BERTAHUN-TAHUN DIANGGAP MANDUL, TERNYATA ITU ADALAH JEBAKAN SUAMI DAN ORANG KETIGA. SETELAH MENGETAHUI KEBENARANNYA, AKU PUN MULAI MEMBALAS DENDAM!
Demi menikahi Lavanya, Aditya tega memberikan obat anti-ovulasi kepada Kemuning, agar tidak pernah bisa punya anak. Aditya juga memanipulasi hasil tes kesuburan Kemuning.
Namun, takdir berkata lain ketika kecelakaan menimpa Kemuning. Dari hasil pemeriksaan diketahui kalau ada zat berbahaya di dalam rahimnya.
Dengan bantuan Arkatama, Kemuning menyusun pembalasan kepada Aditya dan Lavanya. Membuat mereka merasakan pembalasan yang tak disangka-sangka.
Niat ingin menguasai harta milik Kemuning, yang Aditya dapatkan malah gigit jari.
Akankah rahim Kemuning bisa subur kembali?
Novel ini misi dari editor, jika ada kesamaan dengan author lain, berarti kita sedang sama-sama mengerjakan tugas misi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Di desa, suasana kehidupan berjalan jauh lebih tenang dibanding hiruk-pikuk ibukota. Sejak pagi, halaman peternakan milik Kemuning sudah terlihat ramai oleh para pekerja yang datang lebih awal dari biasanya. Beberapa orang berdiri di dekat kandang sambil mengobrol pelan, sementara yang lain duduk di kursi plastik dengan wajah penasaran.
“Tumben disuruh kumpul pagi-pagi begini.”
“Katanya ada pengumuman.”
“Jangan-jangan dapat pesanan besar lagi.”
Suara mereka saling bersahutan penuh rasa ingin tahu. Karena semua pekerja berkumpul, termasuk yang kerja shift siang dan malam.
Ada pekerja bagian kandang yang bajunya masih bau pakan ayam. Ada bagian pemotongan yang baru selesai mencuci tangan. Sopir distribusi juga ikut berkumpul sambil memegang topi masing-masing. Semua menunggu Kemuning keluar dari kantor kecil di samping peternakan.
Tidak lama kemudian, pintu terbuka. Kemuning keluar sambil membawa beberapa amplop cokelat cukup tebal di tangannya. Wanita itu memakai kemeja lengan panjang sederhana dan celana panjang berwarna lembut. Penampilannya tidak berlebihan, tapi selalu terlihat rapi dan nyaman dipandang.
Begitu melihat Kemuning datang, para pekerja langsung berdiri lebih tegak.
“Pagi, Bu.”
“Pagi semuanya,” balas Kemuning sambil tersenyum ramah.
Kemuning berdiri di depan mereka dengan wajah tenang. Tidak ada sikap tinggi hati meski sekarang peternakan itu berkembang pesat di tangannya.
“Bulan ini pesanan kita naik banyak,” ucap Kemuning pelan, tapi cukup jelas terdengar oleh semua orang. “Bahkan hampir sepuluh kali lipat dari biasanya.”
Beberapa pekerja langsung saling pandang dengan mata melebar. Senyum pun menghiasi wajah mereka.
“Serius, Bu?”
“Pantesan ayam keluar terus tiap hari.”
“Kirain cuma saya yang ngerasa makin sibuk.”
Kemuning tersenyum kecil melihat reaksi mereka.
“Karena itu aku mau berbagi rezeki sama kalian,” lanjutnya sambil mulai memegang amplop-amplop itu lebih erat.
Suasana langsung berubah ramai oleh sorak-sorai gembira para pekerja.
“Wah, rezeki anak istri!”
“Terima kasih banyak, Bu!”
Kemuning mulai membagikan amplop satu per satu. Ia menyebut nama mereka dengan sabar, lalu menyerahkan bonus itu langsung ke tangan masing-masing.
“Ini buat Pak Rahmat.”
“Terima kasih, Bu.”
“Pak Jono juga jangan lupa dijaga kesehatannya.”
“Iya, Bu.”
Cara Kemuning berbicara selalu lembut, tetapi perhatian kecil seperti itu membuat para pekerja merasa dihargai.
Salah satu pekerja yang masih muda membuka amplopnya pelan. Begitu melihat isinya, matanya langsung membelalak lebar.
