Siang hari, dia Ekantika, CEO berhati dingin yang ditakuti semua orang. Malam hari, dia Nana, gadis 26 tahun yang ceria di aplikasi kencan.
Setelah diceraikan dan dicap 'barang bekas' oleh mantan suaminya, Ekantika membalas dendam dengan cara yang gila: meretas algoritma aplikasi kencan untuk menciptakan identitas palsu. Tak disangka, ia malah match dengan Riton, mantan karyawannya yang kini jadi CEO saingan!
Riton benci wanita manipulatif, tapi dirinya jatuh cinta setengah mati pada 'Nana'. Apa yang terjadi jika Riton tahu bahwa gadis impiannya itu mantan bosnya, kini berusia 35 tahun yang menyandang status janda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kos-kosan Virtual dan Aroma Penderitaan Gen Z
Dimas membaca pesan itu. “Mie instan pedas? Tik, kamu seorang vegan seumur hidupmu!”
“Itu detail yang tidak akan diketahui Riton! Itu membuktikan bahwa Nana itu spontan dan tidak tertekan! Kirim!” Ekantika menekan tombol kirim.
Tak sampai sepuluh detik, ponsel Ekantika bergetar lagi.
Riton: Haha, kamu lucu banget, Na. Maaf, aku cuma penasaran. Aku baru lihat profilmu lagi. Kamu bilang suka ngopi. Mau ngopi bareng lusa? Aku yang traktir!
Ekantika tersenyum puas. Perangkapnya berhasil.
“Lihat, Dimas. Dia sudah jatuh ke dalam algoritma pembangkangku,” katanya, nadanya kembali ke mode CEO yang bangga.
“Tunggu, Tik. Soal ngopi lusa. Kamu bilang ke dia kamu ada urusan di luar kota besok. Kalau kamu setuju lusa, berarti kamu akan bertemu dengannya. Kamu yakin semua jejak Ekantika Asna sudah hilang dalam 48 jam?” Dimas mengingatkan.
“Aku yakin. Tapi ada satu hal lagi yang harus kita atur sebelum aku bertemu dengannya sebagai Nana,” kata Ekantika, ekspresinya berubah serius. “Aku butuh alibi yang sempurna untuk tempat tinggalku.”
Ekantika tinggal di apartemen mewah di pusat kota. Nana, fresh grad desainer freelance, tidak mungkin tinggal di sana.
“Aku butuh kamu mengubah alamat GPS-ku. Aku akan bilang aku tinggal di kos-kosan sempit di Tebet. Dan kalau Riton menawarkan diri untuk mengantar pulang, aku akan bilang aku naik ojek online,” jelas Ekantika.
Dimas menatap Ekantika, matanya memancarkan campuran ketakutan dan kekaguman. “Kamu benar-benar gila. Kamu menciptakan seluruh semesta fiktif hanya untuk satu kencan?”
“Ini bukan satu kencan, Dimas. Ini adalah proyek pembuktian diri. Dan aku akan memenangkan tender ini,” kata Ekantika dingin. “Sekarang, alibi kos-kosan. Kamu harus bisa membuat virtual background rumah kos-kosan yang bisa kupakai saat video call.”
Dimas menghela napas, membuka kembali laptopnya. “Baiklah, aku akan membuatkanmu kos-kosan virtual dengan cahaya remang-remang dan tumpukan baju kotor. Tapi Tik, dengarkan aku baik-baik.”
Dimas mencondongkan tubuhnya ke depan, tatapannya menusuk.
“Riton itu mencari kejujuran setelah dikhianati wanita yang usianya jauh di atasnya. Kamu sedang menipu dia dengan dua hal yang paling dia takuti: usia dan kebohongan. Ini bom waktu, Ekantika. Ketika ini meledak, bukan hanya hubunganmu yang hancur, karier profesionalmu juga bisa kena imbas. Kamu adalah Ekantika Asna. Kamu harus memikirkan risikonya.”
Ekantika hanya tersenyum tipis, senyum yang sama yang ia gunakan saat menandatangani kontrak miliaran.
“Risiko adalah bahan bakar terbaik, Dimas. Dan aku tidak akan mundur sampai aku tahu batas kemampuanku untuk dicintai,” jawab Ekantika. Ia mengambil ponselnya lagi.
Ia menatap pesan Riton yang menawarkan traktir kopi. Ia harus membalasnya sekarang, sebagai Nana yang gembira dan low maintenance.
Nana: WAW! Traktiran! Asiiik! Lusa sore aku bisa banget! Aku lagi di luar kota, nih, besok baru balik! 🚗💨 Nanti aku kabarin ya kalau udah di Jakarta! Pokoknya, aku mau cerita banyak! 🤩
Dimas membaca pesan itu di bahu Ekantika. “Di luar kota? Kamu baru saja membatalkan rapat dewan direksi besok pagi di lantai 15, Tik.”
“Tentu saja,” kata Ekantika, mengangkat bahu. “Ekantika Asna sibuk menjadi CEO yang dingin di Jakarta. Nana sibuk menjadi fresh grad yang riang di luar kota.”
Ponselnya bergetar lagi. Riton membalas cepat.
Riton: Oke, aku tunggu kabarmu, Na. Hati-hati di jalan ya, Nana yang suka mie instan pedas!
