NovelToon NovelToon
Bullet Train To Yesterday

Bullet Train To Yesterday

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Romansa Fantasi
Popularitas:392
Nilai: 5
Nama Author: AnaRo

Rain dan Ayyara adalah definisi manusia modern yang mandiri. Di usia kepala tiga, keduanya telah mencapai titik nyaman: karier yang stabil, gaya hidup childfree, dan prinsip teguh anti-pernikahan. Bagi mereka, cinta hanyalah distraksi yang mengancam kebebasan yang telah mereka bangun dengan susah payah.
​Namun, semesta memiliki rencana lain.
​Dalam perjalanan bisnis menggunakan kereta cepat, sebuah cahaya putih seterang kilat menghantam dan melemparkan kesadaran mereka ke masa tujuh belas tahun yang lalu.
Di tengah pencarian cara untuk kembali ke masa depan, sebuah pertanyaan mulai menghantui: Jika mereka berhasil memperbaiki masa lalu, apakah "kebebasan" di masa depan masih menjadi hal yang mereka inginkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaRo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

impulsif

Aku menatap Rain dengan perasaan yang campur aduk. Ada rasa hormat yang mendalam melihat kerentanan laki-laki di hadapanku ini, namun di saat yang sama, aku merasa seperti orang asing yang sedang mencoba membaca buku dalam bahasa yang tidak kupahami.

​"Rain," panggilku pelan, memutus keheningan yang sempat merayap di antara kami. "Aku baru menyadari sesuatu. Selama tiga puluh empat tahun aku hidup, aku tidak pernah benar-benar tahu rasanya berada di posisimu."

​Aku menarik napas panjang, mencoba menjabarkan kekosongan yang selama ini kuanggap sebagai tameng.

​"Aku tidak pernah menjalin romansa. Aku tidak pernah tahu rasanya jatuh cinta sampai ke tulang, tidak pernah merasakan pahitnya ditolak, apalagi hancurnya patah hati seperti yang kamu ceritakan tadi.

Hidupku datar, aman, dan steril dari ledakan emosi semacam itu."

​Aku tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung permintaan maaf tersirat.

​"Jadi, sepertinya mesin AI ini mengalami malfungsi.

Aku tidak bisa memberikan saran yang berarti untuk masalah hatimu, karena aku tidak punya data pengalaman untuk itu. Aku tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan sesuatu yang bahkan tidak pernah kumiliki."​Rain terdiam.

Ia tidak menertawakan kejujuranku, tidak juga terlihat kecewa.

Ia justru menatapku dengan sorot mata yang jauh lebih tenang, seolah pengakuanku adalah sebuah jawaban yang selama ini ia cari.

​"Mungkin itu lebih baik, Ra," jawab Rain pelan, suaranya terdengar tulus tanpa sedikit pun nada menyindir.

​Kamu tetap utuh, tetap menjadi Ayyara yang tajam dan tidak bias oleh kenangan pahit. Terkadang, tidak memiliki data tentang rasa sakit adalah perlindungan terbaik yang bisa diberikan hidup padamu."

​Aku terpaku mendengar kalimatnya.

Malam itu, kegelisahan di dadaku sudah mencapai puncaknya. Aku tidak sanggup pulang ke rumah sewaan di mana Ibu, Bapak, dan rombongan keluarga Bian sedang menyusun rencana masa depan yang terasa seperti jerat bagiku.

Aku juga tidak ingin kembali ke kamar kost yang sepi dan hanya akan membuatku tenggelam dalam pikiran buruk.

​"Rain," panggilku saat kami masih berdiri di parkiran kafe. "Aku ingin bertemu Martin."

​Rain menoleh, kunci motor sudah di tangannya. Ia tidak bertanya mengapa. Ia seolah tahu bahwa saat ini, hanya Martin satu-satunya manusia yang memegang sejarah hidupku secara utuh yang bisa menampung air mataku tanpa aku harus menjelaskan alasannya.

​Martin, yang sejak mendarat kedua kalinya di kota ini terus kukirimi pesan singkat, candaan, dan keluh kesah lewat media sosial, sudah menjadi sandaran virtualku. Dukungan dan tawa renyahnya di layar ponsel adalah satu-satunya hal yang membuatku merasa tetap waras.

Namun malam ini, aku butuh lebih dari sekadar teks. Aku butuh kehadirannya.

​"Dia ada di mana?" tanya Rain singkat.

​"Pantai di pinggiran kota. Ada acara fashion show terbesar tahun ini di sana. Dia salah satu tim dari desaigner utamanya," jawabku sembari menunjukkan lokasi di ponsel.