“Bu, ini bonusnya banyak banget!” ucapan itu membuat yang lain langsung penasaran dan ikut membuka amplop mereka masing-masing. Reaksi mereka hampir sama.
“Ya Tuhan ...!”
“Ini mah kayak THR!”
“Baru kali ini saya pegang bonus sebanyak ini!”
Seorang pemuda sampai tertawa lebar sambil memegangi amplopnya erat-erat. “Mamaku pasti senang banget, Bu!” katanya semangat.
Yang lain langsung ikut tertawa. Bahkan ada yang buru-buru mengambil ponsel untuk memberi kabar keluarganya.
Kemuning ikut tersenyum melihat wajah-wajah bahagia di depannya. Entah kenapa, melihat mereka tersenyum seperti itu membuat hatinya ikut terasa hangat.
“Gunakan uangnya baik-baik, ya!” ucap Kemuning sambil bercanda kecil. “Jangan habis buat main burung merpati lagi.”
Semua langsung tertawa keras. “Waduh, ketahuan Bu Kemuning!”
“Si Ujang mah emang suka enggak bener.”
Suasana pagi itu terasa hidup dan hangat. Tidak ada jarak antara pemilik usaha dan pekerjanya.
Kemuning memang tidak pernah berubah sejak dulu. Walaupun sekarang usaha peternakan berkembang pesat di tangannya, ia tetap memperlakukan para pekerja dengan baik. Ia tahu peternakan itu bisa berjalan besar bukan hanya karena dirinya, tetapi juga karena orang-orang yang bekerja keras setiap hari.
Para pekerja sadar akan hal itu. Mereka semakin hormat pada Kemuning. Bukan karena takut, tetapi karena tulus menghargainya.
“Bu Kemuning memang beda,” bisik salah satu pekerja pada temannya. “Jarang ada bos kayak begini sekarang.”
“Iya. Pantes usaha beliau makin maju.”
Seperti biasa, kabar baik tidak pernah berhenti hanya di satu tempat. Sore harinya, cerita tentang bonus besar dari Kemuning mulai menyebar ke seluruh desa. Dari warung kopi, pasar, sampai ibu-ibu yang sedang duduk di teras rumah.
“Katanya bonus pekerjanya sampai jutaan.”
“Baik banget itu si Kemuning.”
“Pantes orang-orang betah kerja sama dia.”
“Memang rezeki enggak ke mana kalau orangnya baik.”
Banyak yang memuji Kemuning. Banyak yang mulai kagum melihat perubahan hidup wanita itu. Dulu dipandang sebelah mata. Sekarang justru berhasil berdiri sendiri dan mengembangkan usaha lebih maju.
Namun tidak semua orang senang mendengar kabar tersebut. Di rumahnya yang sederhana, Bu Ratih duduk sambil mengupas bawang di dapur ketika seorang tetangga datang bercerita dengan wajah antusias.
“Bu Ratih, si Kemuning bagi bonus gede banget, lho! Pekerjanya sampai senyum semua.”
Tangan Bu Ratih langsung berhenti bergerak. Wajahnya perlahan berubah masam.
“Katanya hampir kayak THR,” lanjut tetangga itu tanpa sadar. “Memang sekarang peternakannya makin maju.”
Bu Ratih mendengus kasar. “Pamer aja terus!” gerutunya sinis.
Tetangga itu langsung terdiam canggung. Dia baru ingat kalau Bu Ratih suka sentimental jika ada yang membicarakan Kemuning.
Bu Ratih membuang bawang yang dipegangnya ke meja dengan kesal. Dadanya terasa panas setiap kali mendengar nama Kemuning dipuji orang-orang.
Entah kenapa, semakin hidup Kemuning terlihat bahagia dan sukses, semakin sulit Bu Ratih menerimanya. Setelah perselisihan dahulu, sampai sekarang ia masih membenci mantan menantunya itu.
***
Terima kasih semuanya, berkat dukungan kalian karya ini bisa kontrak. Insya Allah hari ini dan seterusnya crazy up, ya!
Bismillah, bisa ♥️
bagaimana pun kitabkan sesama perempuan ya nya
tapi masalahnya lu sesama perempuan juga ga ada kesian nya
gimana rasanya Bu ngerasain neraka yg lu buat sendiri 🫣🥹
Semoga saja lo yng akan di santap oleh orang-orang suruhan mu itu 😠😠😠😂😂
rela membuang berlian demi batu kali!