Ekantika tersenyum lega. Ia berhasil.
Dimas menutup laptopnya, wajahnya muram. “Sekarang, kamu harus keluar dari mobil ini dan mulai bertingkah seperti CEO yang baru saja pulang dari upacara perceraian yang menyakitkan. Bukan seperti remaja yang baru mendapatkan pacar.”
Ekantika mengangguk. Ia turun dari mobil, kembali mengenakan topeng Ekantika Asna yang kaku.
“Terima kasih, Dimas. Aku tunggu lusa. Dan jangan lupa, alibi kos-kosan yang sempit, ya. Harus ada aroma penderitaan dan harapan Gen Z di sana,” Ekantika berbisik.
Dimas hanya menggeleng, melihat Ekantika berjalan menuju lift. “Aku yakin aku akan kehilangan pekerjaanku karena kebohonganmu ini,” gumamnya.
Ekantika kembali ke kantornya, malam itu. Ia duduk di kursi kulitnya yang megah, memandang keluar jendela ke kerlap-kerlip lampu Jakarta. Di satu sisi, ia adalah Ekantika Asna, wanita yang baru saja menandatangani surat cerai dan dihantui gosip kantor. Di sisi lain, ia adalah Nana, 26 tahun, riang, dan akan berkencan dengan pria muda yang karismatik.
Ia mengambil ponselnya, membuka aplikasi kencan. Ia melihat foto Riton lagi.
Tiba-tiba, ia menyadari bahwa ia belum menghapus satu detail penting di profilnya. Di bagian minat, ia menulis: Suka mendengarkan lagu pop-punk era 2000-an.
Itu adalah musik kesukaan Riton saat ia masih menjadi junior di kantor dulu, sesuatu yang hanya Ekantika Asna yang tahu.
Ia buru-buru menekan tombol Edit, panik. Ia harus menghapus detail itu sebelum Riton menyadarinya.
Namun, sebelum jemarinya menyentuh layar, notifikasi lain muncul. Kali ini bukan dari Riton, melainkan dari Dimas.
Dimas: Tik, aku baru saja membersihkan jejak digital lamamu. Aku menemukan sebuah foto lama yang melibatkan Riton di acara kantor 5 tahun lalu. Aku tidak bisa menghapusnya, itu di arsip kantor lama yang terenkripsi.
Ekantika membaca pesan itu, jantungnya berdetak kencang. Ia mengklik tautan yang dikirim Dimas.
Foto itu adalah foto tim lama. Di tengah, Riton muda, dengan senyum lebar. Di sebelahnya, berdiri Ekantika Asna, dengan setelan profesional, tampak bangga.
Namun, ada yang lebih buruk.
Di bawah foto itu, ada komentar dari salah satu rekan kerja lama mereka. Komentar itu ditulis lima tahun lalu, dan baru ia lihat sekarang.
“Wah, Riton dan Bu Ekantika cocok banget ya. Riton, jangan sampai Bu Ekantika cuma jadi mentor karirmu, lho! Hahaha.”
Ekantika membeku. Foto itu menunjukkan kedekatan yang berbahaya.
Dan Riton pasti akan melihatnya.
Ia mengambil napas dalam-dalam, lalu membalas pesan Dimas.
Ekantika: Dimas, aku butuh kamu meretas arsip kantor lama. Sekarang juga.
Dimas: Tik, itu ilegal. Lagipula, aku sedang di jalan menuju kos-kosan virtualmu.
Ekantika mengabaikan Dimas. Ia harus mengendalikan narasi ini. Ia harus memastikan Riton tidak pernah melihat foto itu. Jika ia melihatnya, Riton akan menyadari bahwa Nana telah mengenalnya jauh lebih lama daripada yang ia akui.
Tiba-tiba, ia ingat sesuatu yang lebih mendesak.
Ia harus menghapus detail pop-punk di profilnya.
Ekantika membuka profil Nana lagi, tetapi ia terlambat.
Riton telah mengirim pesan baru.
Riton: Na, aku baru sadar kamu suka pop-punk 2000-an! Itu favoritku banget! Kita punya banyak kesamaan, ya!
Ekantika menatap layar. Riton sudah melihatnya. Ia sudah melihat sebuah detail yang hanya bisa ia ketahui jika ia adalah dirinya yang sebenarnya, Ekantika Asna, boss yang ia kenal lima tahun lalu.
Ia panik, mencari cara untuk menjelaskan kesamaan selera musik yang terlalu spesifik ini. Ia harus menemukan alibi yang sangat konyol, sangat Gen Z, dan sangat tidak mungkin.
Ekantika mulai mengetik, jarinya gemetar.
Nana: Oh, iya! Aku dapet rekomendasi lagu-lagu lama itu dari…
Ia terhenti. Ia tidak punya alibi.
Ddrrttt!
Ponselnya bergetar lagi. Pesan masuk, bukan dari Riton, tetapi dari akun yang sama yang memposting meme janda sinis tentang dirinya kemarin.
Anonim: CEO yang jadi janda itu harusnya sadar diri. Coba cek arsip kantor lama. Ada foto-foto lucu yang melibatkan dia dan junior yang dia sukai. Sayang sekali, dia sudah terlalu tua untuk itu.