​Rain terdiam sejenak, menghitung jarak. "Itu enam jam perjalanan, Ra. Perjalanan gila kalau kita berangkat sekarang dengan motor."

​Aku menatapnya lurus, tidak ada keraguan di mataku. "Aku tahu. Tapi aku butuh dia. Aku ingin menangis di depannya, Rain. Hanya dia yang tidak akan bertanya 'kenapa' kalau aku tiba-tiba pecah."

​Tanpa banyak bicara, Rain memberikan helmnya padaku. "Naik. Kita berangkat sekarang."

​Malam itu juga, di bawah lampu jalan yang temaram, kami memutuskan untuk melakukan hal paling impulsif yang pernah aku lakukan dalam tiga puluh empat tahun hidupku.

Aku merogoh ponsel, mengetik pesan singkat di grup kantor bahwa aku mengambil cuti mendadak besok pagi. Rain melakukan hal yang sama. Kami membuang logika profesional demi satu malam yang jujur.

--

​Motor Rain melaju membelah angin malam yang menusuk tulang. Enam jam perjalanan gila dimulai. Aku melingkarkan lenganku di pinggang Rain, bukan karena romansa, tapi karena aku butuh tumpuan agar tidak jatuh oleh kantuk dan lelah yang mulai menyerang.

​Perjalanan ini terasa seperti pelarian dari segala tuntutan dunia. Di sepanjang jalan lintas kota yang sunyi, di antara deru mesin dan aroma aspal basah, aku memejamkan mata. Rain tidak bicara sepatah kata pun, namun cara dia menjaga kestabilan motornya memberitahuku bahwa dia mengerti.

​Menjelang fajar, aroma garam laut mulai menusuk indra penciumanku. Di kejauhan, lampu-lampu panggung raksasa di tepi pantai mulai terlihat, berpendar kontras dengan kegelapan samudera. Kami sampai di lokasi fashion show itu tepat saat persiapan puncak dimulai.

​Begitu motor berhenti di area parkir pantai, tubuhku terasa kaku dan gemetar. Rain membantuku turun, melepas helmku dengan gerakan pelan.

​"Cari dia, Ra," ucap Rain, suaranya serak karena angin malam. "Aku tunggu di sini. Menangislah sepuasmu."

​Aku mengangguk, melangkah tertatih menuju area backstage yang riuh. Di antara deretan busana mewah dan para penata rias yang sibuk, aku melihatnya.

Sosok tinggi dengan wajah setampan dewa Yunani itu sedang berdiri di depan cermin besar.

​"Martin!" seruku dengan suara parau.

​Martin menoleh.

Begitu melihatku yang berdiri berantakan dengan rambut kusut dan mata yang sudah mulai berkaca-kaca, ia tidak bertanya apa-apa. Ia hanya melebarkan lengannya, memberikan ruang paling aman di dunia bagiku untuk akhirnya benar-benar hancur dan menangis sepuas hati.

​Di balik pundak Martin, aku melihat ke arah luar, di mana Rain berdiri bersandar pada motornya, menatap ke arah laut lepas. Kami bertiga, dengan rahasia dan lukanya masing-masing, sedang mencoba menulis ulang takdir di tepi pantai yang dingin ini.

Aku berdiri di sana, di pelukan Martin yang aroma parfumnya bercampur dengan debu jalanan yang menempel di pakaianku. Martin selalu sama, berapapun usianya. Ketulusannya sebagai manusia adalah satu-satunya hal di dunia ini yang tak pernah kuragukan.

Ia tidak bertanya mengapa aku datang dengan keadaan sekacau ini, atau mengapa ada laki-laki bernama Rain yang berdiri di belakangku dengan tatapan kosong karena kelelahan.

​Ia hanya mendekapku, membiarkan aku terisak sampai dadaku terasa plong.

​Setelah tangisku mereda, kami bertiga berakhir duduk di deretan kursi kayu di belakang panggung yang masih sepi.

Di depan kami, garis pantai mulai memerah. Meskipun kami tahu Martin sedang dalam masa tersibuknya, dengan jadwal runway yang tinggal hitungan jam ia tidak beranjak. Ia justru duduk di antara aku dan Rain, menjadi jembatan bagi dua jiwa yang sedang tersesat ini.

​Keajaiban terjadi di sana. Sepertinya kelelahan yang luar biasa setelah enam jam menembus angin malam telah meruntuhkan dinding pertahanan Rain.

Logikanya yang biasanya sekokoh baja, tiba-tiba menguap begitu saja. Setelah semalam ia jujur kepadaku, kini di depan Martin, Rain kembali menumpahkan isi hidupnya.

