menggerakkan tangannya, lalu perlahan menopang tubuhnya untuk duduk.
"Tuan! Tuan sudah sadar! Syukurlah... Tuan selamat!" seru sang sopir dan asistennya penuh haru.
Pria tua itu mengedipkan matanya beberapa kali. Pandangannya lalu tertuju ke arah sosok Ghaizka yang berdiri di hadapannya.
"Kau... Kaulah yang menolongku tadi?" tanya pria tua itu suaranya terdengar serak.
Ghaizka mengangguk pelan. "Benar, Tuan. Kondisi jantung Anda tidak stabil dan aliran darah Anda tersumbat. Saya hanya membantu melancarkannya sementara agar Anda bisa sadar kembali."
Pria tua itu menatap Ghaizka lekat-lekat.
"Ilmu yang luar biasa... sangat cepat dan efektif. Biasanya butuh waktu berjam-jam untuk memulihkan kondisi separah ini, tapi kau melakukannya hanya dalam beberapa menit," gumamnya takjub.
Ia lalu mencoba berdiri, dibantu oleh anak buahnya. Setelah berdiri tegak, ia menatap Ghaizka dengan tatapan hormat yang luar biasa.
"Nama saya Hendra. Terima kasih banyak, Nona. Kau tidak hanya menyembuhkan tubuhku, tapi kau juga sudah menyelamatkan nyawaku," katanya penuh hormat.
"Sama-sama. Menolong orang yang membutuhkan bantuan adalah kewajiban saya. Kondisi Anda sudah stabil sekarang. Sebaiknya segera dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut. Saya permisi," kata Ghaizka berpamitan.
Ghaizka hendak berbalik pergi, namun tangan tua itu dengan cepat menahannya.
"Tunggu sebentar, Nona! Bolehkah saya tahu nama Nona? Dan di mana Nona tinggal atau berpraktik? Saya ingin sekali membalas budi dan mungkin... kita bisa bekerja sama di masa depan. Negara ini sangat membutuhkan orang sehebat Nona," kata Tuan Hendra penuh harap.
"Nama saya Ghaizka. Saya hanya membuka praktik kecil di rumah. Tidak perlu membalas apa-apa. Saya lakukan itu ikhlas," kata Ghaizka datar.
"Baiklah, Nona Ghaizka. Saya tidak akan memaksa. Tapi ingatlah ini, mulai hari ini, jika Nona atau keluarga Nona membutuhkan sesuatu, atau ada masalah apa pun... carilah saya, Tuan Hendra. Saya akan selalu siap menolong sebagai tanda terima kasih saya," katanya dengan sungguh-sungguh.
Ghaizka hanya mengangguk datar, lalu menarik tangan Gelsya untuk pergi.
"Ayo Gelsya, kita pulang."
"Iya Ma..."
Mereka pun berjalan pergi, meninggalkan Tuan Hendra dan rombongannya yang masih memandangi kepergian wanita ajaib itu dengan penuh rasa penasaran.
Di dalam mobil, saat mobil mulai melaju menuju rumah sakit, Tuan Hendra masih memikirkan sosok Ghaizka.
"Cepat carikan informasi lengkap tentang wanita bernama Ghaizka itu. Alamat rumah, keluarganya, segalanya. Saya ingin tahu segalanya tentang dia. Dia bukan wanita biasa..." perintah Tuan Hendra pada asisten pribadinya.
Sementara itu, di perjalanan pulang...
"Wah... Mama hebat banget tadi! Cuma pakai jarum, Om Tua itu langsung bangun lagi! Gelsya bangga sama Mama!" seru Gelsya dengan mata berbinar-binar sambil melompat-lompat kecil.
Ghaizka tersenyum tipis mendengar pujian putrinya, mengusap kepala Gelsya lembut.
"Itu namanya ilmu, Sayang. Kalau kita punya kemampuan, kita gunakan untuk kebaikan. Tapi ingat, kekuatan itu juga bisa jadi senjata mematikan kalau ada yang berniat jahat," ucapnya mengingatkan.
Mereka pun akhirnya sampai di rumah dengan selamat
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...