​Ia bercerita tentang lompatan waktu, tentang penyesalan di usia dua puluh lima yang asli, hingga beban berat yang diletakkan ibunya di pundaknya saat ini. Ia bicara tanpa saringan, seolah Martin adalah psikolog yang siap diam menerima pengakuan  paling mustahil sekalipun.

​Martin mendengarkan dengan tatapan lembutnya yang khas. Ia tidak menghakimi, tidak menganggap Rain gila, dan tidak memotong sedikit pun. Ia hanya sesekali mengangguk, memberikan validasi yang menenangkan bagi Rain yang jiwanya sudah terlalu lelah berlari dari takdir.

​Matahari di pinggir pantai pagi itu benar-benar terasa berbeda. Sinarnya yang perlahan merayap naik dari ufuk timur membasuh wajah kami yang kusam karena debu jalanan.

Rasanya terlalu hangat, seolah alam semesta sedang mencoba memeluk kami bertiga yang sedang mencoba berdamai dengan kenyataan masing-masing.

​"Terima kasih sudah datang, Ra. Terima kasih sudah bawa Rain ke sini," bisik Martin pelan, suaranya hampir tenggelam oleh debu ombak.

​Aku menoleh ke arah Rain yang kini tampak sedikit lebih tenang setelah bercerita.

Di bawah cahaya pagi itu, aku menyadari sesuatu: perjalanan gila enam jam ini bukan hanya untuk mencari Martin agar aku bisa menangis. Perjalanan ini adalah cara semesta mempertemukan kami bertiga untuk saling menguatkan.

--

​Pagi itu, di tepi pantai yang asing, aku merasa untuk pertama kalinya dalam tiga puluh empat tahun hidupku, aku tidak perlu lagi berpura-pura menjadi wanita tangguh yang tak butuh siapa-siapa. Aku punya mereka, dan itu sudah lebih dari cukup.

Hari ini rasanya seperti mimpi yang melompat keluar dari kenyataan. Berkat bantuan Martin, aku dan Rain berganti pakaian menggunakan baju-baju casual koleksi terbaru yang ia berikan. Kami sempat mandi dan beristirahat sejenak di mobil kerjanya yang luas, mencoba membuang sisa-sisa lelah dari perjalanan enam jam semalam.

​Ini adalah pertama kalinya dalam hidupku aku menginjakkan kaki di ibu kota negara ini. Aku merasa seperti turis asing yang baru keluar dari gua. Kami berkeliling ke tempat-tempat paling ikonik, dan aku tidak ingin melewatkan satu momen pun.

Aku berfoto di mana saja; di depan gedung pencakar langit, di monumen bersejarah, hingga di trotoar yang sibuk. Kami saling memotret satu sama lain, dan sesekali, Rain mau diajak berfoto bersama. Ada tawa yang lepas, seolah beban  tertinggal jauh di batas kota.

​Setelah setengah hari puas berkeliling, kami memutuskan kembali ke tempat Martin. Aku tidak ingin melewatkan fashion show itu. Ini pengalaman pertama bagiku melihat dunia adibusana secara langsung, sebuah kesempatan langka yang hanya bisa diberikan oleh sahabat seperti Martin.

​Jam 4 sore, tepat setelah keriuhan acara selesai, Martin menghampiri kami dengan napas yang masih memburu namun senyumnya tetap menenangkan. Ia meminta Rain meninggalkan motornya di sini agar nanti dibawa bersama mobil logistik dan barang-barang lainnya.

​"Maaf ya, aku tidak bisa menemani lebih lama," ucap Martin sambil menatapku lembut.

"Tapi aku janji, begitu aku kembali ke kota kita nanti, kita pasti akan lebih sering mengobrol.

Lagipula, ibu kota ini tidak seindah tempat kita, Ara. Pemandangan, udara, bahkan turis mancanegara pun sudah mengakuinya dengan terus datang ke kota kita. Di sini aku sudah melakukan yang terbaik sampai level ini, meskipun aku masih merasa sangat pemula."

​Martin terdiam sejenak sebelum menambahkan, "Aku sudah memutuskan pekerjaan selanjutnya."

Ia kemudian menyerahkan dua lembar tiket pesawat kepada kami. "Ini tiket jam satu malam nanti ya, Say. Ini yang paling murah, jadi ya harus rela terbang tengah malam," candanya sambil mengerlingkan mata.

​"Sekarang, kalian harus habiskan sisa waktu kalian jadi turis. Oh iya, Ra, katanya ingin punya foto bagus seperti model? Itu temanku sudah siap di sana," Martin menunjuk ke arah area pemotretan di pinggir pantai.

"Tapi tetap ya, ini free dan boleh dipakai untuk beberapa katalog kami. Tenang saja, ini tidak akan jadi konsumsi publik secara luas, kecuali kalau kalian sendiri yang mempostingnya di medsos."

​"Maksudnya kalian?" Rain menyela dengan nada kaget.

Matanya membulat menatap Martin.

​Martin tertawa renyah, "Ya kalian berdua yang difoto. Kita butuh sepasang model... pemula."

​Aku dan Rain saling berpandangan.

Aku yang tadinya hanya ingin bergaya sendirian, kini harus bersanding dengan Rain di depan kamera profesional.

Rain tampak kaku, sementara aku merasa jantungku berdegup lebih kencang.

Di bawah arahan teman Martin, kami mulai berpose. Awalnya terasa sangat canggung, namun perlahan, kelelahan dan kebersamaan kami selama 24 jam terakhir membuat segalanya mengalir alami.

​Sesi foto itu terasa seperti sebuah pernyataan tanpa kata. Di depan lensa, aku tidak perlu menjadi wanita yang takut akan komitmen, dan Rain tidak perlu menjadi pria yang dikejar tuntutan keluarga. Kami hanya dua manusia yang sedang menikmati sisa waktu di ibu kota, sebelum kembali ke realita yang sudah menunggu di seberang pulau.

Ayo, Ra. Sedikit lebih santai. Jangan kaku begitu," seru teman Martin, si fotografer, dari balik kameranya.

​Aku mencoba mengatur napas. Ini benar-benar gila. Aku, Ayyara, wanita tiga puluh empat tahun yang baru saja menangis sesenggukan semalam, kini berdiri di depan kamera profesional dengan gaun katalog yang indah. Di sampingku, Rain berdiri dengan canggung, tapi anehnya, pose kaku itu justru terlihat 'pas' di kamera.

​Sesi foto itu tidak berlangsung lama, tapi rasanya seperti satu abadi. Begitu kamera dimatikan, aku langsung berlari menghampiri si fotografer, mengabaikan Rain yang masih berdiri diam di posisinya.

​"Boleh lihat hasilnya? Boleh ya?" tanyaku dengan nada memohon yang terdengar kekanak-kanakan di telingaku sendiri.

​Fotografer itu tersenyum dan memutar layar kameranya ke arahku.

​Dan... boom.

​"Ya ampun! Ini... ini aku?"

​Aku memekik pelan, tanganku menutupi mulut. Mataku membelalak menatap sosok wanita yang ada di layar. Dia cantik. Sangat cantik.

​Aku mengambil kamera itu dari tangan fotografer dengan hati-hati, lalu mendekatkannya ke wajahku.

Aku mulai zooming pada wajahku sendiri di setiap foto.

​"Rain! Lihat ini! Lihat wajahku!" panggilku, suaranya melengking senang. Aku tidak peduli kalau aku terlihat memalukan di depan fotografer atau teman-teman Martin lainnya.

​Rain menghampiriku dengan perlahan, tangannya masih di saku celana casual pemberian Martin. "Ada apa?"

​"Lihat! Wajahku kencang banget!" aku menunjuk-nunjuk layar kamera dengan jari gemetar. "Wajah usia dua puluh empat tahun tanpa ada flek! Tidak ada kerutan di sudut mata! Bersih banget, Rain!"

​Aku merasa seperti seorang gadis kecil yang baru pertama kali melihat dirinya sendiri dalam sebuah mahakarya. Aku terus memuji hasil foto itu, memuji betapa fotografernya pintar mengambil sudut, betapa pencahayaannya sempurna, dan yang paling penting: betapa cantiknya aku di foto itu.

​"Lihat pipiku, Rain. Masih plumpy banget kan? Gila, ini definisinya 'puncak kecantikan'!" aku tertawa renyah, mataku berbinar-binar menatap layar.

​Aku tidak pernah merasa sebahagia ini melihat wajahku sendiri.

​"Flek hitam yang biasanya mulai muncul di pipi... hilang! Semuanya hilang!" aku berteriak kegirangan, seolah-olah aku baru saja memenangkan lotre.

​"Rain," panggilku pelan, mataku masih menatap layar kamera. "Aku ingin menyimpan foto-foto ini. Aku ingin mengingat bahwa aku pernah sebahagia dan secantik ini, sebelum semuanya menjadi rumit."

​Rain tidak menjawab. Ia hanya berdiri di sampingku, menatap layar kamera dengan sorot mata yang sulit diartikan.

Di bawah cahaya sore yang mulai meredup, aku menyadari bahwa foto-foto ini bukan sekadar gambar di atas layar. Ini adalah bukti bahwa di lini masa yang bergeser ini, aku memiliki kesempatan untuk mencintai diriku sendiri lagi, tepat sebelum takdir menarikku kembali ke realita yang sesungguhnya

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!